Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Bertemu Dewa


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...


Jangan bosen juga bacanya ya...



Happy Reading 😊😊😊


*****


Sesampainya di halaman Apartemen Anggrek, suara perut Dita dan Anan berbunyi berbarengan.


"Duh laper ya Ta?" tanya Anan.


"Iya, kamu juga kan?"


Anan mengangguk.


"Makan mie ramen di sana mau gak?" ajak Anan menunjuk restoran ramen tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Boleh deh, yuk!"


Dita dan Anan melangkah ke restoran tersebut.


"Wow ada live band nya," ucap Dita saat memasuki restoran tersebut.


"Selamat datang di Restoran Senorita, untuk berapa orang kak?" sapa si pelayan pria bertubuh tambun itu.


"Maunya sih berlima apa sepuluh ya, tapi kita cuma berdua mas," sahut Anan.


"Hehehe lucu sekali kak, mari ikuti saya, akan saya carikan tempat khusus yang romantis buat pasangan seperti kalian."


Anan dan Dita saling berpandangan satu sama lain, mereka hanya meringis keheranan, namun tetap mengikuti si pelayan tersebut.


"Silahkan kak, ini buku menunya jika sudah siap nanti bisa panggil saya kembali atau pelayan lainnya," ucap pelayan pria itu sambil tersenyum, lalu pergi menuju depan pintu utama restoran kembali seperti tadi untuk menyambut tamu.


"Mau pesen apa Ta?" tanya Anan.


"Bingung mau yang mana, coba tanya mbaknya ya," ucap Dita lalu memanggil salah satu pelayan yang berada di dekatnya.


"Mbak menu spesial di sini apa ya?" tanya Dita.


"Ini kak ada yang ini, namanya Jigoku Ramen. Ramen yang paling recomended ini terdiri dari mi ramen, irisan daging ayam atau sapi, jamur kuping , hourensou atau bayam, telur) dan daun bawang dengan tingkat level kepedasan 1-10 yang bisa dipilih sesuai selera kak," ucap pelayan tersebut.


"Ya udah mbak saya mau level 5 ya," ucap Dita.


"Saya mau juga deh level 8 aja mbak," sahut Anan.


"Minumnya apa ya?" tanya si pelayan.


"Saya air mineral aja mba, kamu mau apa Ta?"


"Teh hijau boleh deh, sama air mineral juga, terus tambah spring roll ya mbak," ucap Dita.


"Habis tuh Ta segitu banyak?"


"Habis tenang aja hehehe, eh itu bukannya mas gondrong yang tadi ya?" tanya Dita.


"Wah iya bener, tuh band bulldog kan?" tunjuk Anan.


"Heh, blackdog," sahut Dita.


"Ah biarin sama aja, kan sama-sama dog hahahaha," Anan menertawakan grup musik tersebut.


Makanan yang mereka pesan pun sampai, dan mereka menyantapnya sambil menikmati lantunan musik dari band yang di gawangi pria berambut gondrong tadi.


"Aku ke toilet dulu ya," ucap Dita saat selesai menyantap semua makanannya lalu pergi menuju toilet.


"Wuidih nih cewek makan banyak bener," gumam Anan.


Saat keluar dari toilet perempuan, Dita menabrak pria gondrong tadi.


"Eh kamu kan yang tadi, nah kamu ngikutin saya ya?" tanya pria gondrong tersebut menggoda Dita.


"Dih pede banget mas nya, saya mah kesini mau makan," jawab Dita.


"Kok makan di toilet?" tanya pria itu.


"Hahaha lucu banget, kalau ada orang dari toilet itu berati habis pipis apa bab, bukannya makan, ah bisa aja gitar penyok," ledek Dita.


"Hahahaha kocak, kocak bener stik drum plastik, panggil saya Dewa, bukan mas nya," ucap Dewa.


"Hah? Dewa? jangan-jangan kamu tinggal di lantai enam nomor 605 ya?" Dita menerka sambil menunjuk wajah Dewa.


