
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...
Happy Reading...
******
Dita mengernyitkan dahinya saat memperhatikan sosok Leona yang tubuhnya hangus itu dengan seksama.
"Ta... Jangan bilang kalau ada hantu ya di punggung tante?" bibir tante Dewi bergetar saat mengucapkannya.
"Yuk mobilnya udah nyala," ajak Anan.
"Tan... ini apaan sih di punggung tante?"
"Wuidih... dateng-dateng udah minta gendong aja nih, jangan-jangan nanti pulang minta bopong lagi kayak film yang kita tonton waktu dulu bun," celetuk Anan.
"Apaan sih, bercanda aja nih..." Dita menepuk dada Anan dengan punggung tangannya.
"Bisa di singkirin gak? berat nih..." pinta Tante Dewi.
"Mommy..." bisik Leona di telinga tante Dewi.
"Huaaaaa ada yang bisik - bisik ke tante duh gimana nih..." Tante Dewi makin panik kala mendengar bisikan Leona.
"Kan tadi katanya mau adopsi, tuh anaknya balik minta gendong malah, hihihi."
Dita malah iseng mengerjai dan menertawakan tante Dewi.
"Dita duh tolongin, suruh pak Herdi gitu yang ambil paksa, berat nih mana bau gosong banget," Tante Dewi makin menggerutu dengan sebalnya.
"Lho kok bawa-bawa saya sih," sahut Pak Herdi yang sudah berdiri di belakang Dita.
"Kalian pada ngomongin apa sih, ada apa sebenarnya?" tanya Tina penasaran.
"Ummm bener nih penasaran mau lihat?" tanya Dita.
Tina mengangguk dengan yakin. Dita meraih tangan Tina dan menariknya mendekati hantu Leona yang ia sentuh.
"Huaaaaaaaa...!!!"
Tina jatuh tak sadarkan diri.
"Hmmm kerjaan lagi aja deh buat gotongnya," gumam Anan.
"Mommy help me..." bisik Leona.
"Hmmm berat nak... mau minta tolong apa sih?" sahut Tante Dewi memberanikan diri akhirnya.
"Maafkan aku dan doakan aku ya mommy," ucap Leona.
"Iya nak mami doain pasti di doain. Kamu juga udah mami maafin," ucap Tante Dewi.
"Makasih mommy..."
"Iya nak sama-sama sekarang kamu pergi ya, berat soalnya nih, pegel nih, bisa encok punggung aku," ucap Tante Dewi mencoba bertahan.
__ADS_1
"Peluk aku mommy," pinta Leona.
"Astaga... dia minta peluk hahahaha," Dita malah menertawakan wajah Tante Dewi yang makin ketakutan bersama Anan.
"Dita... kualat kamu ya ngetawain tante kayak gitu, awas kamu ya."
"Habisnya lucu banget sih, nanti habis minta peluk jangan lupa cium pipi kanan kiri terus salim ya, hehehe."
Dita menepuk bahu Anan berkali-kali dengan gemasnya saat tertawa.
"Duh Dewi kamu pasti bisa, tarik nafas tahan nafas. Hufffttt... ayo Leona sini aku peluk," ucap Tante Dewi akhirnya memeluk Leona.
Hawa panas tampak terasa menjalar di dadanya. Bau sangit bercampur dengan anyir darah menusuk ke hidungnya. Perlahan Tante Dewi dapat melihat wujud Leona yang ia sedang peluk. Leona menunjukkan wajahnya ke arah tante Dewi.
"Gak usah pakai lihat-lihatan ya nak, udah ya kamu pergi dengan tenang sana," ucap Tante Dewi ketakutan.
Pak Herdi sudah terbahak-bahak dari tadi menertawakan adegan Tante Dewi dan Leona.
Dita dan Anan berusaha menahan tawanya.
Leona mencium kedua pipi tante Dewi yang ketakutan dan tak mau membuka matanya.
"Tante Dita..."
"Gak ada, gak ada, gak ada adegan peluk, saya sudah maafkan kamu dan ikhlas dengan kepergian kamu ya," ucap Dita memotong ucapan Leona.
"Jadi benar dugaanku kalau kakak bisa melihat hantu, dan tak takut pada saya. Saya yakin kakak juga bisa melihat tuan Jhon dan Nyonya Kate nanti. Tolong sampaikan maaf saya ya," ucap Leona.
"Nanti juga ketemu di alam sana, minta maaf aja di sana," sahut Dita.
"Ya sudah, kalau begitu saya pamit, dadah..."
"Udah tante buka mata, Leona udah pergi," ucap Dita seraya menepuk bahu Tante Dewi.
