
Dear readers tersayang... Jangan lupa sebelum membaca di Like and komentar di babnya. Kalau sudah habis membaca jangan lupa juga buat Vote pakai poin kalian buat dapetin Giveaway dari Vie.
Terima kasih and Happy Reading. 😘😊
*******
Mobil Logan tiba di halaman rumah Tante Dewi. Ada ketakutan yang terpancar kala ia turun dari mobilnya.
"Tuh, Logan udah datang," ucap Doni saat mengintip dari balik tirai ke arah depan.
"Suruh masuk, Don!" pinta Dita.
"Enggak mau ah, biar aja dia masuk sendiri," sahut Doni.
"Ya udah kalau gitu aku aja yang suruh dia masuk," sahut Tasya.
"Eh, jangan, jangan, jangan! udah aku aja yang suruh dia masuk," cegah Doni sebelum Tasya melangkah ke luar.
"Hmmm... dasar posesif!" seru Anan.
"Kan, saya belajar dari Pak Bos hehehe..." Doni membuka daun pintu tersebut dan mempersilahkan Logan untuk masuk.
"Masuk!" perintah Doni.
"Ta-tapi, saya takut, Don."
"Halah, waktu awal-awal liat hantu juga saya takut, sampai ngompol, sampai pingsan, lama-lama juga biasa," ucap Doni sesumbar.
"Berarti sekarang kamu udah gak takut?" tanya Logan.
"Beuh... kata siapa? ya masih takut lah," sahut Doni.
"Hmmmn... nyesel saya tanya sama kamu, Tasya mana, Don?"
"Mau ngapain tanya Tasya? punya saya tuh!"
"Heh, kamu tuh ya, Mitha baru saja meninggal udah berusaha cari penggantinya, suami macam apa kamu," hardik Logan.
"Eh, kalau gak tau apa-apa jangan banyak bacot nuduh orang sembarangan!"
"Bacot itu apa ya?" tanya Logan.
"Bacot itu, ya mulut kamu itu, udah ah berisik kebanyakan ngomong, ayo cepetan!" Doni menarik lengan Logan.
"Hai, Logan!" sapa Dita.
Begitu juga dengan Tasya dan yang lainnya menyapa Logan saat dia masuk.
"Ha-hai..." Logan masih gugup juga karena sebentar lagi ia akan melihat Samanta kembali.
"Kalau udah siap, ayo ikut ke kamar Nenek Rose," ajak Dita yang sudah melangkah menuju kamar Nenek Rose bersama Anan.
"Aku ingat dia siapa," ucap Samanta mengejutkan Dita.
__ADS_1
"Aaahhh, Samanta ngagetin aja nih!" seru Dita.
"Kamu udah inget dia siapa?" Anan menunjuk ke arah Logan.
"Iya, dia teman sekolah menengahku, ya kan?" tanya Samanta.
"Lalu, apa yang kau ingat lagi darinya?" tanya Dita.
"Ummm... Aku tidak ingat lebih jauh," ucap Samanta seraya menggeleng.
"Yah cape deh kirain ingat semua, bentar ya aku bawa Logan ke sini, kamu harus mode cantik ya," ucap Dita.
Tasya membawa Logan menghampiri Samanta. Pada awalnya memang pria itu sangat ketakutan, namun perlahan ia akhirnya memberanikan diri. Logan menceritakan tentang persahabatan bahkan percintaan dirinya bersama Samanta.
Sampai akhirnya Samanta mengingat sedikit demi sedikit kepingan demi kepingan memori di dalam kepalanya tentang dia dan Logan.
"Samanta akhirnya ingat kematiannya, dan dia menunjuk foto Mark yang berada di antara foto keluarga yang terpasang di dinding bersama Om Kevin dan Nenek Rose.
"Tuh kan betul dugaanku, pasti ada kaitannya sama si Markonah," gumam Tasya yang mulai sebal dan rasanya ingin mengulek wajah Mark dengan seratus buah cabai rawit saking marahnya.
Ponsel Tante Dewi tiba-tiba berdering, ternyata dari kantor kepolisian yang memberitahukan perihal tentang kondisi Mark.
"Anan... kemari sebentar," seru Tante Dewi setelah mematikan sambungan ponselnya.
Anan segera menghampiri Tante Dewi.
"Kenapa, Tante?"
