
Dear readers tersayang... Jangan lupa sebelum membaca di Like and komentar di babnya. Kalau sudah habis membaca jangan lupa juga buat Vote pakai poin kalian buat dapetin Giveaway dari Vie.
Terima kasih and Happy Reading. 😘😊
*******
Pak Herdi menghampiri Dita, ia menepuk bahunya dan menunjuk ke arah sosok perempuan yang sedang meneteskan air mata mendengar penuturan Tasya.
Tasya dan Doni lalu ikut menoleh ke arah yang di tunjuk Pak Herdi.
"Mitha..." ucap Doni yang terkejut melihat Mitha yang sudah berubah menjadi hantu.
Perut Mitha robek dan mencuat ke arah luar. Tubuh bagian depannya itu mengeluarkan banyak darah. Mitha menangis dengan suara yang menyayat hati.
"Apa ibu bayi di dalam mati, Dok?" Dita mengguncang bahu Dokter Nicky kembali dengan kencang.
Dokter Nicky mengangguk.
"Jelaskan pada saya apa yang terjadi, atau saya akan menuntut pihak rumah sakit atas kematian ibu dari si bayi itu," ancam Dita.
"Woooo, tidak semudah itu, kalian yang harusnya di beri ancaman karena membawa bayi itu ke rumah sakit ini," ucap Dokter Wayne menimpali.
"Bagaimana kau bisa menuduh kami yang salah, hah?" Doni menarik pakaian operasi yang dikenakan Dokter Wayne. Wajahnya terlihat geram dan merah.
"Iya, kenapa kami yang salah, kami kan hanya tau Mitha kesakitan dan ternyata melahirkan di rumah sakit ini," sahut Tasya menimpali.
Tanpa basa-basi lagi, Dokter Wayne langsung menarik infus Doni dengan kencang seketika sampai lepas. Tubuh Doni langsung terasa lemas dan darah mengucur dari bekas infus di tangannya.
"Don, kamu enggak apa-apa?" tanya Tasya.
"Aku pusing, Sya."
"Sya, bawa Doni ke suster yang di deket ruangannya," ucap Dita.
"Oke, Ta. Ayo Don kita kembali ke ruangan kamu dulu," ucap Tasya lalu memapah tubuh Doni.
Pak Herdi yang bisa menyentuh Dokter Wayne langsung mendorongnya sampai punggung dokter itu membentur dinding.
"Siapa, siapa yang mendorongku, siapa?" pekik Dokter Wayne.
Pak Herdi langsung mengangkat tubuh Dokter itu sampai terlihat melayang oleh Dokter Nicky.
"Itu pasti ulah bayi itu, bayi itu iblis!" teriak Dokter Nicky ketakutan.
"Bukan Dokter, itu ulah hantu penjaga saya," jawab Dita.
"Hantu? apa kalian orang-orang pemuja sekte sesat sampai mempunyai hantu dan membawa bayi iblis itu ke sini?"
Dokter Nicky menepis tangan Dita dan makin menjauh.
"Dengarkan kami dulu, Dokter. Kami memang orang-orang berbeda yang dapat melihat hantu, namun kami bukanlah anggota sekte sesat atau semacamnya, katakan pada kami apa yang terjadi di dalam sana?"
Dita menunjuk ke arah ruangan operasi tadi.
"Bayi itu, bayi itu merobek perut Ibunya yang sedang kuberi sayatan sebelum menjalankan operasi secar. Lalu, perlahan-lahan ia merangkak keluar. Dia mengerikan, matanya hanya satu, berada di tengah. Giginya bertaring dan mempunyai ekor. Dia membunuh suster dan Dokter Ian, dia menghisap darah mereka sampai habis."
Dokter Nicky menjelaskan peristiwa melahirkan Mitha masih dengan raut wajah ketakutan.
__ADS_1
Pak Herdi menurunkan tubuh Dokter Wayne yang ternyata sudah tak sadarkan diri karena ketakutan. Dua orang petugas rumah sakit datang dan bersiap membuka pintu ruangan.
"Jangan! sebaiknya jangan, atau kalian akan bernasib sama dengan dua orang yang di dalam," cegah Dita.
"Dia benar, sebaiknya jangan," sahut Dokter Nicky.
"Tapi Pak, menurut suster Eiden ada yang terbunuh di dalam sana," ucap salah satu penjaga.
"Benar, dan kalian mungkin juga bisa kehilangan nyawa kalian," sahut Dokter Nicky.
Shinta berlari menuju Dita dengan kencangnya.
"Apa bayi itu lahir?" tanya Shinta dengan paniknya.
"Dia sudah lahir dan ada di dalam sana, dia sudah menewaskan Mitha dan dua orang lainnya," jawab Dita.
"Astaga, bagaimana ini?" Shinta menjambak rambutnya sendiri dengan raut wajah panik.
"Bayi itu harus dibunuh, Ta." Pak Herdi memberi saran.
