
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...
Mampir ya ke Novel terbaru aku yang uwwu
"Diculik Cinta" yang siap mengocok perut kalian.
Happy Reading...
******
"Tenang tante, Anta mah gak takut." Anta bertolak pinggang ddngan bangganya sambil menguap lebar.
Hantu itu makin menggeram melihat kelakuan Anta dan lainnya. Hantu wanita itu mencoba mencekik Anta, tapi Pak Herdi langsung menepisnya.
"Tasya, lindungi Anta!" pekik Pak Herdi.
Tandukan kepala Pak Herdi menekan perut si hantu wanita itu sampai jatuh bersama ke dalam sungai di jembatan tersebut.
"Haduh, mereka pakai jatuh lagi," ucap Tasya menghampiri sisi jembatan untuk nengok pertarungan Pal Herdi dan hantu wanita tadi. Anta memandang hantu anak kecil itu dengan tatapan kesal. Ia kepalkan tangannya meninju telapak tangannya sendiri.
Supir taxi tadi menahan bahu Anta, ia melarang Anta untuk pergi menjauh.
"Tenang pak, bapak supir diem aja di sini!" pinta Anta.
Hantu anak kecil itu kebingungan, ia ketakutan melihat Anta yang semakin dekat padanya.
"Sini kamu!" Anta menantang hantu anak kecil tadi sambil mengisyaratkan tebasan pisau di leher menggunakan tangan kanannya.
"A-aku, aku tak akan menganggumu," ucapnya memohon ampun pada Anta.
Hantu anak kecil itu sangat ketakutan, apalagi baru itu ia temui seorang anak yang tak takut hantu dan bisa menyentuhnya bahkan melukainya tadi.
"Sini, sini, jangan nangis, Anta jadi gak tega kan kalau lihat anak kecil nangis, sini, sini!" ucap Anta memanggil hantu anak kecil tersebut.
Sang supir yang ketakutan langsung menepuk punggung Tasya.
"Kenapa, pak? lagi seru nih liat pocong sama hantu daster pink berantem," protes Tasya.
Pak supir menunjuk ke arah Anta yang ia lihat bicara sendiri.
"Oh... tenang aja, dia lagi ngomel sama hantu, kan sudah saya bilang, bapak duduk manis aja di kemudi, nanti kalau saya bilang muter bapak muter ya... Tuh salah kan, maksudnya kalau saya bilang nyala, bapak siap nyalain mesin," ucap Tasya mendorong pelan si supir untuk masuk ke dalam mobil.
"Untung kurang denger, kalau enggak bisa dikatain garing aku barusan," gumam Tasya.
"Hoi, Anta! itu diapain anaknya?" tanya Tasya.
"Ini Anta jadi kasian sama dia, tante. Anta kan gak tega kalau ada anak kecil nangis," sahutnya.
"Astagfirullah... kamu itu juga anak kecil, bocah...!" Tasya menepuk jidatnya sendiri.
"Ih sembarangan, Anta bukan anak kecil tuh buktinya hantu aja takut sama Anta," ucap Anta masih mempertahankan pendapatnya sendiri.
"Terserah kamu lah! oh iya ketinggalan kan tuh mau lihat pocong sama hantu daster pink tadi berantem," ucap Tasya lalu bergegas menuju tepi jembatan.
Pak Herdi dan hantu wanita itu masih saling pukul dan tendang. Apalagi hantu wanita itu sudah berubah menjadi sosok yang lebih menyeramkan seperti nenek sihir.
"Ayo, pak Herdi kamu pasti bisa kalahkan dia," ucap Tasya lirih dengan gaya meninju kepalan tangannya sendiri.
__ADS_1
Sementara itu, Anta masih berbicara dengan hantu anak kecil tadi yang akhirnya mau mendekat ke arahnya.
"Sini, duduk dekat Anta!" perintah Anta seraya membawa hantu anak kecil tadi mendekat ke arahnya. Ia mengajak hantu anak kecil itu untuk duduk di dalam mobil taxi.
"Aku kasih tau ya, harusnya kamu itu sekolah, emang di dunia kamu gak ada sekolah?" tanya Anta dengan polosnya.
Hantu itu menggelengkan kepalanya.
"Ish, ish, ish, masa gak ada sekolah sih? nanti kamu bodoh lho," ucap Anta.
Hantu anak lelaki itu masih saja menunduk tak berani menatap Anta.
"Kenalin aku Anta," ucap Anta mengulurkan tangannya.
"Aku, namaku Rian," sahutnya.
"Oh, Rian. Begini nih daripada kamu gangguin orang-orang di jalan tol sampai buat mereka kecelakaan, mending ikut Anta ke sekolah. Tapi kamu gak boleh gangguin manusia di sana. Kamu bolehnya nunggu di kelas ikut belajar. Bagaimana?"
Anta mencoba memberi saran pada hantu anak lelaki itu.
"Tapi, ibuku bilang tugasku mencari korban di jalan tol sana," ucapnya.
