
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍
****
"Kenapa saya mau diajak ke rumah sakit non, eh Ta?" tanya Tasya agak bingung.
"Ikut aja nemenin aku nanti kan Anan kerja disana terus...
BRUG...!!
Hantu Marina meluncur jatuh dari lantai dua.
"Huaaaa... itu ngapain dia jatuh begitu." tunjuk Tasya yang segera bersembunyi di belakang Dita.
"Wah suara apa itu?" tanya Bu Mey heran.
"Gak ada apa-apa Bu tadi Dita ke antuk meja." jawab Dita asal.
"Kok kenceng banget suaranya." Bu Mey melangkah pergi menuju dapur.
"Itu si Marina ngapain salto tuh barusan?" tanya Anan.
"Tau tuh main jatuh aja dari atas." sahut Dita.
Hantu Marina hanya meringis tertawa. "Maaf kelepasan." sahut Marina.
"Hahaha samanya kaya Anita dulu, masih amatiran jadi hantu." ucap Dita menahan tawanya.
"Udah hayo berangkat ke rumah sakit." ajak Anan.
***
Saat Dita masuk ke dalam ruang perawatan Doni sedang sendiri dalam kamarnya. Om Kevin sedang menghirup udara segar ditemani Tante Dewi yang mendorongnya di kursi roda. Sementara Anan berada di ruangan Tante Dewi mempersiapkan rapat direksi siang nanti dengan investor baru.
"Kita ngapain kesini?" bisik Tasya.
"Udah diem aja bentar, eh Doni lagi tidur. Nih Tasya kamu berdiri di samping Doni ya, diem aja disini jangan berisik, diem aja." perintah Dita.
"Terus saya ngapain disini?" tanya Tasya masih tak mengerti.
"Masak." sahut Dita kesal.
"Lah bagaimana masaknya Ta?"
"Au amat lah, udah diem aja disitu masa iya kamu saya suruh masak beneran, ih gemes deh pengen jambak rambut kamu tuh." ucap Dita kesal.
"Oh jadi diem aja nih?"
"Iya diem aja, ngomong lagi awas ya!" ancam Dita.
Dita mengguncang lengan Doni, tak ada reaksi. Lalu Dita menepuk pipi Doni, masih tak ada reaksi.
__ADS_1
"Duh lupa nih anak kalau tidur susah di banguninnya." gumam Dita.
lalu Dita mencoba menyentuh luka tembak Doni, masih tak ada reaksi, Dita lebih kencang menepuk bekas luka tembak Doni.
"Aduh sakit...!" pekik Doni yang tiba-tiba terbangun lalu melihat ke arah Tasya.
"Anita...? Anita kamu Anita kan?" Doni menggenggam tangan Tasya yang berusaha untuk melepasnya.
"Ih ini apa-apaan sih, lepasin saya ih main pegang-pegang aja." sahut Tasya kesal.
"Anita... aku kangen banget sama kamu Nit." Doni memeluk Tasya tiba-tiba.
"Idih lepasin, lepasin saya!" pinta Tasya.
"Ah kamu mah Nit dulu aja kamu yang suka pegang sama peluk aku, sekarang aja malu." ucap Doni masih memeluk Tasya.
"Ih nih orang halusinasi kali yak, lepas!" pekik Tasya mendorong Doni yang hampir jatuh dari kasur tapi Dita langsung sigap mencegah Doni jatuh.
"Kak Dita kok Anita jadi gini sih, dia hilang ingatan yak, jangan-jangan Anita balik lagi karena mau jagain aku ya kan kak?" tanya Doni dengan semua ocehannya.
"Pede banget kamu Don, kata siapa dia Anita." sahut Dita menahan tawanya.
"Ini Anita kak, mirip banget kok." Doni memperhatikan Tasya dengan seksama.
"Aku juga mikir tadinya gitu, tapi katanya dia bukan, dia datang dari desa kecopetan terus ketemu sama aku ya udah daripada dia di culik mending ikut aku." ucap Dita menjelaskan.
