Pocong Tampan

Pocong Tampan
Anan VS Pak Herdi


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


****


Tante Dewi meraih gelas dari tangan Dita namun saat mendekatkan gelas itu ke bibirnya Tante Dewi seperti melihat sesuatu di pantulan dinding gelas dan melemparnya.


"Ih si Tante kenapa ya lempar-lempar gelas gitu untung gak pecah gelasnya, tapi becek nih jadinya." ucap Dita kesal.


"Tadi, tadi aku lihat pocong Ta."


"Pocong? kayak apa Tante pocongnya?" tanya Dita


"Sepintas sih tinggi Ta, badannya bagus, lumayan tampan sih Ta, kok ada pocong macam gitu ya Ta?" tanya Tante Dewi penasaran.


"Anan juga dulu kaya gitu Tante, pocong edisi tampan hehhee."


"Tadi itu siapa ya Ta?"


"Pak Herdi paling, tapi kok Tante bisa lihat ya? coba konsentrasi lagi buat liat!" ucap Dita berharap Tante Dewi dapat melihat pak Herdi lagi.


"Enggak bisa Ta, lagian aku juga gak mau." Tante Dewi menutup wajahnya ketakutan.


"Hmmm ya udah deh, hooaaammm Tante aku ngantuk, pulang yuk!" ajak Dita.


"Sama ya ngantuk juga, tidur di ruangan ku aja yuk, besok telpon Anan kita suruh bawain baju ganti."


"Emang Anan tau kode sandi kunci rumah Tante?"


"Nanti aku kasih tau, besok nya aku ganti lagi."


"Kenapa di ganti lagi Tante?"


"Ya kalau dia tau nanti bisa kerumah Tante diem - diem nyariin kamu."


"Dih picik banget Tante cara berpikirnya, aku kan sama Anan mau nikah Minggu depan."


"Oh iya, aku belum bilang maminya Anan, hmmm besok aja ya Ta kita coba telepon maminya Anan."


"Oke Tante tapi jangan sampe papinya Anan tau."


"Iya beres, yuk ke ruangan Tante." ajak Tante Dewi merangkul bahu Dita dan meninggalkan pak Kevin di ruangannya untuk ber istirahat.


Anita mengikuti Dita dari belakang, di sampingnya ada pak Herdi yang melompat-lompat mengingatkan Dita akan Anan dulu saat Dita menoleh pada pak Herdi.


***


"Bangun woy bangun...!" Anan meneriakkan ucapannya di telinga Dita dan Tante Dewi.


"Ih biasa aja kenapa sih, lagian masih pagi udah sampe sini aja sih." sahut Dita masih menguap dan meregangkan tubuhnya.


"Masih pagi? itu jam setengah 10 masih pagi siangnya jam berapa ya?" ucap Anan sambil menunjuk jam dinding.


"HAH? setengah sepuluh? wah kacau Tante ada meeting sama investor jam sepuluh lagi, waduh mandi dulu nih, mana Nan barang-barang Tante?" ucap Tante Dewi panik.

__ADS_1


"Aku bawa baju ganti tapi lupa bawa sabun dan peralatan mandi lainnya."


"Ih Anan trus kita mandinya pakai air doang gitu?" pekik Dita dengan nada agak kesal.


"Pakai paket mandi rumah sakit kan ada."


"Tapi handuknya enggak ada Ananta." Dita mencubit kedua pipi Anan gemas.


"Selow dong bentar yak, DONI...!" teriak Anan memanggil Doni yang berada di meja resepsionis sebrang ruangan Tante Dewi.


"Siap bos, ada apa bos?" tanya Doni.


"Kamu ke mini market beli dua handuk ukuran dewasa ya, ini uangnya." ucap Anan menyerahkan dua lembar uang ratusan ribu.


"Oke siap bos, laksanakan." saut Doni segera berlari menuju minimarket.


"Kamu kan mau ketemu pak Kevin Ta siang ini." ucap Anan.


"Gak usah Nan semalam udah ketemu." sahut Dita.


"Ngapain kamu ketemu dia malam-malam?"


"Dia kecelakaan Nan, terus dia punya gangguan ingatan gitu, masa Tante Dewi di kira istrinya hahahaha."


"Apaan sih Dita gak lucu tau." sahut Tante Dewi.


"Ah serius kamu? modus kali tuh orang kan dia suka tuh sama Tante Dewi makanya pura-pura hilang ingatan pakai bilang Tante Dewi istrinya, bisa jadi kan?"


"Hmmmm gimana tuh Tante?" Dita menoleh ke Tante Dewi.


"Ya enggak tau ya, Tante belum ketemu sama dokter Bambang sih yang ahli di bidangnya."


"Makasih Don." ucap Anan meraih handuk tersebut.


