
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...
Mampir ya ke Novel terbaru aku yang uwwu
"Diculik Cinta" yang siap mengocok perut kalian.
Happy Reading...
******
Lily masih mengamati Jerry di kamar setelah mereka kembali dari restoran.
"Jangan takut kepadaku, aku tak akan menganggumu, aku kan ayahmu, Nak." ucap Lily.
"Apa benar kau ayahku?" tanya Jerry.
"Tentu saja, tidakkah kau lihat fisik dan sifat kita mirip. Begini saja kalau kau tak mau memanggilku dengan sebutan ayah, cukup panggil mami saja," pinta Lily.
Jerry masih mengamati hantu Lily di hadapannya itu dengan seksama. Kalau dilihat-lihat lagi memang benar adanya kalau sosok itu sangat mirip dengannya.
"Jadi, bagaimana?" tanya Jerry.
"Bagaimana apanya?"
"Tentang kita?" tanya Jerry lagi.
"Mari peluk aku," Lily merentangkan kedua tangannya.
Akhirnya setelah perlahan maju dengan langkah agak takut, Jerry memeluk juga ayahnya tersebut. Ada kesedihan di hati Jerry kala ia tahu ayahnya adalah seorang hantu. Namun, ada kebahagiaan juga yang ia rasakan karena bisa tau tentang ayahnya.
***
Di rumah sakit tempat Anan dirawat.
Operasi Anan akhirnya dinyatakan berhasil setelah dua jam lebih Dita menunggu bersama Tasya dan Anta yang sudah terlelap di pangkuan ibunya.
Mereka bergegas menuju ruang perawatan Anan. Sesampainya di sana, Dita langsung membuatkan air hangat yang dicampur dengan bubuk mutiara hitam.
"Nanti kalau Anan udah bangun, terus langsung minum ini," ucap Dita.
"Ta, maaf ya tadi aku keceplosan, bukan aku sih tepatnya tapi Pak Herdi," aku Tasya.
"Keceplosan kenapa?" tanya Dita.
"Ummm... Ratu Sanca, dia udah tau kalau Anan butuh jantung dia," jawab Tasya.
"Haduh... gimana sih? nanti kan aku jadi gak enak sama dia. Semoga aja habis ini Anan sembuh," ucap Dita.
"Semoga. Oh iya tadi aku sama Jerry berhasil pilih chef, dia perempuan. Namanya Laura, suaminya itu satu negara sama kita, jadi dia bisa masak masakan seperti kamu," ucap Tasya menjelaskan.
"Wow bagus dong, sekarang dia tinggal di sini gitu sama suaminya?" tanya Dita.
"Enggak, dia tinggal sendiri."
"Loh dia bercerai ya?"
"Bukan, suaminya udah meninggal," jawab Tasya.
"Oh... turut berduka cita ya," ucap Dita.
"Kok, turut berduka citanya ke aku, ya ke dia lah, emangnya aku udah punya suami apa, ya udah deh aku pamit ya bawa Anta pulang, kasian kalau dia tidur di sini," ucap Tasya.
"Tapi udah malam, Sya. Gak besok aja pulangnya?" tanya Dita.
"Mau tidur di mana?"
"Tenang aja, aku satu kasur sama Anan, kamu pangku Anta di sofa, gimana?" tanya Dita.
"Enggak mau!" sahut Tasya.
__ADS_1
"Ya udah hati-hati pulangnya ya, nanti kabari kalau sudah sampai rumah," ucap Dita lalu mengantar Tasya dan Anta menuju lobi rumah sakit untuk memesan taxi.
Anta masih tertidur pulas saat memasuki mobil taxi tersebut. Kepalanya di rebahkan di atas paha Tasya.
"Kabari ya kalau sudah sampai rumah," ucap Dita.
"Oke siap!" Tasya mengangkat ibu jarinya.
Taxi yang dikendarainya meluncur menuju rumah milik Om Kevin.
Tasya memanggil Pak Herdi karena merasa takut dengan pandangan supir taxi yang terlihat tak ramah itu. Sosok pocong itu kini telah duduk di samping si supir taxi.
"Tenang aja Sya, dia baik kok," ucap Pak Herdi dari kursi depan.
Mobil taxi yang mereka taiki melintasi sebuah jalan tol yang sepi. Lampu temaram yang minim cahaya di tepi jalan raya menyambut mereka.
Tiba-tiba sosok hantu anak kecil meluncur tepat ke kap belakang mobil taxi tersebut mengejutkan Tasya.
Gadis itu menoleh ke belakang mencari arah suara datangnya benturan tersebut.
Raut wajah sang supir taxi terlihat panik. Tak lama kemudian mobil itu berjalan tersendat-sendat. Akhirnya supir itu memutuskan menepikan mobilnya di pinggir dari jalan raya tersebut.
"Apa yang terjadi dengan mobil ini, pak?" tanya Tasya.
Supir itu hanya mengangkat bahunya lalu keluar dari mobil.
"Tuh kan pak, judes banget supirnya. Kenapa ya, pak?" tanya Tasya dengan lirih.
"Saya juga tak tahu."
Pak supir taxi itu menggebrak kap mobil depannya mengejutkan Tasya dan Anta yang langsung terbangun.
"Kenapa tuh orang? aku coba tanya nih," Tasya turun dari mobil taxi tersebut dan menghampiri sang supir.
"Pak, kenapa marah-marah?" tanya Tasya.
Supir taxi itu mengeluarkan gerakan tangan di hadapan Tasya. Rupanya ia menggunakan bahasa isyarat pada Tasya.
