
Dear readers tersayang... Jangan lupa sebelum membaca di Like and komentar di babnya. Kalau sudah habis membaca jangan lupa juga buat Vote pakai poin kalian buat dapetin Giveaway dari Vie.
Terima kasih and Happy Reading. 😘😊
*******
Tante Dewi berusaha masuk ke dalam kerumunan para penonton itu. Dia berjuang untuk melihat kehebohan apa yang terjadi di sana.
"Astaga... Anan, Doni....!!!"
Anan langsung turun dari bak busa dan membanting senapan plastik di tangannya. kedua tangannya sudah terangkat layaknya penjahat yang siap menyerah setelah ditodongkan pistol oleh polisi.
"Don, turun... Doni!"
Anan mencubit pipi Doni dengan gemasnya.
"Aduh, apaan sih Pak Bos?" tanya Doni.
Anan menunjuk ke arah Tante Dewi yang tak lama kemudian muncul Tasya.
"Astagfirullah...!" Doni langsung melompat turun dari bak tersebut.
"Cut!" teriak Pak Sutradara.
"Bagus, kalian keren, bravo, bravo...!" puji sang sutradara.
Anan dan Doni masih terpaku, kedua kaki mereka gemetaran layaknya bertemu hantu. Akan tetapi ini lebih seram dari hantu rupanya.
"Bagaimana kalau kalian masuk agency yang sama dengan Andri? akan banyak uang yang kalian dapatkan, lebih banyak dari tadi?" tanya Pak Sutradara berusaha menawarkan ke Anan dan Doni yang masih juga terdiam berusaha menutupi dada bidang mereka dengan kemeja basah yang mereka pakai.
"Ada apa sih, Tante?" tanya Dita yang baru sampai di samping Tante Dewi.
Telunjuk Tante Dewi yang mengarah ke hadapannya cukup menjelaskan dan membuat kedua bola mata Dita berlari mengikuti arah telunjuk itu.
Kedua mulut Dita dan Anta terbuka lebar berbarengan, mereka takjub tak percaya dengan pemandangan yang mereka lihat. Ditambah lagi tiga perempuan berbaju minim tadi turun dari bak penuh busa bersama Andri. Mereka menghampiri Anan dan Doni.
Dita langsung menutup kedua mata Anta dengan tangannya.
"Tolong ini bocah diamankan dulu, Tante," pinta Dita seraya menyerahkan Anta pada Tante Dewi.
"Kalian yang sabar ya, jaga emosi kalian, Tante ke mobil dulu, ayo Anta!"
Anta masih berusaha menoleh ke belakang ke arah Yanda, namun Tante Dewi terus saja menarik tangan Anta menuju mobil.
"Aku gak janji Tante buat jaga emosi," gumam Dita.
"Aku juga, Ta. Kalau gak sayang duit aku pengen bakar tuh baju pengantin depan Doni," sahut Tasya.
Kedua tangan wanita itu sudah meninju kepalan tangannya sendiri. Menatap para lelaki di hadapannya dengan geram dengan tatapan tajam. Sementara para lelaki itu berusaha menepis tangan para wanita yang berusaha mencolek tubuh mereka.
Andri makin semangat mengerjai Anan dan Doni sambil menahan tawanya.
"Aku yang ke sana atau kamu yang ke sini?" ucap Dita menunjuk Anan.
"Kita ke sana, Don."
Anan menarik lengan Doni.
"Kalau kita dicakar gimana?"
"Tahan aja, mau dicakar, dipukul, diremes-remes, rasain aja daripada kita kehilangan mereka," ucap Anan pasrah.
"Bagaimana penawaran saya?" tanya Pak Sutradara mencegah Anan dan Doni pergi.
"Enggak mau, Pak. Kita minta bayaran yang sekarang aja," ucap Anan.
"Oke, baiklah, tapi kalau kalian berubah pikiran, kalian bilang sama Andri untuk menghubungi saya, ya."
"Iya, Pak!"
Anan dan Doni mengangguk.
Andri masih saja menertawai Anan dan Doni yang bagai singa kehilangan taringnya menghadapi Dita dan Tasya.
"Hmmm..."
__ADS_1
"Terserah Bunda mau apain aku terserah, mau pukul, cubit, jambak, terserah Bunda. Yang penting dengarkan aku dulu, aku ngelakuin ini buat bantu Doni nambahin uang buat bayar KUA, ya Don?"
Anan menoleh pada Doni yang mengangguk dan sudah beruraian air mata.
"Kok, nangis?" tanya Tasya.
"Aku gak sanggup kehilangan kamu makanya aku nangis, maafin aku, kita kejebak sama Andri buat jadi bintang iklan sama tuh cewek-cewek," ucap Doni.
"Ohhh... gitu..." sahut Dita.
Anan langsung berlutut di hadapan Dita dengan wajah memelas. Doni yang melihat sikap Anan langsung mengikutinya.
Dita dan Tasya saling bertatapan, lalu tertawa. Keduanya kompak menjambak rambut Anan dan Doni dengan gemasnya.
"Keseeeeeelllllll....!!!"
"Itu siapa, Andri?" tanya Lia.
"Oh, istrinya Anan, dan itu calon istri Doni," jawab Andri.
"Oh... bisalah ya kalau aku niat merebut Anan dari istrinya," ucap Lia dengan sombongnya.
"Gue yakin gak bisa, yang jagain Dita banyak, apalagi yang gak keliatan, gue peringatkan elo dari sekarang, jangan macem-macem."
"Liat aja nanti," ucap Lia.
"Gak yakin gue, Anan tuh setia banget sama Dita."
"Ah sial luh, bukannya dukung gue!" Lia bersungut-sungut.
