Pocong Tampan

Pocong Tampan
Marina (Part 2)


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍


***


Ketiganya sampai di sebuah rumah kecil yang cat rumahnya tampak mengelupas. Adik laki-laki Marina menyambut kedatangan mereka dengan wajah heran dan bingung saat membuka pintu.


"Assalamualaikum hai adik kecil." sapa Dita pada anak laki-laki itu.


"Walaikumsalam Kakak mau cari siapa ya?" tanya anak itu.


"Ini bener rumahnya kakak Marina?" tanya Dita lagi.


"Iya tapi kakak belum pulang dari kemarin." ucap adik kecil itu sedih.


"Boleh ketemu sama mamanya gak?"


"Mama lagi sakit kak di dalam kamar." anak kecil itu menunjuk kamarnya.


"Kita boleh masuk gak?"


"Enggak boleh kata mama gak boleh orang asing di kasih masuk." ucap nya agak takut.


"Tapi kan mamanya adik sakit, kakak mau lihat kondisi mamanya, terus kakak bawa ke dokter." ucap Dita menenangkan.


"Emmmm aku percaya deh kakak bukan orang jahat." anak kecil itu mempersilahkan Dita, Anan dan Tasya untuk masuk ke kamar.


Sementara Marina masih menangis di depan rumahnya. Adik Marina memperhatikannya sedari tadi. "Kakak gak mau masuk lihat mama?" ucapnya.


Marina sadar adiknya dapat melihat penampakan nya lalu ia memeluk adik laki-laki kecilnya yang berusia lima tahun itu.


Di dalam rumah Marina.


"Kalian siapa?" tanya mamanya Marina.


"Saya Anan Bu, Marina bekerja di perusahaan om saya."


Ibu itu menangis sesenggukan, ternyata ia sudah tahu soal kematian Marina dari tetangganya yang bekerja sebagai satpam.

__ADS_1


"Saya belum bisa ambil Marina, karena saya masih sakit uhuk uhuk." ucap ibu itu.


"Gak apa Bu, Marina sudah di makamkan ke tempat yang layak, nanti saya anter ibu ke kuburannya jika sudah sehat, sekarang saya hanya menjalankan pesan Marina Bu, menjenguk ibu dan membawa ibu kerumah sakit." ucap Dita.


"Tapi saya enggak ada biaya non." ucap ibu itu.


"Tenang aja Bu soal biaya gak usah khawatir, ayo Bu kita kerumah sakit." ajak Dita.


"Anak saya Andi gimana nanti di rumah gak ada yang jagain?" tanya ibu itu.


"Tenang aja, aku yang jagain kita ajak Bu." sahut Dita.


"Tasya bantuin masukin perlengkapan ibu sama anaknya ya?" pinta Dita.


"Iya Ta, beres." sahut Tasya.


***


Sesampainya di rumah sakit milik keluarga Anan. Ibu Santi nama mamanya Marina masuk ke dalam ruang perawatan karena beliau menderita pneumonia yang mengharuskan dirinya dirawat.


Tasya menemani Andi bermain di ruang perawatan Doni karena hari ini Doni dan Om Kevin sudah di perbolehkan pulang.


"Makasih ya kamu udah nolong mama saya." ucap Marina.


"Sama-sama untung aja kita cepet-cepet bawa mama kamu ke rumah sakit, kamu tenang aja Marina setelah mama kamu sembuh nanti aku akan buat kios makanan buat mama kamu jualan, nanti Anan yang modalin tenang aja." Dita menepuk punggung Anan yang terkejut.


"Terus adik kamu akan aku angkat jadi anak asuh, nanti aku biayain sekolahnya." ucap Dita dengan senyum hangatnya.


"Terima kasih banyak sebelumnya, sekarang saya bisa pergi dengan tenang." Marina memeluk Dita sebelum ia pamit dan menghilang. Ada tetes air mata yang jatuh tak tertahan di pipi Dita kala Marina memeluknya tadi.


"Jadi kita mau sekolahin Andi dimana?" tanya Anan.


"Ih kita mau sekolahin anak ya jadi gak sabar punya anak juga Nan terus kita sekolahin hehehe." Dita menepuk pundak Anan.


