Pocong Tampan

Pocong Tampan
Salah Jebak


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


****


"Jon.." Anan memanggil Joni.


"Ya pak bos, ada apa yak?" tanya Joni


"Ini kue buat kamu." Anan menyerahkan sekotak brownies dari Shinta.


"Buat saya semua pak?"


"Ya bagi dua kek sama Johan."


"Oke siap Pak."


"Saya mau ke toilet dulu yak." Anan pergi menjauh menuju toilet.


"Jo ini kue." Joni memanggil Johan mendekat.


"Wuih enak banget nih kue." ucap Johan.


"Nih Lo pegang Lo habisin aja."


"Elo mau kemana?" tanya Johan.


"Gue mau ketemu Shinta, gue kok jadi kepikiran dia terus yak?" Joni menggaruk-garuk kepalanya


"Tunggu Jon, gue juga mau keruang mayat."


"Ih gak bisa gue duluan yang mau kesana." sahut Joni yang buru-buru lari menuju ruang mayat.


"Ini berdua pada ngapain sih?" tegur Shinta melihat Joni dan Johan yang saling berebut masuk ruangan.


"Shinta gue mau ajak Lo nonton malam ini, mau ya?" tanya Joni.


"Enggak bisa, gue yang mau ajak dia nonton malam ini." sahut Johan


"Gue."


"Gue."


"Gue."


"Gue."


"Enggak mauuuuu!!" Shinta melerai keduanya.


"Kalian pada kenapa sih?" tanya Shinta.

__ADS_1


"Gue suka, eh sayang eh cinta sama Lo Shin gue mau Lo jadi pacar gue ya please?" Joni berlutut sambil memohon.


"Gue juga Shin, gue sayang sama elo, jadi pacar gue aja ya please." Johan juga memohon sambil berlutut menghalangi Joni.


"Pada sinting kalian ya apa lagi pada nge-prank gue?" tanya Shinta penuh selidik.


"Enggak Shinta gue beneran sayang sama Lo." sahut Joni.


"Gue juga Shinta gue lebih sayang sama Lo." sahut Johan.


"Emmmm gue curiga nih, kalian makan brownis dari pak Manan yak?"


"Kok tau Shin, sumpah enak banget itu kue." sahut Joni dan Johan pun mengangguk.


"Gue harus samperin pak bos nih kali aja reaksinya sama kaya mereka." gumam Shinta lalu pergi dari ruangan menemui Anan.


"Shinta tungguin...." teriak Joni mengejar Shinta di susul Johan.


***


"Ampun deh Nit, ini si Maya kenapa di bawa kesini sih?" Dita masuk ke dalam ruangan Tante Dewi.


"Dia ngikutin aku mulu tau, eh aku belum cerita ya kan jam dua pagi aku masih asik main terjun payung sama dia harusnya kamu lihat ta hahahhahaa."


"Cerita yang bener dong main ketawa aja."


"Iya maaf maaf, ini si Maya lucu banget hahaha."


"Apaan sih?" sahut Maya kesal.


"Tau si Anita dia yang cerita dia yang ketawa sendiri." Dita merebahkan bokongnya di sofa.


"Lucu Nit? serem kaliiiiii." pekik Dita.


"Lucu Ta, nih aku tunjukkin yak bawa dia ke lantai atas, yuk May." ajak Anita.


"Stop udah gak usah aku mau makan siang malah eneg lihatnya tau." Dita menahan langkah Anita.


"Tau nih aku di kerjain sama Anita, terus si Anan kamu itu mana?" tanya Maya.


"Tuh orangnya masuk." tunjuk Dita ke arah pintu.


"Apa kamu lupa saat aku terbunuh?" tanya Maya.


"Beneran mbak, saya lupa." sahut Anan.


"Coba mbak Maya ceritain yang di ingat aja sini." Dita menepuk kursi di sampingnya. Anan menghampiri Dita dan duduk disana.


