Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Tasya vs Mark


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...


Happy Reading...


******



Mitha menangis di kebun mawar belakang rumahnya. Setelah ia tahu Tasya lah wanita yang selama ini di cintai Doni, semenjak saat itu ia sangat membenci Tasya. Bayangan hitam muncul di hadapan Mitha mengejutkannya.


"Siapa kamu?" tanya Mitha yang langsung mundur beberapa langkah itu.


Bayangan hitam itu berubah menjadi sosok wanita jepang yang memakai pakaian kimono jaman kerajaan lampau.


"Ah... akhirnya aku bisa juga sampai di sini, hmmm kau siapa ya?" tanya wanita jepang itu.


"Aku yang harusnya bertanya kepadamu, kau itu siapa tjba-tiba ada di rumahku?" tanya Mitha dengan bentakan yang lebih kuat.


"Oh... rupanya aku bisa sampai ke sini karena amarahmu yang kuat ini ya? hmmm baiklah perkenalkan namaku Ratu Masako," ucapnya seraya mengulurkan tangannya ke arah Mitha.


"Ratu Masako? bagaimana kau bisa sampai ke sini?" tanya Mitha masih tak mengerti.


Kalung yang kau kenakan itu rumahku. Aku bersemayam di sana, dan sekarang aku terbangun karena kemarahanmu."


Ratu Masako duduk di bangku taman bunga mawar tersebut.


Mitha memegangi kalungnya, ia teringat saat pertama kali membeli kalung tersebut di sebuah toko barang antik di negaranya tempo itu.


"Lalu apa yang kau inginkan dariku?" tanya Mitha.


"Entahlah aku belum tau, tapi aku bisa membantumu melampiaskan amarahmu hahahaha..." ucap Ratu Masako dengan tawa yang terbahak-bahak.


***


Malam itu saat Dita mendekap erat tubuh suaminya ia merasakan sesuatu menggeliat di wajahnya.


"Haish... apa ini?" Dita merasakan sesuatu yang kecil, empuk dan kenyal bergeliat di sekitar wajahnya.


Wanita yang terbaring itu lalu membuka matanya dan berusaha meraih lampu kamar di samping ranjangnya.


Klik.


Cahaya lampu kamar yang redup itu berpendar ke sekeliling ruangan. Dita mengamati sesuatu yang bergerak di tangannya tersebut dengan seksama.


"Astagfirullah ini kan belatung," ucap Dita lirih.


Dia guncangkan bahu Anan untuk membangunkan suaminya tersebut. Betapa terkejutnya Dita saat tubuh Anan berbalik yang ia lihat hanya tengkorak yang penuh belatung menghadap ke arahnya.


"Aargghh Yandaaaa...!"


"Bunda, bunda, bunda bangun kamu kenapa?" Anan membangunkan Dita yang berteriak karena mimpi buruknya.


Peluh keringat bercucuran dari dahi Dita saat ia membuka kedua matanya. Ia sentuh wajah Anan berkali-kali. "Yanda..."


Dita memeluk Anan dengan eratnya sambil menangis tersedu-sedu.


"Kamu mimpi apa sih, sampai nangis kayak gini?" ucap Anan.

__ADS_1


"Aku mimpiin kamu. Tubuh kamu tinggal tengkorak semua terus penuh belatung. Aku takut yanda..." ucap Dita dengan isak tangis yang belum bisa ia hentikan.


"Itu kan cuma mimpi," sahut Anan menenangkan Dita dengan pelukannya yang semakin erat.


"Justru aku takut itu pertanda, firasatku buruk tentang mimpiku barusan. Aku gak mau kehilangan kamu. Aku gak mau kehilangan kamu lagi, aku gak akan bisa hidup tanpa kamu jika harus kehilanganmu untuk kedua kalinya, hiks hiks..."


"Bunda kok ngomongnya kayak gitu sih? lihat aku nih, aku baik-baik saja. Kita obati sakitku ini dengan pengobatan medis maupun non medis menggunakan mutiara hitam sang Ratu."


Anan menyeka air mata pada pipi Dita Lalu mencium keningnya.


"I love you so much...," ucap Anan dengan lirih.


"I love you much much much much... muah muah muah..."


Dita mencium seluruh bagian di wajah Anan tanpa terlewat satu bagian pun di sekeliling wajah Anan.


Malam itu di habiskannya waktu dengan kegiatan curahan cinta Anan dan Dita sampai mereka puas dan terbaring lemas sampai fajar menjelang.


***


"Hai Ta!" Sapa Mark kala Dita sedang menyiapkan nasi goreng untuk sarapan.