"Nanti malam sampai pagi ya Ta kita buat anak." bisik Anan.


"Hadeh langsung nyambung kan tuh bahasanya kalau ke arah sana." Dita menepuk jidatnya sendiri lalu menghampiri Bu Santi di ruangannya.


"Eh pak bos ada yang bisa Cindi bantu ?" sapa Cindi yang sedang berada di ruangan Bu Santi.


"Eh muka tuh di kondisikan jangan senyum-senyum sama laki orang." sahut Dita kesal.


"Yeee salah sendiri suaminya ganteng mana dibiarin bebas berkeliaran pula tuh kan bikin gemes, aduh kaki aku nih kebiasaan deh suka sakit berat gini." ucap Cindi yang tiba-tiba mengejutkan Dita dan Anan.


Sosok hantu nenek bongkok dengan rambut yang acak-acakan tinggal sedikit melekat pada kulit kepala yang penuh kutil dan nanah itu menempel pada kaki Cindi. Hantu nenek itu memeluk kaki Cindi dengan erat, lidahnya yang berlendir menjulur dengan senyuman menyeringai kearah Dita.

__ADS_1


"Kamu habis darimana Cin ketempat jauh gitu?" tanya Dita.


"Ih kepo banget sih anda, tapi kok tahu sih aku habis hiking sama temen kuliah dulu eh aku jatuh, kaki aku sakit nah semenjak itu suka kumat gini." Cindi mengelus kakinya.


"Kamu yakin gak ngelakuin hal buruk gitu selain jatuh?" tanya Dita penuh selidik meski rasa mual hinggap tak tertahankan.


"Maksudnya apa sih kan aku cuma hiking doang sama temen-temen, udah ah aku mau balik kerja, dah pak bos kalau butuh temen hiking bareng Cindi siap kok jadi pemandu." ucap Cindi dengan centilnya.


Anan hanya tersenyum kecut membalas Cindi.


"Yee aku sumpahin biar di templokin tuh nenek bongkok selamanya hahhaha." Dita tertawa puas melihat Cindi menarik kakinya yang terasa berat dan sakit dari kejauhan.


"Eh ibu dari tadi ya nyimak kita hehehe." ucap Dita ke Bu Santi.


"Enggak kok neng, lucu aja ya perempuan sekarang sama suami orang kalau suka ya terang-terangan bilang suka, jadi serem ya, untung suaminya baik banget,mana cakep, orang kaya, calon setia ini mah suaminya." puji Bu Santi.


"Hmmmm ge er deh tuh." Dita menepuk pipi Anan pelan yang menyemu merona.


"Bener Bu saya mah setia kok, cuma istri saya yang paling cantik di dunia ini." Anan mencium punggung tangan Dita dengan mesra.


"Ih jadi malu." sahut Dita.


"Ibu si Andi aku bawa pulang ya, daripada dia disini nanti mengganggu perawatan ibu, terus ibu repot juga nanti kepikiran makan, mandi sama tidur dia." ucap Dita.


"Saya tambah merepotkan neng kalau kaya gitu." sahut Bu Santi.


"Gak repot kok Bu, itung-itung saya belajar momong anak hehehe." ucap Dita.


"Mungkin ini doa Marina sebelum dia pergi dia masih selalu ingin membahagiakan saya dan adiknya, makanya dia kirim kamu ke saya non." Ibu Santi menangis mengenang Marina.


"Memang jalannya seperti ini Bu, dulu saya juga susah tapi saya yakin dibalik kesusahan Allah pasti akan kasih kemudahan buat kita melaluinya, Dita pamit ya Bu." ucap Dita mencium tangan Bu Santi lalu pergi bersama Anan.


"Ta..." ucap Anan di depan pintu.


"Kenapa sih?"


"I am so proud of you, I love you Ta." ucap Anan.


***


To be continued...


Happy Reading 😘


Maaf jika ada typo dan makasih banyak yang sudah vote...

__ADS_1


jangan lupa vote ya buat ikutan GA di awal Mei nanti 😊😘


Selamat menjalankan ibadah puasa 😘😘😘


__ADS_2