"Mahal pak di minimarket mah, kembali tiga puluh ribu." ucap Doni.


"Murah Don, ambil aja kembaliannya."


"Mahal pak, kalau di pasar saya biasa beli yang tiga puluh lima ribu." sahut Doni.


"Itukan kamu, dah sana kembali kerja!"


"Siap pak, makasih ya pak, lumayan nih buat makan siang." ucap Doni seraya pergi dari ruangan Tante Dewi.


***


Selesai mandi Tante Dewi bergegas menuju ruang meeting di genggamannya sudah ada sekotak susu vanila yang tadi Anan berikan bersama roti sandwich kemasan.


"Aku punya surprise buat kamu Nan." ucap Dita.


"Apa itu?"


"Bentar-bentar gimana cara manggilnya yak, oh iya siapa tau gelang ini." Dita menggoyangkan gelang di tangan kirinya, gelang yang dulu ia bunyikan saat memanggil Anan.


"Apaan sih Ta, itu kan kalau kamu mau panggil aku, sekarang aku udah disini kan?" tanya Anan sedikit bingung dan heran.


"Hmmm bentar aku mau konsentrasi nih."


"Dita ngapain sih Nit?" kali ini Anan menoleh pada Anita.


"Tungguin aja Nan, nanti juga kamu tau kejutan dari Dita, ya siap-siap aja kamu bakal keki." Anita menahan tawanya.

__ADS_1


"Nah itu dia datang, ternyata sama juga fungsi nya kayak waktu aku manggil kamu." ucap Dita.


"Memangnya siapa yang kamu panggil?" tanya Anan masih heran.


"Tuh." Dita membalikkan tubuh Anan seratus delapan puluh derajat yang langsung terkejut melihat penampakan Pak Herdi.


"Hai." sapa pak Herdi.


"Ini kenapa sih? kenapa balik lagi sih pak? perasaan ku bakalan gak enak nih kalau ada si bapak." ucap Anan kesal.


"Bapak, bapak emangnya saya bapak kamu apa." sahut Pak Herdi.


"Dih kok nyolot pak terus saya harus panggil apa, om, opa, apa kakek?"


"Tuan."


"Lah emangnya elo bos gue apa?" Anan mulai bertindak tak sopan pada pak Herdi.


"Hmmm saya suka gaya kamu."


"Udah ya stop aku bakalan pusing nih kalau masih lanjut terus ribut-ribut makin panjang, pak Herdi tuh kesini mau cari tau siapa pembunuhnya baru dia tenang." ucap Dita melerai.


"Udah ku duga dari dia mati kemarin." sahut Anan kesal.


"Hmmm bakal kayak Andri versus Anan nih, cuma belum guling-gulingan aja." sahut Anita.


"Aku kesini mau jagain kamu kok Ta, makanya aku pastiin kamu terima harta aku terus kamu bahagia." ucap pak Herdi.


"Belom pernah gue tarik tuh iketan pocong elo trus gue gantung di ujung tiang atas gedung sana ya pak." ucap Anan kesal.


"Kaya bisa aja kamu hahaha lucu ya Ta si menyan ini." sahut pak Herdi tertawa.


"Eh nama gue Anan bukan menyan."


"Sama aja sama-sama Nan sama-sama bau juga kayak menyan hehehe."


Anan menarik tali pocong Pak Herdi.


"Nan udah dong, jangan mulai lagi deh kayak anak kecil tau gak, dewasa dikit dong." cegah Dita.


Pak Herdi melepas tarikan Anan. "Enggak apa Ta, nanti juga kualat sama yang lebih tua."


"Hahahaha ngaku tua, itu sadar kan udah tua? mikir makanya Dita tuh pantes nya sama gue bukan sama elo!" ucap Anan menunjuk pak Herdi.


"Duh Ta, pusing aku lihatnya kirain Anan bakal adem - adem aja pas Andri pergi taunya begini lagi." ucap Anita yang duduk di sofa.


"Sama Nit pusing aku, kirain pak Herdi dewasa taunya demen banget godain Anan ngajak ribut." Dita ikut duduk di samping Anita.


"Pak permisi ada ta...." Doni masuk membuka pintu ruangan Tante Dewi yang langsung tak sadarkan diri kala melihat sosok pocong pak Herdi.


"Hadeh... pingsan lagi pingsan lagi, aku kasih nafas buatan juga nih." ucap Anita menghampiri Doni dan menyeretnya masuk.


"Parah Anita, si Doni diseret kayak gitu." Dita menepuk jidatnya.


***


To be continue...


Happy Reading...


Jangan lupa di vote dan tengok novel baruku juga ya di 9 lives, ikuti tentang keseruan Zee si penyihir bersama para makhluk aneh lainnya. 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2