Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Pembukaan Kedai Ananta


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...


Happy Reading 😊😊😊


******


"Hi guys welcome back on my tube channel," ocehan Kania terus menerus terekam di kamera smartphone yang di genggam Naruto kala berada di pembukaan kedai milik Anan dan Andri.


"KEDAI ANANTA" Banner dengan aneka gambar burger, french fries, wedges potatoes, hot dog, sampai spaghetti tercetak di sana.


Dita sampai harus tutup toko sementara untuk mengerahkan Tasya dan Jerry dalam membantu Anan.


"Hi guys, follow my account @yerrypretty,"


Jerry ikut muncul di belakang Kania sambil mempromosikan akun sosial medianya.


"Nah di follow tuh biar makin kenal sama mas cantik yang satu ini," ucap Kania.


"Ih sembarangan, doain ya guys dalam waktu deket aku akan buktikan aku bisa menjadi cantik!" sahut Jerry sambil memicingkan matanya dan berkedip-kedip manja.


"WOI... Jerry...!!! beresin meja sana tuh!" Andri berteriak pada Jerry karena pengunjung makin ramai.


"Yerry kerja dulu ya guys, eh Kania nanti kita collab ya live bareng," ucap Jerry menepuk bahu Kania.


"Boleh tapi gak free ya, butuh endorse nih!" ucap Kania.


"Ih kirain gratis!" Jerry pergi menuju meja yang hendak dia bersihkan.


Selain rasa makanan yang memang lezat di tambah dengan kedua paras tampan milik Anan dan Andri membuat para gadis bahkan para ibu menggila berada di dekat Anan dan Andri. Keduanya acap kali di perebutkan untuk di ajak berfoto bersama.


"Kamu gak cemburu Ta?" tanya Tasya dari dalam mini market setelah lelah membantu dan menghindari desak-desakan dengan para wanita diluar sana.


"Enggak lah, aku tau kok hati Anan cuma milik aku, dari dulu," ucap Dita dengan santainya.


"Eh mbak Dita, hati-hati say banyak pelakor di luar sana yang lebih serem dari hantu, lebih ganas nih kalau gak percaya aku punya grup yang isinya pelakor semua," sahut Jerry yang baru datang dari luar menunjukkan ponselnya.


"Astagfirullah, lihat deh Ta, namanya Opi, pengalaman pelakor 8 tahun, yang di hasilkan dua perceraian, 5 anak putus sekolah, satu mobil, 2 motor, rumah menyusul, astaga ini masih ada yang lebih najis lagi pengalamannya Ta sampai istri yang suaminya di ambil bunuh diri juga ada, ih serem banget ih..." Tasya menyerahkan ponsel Jerry pada Dita.


"Bener-bener ya serem banget manusia zaman sekarang pada tega, mudah-mudahan kita jangan sampai masuk golongan kayak gini," ucap Dita.


"Lah kamu ngapain bergabung sama ini grup? Hayo jangan-jangan kamu mau belajar jadi pelakor ya?" Tasya mencubit pinggang Jerry dengan gemas.


"Ih enggak say, aku cuma iseng aja gabung kok, soalnya di situ ada dokter kecantikan aku yang rencananya nanti mau bantuin aku oplas," sahut Jerry tertawa sendiri dengan gelinya.


Tasya dan Dita saling bertatapan dan menatap Jerry bersamaan dengan pandangan aneh.


"Sama aja sih mbak sama pebinor hayo demen banget lihat istri orang daripada istri sendiri, intinya orang alim pun bisa jadi jahat karena keadaan, waspadalah, kalau mbak gak mau jagain suaminya aku aja deh yang jagain cusss..." Jerry langsung menghampiri Anan dan Andri demi menghalangi para wanita agar menjaga jarak.


Pukul dua siang di hari pertama itu kedai Ananta sudah habis terjual makanannya.


"Semoga setiap hari seperti ini," ucap Anan yang sibuk menghitung uang dengan Andri.


"Nih Ta, buat uang sewa," Andri menyerahkan sejumlah uang hasil penjualan.


"Gak usah sih, ini simpen aja buat tabungan kalian, kalian mau buka kedai di sini selamanya juga gak apa," ucap Dita menyodorkan uang itu kembali pada Andri.


"Tapi bun..."


"Gak ada tapinya yanda, siapa tau nanti kedai kecil itu bisa jadi restoran besar kembali."


"AAMMIINN...!!!" sahut semuanya berbarengan.


"Ya udah nih buat Tasya sama Jerry, makasih ya udah bantuin," ucap Anan.


"Makasih banyak pak Bos," ucap Tasya.

__ADS_1


"Panggil gue Anan aja."


"Kalau Yerry panggil mas bro aja ya, boleh kan?" Jerry mengedipkan kedua matanya pada Anan dan Andri.


"Hiih merinding gue," gumam Andri.


"Hahaha terserah elo aja Ry," sahut Anan.


"Anta mana Sya?" tanya Dita.


"Tadi ya, habis dua burger, dua spaghetti, kentang goreng ukuran besar, es susu cokelat terus kayaknya pules deh, tapi di mana ya ini anak?" Tasya celingukan mencari Anta.


"Ini siapa coba, di bawah meja kasir tergeletak seorang anak kecil yang tak berdaya karena kekenyangan," ucap Jerry sambil tertawa berhasil menemukan Anta yang tidur pulas dengan alas kasur busa bermotif kartun kuda poni itu.


