Pocong Tampan

Pocong Tampan
Rumah Pak Kevin


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


****


Pagi yang cerah di rumah sakit keluarga milik Anan. Tante Dewi menuju ruang perawatan pak Kevin dengan Dita, Anan dan Doni menaiki lift, di belakangnya ada Anita dan Maya yang sudah mengikuti sedari tadi bersama pak Herdi yang telah menunggu Dita dan akan menemani nya saat pak Kevin pulang hari ini.


"Wuih masih pagi dek, maaf nih ganggu." ucap Tante Dewi ketika sepasang muda - mudi hampir berciuman dalam lift itu. Anan dan Dita menahan tawanya. "Pada kenapa sih?" tanya Doni polos.


"Udah diem aja, mereka tadi lagi saling kasih nafas buatan tau." celetuk Anita.


"Emang ada yang pingsan? gimana juga caranya saling kasih nafas buatan ih."


"Kenapa Don?" tanya Tante Dewi merasa aneh karena Doni berbicara sendiri.


"Enggak bu, cuma eng anu eng gak jadi deh." sahut Doni agak malu melihat kearah sepasang pemuda dan pemudi tadi.


Dita berusaha keras menutup mulutnya agar tak tertawa sementara Anan menggigit bibirnya menahan tawanya.


Seorang ibu bertubuh agak gemuk menekan tombol lift lalu lalu lift yang Dita dan lainnya taiki tersebut terbuka di lantai tiga. Si ibu itu masuk ke dalam lift namun berbunyi.


"Kapasitas delapan orang harusnya saya muat dong." ibu itu menoleh pada Dita dan Tante Dewi sambil menghitung jumlah orang yang di dalam lift hanya bertujuh dengannya.


Ibu itu keluar lift lalu mencoba masuk lagi namun lift masih berbunyi bertuliskan overload. "Ini lift kenapa ya? emang saya berat banget yak?" tanyanya pada dokter Dewi.


"Kurang tau Bu mungkin error." sahut Tante Dewi.


"Iya nih rusak nih masa saya berat banget apa berat saya kan cuma sembilan puluh lima kilo." ucap nya.


"Saya tutup ya Bu." Tante Dewi berucap dengan sopan.

__ADS_1


"Iya deh saya takut nanti lift rusak terus jatuh deh." sahut ibu itu dan Tante Dewi menutup pintu lift nya.


"Sembilan puluh kilo di bilang cuma." gumam Doni.


"Eh jangan main fisik yak, lagian saya juga heran kita cuma berenam paling berat 60 kilo sampai 70an kenapa overload yak?" ucap Tante Dewi masih merasa aneh. Tak lama sepasang pemuda - pemudi tadi keluar di lantai empat sementara Tante Dewi menuju lantai lima.


"Ya overload si Tante kan nambah yang gak keliatan tiga hantu hehehe." sahut Dita.


"Nah itu tuh temenan sama kamu tuh banyak banget yang nemenin gak jelas ih." Tante Dewi bergegas menemui kapten Jihan di ruangan pak Kevin.


Pak Kevin sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Meskipun mengalami hilang ingatan dan hanya mengingat beberapa tahun sebelum istrinya Lisa pergi, namun Kevin di beri pengarahan oleh polisi untuk sementara tidak pulang kerumahnya karena berbahaya untuk keselamatan nya dan ia mengerti.


"Saya mohon kerja samanya ya dok, nanti akan saya kirim penjaga untuk mendampingi tuan Kevin, sementara waktu pastikan dia bekerja dari rumah." ucap Kapten Jihan.


"Maaf sebelumnya aku menyela nih tapi pak Kevin harus mengambil dokumen di brangkas rumahnya kapt gimana tuh apa kita perlu penjagaan?" ucap Dita


"Emang iya Ta?" tanya Tante Dewi heran.


"Pak Herdi yang suruh cek brangkas rumah di ruang kerja pak Kevin."


"Oh iya wasiat buat kamu yak?"


"Apakah penting?" tanya kapten Jihan.