"Ah syukurlah... baru itu tante ngalamin di peluk hantu gosong," ucapnya.
"Hmmm dia lupa dulu juga pernah di temenin hantu gosong si Andri," celetuk Anan.
"Ih idih amit-amit jangan lagi deh, eh ini si Tina kita bangunin dulu." ucap Tante
Mereka bergegas menuju kantor polisi meninggalkan bangunan panti asuhan yang sudah rata dengan tanah itu.
***
"Bunda mana sih lama banget?" gumam Anta yang sedari tadi menunggu orang tuanya pulang di depan rumah.
"Barusan kan bunda telepon Nta, bunda masih di jalan, sabar aja sih," sahut Tasya.
"Ya tapi Anta gak sabar tau!" ucap Anta.
Jerry keluar dari mobil taxi menuju ke teras depan menghampiri Tasya dan Anta.
"Yeaaayy Jerry pulang...!" Tasya berjingkrak-jingkrak berputar-putar sambil memegang tangan Jerry.
"Iya, aku seneng banget, tadi Pak Kevin sama Mark cabut gugatan mereka jadi aku disuruh pulang deh sama pak polisi hihihi," ucap Jerry dengan bahagianya.
"Ih kalian lebay!" celetuk Anta yang asik bermain dengan boneka Lily.
__ADS_1
"Oh iya aku punya kupon nih, makan pizza gratis di restoran pizza tuan Worm," ucap Jerry menunjukkan kupon pizza dari dalam dompetnya.
Tasya dan Anta langsung menyahut bersamaan.
"Enggak mau...!"
"Ih tumben biasanya Anta seneng banget kalau di ajak makan," ucap Jerry lalu duduk di samping Anta.
"Idih banyak cacingnya, jijik!" sahut Anta.
"Hah cacing? Masa pizza ada cacingnya?" tanya Jerry heran.
"Nah itu dia Ry, tu pizza gak enak banyak cacing, meski kata orang-orang enak," sahut Tasya.
"Ih gak ngerti deh kalian ngomong apa, ini kupon aku kembalikan lagi nih," ucap Jerry memasukkan kupon ke dalam dompetnya.
Lily memperhatikan Jerry dengan seksama. Apalagi saat Jerry membuka dompetnya.
"Astaga... itu kan foto..."
Lily mengingat masa lalunya kemudian saat dia masih hidup.
***
"Poli, jangan pakai lipstik aku dong," ucap seorang wanita memakai kaca mata dan rambut yang di kepang dua.
"Pinjem kenapa sih, kamu tuh ya Karenina jangan gitu sama lily, suatu saat aku akan buktikan kalau aku tuh bisa lebih cantik dari kamu," ucap Lily.
"Poli nama kamu poli..." Karenina mencubit kedua pipi sahabat sedari kecilnya itu dengan gemas.
"Eh tuh liat Thomas ganteng banget ih..." seru Lily.
Malam itu adalah acara prom night bagi angkatan sekolah Lily dan Karenina.
Saat acara berlangsung dengan meriah penuh dengan dentuman musik yang menghentak jantung. Beberapa alumni sengaja membawa minuman keras dan membuat keisengan. Lily dan Karenina salah satu korban keisengan alumni. Mereka mabuk dan di kunci dalam sebuah bilik sempit. Para alumni memaksa keduanya untuk melakukan hubungan terlarang.
Jauh di dalam hati Karenina sebenarnya ia sangat menyukai Poli sedari kecil, akan tetapi sifat Poli yang lebih dominan ke arah feminim membawanya lebih menyukai sesama jenisnya ketimbang lawan jenis.
Tanpa sadar karena dalam keadaan mabuk, Karenina justru memaksa Poli untuk melakukan hubungan tersebut di ruang sempit itu di tengah lantunan suara musik yang sangat keras.
Dua bulan kemudian sejak kejadian terlarang tersebut, Poli pamit pergi bersama orang tuanya untuk pindah rumah. Ayahnya dipindahkan keluar negeri dan memutuskan untuk melanjutkan kuliah Poli di negeri Gingseng. Poli sangat bahagia untuk pergi kesana, karena yang ia dengar banyak orang-orang sepertinya yang berhasil operasi plastik dan berubah menjadi transgender.
Padahal tanpa Poli sedari, Karenina sudah mengandung anaknya. Tidak ingin membuat Poli sedih dan kehilangan kebahagiaannya, Karenina memilih menyembunyikan kehamilannya dari Poli.
*****
Masih bersambung ya guys...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST (UP)
- Kakakku Cinta Pertamaku
season 1 END
- 9 Lives (END)
__ADS_1
- Gue Bukan Player (END)
Vie Love You All 😘😘😘