"Ya ampun Anta, pantesan gak ada suara berisik dari tadi taunya pules," Dita menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Aku aja yang pindahin Anta," ucap Anan lalu menggendong Anta sementara Dita merapihkan kasur tidur Anta.


"Oh ya kita kan mau ke kantor pos kota buruan yuk keburu tutup," ucap Dita.


"Oh iya kalau gitu kita harus cepat kesana, Onta gendong anak gue nih, awas ya kalau sampai kebangun nanti," bisik Anan mengancam Andri.


"Anak lo?"


"Ta, ini anak kita kan?" tanya Anan sambil menyerahkan Anta ke gendongan Andri.


"Ya ampun iya lah itu anak kita, kamunya aja yang gak inget," sahut Dita dengan nada kesal.


"Ya udah besok ingetin cara buatnya," Anan mencolek hidung Dita lalu menarik tangannya keluar ruko menuju halte bis.


"Idih gue geli...." Andri mencibir Anan yang bersikap romatis tiba-tiba itu.


"Ya ampun itu mas bro Anan judes-judes so sweet banget sih,"


Jerry menepuk bahu Andri berkali-kali dengan gemas.


Tasya tertawa sambil menunjuk Jerry, "Hahahaha cumi afrika, itu kayak apa coba ya."


"Biarin aja huuu... nanti aku suntik putih juga pada pangling sama aku," sahut Jerry penuh percaya diri.


***


Dita memanggil Pak Herdi yang datang bersama Noey di belakangnya.


"Cie udah akur guru sama murid," ucap Dita menggoda Pak Herdi dan Noey.


"Udah deh cepetan katanya minta temenin, eh kok ada menyan sih?" Pak Herdi melirik ke arah Anan.


"Jangan mulai deh, gue lagi capek nih males berantem," sahut Anan.


"Udah pada diem di sini, jangan berisik!" ancam Dita.


"Ih si Dita... saya mah sama Noey kalau teriak juga gak akan ada yang denger, kecuali si Menyan nih baru di bilang gila, tapi pantes sih di bilang gila hahahaha," Pak Herdi tertawa puas dan menoleh kepada Anan yang sudah menghilang mengikuti Dita, mengacuhkannya.


"Kampret si Menyan!" gumam Pak Herdi. Sementara Noey mengikuti di belakang sambil menahan tawanya.


"Ini lokernya Noey?" tanya Dita yang dijawab anggukan oleh Noey.


Dita membukanya perlahan. "Waaahhh..." Dita memandang takjub lalu ia tutup kembali.


"Apaan Ta, jangan bilang isinya kepala manusia?" celetuk Pak Herdi yang langsung di senggol bahunya dengan siku Anan.


"Bukan ih, ini sumpah Noey kamu keren banget..." Dita menoleh pada Noey dengan bangga.


"Emang apaan Ta isinya?" tanya Anan.

__ADS_1


"Tuh ada foto Yoona di hias sama bunga mawar plastik yang wangi banget, ada tulisan will you marry me, terus kotak bunga, itu pasti cincin ya Noey?" tanya Dita.


"Ah biasa aja, aku bisa buat yang lebih romantis lagi buat kamu Ta," sahut Anan tak mau kalah.


"Iya Ta, buka aja." ucap Noey tak peduli pada ucapan Anan.


"Gak dong harus Yoona yang buka, kamu masih lama kan sewa lokernya?"


"Satu minggu lagi sih," sahut Noey.


"Tau kan rumah Yoona dimana?"


"Aku taunya kantornya, dua blok dari sini, kantor pajak."


"Oke kita cari dia sekarang," ucap Dita.


"Bunda aku capek tau," ucap Anan.


"Ya udah kamu pulang istirahat, aku aja yang cari."


"Eh jangan dong, aku gak rela kamu sama duo han..."


"Apa hayo mau ngomong apa?" Pak Herdi langsung menghentikan ucapan Anan.


Tiba-tiba tiga loker dari tempat Dita berdiri berbunyi dari dalam.


"Suara apaan tuh bunda," Anan buru-buru sembunyi di belakang tubuh Dita.


Pak Herdi maju dan mencoba membuka loker tersebut dengan kemampuannya yang tak terduga.


"Coba Ta, 12345678."


"Apaan tuh?" tanya Dita dan Anan bersamaan.


"Kode keamanan ini loker," sahut Pak Herdi.


"Gampang amat, masa sih? coba aku buka, eh emang boleh ya, ini kan loker orang?" tanya Dita.


"Gak ada yang tau sih bun, coba buka aja!" perintah Anan.


Dita membuka laci loker itu perlahan-lahan dan...


"Aaaaaaaaaaaa...!!!"


Anan langsung lari di ikuti Dita yang mengejarnya agar tidak panik saat melihat hantu kepala yang matanya melotot menatap ke arahnya.


Pak Herdi yang susah payah melompat menyusul Dita lalu menarik Noey karena tak kuat lagi.


"Kita kan hantu ngapain kita lari sih? saya capek nih lompat-lompatan," ucap Pak Herdi.


"Iya ya, saya kan juga hantu, aduh kebiasaan banget nih saya masih takut liat hantu lain, pak." ucap Noey.


Sementara Dita sudah menyusul Anan yang lari terbirit-birit sampai ke luar kantor pos kota.


*****


Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST


-          Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)


-          9 Lives (END)

__ADS_1


-          Gue Bukan Player


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2