"Lho kok tau? wah jangan-jangan bener nih kamu stalker ya, fans saya gitu sampai tau alamat rumah saya?" tanya Dewa.


"Duh pede banget sih, saya tuh dapat alamat rumah kamu dari nenek kamu tau," ucap Dita.


"Nenek? Nenek saya kan udah meninggal satu tahun lalu," ucap Dewa dengan wajah tercengang keheranan melihat Dita.


***


Dita dan Anan mengikuti Dewa menuju apartemennya.


"Ayah dan ibu gue sudah meninggal, oleh karena itu gue tinggal dengan nenek yang masih ingin bekerja di pabrik pembuatan sosis, sampai hari itu gue kehilangan nyawanya karena kecelakaan, padahal hari itu nenek mulai kambuh sama uratnya, tapi dia malah nekat bekerja karena tak suka berada di rumah lama-lama."


Dewa menjelaskan sambil membuat fruit punch untuk Dita dan Anan.


"Diminum, ini asli buatan gue, cobain!" ucap Dewa.


"Enak nih, boleh juga nih kalau ada di restoran burger gue," ucap Anan.


"Nah, kali-kali gitu ada live band biar makin seru, nanti aku ikut investasi deh di restoran kamu," ucap Dita.

__ADS_1


Lagian juga uang yang buat di investasi sebagian uang hasil penjualan rumah kamu Nan, hehehe... kamunya aja belum inget.


Dita memandangi Anan sampai membuat Anan risih.


"Wah boleh juga tuh, cakep idenya." sahut Dewa.


Anan berfikir sejenak sampai menghabiskan satu gelas fruit punch buatan Dewa itu.


"Aaahhh mantap... oke boleh deh nanti gue omongin sama temen gue si Onta," sahut Anan.


"Oke nih ya, kamu boleh percaya boleh enggak, tapi nenek kamu menyuruh kami untuk mencari cincin pernikahan dia yang akan di berikan untuk calon istri kamu nanti," ucap Dita.


"Bagaimana mencarinya?" tanya Dewa.


"Elo simpen potongan tangannya gak?" tanya Anan.


"Gila aja elo! ngapain juga gue simpen potongan tangan nenek gue?! itu tangan nenek gue udah di kubur tapi emang ada dua potongan jari yang belum ke kubur mungkin salah satu jarinya itu ada cincin nenek gue jadi gue gak tau keberadaan itu cincin," bentak Dewa.


"Tau ih gak jelas banyaknya," Dita memukul bahu Anan yang langsung di genggam tangannya oleh Anan.


"Ya kali aja kan buat kenang-kenangan, hayo mau mukul lagi kan udah gak bisa udah gue pegangin," ledek Anan yang langsung membuat Dita tersipu malu.


"Kalian tuh saking romantis banget apa gimana sih sampai bantuin hantu nenek gue segala?" tanya Dewa menahan tawanya.


"Kepaksa tau gak, nih gara-gara dia!" Anan melepas tangan Dita.


"Ih udah-udah, besok kita ke tempat kerja nenek kamu terus minta ijin buat cari cincin nenek kamu di sekitaran mesin pas tangannya ke potong," ujar Dita


"Ide bagus!" Anan menjentikkan jarinya ke hadapan Dita.


"Oke besok kita ketemu jam sepuluh pagi ya di pabrik tempat nenek aku bekerja." ucap Dewa.


Lalu kemudian Dita dan Anan pamit dari apartemen Dewa.


"Aduh lift nya kok rusak sih, tadi kan bisa?" gumam Anan.


"Mungkin biar hemat listrik hehehe ya udah kita lewat tangga darurat aja," ucap Dita mengajak Anan ikut serta.


Menuruni anak tangga menuju ke lantai lima, Anan merasakan ada sesuatu yang mengikutinya.


"Ta... sstt ngerasa gak kayak ada yang ngikutin kita?" bisik Anan.


Dita hendak menoleh ke belakang tapi di cegah Anan.


