
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...
Happy Reading...
******
Dita selesai membersihkan semua lantai di restoran tersebut.
"Habis itu apalagi bunda?" tanya Anta.
"Kamu gak ngantuk?" tanya Dita.
"Enggak Bunda, Anta masih kuat kok, enggak ngantuk. Anta kan sudah makan banyak tadi hehehe."
Anta menjawab seraya membersihkan debu di meja dengan lap basah.
"Berhubung Ratu Sanca habis ganti kulit, gimana kalau sekalian di mandiin terus rambutnya kita rapihin daripada kusut gitu," bisik Dita ke Anta.
"Ayo Bunda!" ajak Anta.
"Kalian mau apa?" tanya Ratu Sanca.
"Ratu Sanca temenin Anta mandi yuk!" Anta menarik rambut Ratu Ular yang menjuntai sampai menyapu lantai itu.
"Aduh, aduh, aduh... Aku kan bersih. Ayolah Dita masa kau tak percaya kalau aku bersih, tubuhku tak ada larva seperti monster cacing milik tuan Worm!" pekik Ratu Sanca saat Anta berhasil menariknya masuk ke kamar mandi.
"Iya aku percaya, tapi lebih bersih lagi kan lebih baik sekalian mencegah hehehe," sahut Dita.
"Kuat juga si Anta narik Ratu Sanca hihihi..." gumam Dita lalu membuka tirai jendelanya dari lantai dua mengamati Tasya dan Pak Herdi yang terlihat menggunakan vacum cleaner untuk menghisap tanah kutukan dari tuan Worm. Sementara Tasya menggunakan vacum cleaner, Pak Herdi menaburkan bubuk mutiara hitam di sekitar halaman restoran milik Anan itu.
"Lucu juga kali ya kalau Tasya sama Pak Herdi, jadi ingat aku sama Anan tempo dulu. Hmmm Tania ikhlas gak ya kalau Pak Herdi sama Tasya?" gumam Dita seraya tersenyum memperhatikan Tasya dan Pak Herdi.
"Ko alat vacumnya macet sih?"
Tasya mengetuk mesin penghisap debu tersebut.
"Kebanyakan kali Sya," sahut Pak Herdi.
"Iya kali ya, tapi kayaknya ada yang mampet deh," ucap Tasya.
"Coba lihat," Pak Herdi berjongkok ria bersama Tasya seraya melongok ke arah mesin penghisap debu tersebut.
"Tuh kan ada yang mampet, ya kan pak?" tanya Tasya.
__ADS_1
"Iya mampet, kayak hati kamu hihihi." Pak Herdi meledek Tasya.
"Apaan sih..." ucap Tasya dengan kesal lalu menendang ke arah mesin tersebut.
Akibat tendangan Tasya menyebabkan mesin tersebut memuntahkan isinya ke wajah Pak Herdi.
"Ups... buahahahahaha... maafin Tasya ya pak..." Tasya segera meraih kotak tisu ke dalam restoran.
Wajah Pak Herdi menjadi penuh tanah. Tawa Tasya tak bisa tertahankan lagi.
"Nanti kalau wajahku penuh belatung gimana lho?" Pak Herdi menggerutu kala Tasya membersihkan wajah Pak Herdi dengan tisu.
"Kan tadi aku udah bilang, aku gak sengaja, maafin aku pak hehehe, lagian bukannya jasad bapak udah penuh belatung di kuburan sana, hiyyy..." Tasya bergidik ngeri sembari membersihkan wajah Pak Herdi.
"Oh... berarti saya menjijikkan ya? udah Sya gak usah pegang nanti malam kamu ketularan kena larva belatungnya," Pak Herdi menepis tangan Tasya.
"Hmmm gitu aja ngambek," ucap Tasya menarik kain kafan Pak Herdi mendekat ke arahnya. Wajah Tasya dan Pak Herdi saling bertatapan. Tasya melanjutkan kembali mengusap wajah Pak Herdi dengan tisu.
"Sya..."
"Husss udah diem biar kinclong nih aku pakai micellar water, kan aku selalu bawa di dalam tasku," ucap Tasya.
Entah kenapa memandang Tasya dari dekat seperti ini malah membuat laki-laki dalam balutan kafan itu merasa nyaman. Dulu setelah ia kehilangan Tania, hanya Dita yang dapat membuatnya merasa nyaman kala bertatapan. Tapi kenapa sekarang Tasya mulai membuatnya nyaman ya?
