
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...
Happy Reading...
******
"Apa kata kamu? mereka ayah dan anak?" pekik Pak Herdi matanya terbelalak tak percaya mendengar penuturan Tasya barusan.
"Ho oh, jadi menurut Lily dia pernah begituan tuh sama mamanya Jerry dah tuing sembilan bulan kemudian jadilah hasil mereka, tadaaa," ucap Tasya menunjuk ke arah Jerry.
Tak berapa lama kemudian, Jerry menghampiri Tasya. Ia sentuhkan punggung tangannya di dahi gadis itu.
"Apaan sih!" ketus Tasya seraya menepis tangan Jerry di dahinya.
"Kirain kamu demam, habis dari tadi ngoceh aja sendiri takutnya kamu ngigo lagi," keluh Jerry.
"Siapa juga yang ngomong sendiri. Eh bentar, coba pinjam dompet kamu," pinta Tasya seraya menggerakkan tangannya maju mundur.
"Buat apa sih?" tanya Jerry tak mengerti.
"Udah liat aja sini!"
Tak ada pertanyaan lagi dari Jerry meskipun hatinya penuh dengan teka-teki, namun ia tetap menuruti perintah Tasya dan menyerahkan dompetnya.
"Nih!" ucap Jerry.
"Nah kan ada fotonya."
Pak Herdi langsung mendekatkan dirinya pada Tasya mengamati foto perempuan cantik nan ayu di dalam dompet milik Jerry.
"Ini siapa, Ry?" tanya Tasya menunjuk foto wanita tersebut.
"Ini ibuku, namanya Karenina."
Bug...
Tiba-tiba terdengar suara kursi makan yang jatuh begitu saja. Rupanya Lily jatuh menimpa kursi karena tak sadarkan diri mendengar penuturan Jerry barusan.
"Apaan tuh?" Jerry melingkarkan tangannya ke lengan Tasya.
Anta langsung memercikan air ke wajah Lily.
"Anta ngapain tuh Sya?" Jerry makin gemetar.
"Itu Samanta ya, Sya?" tanya Jerry.
"Sya, apa itu..."
"STOP...!!!"
Tasya menghentikan ucapan Jerry.
"Nanya mulu dari tadi, biasa aja apa. Kamu mau jawaban jujur kan?" Tasya menoleh pada Jerry.
Jerry langsung mengiyakan dengan anggukan kepalanya.
"Yang lagi di bangunin Anta itu emang hantu," ucap Tasya seraya menunjuk ke arah Lily.
__ADS_1
"Jawaban jangan jujur aja deh kalau kayak gitu mah, sereeemmm..." Jerry menutup wajahnya mulai takut.
"Ah udah terlanjur, tadi kan kamu minta jawaban jujur. Hantunya baik kok tuh buktinya Anta aja gak takut," ucap Tasya melepas pegangan tangan Jerry lalu menepuk punggungnya menenangkannya.
"Sya, hantu model apapun mah kalau udah di tangan Anta ya gak ada serem-seremnya buat dia, tapi kalau sama kita ya tetep aja hantu apapun serem," sahut Jerry mulai dengan nada kesal.
Tasya meraih jus jeruk di hadapannya.
"Ada yang aneh nih?" gumam Jerry tapi terdengar sampai ke telinga Tasya.
"Apanya yang aneh?" Tasya menoleh pada Jerry dengan mengernyitkan dahinya.
"Kalau tangan kamu dua-duanya pegang gelas, terus yang nepuk punggung aku siapa?"
Jerry tak mau menoleh ke arah belakangnya. Padahal di belakangnya Pak Herdi sedang menepuk punggung Jerry dan tersenyum jahil memandang Tasya.
"Sya... Dia siapa nih yang lagi di belakangku?" tanya Jerry dengan raut wajah ketakutan.
Tasya menahan tawanya tapi tak tahan juga untuk tertawa.
"Aku siapa ya, Sya?" tanya Pak Herdi mengedipkan satu matanya pada Tasya.
"Idih... hantu ganjen!" Tasya beranjak dari tempat duduknya dan menggendong Anta.
"Ayo kita mandi!"
"Tapi Tante, itu tante Lily belum bangun," ucap Anta menunjuk hantu Lily yang terbaring di bawah meja makan.
"Biarkan saja mungkin dia pules," sahut Tasya tak mengindahkan Lily.
"Tasya, terus aku gimana nih?" Jerry masih tak berani menoleh ke belakang, tepukan di punggungnya itu masih terasa.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.