"Ah ibu yang jahat, amit-amit ih. Untung aja bunda gak jahat kayak gitu, kan kasian kalau banyak manusia yang mati di sana." Anta bertolak pinggang.
"Lah tuh bocah sama hantu udah akrab ngobrol bareng, emaknya sama pak Herdi malah masih berantem di bawah sini, hadeh..." gumam Tasya saat melihat Anta sudah berbincang-bincang dengan hantu tadi.
Kemudian Tasya mencoba berteriak pada Pak Herdi untuk menghentikan pertarungan mereka. Hantu wanita itu sedang memeluk Pak Herdi dari arah belakang seraya bergelayutan di punggung pocong tersebut.
Pak Herdi naik ke atas jembatan menghampiri Tasya.
"Tuh, lihat! si Anta udah akrab sama anaknya," tunjuk Tasya ke arah dalam mobil taxi.
"Mati-matian? perasaan udah mati sih," sahut Tasya.
Hantu wanita itu juga terperanjat melihat anaknya yang sudah akrab dengan Anta.
"Rian, kenapa kamu jadi ngobrol sama dia?" tanya hantu wanita itu menunjuk Anta.
"Mommy, aku mau ikut dia ke sekolah, aku mau jadi penunggu sekolah aja biar bisa belajar, gak kedinginan di jalan tol," ucap Rian mencoba protes.
"Astaga, nak... nanti daddy kamu bisa marah sama mommy, kamu kan harus meneruskan perjuangan daddy menjadi hantu penunggu tol," ucapnya.
"Aku gak mau, aku maunya ikut dia," ucap Rian menunjuk Anta.
"Nih ya, mohon maaf sebelumnya, kalau saran saya, daripada dia gak jelas gentayangan di jalan tol mending ke sekolah dapat ilmu, bisa buat anak ini lebih pintar, nanti kan mommy-nya juga yang bangga, benarkan, Pak Herdi?" Tasya menoleh pada Pak Herdi mencari dukungan.
"Tau..." sahut pocong itu.
Tasya langsung menginjak kaki Pak Herdi dengan kesal.
"Adaw... sakit, Sya!" pekik Pak Herdi.
"Makanya nurut sama aku!" Tasya memberikan tatapan tajamnya.
"Ya udah deh, mommy nurut sama kamu, tapi seminggu sekali kamu harus pulang ya," ucap hantu wanita itu.
"Terima kasih mommy, aku pergi dulu ya," Rian memeluk tubuh ibunya tersebut.
"Tolong jaga anak saya, ya." Hantu wanita itu menoleh pada Pak Herdi dan Tasya.
__ADS_1
"Iya... nanti juga dijagain sama Anta," tunjuk Tasya ke arah Anta.
Pak Supir langsung melonjak kegirangan kala mesin mobilnya menyala.
"Ayo, pak! Lanjut jalan kita pulang!" ucap Tasya bergegas masuk ke mobil.
Hantu wanita itu melambai-lambaikan tangannya dari kejauhan.
"Haduh, gara-gara si Anta, terpaksa bawa pulang hantu," Tasya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
***
Sesampainya di rumah, Jerry membuka pintu rumahnya sambil menguap lebar.
"Malam banget, sih? astaga itu siapa?" Jerry menunjuk ke arah Rian.
"Temannya Anta, besok mau dibawa kesekolah buat jadi hantu penunggu kelas, mau diajak belajar katanya," sahut Tasya.
"Ya ampun anak ini," Jerry menatap ke arah Anta dengan gemas.
"Kok kamu gak tidur di sana?" Tasya menunjuk ke arah rumah kecil Jerry di dekat kolam renang.
"Tante Dewi sendirian, aku di suruh tidur di kamar nenek, mana si Samanta melotot aja ih kesel!"
"Terus kamu di gangguin sama Samanta dong?" tanya Tasya.
"Gak berani dia, aku dijagain sama mama Lily," sahut Jerry.
"Mama Lily?" tanya Tasya dan Pak Herdi bersamaan.
"Ya masa papa aku udah cantik gitu aku tetep panggil papa, harus mama dong, kan cantiknya sama kayak aku," ucap Jerry sambil mengikik.
"Ya ampun, terserah kalian lah mau pada manggil apa," ucap Tasya lalu menggendong Anta menuju kamarnya di lantai dua. Di belakangnya Pak Herdi melompat mengikutinya menaiki tangga. Rian meniru cara Pak Herdi bergerak dengan melompati anak tangga satu persatu menuju lantai dua.
Pak Herdi menoleh ke arah Rian.
"Jangan ikuti saya, atau kalau tidak..." ancam Pak Herdi menatap Rian tajam.
"Baiklah, maafkan aku," sahut Rian kembali dengan jalan normalnya.
Tasya mendengar pembicaraan tersebut lalu tertawa. Ia sudah tak bisa lagi menahan tawanya melihat kelakuan Rian yang mengikuti Pak Herdi.
******
Bersambung ya...
Mampir juga ke :
- Diculik Cinta
- With Ghost
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
- Kakakku Cinta Pertamaku
Vie Love You All... 😘😘😘
__ADS_1