"Sya, mobilnya gak nyala gara-gara dia, nih!" Pak Herdi menunjuk ke hantu anak kecil tersebut.
"Kamu siapa? jangan ganggu, kata bunda jadi anak yang baik jangan suka usil," ucap Anta mengingatkan anak itu.
Tiba-tiba sosok hantu itu merubah wajahnya menjadi sangat menyeramkan di hadapan Anta.
"Ah biasa aja, Anta gak takut," gadis kecil itu lalu mendorong hantu anak itu sampai jatuh dari mobil taxi tersebut. Hantu anak kecil itu menangis lalu menghilang pergi.
"Wah hebat kamu Nta, keren kamu bisa buat hantu itu nangis hahahha." ucap Tasya memuji Anta.
Sang supir menatap Tasya dengan bingung.
"Gak usah heran pak, tadi tuh kuta diganggu hantu makanya mobilnya mati, coba bapak nyalain lagi," ujar gadis itu.
Si supir taxi tersebut lalu memganggukan kepalanya sambil menggaruk-garukkan kepalanya. Ia masih heran dengan ucapan Tasya pasal hantu. Akan tetapi ia tetap menuruti perintah Tasya.
Seketika mesin mobilnya menyala kembali. Sang supir melajukan mobilnya kembali menuju alamat rumah Om Kevin.
Hampir saja mobil mereka keluar dari jalan tol menuju jembatan tiba-tiba mobil itu berhenti kembali.
"Astaga, apa lagi ini?" pekik Tasya.
Sosok hantu berpakaian daster warna merah muda yang penuh dengan noda darah datang dari arah kejauhan. Mata kanannya berongga kehilangan bola mata. Hantu perempuan itu memakai topi lebar berwarna senada dengan rambut di ikat kebelakang.
Di belakang sosok hantu perempuan itu ada hantu anak kecil tadi yang mengikutinya.
"Wah dia mau menantang Anta lagi nih rupanya," ucap Anta dengan sombong membuat Pak Herdi tertawa cekikikan di sampingnya.
"Tuh hantu mau ngapain pak?" tanya Tasya.
Sementara sang supir kembali turun mencoba memperbaiki mesinnya kembali.
"Hei, siapa di antar kalian yang menyakiti putraku?" tanyanya menunjuk ke arah Tasya dan lainnya.
__ADS_1
Anta mengacungkan tangannya sementara Tasya dan Pak Herdi menunjuk Anta.
"Benar nak, dia yang menyakitimu?" tanya hantu perempuan itu pada hantu anak kecil yang sedari tadi menggantungkan tangannya di baju dasternya.
Hantu anak itu mengangguk seraya menunjuk Anta.
"Hayo lho Anta, dia pakai ngadu sama mamanya," bisik Tasya.
"Ih cemen banget sih, begitu aja mengadu, Anta gak takut tuh!" sahut Anta.
"Pak Herdi gimana nih?" tanya Tasya mulai panik.
Sang supir menepuk bahu Tasya mengejutkannya.
"Ih si bapak orang lagi panik di ngagetin sih!" seru gadis itu.
Sang supir hanya memberi isyarat dengan gerakan tangan tanda tak tahu.
"Bapak diem aja di sini, nanti kalau saya bilang mobilnya nyala, bapak tinggal tancap gas ya."
Tasya berbicara dengan bahasa tubuh yang ia harap di mengerti supir tersebut.
Supir itu mengangguk lalu dulu di kursi kemudinya. Sementara hantu perempuan tadi makin mendekat ke depan mobil. Kepalanya menjulur menembus kaca sampai ke hadapan wajah Anta.
"Kau yang membuat anakku menangis?" tanyanya.
"Iya," sahut Anta.
"Kau hanya anak kecil, bagaimana kau bisa tak takut padanya dan padaku?" tanyanya heran.
Anta hanya memamerkan giginya yang mulai karies ke arah hantu tersebut. Di sampingnya Anta, sosok Tasya sudah bersembunyi di balik rambut Anta dia tak mau melihat ke wajah hantu yang menyeramkan itu.
"Sebaiknya kamu pergi jangan ganggu anak ini, lagi pula anak kamu duluan yang menganggu kami," ucap Pak Herdi.
"Astaga, tampan juga hantu bungkusan kain ini, hmmm kenapa kau ada di sini? kau menetap di mobil ini ya?" tanyanya.
"Tidak, aku bertugas menjaga mereka berdua," Pak Herdi menunjuk ke arah Dita dan Anta.
"Tidak, tidak, tidak, bagaimana kalau kau ikut denganku, menjadi suamiku penunggu jalanan di sini," ucap hantu perempuan tadi menggoda Pak Herdi.
"Ish... amit-amit," sahut Pak Herdi dengan kesalnya.
Tasya menahan tawanya ketika mendengar ucapan hantu tadi yang menginginkan Pak Herdi.
Hantu anak kecil itu menarik sang ibunda. Ia memberitahunya agar fokus memarahi Anta.
"Oh iya mami khilaf nak, gara-gara ada hantu bening, jadi lupa deh sama awal mula kita mau kesini," ucapnya sambil cekikikan.
"Wah, siap-siap ganggu nih, Nta." bisik Tasya di telinga Anta.
"Tenang tante, Anta mau gak takut." Anta bertolak pinggang ddngan bangganya sambil menguap lebar.
Hantu itu makin menggeram melihat kelakuan Anta dan lainnya.
******
Bersambung ya...
Mampir juga ke :
- Diculik Cinta
- With Ghost
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
- Kakakku Cinta Pertamaku
Vie Love You All... 😘😘😘
__ADS_1