Mark sengaja mendekatkan dirinya agar bisa mencium wangi rambut Dita yang masih basah itu.


"Hmmm... wangi banget," ucap Mark lirih menikmati aroma bunga mawar yang tercium di rambut Dita.


Tak...


Suara ulekan besar itu di hentakan di cobek yang terbuat dari semen tersebut. Dita melirik tajam ke arah Mark.


"Wow... biasa aja dong!"


Tasya yang melihat kelakuan Mark langsung menarik rambut Mark menjauh Dita dan membawanya ke tepi kolam.


"Aku gak suka ya kalau kamu terus-terusan menggoda Dita, dia itu istrinya Anan. Aku ngerti sekarang, kamu suka kan sama Dita?" tanya Tasya dengan suara berbisik namun masih ada kekesalan di sana.


"Ya, aku suka sama Dita, lalu kenapa?"


Mark menantang gadis di hadapannya itu dengan bertolak pinggang.


"Ih... belum pernah ya kalau muka kamu aku ulek sama cabe rawit merah seratus biji, ih...."


Tasya mengepalkan tangannya lalu meremas-remas tangannya sendiri dengan gemas di hadapan Mark.


Mark menepis tangan Tasya lalu berkata, "Aku gak perduli!"


"Kamu cemburu memangnya?" tanya Mark.


"Idih najis, ogah banget cemburu sama kamu!" seru Tasya.


"Terus kenapa kamu marah?" tanya Mark lagi.


"Karena yang kamu deketin itu adalah para sahabat yang aku sayang. Bukan cuma sahabat bahkan keluargaku. Perjuangan cinta mereka tuh berat, kamu gak akan bisa seperti Anan," tutur Tasya meremehkan Mark.


"Aku akan buktiin ke kamu kalau aku bisa lebih dari Anan buat ngerebut Dita."


Mark menegaskan kembali keinginannya.


"Masalahnya ya jangan terlalu percaya diri, Dita tuh gak akan tergoda sama makhluk kayak kamu. Yang aku takutkan Anan yang marah gara-gara kamu dan salah paham. Nanti kan yang tersakiti hatinya ya Dita, paham???"

__ADS_1


"Jika saat itu datang, aku akan menyembuhkan luka di hati Dita."


Mark pergi dan melambaikan tangannya pada Tasya untuk pamit pergi begitu saja.


"Ihhh dasar markonah...!"


Tasya melempar sepatu yang ia kenakan tepat menyentuh kepala belakang Mark sebelum pria itu masuk ke dalam rumahnya.


"Aduh..." Mark menoleh ke arah Tasya dengan tatapan kesal.


"Syukurin...!"


Tasya melempar sepatunya yang satu lagi tepat mengenai wajah Mark kali ini.


"Tasyaaaaaaa...!!!"


Mark mengejar Tasya yang langsung berlari sampai ke halaman.


Pria itu menangkap tubuh Tasya sampai jatuh dan menindih di atasnya.


"Ehm ehm, gak bisa cari tempat lain apa, masa mau pacaran aja di halaman rumah?"


Shinta mencibir Tasya dari halaman rumahnya saat sedang menjemur anaknya dengan matahari pagi.


Doni dan Mitha keluar dari dalam rumahnya dan melihat adegan Tasya dan Mark tersebut.


"Tuh lihat sendiri kan, gimana murahannya perempuan idaman kamu," ucap Mitha dengan nada ketus.


Tasya langsung menendang perut Mark untuk menjauhi tubuhnya. Gadis itu langsung berdiri dan menepuk pakaiannya yang kotor karena debu jalanan.


"Urusan kita belum selesai!"


Mark menunjuk ke arah Tasya lalu pergi menaiki sepeda motor besarnya menuju kampus.


Tasya sempat melirik ke arah Doni yang selalu memperhatikan gerak-geriknya sebelum ia masuk ke dalam rumah.


Gelang di tangan Tasya berbunyi dan langsung menghadirkan Pak Herdi di depannya.


"Kamu kenapa Sya panggil saya?" tanya Pak Herdi.


"Ih siapa yang panggil bapak, mungkin ini gelangnya kesenggol," jawab Tasya.


"Oh kirain butuh bantuan."


"Tadi aku butuh bantuan, sekarang udah enggak!" ketus Tasya menjawab seraya melangkah pergi menuju dapur.


******


Masih bersambung ya guys...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST (UP)


- Kakakku Cinta Pertamaku


season 1 END


- 9 Lives (END)

__ADS_1


- Gue Bukan Player (END)


__ADS_2