Dita menoleh ke Pak Herdi karena terhalang Anan Dita mendorong bahu Anan pelan agar minggir sebentar. Dita melihat anggukan kepala pak Herdi.


"Iya penting Kapt." ucap dita.


"Baiklah kalau begitu saya yang antar ke rumah tuan Kevin bersama dua anak buah saya." ucap kapten Jihan.


"Dokumen apa ya?" tanya pak Kevin masih bingung.


"Nanti juga dia paham Ta." sahut pak Herdi.


"Bapak harus lihat dokumennya dulu baru paham mungkin." ucap Dita.


"Mari silahkan lewat sini." ajak kapten Jihan.

__ADS_1


Dita menahan tawanya bersama Anan saat melihat pak Kevin terus menggandeng mesra lengan Tante Dewi yang mencoba menepis dan menolak namun Tante Dewi gagal melepasnya.


"Ehm ehm jadi mau di gandeng Nan." ledek Dita berusaha menggoda Tante Dewi yang berjalan di depannya. Tante Dewi menoleh ke arah Dita dengan tatapan kesal. "Awas kamu Ta." ucapnya lirih.


Sementara ke tiga hantu tadi mengikuti Dita berjalan bersama Doni di belakang Dita dan Anan menuju parkiran rumah sakit. Anita menggoda pak Herdi dengan melompat sambil tertawa lalu mengajak Maya melompat dan teringat sesuatu.


"Stop mbak Maya udahan lompat nya, ngeri saya kalo usus mbak Maya buyar bercecer di sini hiyyy." ucap Anita membuat Doni bergidik ngeri membayangkannya.


****


Doni membawa mobil Tante Dewi melaju di iringi dengan mobil polisi yang di pimpin kapten Jihan menuju rumah pak Kevin di sebuah komplek yang terbilang cukup elit meski tidak lebih elit dari rumah pak Herdi dan sebesar rumah Anan.


Sesampainya di halaman rumah pak Kevin seorang satpam sudah siap membuka pintu gerbang. Seorang ibu berpakaian pelayan menyambut pak Kevin.


"Mbok tolong siapkan jamuan untuk para tamu dan buatkan saya wedang jahe ya, kalau Lisa jahenya pake susu." ucap pak Kevin kepada pelayannya.


"Nyonya Lisa? mana tuan?" tanya pelayan pak Kevin.


"Ini." pak Kevin merangkul pinggang Tante Dewi.


"Mbok iya in aja." bisik Dita.


"Iya tuan iya." sahut pelayan itu.


Pak Kevin membawa Tante Dewi, Dita dan Anan menuju ruang kerjanya, pak Herdi mengikuti Dita dari belakang sementara dini dan lainnya menunggu di ruang tamu dengan suguhan es sirup merah dan beberapa biskuit untuk cemilan.


Kapten Jihan menghampiri ibu pelayan tersebut dan menceritakan kejadian yang menimpa pak Kevin serta ingatannya akan Lisa saat melihat Tante Dewi.


*Di ruang kerja pak Kevin*


Sebuah tombol yang terletak pada pinggiran lukisan pemandangan pantai yang berukuran besar di tekan oleh pak Kevin dan menggeser sebuah lukisan harimau yang terletak di belakang kursi kerjanya. Sebuah kotak brangkas berwarna hitam dengan kombinasi terpampang di dinding. Pak Kevin menekan beberapa angka untuk membuka brangkas tersebut. Dia meraih sebuah map bertuliskan wasiat Herdi. Di bukanya map tersebut dan dibaca isinya yang menyatakan wasiat untuk Dita, yayasan kesehatan anak dan rumah ibadah. Dia juga meraih sebuah kartu kredit unlimited atas nama Anandita Mikhaela tertera pada kartu tersebut. "Kenapa Herdi membuat wasiat ini ya, dimana dia sekarang?"


****


To be continued...


Terima kasih dukungannya jangan bosan ya bacanya... tetap dukung selalu novel ini, mohon maaf jika ada typo bertebaran...

__ADS_1


Mampir ke 9 lives juga ya, love you all 😘😘😘


__ADS_2