"Woi... ngapain nunduk kayak gitu?" tanya Anan yang baru saja datang bersama Dita.
"Aaaargggghhhh...!!!" Jerry berteriak sekuat tenaganya.
"JANGAN SENTUH AKU, JANGAN SENTUH AKU...!!!"
Jerry terus saja berteriak ketakutan.
"Jerry ini aku Dita sama Anan, hei kamu kenapa?" Dita menepuk kedua pipi Jerry berkali-kali secara pelan.
"Mbak Dita..." Jerry memeluk Dita di hadapannya.
"Heh jangan lama-lama, kamu kan bentuknya masih setengah laki-laki, saya tetep gak suka ada laki-laki yang peluk istri saya!" Anan menarik tangan Jerry agar melepaskan pelukannya dari Dita.
"Di sudut sana Pak Herdi tertawa dengan puasnya sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Hmmm aku tau nih dia kenapa bunda, pasti di gangguin sama tuh tofu basi dah!" Anan menunjuk ke arah Pak Herdi.
"Aku cuma nepuk punggungnya dia doang kok, beneran deh sumpah eh dia ketakutan," ucap Pak Herdi masih dengan tawanya yang tak bisa dia hentikan.
"Sini deh pinjem tangan kamu bentar," ucap Dita menarik tangan Jerry dan mendekatkannya ke arah Pak Herdi.
Dita menaruh tangan Jerry di bahunya.
"Ini yang tadi nepuk punggung kamu, Ry," ucap Dita seraya menunjukkan Pak Herdi pada Jerry.
__ADS_1
"Hai...!" Pak Herdi melambaikan tangannya dengan jari jemari yang lentik ke arah Jerry.
"Arrggghhh...!!!"
Jerry langsung tak sadarkan diri.
"Wah... Dia pingsan," ucap Anan lirih.
"Satu lagi tuh yang pingsan, dari tadi malah pingsannya sampai pules."
Pak Herdi menunjuk ke arah Lily yang tergeletak di bawah meja makan.
***
Mitha menarik tangan Doni dengan paksa ke arah tubuhnya.
"Sentuh aku, Don! sentuh aku!" Mitha berteriak di hadapan Doni.
"Aku tak bisa. Sudah kubilang aku tak bisa melakukannya, maafkan aku," ucap Doni yang merebahkan dirinya di atas sofa di seberang ranjang mereka.
"Apa kurangnya aku, Don?" pekik Mitha.
Doni tak mengindahkan teriakan Mitha. Ia menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia tak peduli pada istrinya yang memohon belas kasih dari cinta Doni itu.
"Jadi Tasya masih lebih cantik dari aku ya, perempuan murahan yang dengan mudahnya ganti-ganti pasangan, iya kan?"
Doni langsung menyingkap selimutnya dan berdiri di hadapan Mitha. Doni menyentuh pipi halus Mitha perlahan. Desahan yang sengaja ia keluarkan dari bibirnya itu memenuhi ruangan kamar tersebut. Tangan pria itu lalu beranjak ke leher perempuan itu dan mencekiknya.
"Do-Do-Doni lepas-lepaskan..." lirih suara Mitha terdengar dan tercekat karena cengkeraman tangan Doni yang mencekik lehernya cukup kuat. Doni menatap perempuan di hadapannya itu dengan tatapan marah.
Mitha hampir saja kehabisan oksigen dan kehilangan nyawanya jika saja Doni tak menghentikan aksinya.
Pria itu membanting tubuh Mitha begitu saja ke atas kasurnya.
"Aku sudah cukup sabar menghadapimu, tapi jika kau sebut nama Tasya dengan bibirmu itu bahkan sampai menghinanya, aku tidak akan tinggal diam!"
Doni mengancam Mitha seraya menunjuknya dengan tatapan yang tajam penuh amarah. Lalu ia kembali ke atas sofa dan merebahkan tubuhnya. Doni bersumpah tak akan pernah ia sentuh istrinya yang tak pernah dia cintai itu.
***
Foto Anan terpampang di sebuah bingkai foto dengan lilin yang mengelilinginya. Seseorang yang berjubah hitam panjang yang wajahnya tertutup hodie, melemparkan beberapa helai mawar hitam ke arah foto Anan berkali-kali.
Senyum sinis tersungging di bibir tipis sosok tersebut lalu berucap lirih, "Aku menginginkan tubuhmu."
*******
Masih bersambung ya guys...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST (UP)
- Kakakku Cinta Pertamaku
season 1 END
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player (END)
__ADS_1