"Ada yang terjadi dengan Mark, menurut penjaga dia berteriak ketakutan, dan tubuhnya mulai berongga ditumbuhi banyak belatung kecil, sama seperti penyakit kamu dulu," ucap Tante Dewi.
"Dia berteriak terus memanggil nama Dita," jawab Tante Dewi.
"Apa? kurang ajar si brengsek itu," ucap Anan dengan geramnya seraya memukul telapak tangannya sendiri dengan kepalan.
"Ayolah sabar sedikit, tahan emosi kamu. Kita harus ke sana besok, sebelum kembali ke negara kita, biar bagaimanapun juga, dia kan keponakan Om Kevin yang masih Tante anggap keluarga juga," ucap Tante Dewi.
Anan menoleh pada Dita, lalu terlihat anggukan kepala dari Dita yang mengiyakan.
"Logan dan Samanta juga ikut, siapa tahu setelah melihat Mark mengakui perbuatannya, Samanta akan kembali dengan tenang," ucap Dita.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu," ucap Logan lalu melangkah menuju pintu luar setelah memeluk Samanta.
Tiba-tiba seorang wanita memakai jaket warna putih dan bertudung di kepala berdiri di depan pintu hendak memijit bel pintu tersebut.
"Laura?" tanya Logan.
Wanita itu lalu mengangkat kepalanya.
"Logan? apa yang kau lakukan di sini?" tanya Laura.
"Ini rumah temanku, aku sedang ada perlu di sini dan akan kembali, lalu apa yang kau lakukan malam-alam begini," tanya Logan.
"Aku ada perlu dengan pemilik restoran karena aku akan pindah dan menerima tawaran bekerja di hotel," jawab Laura.
__ADS_1
"Oh kau bekerja di restoran Anan? oh iya aku baru ingat sesuatu, ayo ikut aku!" Logan menarik tangan Laura lalu menghampiri Tasya.
"Hai, Chef Laura, apa kalian saling mengenal?" tanya Dita.
"Halo Nyonya Dita, Halo Tuan Anan, Hai Tasya dan semuanya," ucap Laura yang menyapa semuanya dengan lambaian tangannya.
"Tasya apakah kamu masih ingat dengan ceritaku soal perempuan yang pernah di pacari oleh Mark?" tanya Logan pada Tasya.
"Iya aku masih ingat," sahut Tasya.
"Ini Laura, wanita yang membuat Mark patah hati dan menjadi jahat seperti sekarang," ucap Logan antusias.
"Apa-apaan ini Logan? kenapa kau ceritakan kisahku pada gadis ini?" Laura menyela.
"Karena Mark ada di penjara, dan mungkin saja saat dia bertemu denganmu dia akan mengakui semua perbuatannya karena Mark tak pernah bisa berbohong dari kamu, kan?" tanya Logan.
"Mark di penjara?"
"Iya, panjang ceritanya, tapi yang jelas kau harus percaya dengan ceritaku tentang Mark. Kau bilang dulu maksud tujuanmu ke sini, nanti ku antar kau pulang sambil ku ceritakan," ucap Logan.
***
Malam itu, setelah semua terlelap dan terbuai di alam mimpinya. Dita terbangun karena panggilan bayi dalam perutnya yang meminta diberi makanan.
Anan sudah terlelap bersama Anta yang tidur dengan menaruh kaki kecilnya di atas wajah Anan. Pemandangan yang selalu membuat Dita tertawa karena melihat sikap tidur Anta yang suka berpindah-pindah dan menindih sana - sini.
Dita lalu menuruni anak tangga menuju dapur. Doni berbaring di sofa, sedangkan Shinta tidur di dalam kamar Nenek Rose bersama Lee.
Terlihat sosok kecil yang berada di depan lemari pendingin di dapurnya sedang melakukan sesuatu. Suara kunyahan dari gigi yang beradu terdengar dari sosok anak kecil tersebut.
"Itu tuyul apa siapa, ya?" gumam Dita yang perlahan-lahan mencoba mendekat.
Sampai akhirnya rasa penasaran Dita membuat ia menyalakan lampu dapur begitu saja.
Klik.
"Astagfirullahaladzim..."
Pekik Dita.
******
Bersambung...
Mampir juga ke :
- 9 Lives
- Diculik Cinta
- With Ghost
- Forced To Love
__ADS_1
- Kakakku Cinta Pertamaku
Vie Love You All... 😘😘