"Yeeee ini buat dia Nan bukan kamu."


"Oh kirain buat aku hehehe." Anan berpindah duduk ke ujung sofa.


"Yang aku inget ya, aku dibawa sama om aku ke Club' House. Terus aku di paksa minum di samping dia tuh." ucap Maya menunjuk Anan.


"Kok aku sih aku kan gak tau apa-apa." sahut Anan.


"Udah Nan diem dulu dengerin Maya dulu." perintah Dita.

__ADS_1


"Tau nih Anan aku udah nyimak gini juga." Anita duduk bersila di lantai di depan Dita dan Maya.


"Oke aku lanjutin nih, terus aku di tarik masuk ke dalam ruangan disana ada om aku sama temennya, mereka pada mabuk terus aku mau diperkosa huaaaaaa." Maya tiba - tiba menangis.


"Cup cup Maya tenang dong jangan kenceng-kenceng nangisnya ususnya mau keluar tuh." Sahut Anita lalu Dita menutupi nya dengan bantal sofa.


"Udah coba tenang lanjutkan Mbak Maya." ucap Dita menenangkan Maya.


"Terus aku mau lari tapi aku jatuh dari tangga si bule pirang itu mendorong ku dan yang aku lihat terakhir kali dia si Anan lagi ngeliatin aku dari atas tangga, aku gak inget apa-apa lagi selain panas, sakit dan perih yang aku rasain di perutku."


"Dia? maksud kamu Anan?" tanya Dita.


"Iya, dia ada disana ngeliat aku ketika aku jatuh, saat si bule pirang itu mencoba untuk menahanku namun malah mendorongku, ya kan Nan?"


"Sumpah mbak saya gak inget." sahut Anan.


"Lalu bagaimana saya temukan jasad saya, bagaimana jasad saya bisa pulang ke rumah huhuhuhu." Maya menangis kembali.


"Hetdah dikata jangan kenceng-kenceng nangisnya ngilu itu lihat ususnya goyang mau keluar." tunjuk Anita yang menyimak dari tadi.


"Coba deh Nan, inget lagi pelan-pelan kali aja kamu inget." ucap Dita.


Anan berusaha berfikir keras namun tak bisa ia mengingat apapun.


"Aku gak bisa duh maaf, aku gak bisa." ucap Anan.


"Duh gimana dong? kunci misteri ini semua tuh James." ucap Dita.


"Minta bantuan Shane Ta, si Doni ajak Shane ketemuan terus kita buat mabuk terus cerita deh soal kejadian waktu itu, gimana?" Anita memberi usul.


"Emang iya dia inget? itu pun kalau ada Shane."


"James yang kita buat mabuk gimana?" ucap Anita.


"Cara bawa James nya gimana?" tanya Anan.


"Kita buat party di rumah kamu, si Shane kita suruh ajak James, nah si Doni yang undang Shane, gimana ide ku?"


"Boleh juga tuh Nan." sahut Dita.


"Kalau mereka gak mau ngaku ada Anita, Maya buat nakutin mereka dan ada pak Herdi juga." ucap Dita.


"Kalau ada si tofu basi aku gak mau ya gak asik nanti rumahku."


"Hei ngapain kamu ngomongin aku?" ucap pak Herdi yang tiba-tiba datang.


"Kamu panggil dia Ta?" tanya Anan menunjuk Pak Herdi.


"Iya tadi aku nyebut nama dia kan buat bantuin nakutin James dan Shane hehehe."


"Tuh kan aku ada dipikiran Dita." ucap pak Herdi bangga.


"Herdi...?" ucap Maya yang berdiri melihat Maya.


"Maya, kamu kenapa disini?"


****

__ADS_1


To be continued


Jangan lupa sempetin lihat novel aku 9 lives yak... semoga suka... kalau udah suka di like, komen and vote 😘😘😘


__ADS_2