
Vote nya jangan lupa 😘😊
****
"Capek Nan, berubah dong pake baju yang waktu itu."
"Terus mau ngapain?"
"Gendong...." ucap Dita manja pada Anan.
"Huh... nyusahin nih... hayok."
"Asik..." Dita langsung melompat ke punggung Anan.
"Nan tuh ada ibu-ibu coba samperin." Dita menunjuk kearah ibu yang membawa kayu bakar bersama anaknya.
"Maaf Bu, boleh tanya?" ucap Dita.
Braaakkk...
Ibu itu pingsan melihat Dita yang melayang karena tak bisa melihat Anan.
"Oh iya aku lupa, turunin Nan!"
Anak yang bersama ibu itu mengguncang tubuh ibunya yang pingsan.
"Maafin kakak ya dek."
"Kok mama pingsan ya kak?"
"Iya soalnya kan mama kamu pikir aku terbang hehehehe."
"Kan kakak digendong sama dia." anak itu menunjuk Anan.
"Lah dia bisa liat aku." Anan menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu bisa liat dia?" tanya Dita.
Anak itu mengangguk.
"Kakak lagi apa disini?" tanya anak itu.
"Oh iya tau rumah kuncen yang suka nunggu daerah sini gak?"
"Abah Soleh?"
"Ya siapa pun namanya yang tau banget wilayah ini."
"Aku tau rumahnya, tapi mama aku gimana ini?"
"Oh iya nunggu dia sadar dulu ya, ayo gotong pindahin."
Akhirnya Ibu itu sadar juga dengan tepukan Dita di pipinya.
"Ibu pinjem anak nya boleh? saya mau cari rumah Abah Soleh?"
"Em Eneng tadi ko terbang?"
"Masa sih bu? halusinasi ibu aja kali hehehe."
"Ah masa sih, apa saya capek yak."
"Ma, aku temenin kakak ini kerumah Abah Soleh ya?" tanya anak laki-laki itu ke mamanya.
Setelah terdiam agak lama sambil mengamati Dita ibu itu memberi anggukan menyetujui.
"Ayo kak!" ajak anak itu.
"Nama kamu siapa?" tanya Dita.
"Aku Dewa kak."
"Wah nama yang bagus."
"Kenapa kakak cari Abah Soleh?"
"Temen - temen kakak ke jebak di hutan sana kakak mau minta tolong sama Abah buat nolongin temen kakak."
"Hutan itu kan terlarang kok kakak bisa masuk sih?"
"Mana kakak tau, mobilnya nyasar masuk situ."
__ADS_1
"Itu siapa namanya?" Dewa melirik kearah Anan.
"Itu Anan."
"Hai.." Anan mengulurkan tangannya menjabat tangan Dewa.
"Tangan Kak Anan dingin yak."
"Hehehehe" Anan hanya bisa tertawa meringis mendengar perkataan Dewa.
"Itu kak rumah Abah!" Dewa menunjuk gubug tua yang masih terlihat rapih dan adem dilihat.
"Dewa gak masuk ya Kak, dewa takut hehehe."
"Oh iya nih bentar." Dita membuka tas kecil yang di selempangkan di dadanya merogoh lembaran uang dua puluh ribu untuk diberikan ke Dewa.
"Gak usah kak, Dewa ikhlas..."
"Oh makasih yak."
"Tapi kalo kakak maksa ya alhamdulillah."
Dita tak jadi menaruh kembali uangnya dan langsung memberikan nya ke Dewa.
"Pake malu-malu meong lagi, oke deh makasih yak, kakak masuk dulu."
Dita melambai pada Dewa dan mencoba mengetuk pintu rumah Abah.
"Assalamualaikum... Abah... Abah..."
"Main yuk..." celetuk Anan.
"Husss gak sopan nih." Dita menginjak kaki Anan.
"Awww lagian manggilnya gitu."
"Assalamualaikum... permisi... anybody home... ada orang didalem?"
Dita mengulang ketukannya lagi.
Cekleeeek.... pintu Abah terbuka dilihatnya seorang wanita tua mengenakan kebaya Sunda jaman dulu dengan mengunyah sirih di mulut nya membuka pintu.
"Mau cari siapa?"
"Mau cari Abah Soleh saya mau minta tolong, temen saya terjebak di hutan terlarang sana Nek." ucap Dita menjelaskan.
"Biarkan dia masuk mbu." seorang laki-laki tua hadir dari balik pintu mempersilahkan Dita masuk.
"Anda Abah Soleh?"
tanya Dita.
"Iya saya Abah Soleh." jawabnya.
"Tolong saya Bah, temen saya pada kejebak di hutan sana."
"Masuk dulu nak, duduk didalam."
Dita masuk ke rumah Abah dan duduk di kursi tamu nya.
"Kamu ketempelan yak?" tanya Abah memperhatikan Anan.
"Maksud Abah?"
"Itu dia ngikutin kamu terus."
"Oh dia temen saya Bah dia suka jagain saya jadi kemana - mana ikut saya terus." jawab Dita.