"Dah kembali kinclong, glowing gimana gitu, jadi ganteng," Tasya menepuk-nepuk pipi milik Pak Herdi.
"Sya..."
"Eh maaf khilaf hehehe."
Tasya melepas kedua tangannya dari pipi Pak Herdi segera. Tangan Pak Herdi lalu meraih kedua tangan Tasya dan membawanya kembali ke pipinya.
"Sebentar saja Sya, rasanya nyaman." ucap Pak Herdi lirih.
Aduh ini kenapa jantungku rasanya mau copot ya, kenapa deg deg ser kayak gini sih? duh... masa iya aku suka sama pocong, sama hantu? Ayolah Tasya hentikan ke haluan ini, mentang-mentang kamu habis sakit hati ditinggal Doni, masa iya pelarian kamu ke Pak Herdi.
Batin Tasya seraya kedua matanya menatap ke arah Pak Herdi. Sinar bulan yang bersinar benderang itu memantulkan cahayanya ke arah wajah Tasya yang makin bersinar di mata Pak Herdi. Keduanya terbawa perasaan dan terbawa suasana romantis itu. Sampai Pak Herdi memajukan wajahnya ke arah Tasya. Sempat terdorong ke belakang, tapi Tasya menyerah dan mempertahankan wajahnya. Dia bersiap jika ternyata Pak Herdi hendak menciumnya.
"Tasya... itu kamu kan? kamu ngapain di situ sendirian?" tanya Logan yang tak sengaja melintas di depan halaman restoran milik Anan.
"Oh Hai Logan! kamu dari mana?" Tanya Tasya yang terlihat panik dan langsung melepaskan tangannya dari pipi Pak Herdi.
"Kamu ngapain sendirian di situ?" tanya Logan lagi pada Tasya.
"Eh aku habis bersihin ini besok mau pembukaan restoran, itu juga kalau jadi hehehe," ucap Tasya memberi alasan.
__ADS_1
"Oh gitu, sendirian?" tanya Logan menghampiri Tasya lalu berdiri di sampingnya menggeser Pak Herdi yang tak ia lihat keberadaannya.
"Aku gak sendiri kok, ada Dita sama Anta sama Ratu Sanca juga di dalam," ucap Tasya keceplosan tentang Ratu Sanca.
"Ratu Sanca?" tanya Logan mengernyitkan dahinya.
"Eh itu maksud aku mainan ular-ularan Anta, namanya Ratu Sanca."
Tasya yang makin kikuk mencoba berbohong.
Pak Herdi yang sedari tadi mencoba menarik kain kafannya yang terinjak oleh Logan akhirnya menarik paksa membuat Logan jatuh seketika.
"Aduh... ada apa ya barusan, kok aku bisa jatuh gini?" tanya Logan menggumam pada dirinya sendiri.
"Itu, ummm ada tikus kali barusan lewat," Tasya menatap tajam pada Pak Herdi.
"Tikus? ah bukan ah tadi tuh sepertinya ada yang menarik saya jatuh," ucap Logan seraya menoleh ke kanan dan kirinya.
"Perasaan kamu aja kali, eh kamu dari mana?" tanya Tasya.
"Aku mau jemput ayah saya, tapi mobil saya mogok di sana jadi saya jalan deh ke arah restoran pizza ayah saya," ucap Logan.
"Terus kamu mau jemput pakai apa kalau mobil kamu mogok?" tanya Tasya.
"Nanti aku pesen taxi saja, tadi aku udah pesen mobil derek buat ambil mobil aku terus bawa ke bengkel." Logan masih berusaha mengamati sekelilingnya, dia masih penasaran dengan kejadian barusan.
"Kamu kenapa sih?" tanya Tasya.
"Kamu ngerasa gak, kok sepertinya ada yang sedang mengamati kita ya?" ucap Logan.
Tasya mencoba menahan tawanya karena memang Pak Herdi sedari tadi berada di samping Logan dan sedang melihat ke arahnya.
******
Masih bersambung ya guys...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST (UP)
- Kakakku Cinta Pertamaku
season 1 END
- 9 Lives (END)
__ADS_1
- Gue Bukan Player (END)
Vie Love You All 😘😘😘