"Kalau aku gak menoleh, mana aku tau ada yang ngikutin kita apa enggak," Dita balas berbisik.


"Oke kita noleh ke belakang bareng-bareng, satu... dua..."


"Gak usah noleh Nan, ini udah ada di kaki aku," ucap Dita dengan wajah takut dan hanya menatap ke arah Anan.


Anan memberanikan diri untuk menoleh ke arah kaki Dita. Sosok hantu perempuan dengan wajah sangat keriput berambut panjang terurai berantakan. Matanya melotot sangat besar sampai-sampai mau keluar dari rongga matanya. Lidahnya menjulur sangat panjang dan tertawa menyeringai ke arah Anan.


"Ta... Itu lagi ngejilatin kaki kamu," bisik Anan.


Dita memberanikan diri menendang kepala hantu tersebut.


DUG...


"Maaf ya mbak sengaja soalnya, kabur Nan!" perintah Dita, Anan segera menarik tangan Dita dan pergi menuju pintu darurat.


"Duh gak bisa di buka gimana dong, Ta?" ucap Anan.


"Ya udah kita turun lagi," ajak Dita.


Sampai di lantai 3 yang tertulis di dinding, samping pintu tangga darurat.


"Eh bentar Nan, hantunya mana, kok di belakang gak ada?" tanya Dita menarik tangan Anan untuk menghentikannya.


"Serius Ta? mungkin dia menghilang," ucap Anan.


"Gak Anan, dia gak menghilang, ini di depan kita."


Hantu perempuan itu rupanya tak mempunyai kaki, dia hanya berjalan merangkak menggunakan kedua tangannya dan menyeret perutnya. Lidahnya terulur sambil tersenyum menyeringai menaiki anak tangga mendekati Dita dan Anan.


"Naik lagi Nan, kabuuuuuurrrr....!!!"


Dita menarik tangan Anan dan bergegas berlari menaiki tangga darurat lalu keluar lagi di pintu tangga darurat di lantai enam.


"Aku capek, capek banget ini hosh hosh..." Dita terduduk lemas di lantai setelah bokongnya menyusuri dinding.


"Terus kita pulangnya gimana? udah sore banget nih, nanti pulangnya kemalaman," ucap Anan.


"Nanti dulu capek banget nih, mana haus lagi mau minum," ucap Dita.


"Tunggu di sini!" ucap Anan.


Anan kembali ke apartemen Dewa dan mengetuk pintunya.


"Kok belum pulang?" tanya Dewa saat membuka pintu rumahnya.


"Minta minum dong, ada air mineral gak sebotol gitu," ucap Anan.


"Seh, ada tamu ngelunjak gini, lagian kenapa lo belum pulang?" tanya Dewa sambil meraih sebotol air minum dari lemari es nya.


"Lift nya mati, terus gue lewat tangga darurat..."


"Eh bentar, lewat tangga darurat? di lantai lima itu serem bro, ngapain lewat situ?"


"Nah makanya itu, tadi juga kepaksa kan lewat situ, taunya ketemu hantu ya udah kita kejar-kejaran dati atas ke bawah, dari bawah ke atas, capek nih," sahut Anan.


"Hahahaha kena lo di kerjain hantu, mending lewat tangga yang depan sana bro nanti langsung ke pintu lobby di lantai satu," ujar Dewa.


"Ya mana gue tau, ya udah sini air nya, makasih banyak ya bro," ucap Anan meraih botol air mineral dari tangan Dewa.

__ADS_1


Anan kembali menghampiri Dita sambil meminum air dalam botol kemasan di tangannya.


"Lah kan itu buat aku, masa di minum?" tanya Dita.


"Oh iya gue lupa, terus gimana dong?"


"Ya udah sini," Dita meraih botol di tangan Anan dan langsung meminumnya.


Tapi kan itu minuman bekas gue kok di embat aja sih Ta?


Anan memandangi Dita dengan seksama saat perempuan di hadapannya itu sedang menghabiskan air mineral dalam botol tersebut.