"Iya Abah dia mah bukan ketempelan tapi emang maunya nempel terus sama saya." sahut Anan.
"Ih pede... kocak...!!" Dita melirik sinis pada Anan.
"Ini diminum dulu tehnya." nenek itu menawarkan teh hangat pada Dita.
"Makasih Nek."
"Panggil saja Ambu."
"Iya Ambu, nama saya Dita, makasih." Dita menyeruput teh hangatnya sedikit demi sedikit.
"Jadi sejak kapan teman kamu disana?"
__ADS_1
"Sejak tadi setengah enam tau tau mobil ambulance yang saya tumpangi nyasar kesitu, terus ketemu warung mereka pada sarapan disana tapi saya gak bisa masuk Bah."
"Hmmmm mobil kamu abis bawa mayat ya?"
"Iya Bah, bawa setan juga dua nih satunya, satunya lagi disana." Dita menunjuk Anan.
"Hmmm pantes tambah wangi jadi ketarik sama makhluk didalam sana, Ambu siapin sajen sekarang!"
"Iya Bah.." ucap Ambu yang segera menuju dapur, lalu keluar membawa tampah berisi sesajen di tangannya.
"Ayo kita kesana neng." ajak Abah Soleh bergegas.
Ternyata hutan itu hanya beberapa langkah dari rumahnya padahal tadi Dita berkeliling jauh mencari rumah Abah.
"Itu temen-temennya?"
"Iya Abah."
Lalu Abah berkomat kamit dengan menyebarkan kelopak bunga dan cipratan air pada mobil ambulance dan jalanan setapak menuju warung.
"Eh ni Dita elo mau pesen apa Ta, tuh si Anita lahap banget makan mie rebusnya."
ucap Doni
"Stop jangan pada makan lepehin." ucap Dota panik.
"Kamu bawa siapa Ta?" tanya Anita yang heran melihat Abah Soleh berkeliling warung.
"Ini Abah Soleh, dia kuncen sini, bener kata kamu Don, ini hutan terlarang dan kita harus pergi dari sini sekarang."
"Tanggung Ta, mie aku belum habis."
"Tengok makanan kalian sekarang!"
Anita membanting mangkoknya jijik dengan penglihatannya, mie rebus nya berubah jadi cacing tanah yang bergeliat, begitu pula dengan gorengan yang mereka makan berubah menjadi gumpalan tanah, kecoa, ulat besar dan serangga lainnya.
Warung itu menghilang bersama penghuninya. Pak Saidi, Joko, Doni dan Anita kompak memuntahkan sarapan yang baru mereka santap tadi. Mereka lalu bergegas menuju ambulance sesuai arahan Abah Soleh, Pak Saidi sudah mengerti harus membawa kendaraannya menuju jalan mana untuk pulang ke Jakarta.
"Abah aku lupa satu lagi."
"Siapa neng?" tanya Abah
"Andri Bah, yang aku bilang hantu barengan si Anan." bisik Dita ke Abah.
"Coba sebentar dia Abah panggil ." Abah berdiri bersedekap dan tak lama muncul sosok Andri yang tertarik oleh Abah.
"Ih ganggu aja Lo Ta, gue lagi pedekate tau."
"Itu demit kaya kamu Ndri, kamu mau pdkt sama dia sama aja gentayangan gak tenang disini, atau kamu balik sama aku temuin Sandra dan anak kamu terus pergi dengan tenang, hayo pilih mana?"
"Ya .. emmm iya, aduh, emmm pilih ikut kamu lah." jawab Andri akhirnya.
"Dita... ayok buruan...!!" suara Anita yang lantang mengagetkan Dita.
"Abah makasih banyak yak, kapan-kapan saya main lagi kerumah Abah buat bales budi ke Abah dan Ambu." Dita mencium punggung tangan Abah dan pamit.
Dita menutup pintu belakang Ambulance dengan Anan dan Andri sudah ikut naik menemaninya di bangku belakang bersama Anita mereka melambai pada Abah Soleh.
***
"Kenapa kau lepas Soleh...?"
sosok hantu Nenek berbadan laba-laba muncul dan bertanya pada Abah Soleh.
"Carilah pengunjung lain untuk kau tahan, dia terlalu kuat untuk kau tahan."
"Kawan-kawannya cocok untuk ku tahan dan dia bisa kulepaskan.."
"Tapi dia tak akan melepaskan mu, energi yang dia punya terlalu kuat dan akan ada banyak hal yang membantunya, kau yang susah nanti." jawab Abah Soleh sambil tersenyum.
"Hmmm kalo begitu carikan aku pengunjung yang bisa ku tahan...!!" seru sosok Nenek itu.
"Memangnya tak puas kau dengan satu keluarga kemarin? sudah meminta pengunjung lagi untuk kau tahan, cih dasar iblis serakah."
Hantu berkepala nenek dan berbadan laba-laba itu tertawa menyeramkan.
"Besok saja ku serahkan pengunjung lain kesini."
Abah Soleh pergi dari hutan terlarang itu menuju rumahnya.
***
__ADS_1
To be continued
Happy Reading 😘💝