
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up. Vie mohon dong, mohon banget, jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh.
Happy Reading...
******
"Dewi, maafkan aku..." ucap Om Kevin dengan suara lirih dan penuh penyesalan.
Tante Dewi makin mendekat dan tiba-tiba saja ia melakukan sesuatu yang sontak saja mengejutkan Dita dan Anan.
Wajah wanita itu mulai memerah menahan amarah dengan buliran bening yang terus jatuh di pipinya. Lalu kemudian tangannya mengepal dan menghantarkan tinju mautnya pada Om Kevin.
Bug!
Kulitnya pipinya langsung mengelupas, tulang pipi hancur dan kepalanya langsung menghadap kanan saking kerasnya pukulan Tante Dewi.
"Kemana Ta, tuh hantu sialan?" ucap Tante Dewi dengan kesalnya.
"Masih ada kok, lagian tangan Tante kenapa lepas dari tanganku?" tanya Dita masih tak mau melihat Om Kevin.
Sementara Anan masih menganga, bagaimana bisa sosok Tantenya ini bisa membuat kepala Om Kevin patah dan miring ke kanan padahal sudah jadi hantu.
"Oh iya lupa sini tangan kamu sini, berikan padaku lagi," minta Tante Dewi.
"Pukul aku sepuas kamu, Wi, Jika itu mampu membuatmu memaafkanku dan merasa lega, aku ikhlas menerimanya," ucap Om Kevin.
"Kalau ngomong tuh lihat ke orangnya langsung, pandang ke saya, mas!" pekik Tante Dewi dengan nada suara yang sangat kesal.
"Gak bisa nengok, Wi, Kamu pukul saya kekencangan," ucap Om Kevin.
"Sini, Ta. Kita geser ke sini, saya mau lihat mukanya lagi kalau gak gara-gara megang tangan kamu, udah saya unyeng-unyengin nih hantu, kesel banget aku, iihhh..." ucap Tante Dewi dengan gemas menahan amarahnya meluap lebih dasyat.
"Maafkan saya, dan maafkan juga Tina, kami terbawa suasana sampai kami khilaf, dan Tuhan sudah membalas perbuatan dosa saya dengan menghukum saya seperti ini," ucap Om Kevin.
"Aku tahu, aku sudah menduganya, setelah kulihat seseorang mengunggah foto reuni kalian ke sosial medianya, aku mulai tahu kalau sebenarnya kalian adalah pasangan sebelumnya," ucap Tante Dewi.
"Maafkan saya, saya sungguh minta maaf, Wi."
"Pergilah mas, pergilah dengan tenang, dan pertanggung jawabkan perbuatanmu di alam sana," ucap Tante Dewi.
"Tidak bisakah saya menemani kamu sampai kamu bertemu seseorang yang bisa membahagiakanmu?" tanya Om Kevin.
__ADS_1
"Tidak usah, tidak perlu, aku tak butuh dijaga kamu, masih banyak yang bisa jaga aku ditambah dengan penjaga mereka juga. Lagipula kalau aku melihat kamu, nanti aku gak akan pernah bisa maafin kemudian selalu kesel sama kamu dan Tina."
Tante Dewi menghela nafas dalam. Ia berusaha menahan tangisnya pecah kembali. Mungkin memang takdir cintanya seperti ini selalu di selingkuhi pasangan yang sangat ia cintai. Dewi cinta mungkin tak pernah menyukainya bahagia.
"Baiklah, jika aku tak diperbolehkan berasa di sini lebih lama untuk menjaga kamu, aku akan pergi dengan tenang. Terima kasih, Dewi. Terima kasih kamu sudah menjadi istri terbaik untuk aku," ucap Om Kevin lalu pamit pergi menuju cahayanya. Namun, langkahnya terhenti.
"Anan dan Dita sampaikan salam Om sama semuanya dan mohon maafkan kelakuan Om, ya. Dan tolong jaga Dewi untukku dengan baik."
"Iya, Om. Pastinya kami akan selalu menjaga Tante Dewi dengan baik," ucap Anan.
"Dita juga, Om, tenang aja," sahut Dita masih menundukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu aku pergi ya," ucap Om Kevin untuk terakhir kalinya lalu berjalan miring menuju cahaya yang memanggilnya memasuki alam baka.