"Ta, itu bekas gue," ucap Anan lirih.


"Gak apa, haus sih, lagian juga tambah manis," ucap Dita lirih.


"Jadi kita sekarang gimana, mau nekat lewat tangga tadi?" tanya Dita.


"Kata Dewa di lantai lima emang serem tuh tangga darurat, tapi di depan sana ada tangga juga langsung ke lobby malah," ucap Anan.


"Huuuu kenapa gak dari tadi aja kita lewat sana," Dita melangkahkan kaki menuju tangga satunya lagi.


"Ya mana gue tau Ta, tunggu apa... jangan cepet-cepet," pinta Anan.


"Aduh duh...!" Dita terpeleset di anak tangga, namun Anan sudah memegangi tangan Dita dan menariknya menuju pelukan Anan agar tak jatuh.


Dug... dug... dug... dug...


Kepala Dita mendarat tepat di dada Anan terdengar detak suara jantung Anan yang lebih cepat. Dita tersenyum mendengarnya, detakan jantung ini yang selalu Dita dengar setiap malam setelah pernikahan kala itu, kini dapat ia dengar kembali.


"Ta, kok diem aja?" tanya Anan.


"Ummm habisnya bingung nih mau gerak gak bisa," sahut Dita.


"Kok gak bisa gerak?" tanya Anan dengan polosnya.


"Habisnya kamu belum lepasin saya," ucap Dita.


"Oh iya lupa, maaf deh," Anan langsung melepas pelukannya.


"Ya udah ayo turun!" ajak Dita.


"Ya tapi hati-hati turunnya," ucap Anan.


Setibanya Anan dan Dita di lobby, tiba-tiba ponsel Dita berbunyi.


"Halo, kenapa Tante?" tanya Dita pada tante Dewi yang menghubungi ponselnya.


"Kamu dimana Ta hiks hiks...?" ucap Tante Dewi dari seberang sana dengan nada terisak.


"Tante kenapa kok nangis gitu, aku lagi di apartemen Anggrek kan, nih udah selesai mau jalan pulang, gak ada yang terjadi sama Anta kan?" tanya Dita mulai panik. Anan mengamati raut wajah Dita dengan seksama.


"Anta gak apa-apa, dia udah tidur habis makan banyak juga tadi, kata Tasya sih di jagain Pak Herdi, masalahnya tante sekarang di rumah sakit."


"Tante balik kerja lagi emangnya ke rumah sakit, terus kenapa nangis gitu, jangan-jangan Doni kenapa-kenapa ya tante?" Dita makin panik.


"Bukan Doni Ta, hiks... hiks.."


"Terus kalau bukan Doni, tante gitu yang kenapa-kenapa?"


"Bukan Ta, tapi mas Kevin, sekarang di ICU," ucap Tante Dewi.


"APA??? OM KEVIN DI ICU...???" pekik Dita.


"Iya Ta, kamu segera kesini ya," ucap Tante Dewi.


"Kok bisa masuk ke ICU sih tante, emangnya om Kevin kecelakaan?"


"Enggak Ta, mas Kevin mengalami serangan jantung, dia tiba-tiba pingsan terus gak sadarkan diri gini langsung masuk ICU karena susah nafas juga tadi."


"Oke aku segera kesana ya," ucap Dita menutup ponselnya.


"Siapa yang masuk rumah sakit?" tanya Anan.


"Suaminya tante Dewi, Om Kevin, kita naik taxi online aja ya biar cepet," pinta Dita.


"Ya udah, kamu naik taxi online, gue naik bis aja," ucap Anan.


"Terus kamu tega ngebiarin aku naik taxi sendirian sama orang asing?" Dita menatap Anan dengan tajam.


"Ya, ummm... Oke deh gue temenin elo, pesen gih!" ujar Anan.


****


Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...


To be continued...


Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku


“WITH GHOST”


ramaikan disana.


Baca juga :


-          Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)


-          9 Lives (END)


-          Gue Bukan Player


Vie Love You All 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2