"Ini kenapa pada nyangkain aku Anita sih?" tanya Tasya.
"Karena kamu sama Anita tuh mirip banget Sya." sahut Dita.
"Jadi dia bukan Anita yah, hiks hiks..." Doni menangis sejadi-jadinya.
"Biar aja siapa tau nanti dia balik dari sana." sahut Doni kesal.
"Yang udah lewat cahaya itu udah gak bisa balik Don, mungkin juga sudah melupakan segala tentang dunia, termasuk kita."
"Tapi aku mau Anita kak huaaaa..." Doni makin menangis.
"Dah yang di depan mata aja tuh Tasya." bisik Dita.
"Kenapa pada ngeliatin saya kaya gitu?" tanya Tasya memandang Dita dan Doni bergantian.
"Enggak kok, perasaan Tasya aja kali, ya gak Don." Dita menepuk bahu Doni.
"Aduh sakit kak." ucap Doni meringis.
"Eh maaf Don, kelepasan, aduh laper yak, pengen bakmie ayam nih kayanya." Dita memegang perutnya.
"Aku mau dong kak!" pinta Doni.
"Heh udah makan aja yang dikasih rumah sakit, biar cepet sembuh nanti kalau udah sembuh aku traktir mie ayam sepuasnya."
"Bener ya kak."
"Bener, ayo Tasya kita cari mie ayam." ajak Dita.
"Yah kok Tasya di ajak kirain suruh jagain Doni." ucap Doni.
"Ih gak mau saya gak mau jagain kamu." ucap Tasya menghindar.
__ADS_1
"Gak mau Don, nanti juga lama-lama mau ya gak?" Dita meledek Tasya.
"Kak itu lah satu lagi bawa." ucap Doni menunjuk hantu Marina.
"Wah iya mending dia aja jagain kamu Don." Dita menahan tawanya.
"Gak mau ah." Doni menutup dirinya dengan selimut sambil berbalik badan.
"Hahahaha, masih cemen aja sih Don, ayo Marina kita ngebakmie." ajak Dita.
"Serius Ta, dia ikut." Tasya bergidik ngeri.
"Iya serius, entar juga biasa." sahut Dita menekan tombol lift.
Pintu lift terbuka Tante Dewi hadir dengan om Kevin yang didorongnya dengan kursi roda.
"Cieee... romantis banget dah ah." goda Dita saat Tante Dewi keluar dari lift bersama om Kevin.
"Apaan sih Ta, eh itu siapa?" Tante Dewi menanyakan Tasya.
"Ini Tasya, nanti Dita ceritain deh pokoknya dia tinggal di rumah kita ya Tante dia jadi asisten aku." jawab Dita.
"Gaya banget punya asisten, hati-hati sawan ketemu hantu terus." ucap Tante Dewi.
"Emang iya, udah ketemu dia." sahut Dita.
"APA? hadeh emang kompak kalian." Tante Dewi pergi mendorong Kevin menuju kamar perawatannya.
"Dah Tante dah om." Dita menutup pintu liftnya.
***
Dita melihat Shinta mencoba mendekati Anan terus dari kejauhan.
"Hai sayangku." Dita memeluk Anan dari belakang.
"Eh sayang, kamu udah dari kamar Doni?" tanya Anan.
"Udah dong, aku mau makan mie ayam, mau ikut gak?" ajak Dita.
"Aku masih harus nyiapin meeting sama investor." sahut Anan.
"Nah bener tuh, ayo pak di terusin lagi persiapannya." sahut Shinta dengan lirikan manjanya.
"Gak usah Shin, bukannya kamu mau autopsi mayat lagi?" tanya Anan.
"Oh udah kelar pak, saya mau bantuin bapak aja." pinta Shinta.
"Tapi saya gak mau dibantuin kamu nanti istri saya marah." sahut Anan masih memeluk tangan Dita.
"Nah dalem jleb, sakit banget tuh." Dita melirik Shinta.
****
To be continued....
Happy Reading...
Jaga kesehatan yak ... stay safe 😘😘😘
__ADS_1