Tangisan Tante Dewi mulai meledak, padahal tadinya ia berusaha tahan. Namun, ia tetap merasa sedih juga kehilangan Om Kevin meski hatinya sudah mulai membenci pria itu. Namun, akhirnya ia mencoba ikhlas.
"Ayo, kita pulang, kita bawa jasadnya dengan ambulance untuk dikubur di pemakaman komplek dekat rumah kita," ucap Tante Dewi.
"Tante gak mau ketemu sama Tina?" tanya Dita.
Tante Dewi langsung menoleh menatap Dita dengan tatapan tajam.
"Oke, aku mengerti, aku paham." Dita langsung menghampiri Anan dan memeluk lengan suaminya itu.
"Ya sudah kalian pergi ke restoran di rumah sakit ini dulu untuk makan siang, biar aku yang urus pemindahan jasad Om Kevin agar bisa pulang sekarang dengan mobil ambulance, ya," ucap Anan lalu segera pergi menuju ruangan bagian administrasi rumah sakit.
"Tunggu, Tante, itu tubuhnya Om Kevin belum di tutup lagi sama selimut," tunjuk Dita.
"Biarin aja, biar dia kedinginan di sini sebelum pulang," Tante Dewi langsung pergi meninggalkan kamar mayat tersebut.
"Dih, galak juga ya si Tante, lebih serem dari hantu Om Kevin."
Dita akhirnya menutup kembali jasad Om Kevin dengan selimut di atas tubuh pria tersebut.
***
Dita duduk di sebuah restoran dalam rumah sakit untuk memesan salad buah dan sayur dengan susu cokelat serta kentang goreng. Ia juga memesan pasta untuk Anan dan satu kaleng soda, sementara Tante Dewi memesan steak ayam asparagus dan jus jeruk.
"Tante mau ke kamar mandi ya, kamu tunggu sini!"
Perintah Tante Dewi pada Dita lalu melangkah pergi menuju kamar mandi.
"Oke, jangan lama-lama," balas Dita.
__ADS_1
Saat memasuki kamar mandi perempuan yang sepi itu, Tante Dewi sempat merasakan bulu kuduknya meremang. Ia merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Kemudia ia mencoba tolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri tapi tak menemui siapapun.
"Perasaan aku aja kali ya, gara-gara si Kevin. Lagian tadi kan dia udah pergi masa masih gentayangan, kan gak mungkin juga," gumam Tante Dewi lalu memilih bilik toilet yang terdekat dengan pintu keluar.
Suara toilet yang mem-flush kloset itu terdengar di telinga Tante Dewi.
"Perasaan tadi kosong deh, gak ada orang, apa aku yang salah ya?" gumam Tante Dewi.
Ia meraih tisu di dalam bilik toilet tersebut tapi ternyata habis .
"Duh, tisu toiletnya habis lagi... hmmm coba pinjem sebelah."
Tante Dewi mengetuk dinding toilet tersebut lalu berucap, "Mbak, siapapun di situ, tolong boleh pinjem tisu, eh minta tisu, lewat bawah sini aja ngasihnya," ucap Tante Dewi meminta tolong pada seseorang yang memakai bilik sebelah.
Lalu gulungan tisu itu menggelinding ke arah kaki Tante Dewi.
"Eh di lempar ke lantai, kan jadi kotor tuh, hmmm... Makasih ya," ucap Tante Dewi.
Tak berapa lama kemudian suara air terdengar di luar bilik toilet dari keran yang berada di depan cermin.
Tante Dewi membuka pintunya lalu langsung mengucap terima kasih tapi tak ada siapapun di sana.
"Kok, hilang... apa udah keluar ya, tapi suara pintunya gak kedengaran," gumamnya.
Tiba-tiba terasa sesuatu menyentuh bahunya. Ia melirik ke arah bahunya dan melihat tangan manusia menepuk bahunya. Tante Dewi lalu menoleh ke arah si pemilik tangan tersebut.
******
Bersambung...
Mohon maaf sekarang jadwal UP Pocong Tampan tak tentu yang penting tungguin aja upnya ya dengan tekan tanda love buat jadiin favorit.
Oh iya 9 Lives update lagi, cusss ditengok ya, dan mohon dukungannya di sana.
Mampir juga ke :
- Diculik Cinta
- With Ghost
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
__ADS_1
- Kakakku Cinta Pertamaku
Vie Love You All... 😘😘😘