
"Oke aku nyerah aku nyerah udah yah please kamu kan cantik sayang." Dita tak tahan dengan penampakan anak perempuan itu.
"Hihihihihihihihi kikikikiikki.." Anak itu tertawa puas menakuti Dita.
"Aku mau sama kakak ya disini?" pintanya
"Oke kalo kamu mau sama aku jangan tampilin penampakan kaya tadi ya, oiya nama kamu siapa cantik?"
"Namaku Jessica."
"Tuhkan namanya cantik kaya orangnya."
"Aku kangen mama kak.."
"Aku juga kangen sama mama aku." balas Dita.
Anak itu menangis dengan kencang merengek mencari mamanya.
"Oke besok kita cari mama kamu."
"Kakak janji yak?"
"Iya kakak janji."
***
Dita siap di meja kerjanya pukul 8 pagi wahana sudah dipadati pengunjung membuat para karyawan bertanya apakah mereka tidak terpengaruh dengan berita tenggelamnya anak perempuan kemarin ya.
"Eh ada yang tau alamat anak kemaren yang meninggal gak?" tanya Dita pada Anita dan Doni.
"Aku tau Ta, Deket sama rumah ku cuma beda blok soalnya aku sering liat dia, kalo gak salah nama anaknya Jessie deh."
"Jessica maksudnya?"
"Gaktau deh pokonya yang aku tahu mamanya suka dipanggil mama Jessie."
"Nanti pulang kerja anter aku kesana ya Nit."
"Emangnya kamu kenal?"
"Kenal sedikit pernah ngobrol bareng anaknya."
"Oooo."
"Eh tau gak.."
"Enggak..!!!" Dita dan Anita memotong pembicaraan Doni.
"Aku serius nih."
"Iya kenapa say." sahut Anita.
"Say sayur maksudnya hahahha." Dita menutup mulutnya menahan tawa.
"Ih serius nih aku mau ngomong, diem semua jangan potong, kemaren sore pas kejadian anak perempuan itu tenggelam aku lihat Bu Devi."
__ADS_1
"Ya terus kenapa sama Bu Devi?" tanya Dita mengambil toples permen dari meja Anita.
"Dia kan dari pagi gak kesini terus kenapa pas kejadian nongol udah gitu mobilnya di parkir di restoran depan, hayo??"
Ekspresi Doni makin serius bak seorang detektif.
"Ya mungkin aja arisan atau pas lagi makan disana hayo." sahut Anita.
"Tapi mencurigakan tau gerak geriknya, ah gak pernah nonton film detektif nih."
"Makanya Don, ajak dong Anita nonton film detektif."
"Aih dia mah kemaren aku aja di ajak nonton film di hapenya Ta masa ada adegan .."
Doni membekap mulut Anita segera.
"Adegan apa?"
"Gak bukan apa-apa Ta."
Emp emp..
"Awww...." Anita menggigit jari Doni.
"Bokep Ta, parah kan aku kan masih polos."
"Buahaaaahaaa... upppss, sorry Don."
Permen di mulut Dita terlempar ke wajah Doni.
"Ah rese nih pada."
Padahal Dita tau pasti bahwa Aldo yang membunuh Jessie namun dia mencoba mencari tau apa yang Doni pikirkan tentang Bu Devi.
"Ya enggak liat sih tapi curiga aku tiap ada yang meninggal dia dateng tiba-tiba coba tuh."
"Curiga gimana sih, aku gak ngerti deh." Anita makin penasaran dengan cerita Doni.
"Ya kali aja dia cari tumbal biar nih wahana rame."
"Haahh tu tumbal, katamu?" Dita terperanjat dengan kata tumbal, asumsi Doni sama seperti yang Anan utarakan semalem soal tumbal.
"Ah masa sih, gak mungkin ah." sahut Anita.
"Ya ini kan cuma pendapatku aja liat aja tuh rame banget kan pengunjung belom lagi renovasi sana sini."
"Ya bersyukur dong kalo rame, gimana sih kamu Don."
Dita menepuk bahu Doni.
"Ya pokoknya kalo ada yang mati lagi emmm fix ini mah tumbal hiiyyy."
"Udah ah serem serem balik sana ke section kamu." Anita mendorong Doni pelan ke arah luar menuju sectionnya.
"Tumbal ya, apa iya tumbal hmmmm..."
__ADS_1
Dita memikirkan kata-kata Doni yang mungkin masuk akal. Masalahnya apa benar orang yang mencari tumbal itu Bu Devi atau ada orang lain lagi yang melakukannya?
"Aku harus mencari bukti nih."
***
Sore ini Dita sudah berada di halaman rumah Jessie. Seorang wanita tua membuka pintu rumah itu mempersilahkan Dita dan Anita masuk.
Dita melihat banyak prestasi yang sudah Jessie raih dari lomba modeling, lomba menyanyi dan juara kelas.
"Dia hebat yak?" Mama Jessie datang menghampiri Dita yang sedang melihat foto-foto dan prestasi Jessi.
"Eh iya Tante maaf saya liat-liat."
"Gak papa kok, saya gak nyangka anak saya satu-satunya udah gak ada, padahal dua bulan lagi dia ujian UN dan ujian beasiswa sekolah di Singapur."
Mamanya Jessie menangis sesenggukan melampiaskan sedihnya di hadapan Dita.
Tanpa sadar Anita sudah menangis melihat kesedihan Mamanya Jessie.
"Oh iya maaf, namaku Karin." Dia mengulurkan tangannya dan menyeka air matanya.
"Saya Dita Bu, itu Anita, saya temennya Jessie."
"Oh iya kah? sepertinya Jessie belum pernah bercerita punya teman orang dewasa seperti mu."
"Oh kita baru kenal Bu itupun kalo ini suka ke kolam renang." sahut Dita.
"Kalo kamu anak yang tinggal satu blok dari sini kan?" Tante Karin melihat kearah Anita dan Anita mengangguk.
Sore itu Dita habiskan mendengarkan penuturan tentang Jessie si cerdas dan sempurna itu. Dita mengerti mungkin Jessie akan tenang dan bisa ke alamnya jika dia mengikuti ujian UN dan beasiswa nya.
Baiklah Jessie, kak Dita akan membantumu.
"Maaf Bu eh Tante apakah bersedia datang ke kolam renang nanti atau besok, cuma sebentar saja, saya ingin mendoakan Jessie di sana dan rasanya jika ada Tante dia pasti senang."
Tante Karin diam sejenak memandang Dita.
"Baiklah saya akan datang nanti jam tujuh bagaimana?"
"Oke Tante kami permisi dulu, makasih sebelumnya."
***
"Maksud kamu apa sih Ta nyuru mamanya Jessie ngedoain di kolam gak ngerti aku tuh."
Tanya Anita setelah keluar dari pagar rumah Jessie.
"Ya semacam tahlilan gitu ngedoain arwah dia."
"Kan keluarga Jessie gak tau tahlilan."
"Ya gak papa intinya ngedoain, udah bawel ih, ikut aja napa, kita cari makanan dulu."
***
__ADS_1
To be continued...
Happy Reading,,, Vote nya please 😊😊😊