Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Di Negara Flower


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...


Happy Reading semoga makin suka 😊😊😊


******


Dita membersihkan rumah yang ia tempati sekarang sembari merapikan pakaian yang ia bawa.


"Bunda, kamu ngapain capek-capek gitu, kan kamu belum sembuh betul?" Anan menghampiri Dita dan segera melarangnya.


"Aku udah mendingan kok, ya meski masih nyeri dikit," jawab Dita seraya membersihkan jendela dan tirainya yang berdebu.


"Sini!" Anan menepuk ranjang kasur di sampingnya.


"Ih yanda, nanti kalau Anta lihat gimana?" Dita menyembunyikan wajahnya yang tampak malu itu di balik tirai.


"Lah biarin aja sih kalau Anta lihat emangnya aku mau apain kamu? kan aku cuma suruh duduk di sini, kita ngobrol bentar," ucap Anan.


"Oh... kirain mau apa hehehe," ucap Dita lalu menghampiri Anan.


"Aku mau beli mobil bun kan letak restoran yang mau kita kelola lumayan jauh, boleh gak?" tanya Anan.


"Emang kita harus beli mobil yanda, kan di sini gak ada angkot, terus bis sekolah paling berhenti di halte sana," ucap Dita.


"Jadi boleh nih?"


"Boleh lah, apa sih yang enggak buat yanda," Dita memajukan bibirnya seraya memberi flying kiss pada Anan.


"Emang istri kesayangan deh bunda ini," Anan menarik lengan Dita merebahkan tubuh istrinya di sampingnya.


Keduanya saling bertatapan penuh cinta. Anan mengusap dan membelai rambut di kepala Dita sambil menatapnya. Sesekali Anan mencium kening, pipi, hidung, bibir semua wajah Dita.


"I love you bunda..." ucap Anan lirih.


"I love you too yanda," jawab Dita yang sangat siap menerima kecupan bahkan ******* bibir dari Anan.


"Anta love juga sama yanda sama bunda," sahut Anta yang langsung membanting tubuhnya ke atas kasur di antara Anan dan Dita.


"Haduh... si Anta mah merusak suasana romantis aja nih," gumam Anan yang dijawab tawa oleh Dita.


"Romantis itu apa yanda?"


"Hmmm... Anta cari sekolah aja yuk sama yanda, biar bunda istirahat di rumah," Anan mencoba menghindari pertanyaan Anta.


"Asik Anta cari sekolah baru, yeaayyy... Anta bawa Lili dulu ya," ucap Anta lalu pergi dari kamar orang tuanya bersiap untuk ikut bersama Anan.


"Kamu mau naik apa cari sekolahnya?" tanya Dita.

__ADS_1


"Naik taxi aja lah, aku pesen lewat aplikasi, habisnya gak ada angkot, siapa tau pas aku pulang nanti udah bawa mobil ya gak?" Anan melirik manja ke arah Dita.


"Awas nanti nyasar lagi," Dita memeluk leher Anan dengan gemas.


"Kan ada gps, lagipula aku paham kok bahasa sini, kamu istirahat aja, eh bunda si Tasya pergi ya sama Jerry? sembarangan tuh cireng, masa suruh ngurusin nenek malah ditinggal pergi," ucap Anan kesal.


"Udah biarin aja urusan nenek mah sama aku, biar aja Tasya sama Jerry tau jalan, toh aku ada Pak Herdi yang jagain," ucap Dita.


"Ayo yanda! Anta udah siap nih." ucap Anta yang sudah siap memakai sweater merah muda dan membawa tas ransel kecil di punggungnya.


"Pamit sama bunda dulu dong." Dita merentangkan tangannya dan siap menyambut Anta untuk memeluknya.


"Jangan nakal ya, terus kalau ada cewek yang berani godain yanda, kamu omelin aja ya," Dita mencubit ujung hidung Anta pelan.


"Oke siap bunda!" Anta mencium kedua pipi Dita lalu punggung tangan ibunya itu.


"Aku pergi ya bun, nanti aku bawa bahan makanan untuk di masak," ucap Anan lalu mencium kening Dita, kedua pipinya dan berlanjut mengecup bibirnya.


