
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Masih dengan ketegangan yang sama Dita merapatkan duduknya di samping Anan, begitupula dengan Anita yang ikut merapat kan dirinya di samping Dita. Hantu anak laki-laki berseragam SMP itu juga makin mendekat ke Anita.
Seorang bapak dengan menggendong anak perempuan yang masih balita berdiri dari kursinya lalu berjalan menuju pintu keluar dari gerbong kereta. Kondisi tubuh mereka juga sama terbakar hangus hanya saja bagian belakang kepala balita itu terus mengeluarkan darah yang menetes ke pakaian anak itu.
"Mau turun dimana pak?" Anita memberanikan diri bertanya pada bapak itu namun dia hanya tersenyum.
"Kayanya kita ikutin deh turun disini Ta." ajak Anita.
"Yakin Nit, entar kita makin dalam lagi masuk ke dalam dunia lain ini." jawab Dita yang masih melihat sekeliling.
"Pak kita turun sini ya pak baiknya?" tanya Anita yang dijawab senyuman kembali oleh si bapak.
"Ayolah Ta, turun aja di sini."
"Gimana Nan?" Dita menoleh ke Anan.
"Ya udah kita coba turun sini."
Anan berdiri menggandeng Dita keluar dari kereta itu di stasiun xx.
"Kamu jangan ikut aku yak, maaf seleraku bukan anak kecil." Anita menghadang hantu anak SMP itu mendorongnya perlahan masuk kembali ke dalam kereta hantu itu.
"Bapak sama anak tadi mana Nan?"
Dita mengamati sekeliling mencari penampakan ayah dan anak tadi.
"Gak tau Ta, tiba-tiba hilang." sahut Anan.
"Hei kalian pada ngapain di situ?" seorang laki-laki paruh baya berpakaian seragam petugas kereta api menegur Anan dan Dita.
"Saya baru turun dari kereta pak." jawab Dita sambil tersenyum.
"Kereta yang mana?" tanya bapak petugas itu.
"Yang barusan pak, ke stasiun xx."
"Kapan kalian naik, hari apa jam berapa?"
"Barusan pak, kok nanyanya detail banget sih pak?"
"Saya harus tau neng." ucap bapak petugas itu dengan raut wajah serius.
"Hari kamis jam delapan malam pak, aduh malam Jumat ya pak, bener nih kita naik kereta hantu Nan." ucap Dita.
"Nah itu yang saya takutin neng, peron ini udah gak pernah di pakai lagi tapi sering aja ada yang turun dari sini katanya habis naik kereta hantu kaya neng." ujar si pak petugas.
__ADS_1
"Lagi pula ya neng ini udah hari Sabtu, malam minggu jam delapan." bapak itu menunjukkan jam digital yang iya pakai tertera di layarnya sat 20.00.
"Ta coba deh cek kaki kamu tuh sama Anan." ujar Anita yang sedari tadi berdiri di belakang Anan.
"Aduh... baru berasa perihnya." Dita mencoba berjalan menahan perih di kakinya begitu juga dengan Anan.
"Tuh sama persis kan neng, biasanya kalau naik kereta hantu kaya gitu kakinya pada berdarah perih karena sesungguhnya dia jalan di rel bukan naik kereta." ujar si bapak petugas.
"Duh ponsel aku mati Ta." Anan meraih ponselnya yang lowbat.
"Aku juga Nan." ucap Dita.
"Pakai hape saya neng, nih." bapak petugas itu memberikan ponselnya.
"Kamu hapal nomer Tante Dewi gak?" tanya Dita ke Anan yang langsung menggeleng.
"Telepon rumah sakit aja Ta minta kirim ambulan ke sini kan bisa googling nomer rumah sakit ku." ujar Anan.
"Oh iya yak, Pak ada kuota gak buat browsing?" tanya Dita pada pak petugas.
"Oh, internetan ya neng, ada kok."
"Oh iya ada nih makasih ya pak."
Dita menghubungi nomor rumah sakit milik keluarga Anan dan atas perintah Anan petugas medis dan ambulan nya segera dikirim ke stasiun xx tempat mereka berada.