"Udah, Sya. Kasihan kita jaga wibawa suami kita ini," ucap Dita menghentikan aksinya.
"Suami? ogah ah males jadinya," sahut Tasya.
"Tasya, jangan aku mohon, huhuhu..." Doni memeluk kedua kaki Tasya dan menahannya pergi.
Tasya menahan tawanya, namun ia mencoba mengerjai Doni.
Dita memerintahkan Anan bangkit dengan isyarat bola matanya yang bergerak. Anan langsung menurut.
"Maafin aku, ya..." lirih Anan.
"Iya, maafin aku ya..." ucap Anan.
"Ganti baju sana!" ucap Dita.
Dita mengikuti Anan menuju ruang ganti. Ia melirik Andri dengan geram.
"Maafin gue, Ta," ucap Andri.
Dita melirik Andri kembali, lirikan ancaman yang cukup membuat Andri menelan air liurnya berat.
Sementara di luar sana, Doni masih merengek memohon maaf dari Tasya.
"Maafin aku, Tasya."
"Hmmm oke, aku maafin tapi gendong sampai mobil, terus gendong juga sampai rumah," ucap Tasya.
"Oke, siap! gendong seumur hidup juga aku sanggup," sahut Doni.
***
Anta yang asik menjilati es krim di tangannya di dalam mobil bersama Tante Dewi, tiba-tiba terkejut oleh hentakan telapak tangan penuh darah di jendela mobilnya.
"Astagfirullah, Anta kaget..." pekik Anta.
"Kenapa, Nta?" tanya Tante Dewi.
"Itu anak kecil tangannya darah semua, terus kepalanya miring kayak mau copot, mukanya darah semua, Tante. Terus..."
"Anta, Stop! Bodo amat Tante gak perduli mau kayak apa tuh hantu, udah diemin aja!" seru Tante Dewi.
"Yah, padahal lucu banget tau Tante, hai kamu mau es krim?" tanya Anta pada hantu anak perempuan di luar mobilnya.
"Heh, dengerin Tante, udah diem-diem aja gak usah disapa segala kalau ketemu hantu, apalagi sampai diajak pulang ke rumah, awas ya!" ancam Tante Dewi yang mulai ketakutan mengetuk-ngetuk jarinya di setir.
__ADS_1
"Duh, mana sih pada lama banget!" gumam Tante Dewi.
Tak lama kemudian, Anan dan Dita sampai ke mobil, di belakangnya ada Tasya yang digendong oleh Doni di punggung pria itu.
"Wooahhh kirain bakal perang dasyat nih, taunya udah baikan juga," ucap Tante Dewi saat Anan masuk ke dalam mobil. Dita menyusul duduk di samping Anta. Sementara, Doni dan Tasya menyusul di kursi paling belakang.
"Janganlah, Tante... kapok saya gak lagi-lagi deh ngikutin saran Andri," sahut Anan.
"Iya, aku juga. Pak Bos makasih ya udah bantuin saya cari uang," ucap Doni yang menyerahkan uang tersebut pada Tasya.
"Nih, buat bayar KUA, buat nambah-nambahin biaya pernikahan kecil kita besok," ucap Doni.
"Hmmm... sebenarnya aku masih punya tabungan sih, tapi lumayan lah." Tasya langsung menyimpan uang tersebut ke dalam tasnya.
Andri berlari menghampiri mobil Tante Dewi sebelum melaju.
"Ikut, dong!" pinta Andri.
Dita membuka kaca jendela di sampingnya.
"Maaf ya, Mas Model. Situ kan banyak kenalan cewek-cewek tuh, nah numpang aja sama mereka ya, dah Andri... jalan Tante!"
Dita yang masih kesal terpaksa memberi Andri pelajaran.
"Cong, bantuin gue dong!" seru Andri.
"Sorry, Bro. Gue gak bisa bantu lagi daripada gue diturunin juga nanti," sahut Anan melambai pada Andri sambil tersenyum.
"Wah sial, Luh!" rutuk Andri.
"Tante Dewi tunggu!" seru Anta.
"Ada apa lagi sih, Anta?" tanya Dita menoleh pada Anta.
"Itu, kasian temen Anta mau ikut masuk," ucap Anta menunjuk hantu perempuan kecil tadi di samping mobil Tante Dewi.
"Boleh ya ikut pulang, buat nemenin Anta?" rengek Anta.
"ENGGAK BOLEH!"
Semua orang yang berada di dalam mobil itu kompak menyahut berbarengan seraya menatap Anta.
"Yah, kasian deh kamu sendirian, dadah...."
Anta melambaikan tangan pada hantu di luar sana saat mobil itu melaju.
Andri bersungut-sungut seraya menendang sampah kaleng soda di dekat kakinya.
"Rese nih, si pocong sama Dita, bener-bener nyebelin, masa gue pulang naik bus iklan lagi," gumam Andri.
Tiba-tiba kaleng soda itu kembali lagi ke Andri dan tepat mengenai kepalanya.
"Woi, siapa nih yang..."
Tak ada siapapun di sekitar Andri yang bisa ia lihat. Bulu kuduknya langsung meremang seketika.
"Duh, jangan-jangan..."
Andri langsung berlari menuju crew iklan dan pasrah menumpang bus iklan menuju Apartemen Emas.
*******
Bersambung...
Stay safe, stay health buat semuanya. Jangan lupa selalu cuci tangan dan pakai masker kalau ke luar rumah.
Mampir juga ke :
- 9 Lives
- Diculik Cinta
- With Ghost
- Forced To Love
__ADS_1
- Kakakku Cinta Pertamaku
Vie Love You All... 😘😘