***


Dita menuruni tangga menuju kamar nenek Rose saat mendengar jeritan dari kamarnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat nenek Rose sudah berdiri dan menari balet di dalam kamarnya.


"Astaga nenek kok bisa nari, nanti tulangnya sakit semua pada patah gimana nanti," ucap Dita menghampiri nenek Rose.


Wajahnya berubah menjadi ceria dengan tawa yang menyeringai. Kepalanya di miringkan ke kanan dan kiri sampai terdengar bunyi tulang leher yang gemerutuk membuat ngilu.


Masih tak ada jawaban dari sang nenek yang tertawa cekikikan makin nyaring.


"Hmm ada yang gak beres nih," gumam Dita lalu memanggil Pak Herdi.


"Kenapa lagi? ada hantu lagi ya di sini?" tanya Pak Herdi.


"Tuh coba liat, nenek Rose kan lumpuh masa bisa berdiri terus menari seperti itu?" tanya Dita menunjuk nenek Rose.


"Hmm... betul Ta, coba aku tanya ya, siapa kamu?"


Tanya Pak Herdi.


"Hmmm..." sahut si nenek.


"Oh bentar jadi inget hantu di toilet dia gak paham bahasa kita, okay listen, who are you?" tanya Pak Herdi.


"Me...? hahahaha..." tawa si nenek yang kini sudah menempel di dinding.


"Lah kok jadi kayak cicak?" tunjuk Dita dengan nada heran dan ngeri juga terpancar di wajahnya.


"Gak salah lagi Ta, ini mah kesurupan," ucap Pak Herdi.

__ADS_1


"Waduh... hantu macam apa yang masuk ke dalam tubuh nenek?" gumam Dita.


"Heh turun! down here!" pinta Pak Herdi menarik kaki nenek Rose.


"Pelan-pelan pak dia kan udah tua takut kenapa-kenapa tulangnya," Dita mencoba memberi saran pada Pak Herdi.


"Oke Ta tenang aja, justru kalau dia kesurupan kayak gini tenaganya makin kuat," sahut Pak Herdi.


"Down here...!!!" pekik Pak Herdi.


Tapi sayangnya air seni dari nenek Rose keluar begitu saja membasahi wajah Pak Herdi saat Pak Herdi menarik kaki nenek Rose.


"Astaga... sial banget sih aku dari tadi," ucap Pak Herdi dengan kesalnya.


Dita sebenarnya mencoba untuk menahan tawanya akan tetapi, perutnya terasa makin sakit jika ia tahan. Akhirnya tawa Dita yang terbahak-bahak keluar juga bersamaan dengan tawa dari si hantu.


"Maafin Dita pak, ini lucu banget bukannya di ompolin Anta eh ini malah di ompolin nenek-nenek hahahaha..." ucap Dita.


"Ini kenapa pada nyebelin banget gini sih! aku mau tarik nih ya siap-siap pegangin Ta," ucap Pak Herdi.


Tarikan tangan Pak Herdi yang kuat membuat si nenek Rose terjatuh. Untungnya ia terjatuh di atas kasur, tepat seperti perkiraan Pak Herdi.


"Aaarrgghh...!!!" Nenek Rose menjerit saat tubuhnya terangkat dari atas kasur.


"Udah deh gak lucu, gak serem, kamu keluar dari sini!" Pak Herdi memukul perut si nenek Rose untuk turun.


Nenek Rose kembali ke atas ranjang tak sadarkan diri. Pakaian yang ia kenakan basah berbau pesing. Ditambah dengan peluh keringat yang membasahi sekujur tubuhnya.


Hantu perempuan muda muncul dari balik ranjang. Kepalanya menyembul dari sana lalu muncul wajahnya yang tersenyum sambil tertawa menyeringai menakuti Dita, tapi tak berhasil.


"Hai...!" sapa Dita.


Hantu perempuan muda yang berkepang dua itu terbelalak karena sangat terkejut kala tahu Dita tak takut padanya.


*****


Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainny


- WITH GHOST (UP)


-          Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)


-          9 Lives (END)


-          Gue Bukan Player (END)

__ADS_1


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2