"Harus ada yang membunuh bayi itu," ucap Shinta.
"Bagaimana caranya, aku tak akan tega membunuh seorang bayi?" tanya Dita.
"Tapi dia bukan bayi, Ta. Dia anaknya si makhluk botak itu," ucap Shinta.
Anan yang muncul dari pintu tangga darurat karena lift sedang mati. Sebenarnya ia salah lantai saat keluar dari pintu tangga darurat tersebut. Lalu, saat Anan menoleh ke arah kerumunan di koridor tersebut, dia melihat Dita.
"Bunda?"
"Yanda." Dita langsung menghamburkan dirinya memeluk Anan.
"Kalau kamu gak tega, aku aja yang masuk ke dalam sama Pak Herdi," tegas Anan.
"Tapi, Yanda..."
"Kamu percaya deh sama aku," ucap Anan menegaskan.
"Baiklah Yanda, kamu hati-hati ya," pinta Dita.
"Bapak pernah ngerasain berantem sama makhluk gaib, gak?" tanya Anan yang bertanya pada kedua orang petugas keamanan tersebut.
Keduanya menggeleng kompak bersamaan.
"Oke, kalau gitu di sini aja, daripada nanti di dalam malah ketakutan dan jadi korban," ucap Anan.
Anan dan Pak Herdi lalu masuk ke dalam ruangan tersebut setelah mengambil kunci di kantong celana Dokter Wayne yang masih tak sadarkan diri.
"Ayo, masuk Nyan!" ajak Pak Herdi.
"Oke tofu basi, ayo kita ke dalam. Pak pinjem tembakan listrik sini, sama pentungan itu," pinta Anan.
Kedua satpam yang masih menatap ke arah Anan dengan bingung itu akhirnya menyerahkan benda yang Anan minta.
"Astagfirullah, bau banget!" pekik Anan kala aroma busuk menyebar dan tercium menusuk hidungnya.
"Menyan, kamu harus waspada," ucap Pak Herdi yang baru saja menggeser jasad seorang suster yang tewas menggunakan kakinya sambil melompat.
__ADS_1
"Kemana tuh bayi?" gumam Anan.
Pandangan menjijikkan dan mengerikan langsung mengganggu penglihatannya. Mitha terbaring dengan mulut menganga dan perut robek yang kulitnya mencuat keluar.
"Ya ampun, serem banget si Mitha, ini pasti ulah bayi itu. Woy Anak Setan, dimana elo!" seru Anan.
"Tuh, Nyan, lagi ketawa meringis noh di atas lemari obat," tunjuk Pak Herdi.
"Hmmm serem banget elu Tong, oh iya amit-amut jabang bayi, kan Dita lagi hamil. Idih jangan sampe anak aku mirip kayak gitu, hiiyyy... pait-pait cuiihhh...!"
Anan bersiap dengan pukulan besi warna hitam milik petugas keamanan tadi di tangannya.
"Di pukul pakai ini, emang udah pasti mati, Tofu Basi?" tanya Anan yang menoleh pada Pak Herdi.
"Tau dah Nyan, saya belum coba," sahut Pak Herdi.
"Yeee... saya juga tau kalau itu mah, ayo kita coba!"
Brag!
Bayi iblis itu membuat lemari penyimpanan obat di ruangan itu jatuh.
Perlahan ia menghampiri Anan dengan suara tawanya yang mengerikan.
"Harrgghh harrgghh..." suara makhluk itu sangat seram di tambah lagi ia bisa berjalan, seraya mengancam Anan dengan senyum menyeringai dan penuh darah.
Bug.
Pukulan besi itu tepat menghantam kepala si makhluk itu sampai jatuh terpelanting.
Makhluk itu kembali berdiri dan menghampiri Anan. Kini ia melompat ke arah tubuh Anan dan mencekiknya.
Pak Herdi berusaha menarik ekor makhluk tersebut agar melepas cekikan tangannya dari leher Anan.
Anan segera menyerang makluk itu dengan senapan listrik dan langsung membuat makluk itu berteriak. Namun, alat itu kemudian mengeluarkan api dan membakar senapan tersebut.
Makhluk itu terpental ke samping tubuh Anan. Karena senapan listrik tadi terbakar Anan segera mengibaskan tangannya dan menutup api kecil itu dengan selimut agar padam.
"Aku tahan makluk itu, lalu kamu cari sesuatu untuk menghabisi dia," ucap Pak Herdi memberi perintah.
Makhluk itu kembali menghampiri Anan dan melompat ke arahnya. Akan tetapi, Pak Herdi langsung sigap menarik ekor makhluk itu dan membanting tubuh makhluk itu ke lantai.
"Cepat, Menyan!" seru Pak Herdi berusaha mencekik leher makluk itu.
******
Bersambung...
Mampir juga ke :
- 9 Lives
- Diculik Cinta
- With Ghost
- Forced To Love
__ADS_1
- Kakakku Cinta Pertamaku
Vie Love You All... 😘😘