"Makasih banyak ya pak." Dita mengembalikan ponsel bapak petugas tadi.
"Saya ambilkan minum ya sebentar saya kembali lagi nanti." bapak petugas itu lalu pergi ke ruang kerjanya.
"Horor banget ni peron tuh Ta ada yang cilukba para tuyul."
"Iya ih horor banget ini."
"Yang penting kita terbebas dari kereta hantu tadi, badan aku capek banget lho ini." Anan meregangkan tubuhnya.
"Aku juga capek banget mana bau asem, Jang an deket-deket Nan." Dita menjauh dari Anan.
"Biar adem juga aku cinta Ta." Anan mendekatkan tubuhnya lagi ke Dita.
"Iya abis ini apa yak adegan romantisnya?" Anita duduk bersila di hadapan Dita dan Anan sambil memangku tangan nya.
"Biasanya mah cium Nit." sahut Anan.
"Semprul...!" Dita menoyor pipi Anan.
***
Pagi itu di ruang perawatan rumah sakit Anan dan Dita sudah mendapat konser tunggal dua oktaf ala tante Dewi.
"Tante jadwal ulang yak pemotretan buat kamu, gak habis pikir kalian tuh mainnya sama hantu terus."
"Mana aku tau Tante kalo kita naik kereta kereta hantu sampai dua hari." sahut Anan.
"Untung masih bisa keluar coba kalau kebawa terus sampai akhirat."
"Tante pasti sedih nangis Bombay mikirin aku ya kan?" Anan memberi tatapan maut nan manjanya ke Tante tersayang nya itu.
__ADS_1
plak... tamparan khas Tante Dewi tepat mendarat di pipi kanan Anan.
"Dita mau ngomong apa mau nambahin apa hah?" Tante Dewi menoleh pada Dita.
"Enggak, enggak aku gak ikutan hehehe." Dita mengelus pipi nya sendiri takut.
"Awas yak kalau kalian sampai kaya gini lagi!" ancam Tante Dewi lalu pergi ke ruangannya.
"Kamu sih." ucap Anan.
"Kok aku sih?"
"Kan kamu yang ajak naik kereta."
"Oh jadi gitu sekarang berani nyalahin aku?"
"Ya gak nyalahin Ta, tapi kan ke inginan kamu yang mau naik kereta hayo."
"Ya tapi mana tau kalau tuh kereta hantu yang kita naikin."
"Hoy...! bisa udahan gak ributnya!" Anita menepuk tangannya diantara Dita dan Anan.
"Habis Anan nyalahin aku."
"Emang kamu yang mau naik kereta kan."
"Ih gemes gemes gemes gemes." Dita menepuk dada Anan.
"Hai, kalian pada kenapa? itu Pak Manan juga kenapa?" Cindi datang tiba-tiba ke ruang perawatan.
"Abis joging dua hari dari rumah kamu." jawab Dita agak sewot.
"Kamu joging gak pake sepatu Ta?"
"Gak.. aku nyeker !"
"Pak Manan aku aja yang obatin sus." pinta Cindi pada suster senior yang tadi menangani Dita lalu Cindi langsung mengobati kaki Anan.
"Hmmm modus." sahut Anita.
"Bantuin turun Nit." bisik Dita pada Anita.
"Mau kemana Ta?" tanya Anan.
"Mau keluar, gerah panas banget disini."
"Jangan-jangan ada hantu yang nemenin kamu Ta makanya hawanya panas mulu." sahut Cindi.
"Yeee nyindir aku tuh Ta barusan." ucap Anita sewot siap menghampiri Cindi namun Dita menahannya.
"Iy kali Cin, banyak hantu disini termasuk." Dita melihat ke arah Anan dengan wajah polosnya di obati Cindi.
"Pak Manan gak papa kan?" Dokter Shinta tiba-tiba datang masuk keruang perawatan.
"Hmmm nambah panas lagi nih si Dita." sahut Anita menggoda Dita.
***
__ADS_1
To be continued...