
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Kepala anak kecil tiba-tiba menyembul keluar dari tas itu dengan wajah penuh darah, anak itu tertawa lirih ke arah Dita.
Dita jatuh terduduk ke lantai menutup mulutnya menahan teriakan yang ingin ia keluarkan.
Anak perempuan dengan rambut berkepang dua memakai dress bermotif boneka Teddy bear itu pakaiannya penuh dengan darah, tiba-tiba ia merangkak keluar dari dalam tas. Darah terus mengalir dari tempurung kepala di bagian belakang, sampai Dita bisa melihat otak anak itu hampir keluar hanya tertahan oleh kepangan rambutnya. Anak itu menoleh pada Dita tersenyum menyeramkan lalu ia merangkak menuju Mr. Paul sampai ke punggung Mr.Paul bergelayutan disana.
"Ouch my back."
"Kenapa mister?" tanya Budi
"I don't know, I just feel so hurt in my back. "
"Hmmm break mister break ya?"
Mr. Paul mengangguk.
"Bu maaf break dulu ya, kayanya mister punggungnya sakit deh, sering dia kaya gitu akhir-akhir ini." ucap Budi.
"Oke kalau gitu saya pesenin makan sekarang ya." Tante Dewi memerintahkan Cindi membawakan beberapa nasi kotak yang tadi sudah dia pesan.
"Psst psstt Anan sini deh." bisik Dita memanggil Anan.
"Kenapa Ta, mau ngelanjutin yang tadi ya hehehe."
"Hu... sompreto nih bocah!" Dita menarik rambut kepala Anan.
"Aww sakit Ta, kenapa sih, hantu anak kecil kan di punggung si Paul?" ucap Anan melirik ke Paul.
"Nah itu maksudnya, itu anak tadi keluar dari tas ini eh langsung merangkak naik ke punggung Paul, kenapa ya Nan?" tanya Dita.
"Ya mana aku tahu, kalo kamu yang merangkak naik ke punggung aku rela banget deh aku jangankan punggung, kamu merangkak ke dada aku juga aku mau banget." Anan tertawa terkekeh-kekeh merasa lucu sendiri dengan ucapannya.
__ADS_1
"Ini bocah dari tadi modus banget ya otaknya luber kali yak." Dita mengguncang - guncang kepala Anan. "Nih rasain biar otaknya nyampur sekalian."
"Duh sakit Ta aww..." rengek Anan.
"Ini berdua dari tadi ya modus banget mesra-mesraan mulu bikin sebel kan liatnya iri Tante nih." ucap Tante Dewi.
"Hehehehe Tante Dewi ini nih Anan di ajak ngomong serius bercanda terus bawaannya kan ngeselin." sahut Dita.
"Hal serius apa sih, kamu mau ngajak Anan nikah ya serius banget?"
"Mau banget Tante, ide bagus tuh Ta." sahut Anan.
"Apaan sih, sini Tante aku kasih tau ada hantu anak kecil yang nemplok di punggung si Paul makanya dia kesakitan." bisik Dita.
"APA?" teriakan Tante Dewi sukses membuat semua yang ada di ruangan itu menoleh.
"Maaf maaf silahkan lanjutkan kembali makan nya." ucap Tante Dewi sambil tersenyum ke semuanya.
"Kamu serius Ta? si Budi bilang akhir-akhir ini dia suka sakit punggung, kemarin juga pas makan malam dia ngeluh sakit di leher sama punggungnya."
"Apa? makan malam?" kali ini Anan dan Dita yang teriak bersamaan membuat semuanya menoleh.
"Maaf maaf silahkan lanjutkan lagi hehehe." ucap Anan.
"Emm itu emm anu eh apa ya, gimana ya hehehe, aku mau ke toilet yak."
Anan langsung menghadang Tante Dewi agar tak pergi. "Mau kemana Tante?" goda Anan dengan lesung pipi yang melebar di senyumannya.
"Coba Tante ceritakan, kita siap kok ngedengerin ada apa dengan makan malam hari itu." suara Dita perlahan menggoda Tante Dewi.
"Duh kalian ini ya benar-benar maksa banget."
"Kita gak maksa kok Tante, cuma kepo hayo sejak kapan nge date sama mister Paul?" ucap Dita sambil mengedipkan matanya.
"Okay, sebulan yang lalu kita ketemu saat perkenalan proyek ini, kita jadi sering chat ketemu dan makan bareng, dah puas...?"
"Ah so sweet... Tante tersayangnya aku punya pacar." Dita memeluk Tante Dewi.
"Ya dibilang pacar sih kayanya belum deh Ta cuma deket aja."
"Pantesan ngeliatin Tante mulu dari tadi."
"Coba Ta, tanya hantunya kenapa bisa gangguin Paul?" Tante Dewi memberi ide yang bagus.
__ADS_1
"Emmm gimana ya, anaknya ketawa mulu Tante mana darahnya ngalir terus mukanya darah semua belum lagi otaknya mau keliatan tumpah."
"Ta stop, bagian itu jangan diceritain please." Tante Dewi memotong perkataan Dita.
"Hehehe ya maaf, coba bentar aku cari Anita dulu ya siapa tau dia bisa bantu aku." ucap Dita meninggalkan ruangan pemotretan itu, Sementara Paul memaksa melanjutkan pemotretan itu sampai selesai nanti.
***
"Bagus banget ya, di cariin dari tadi malah berduaan di sini." Dita menemukan Anita yang sedari tadi menemani Doni.
"Hehehe Dita, tadi kan abis makan siang tuh terus nemenin cari kos kosan sekitar sini gak ada penuh semua terus kita ke toko eskrim deh." jawab Anita.
"Udah akur rupanya?"
"Iya kak, habisnya Anita lama-lama lucu gemesin." sahut Doni yang dirangkul Anita.
"Hmmm mulai deh kecentilan."
"Sekali-kali Ta jangan kamu mulu sama Anan aku kan juga pengen ngerangkul gini." Anita tersenyum meringis.
"Terserah deh, ayo kalian ikut aku!" ajak Dita menuju ruang pemotretan.
Ternyata sesi pemotretan telah selesai hanya tersisa Tante Dewi, Anan, Paul dan Budi di ruangan itu.
"Astaga itu apa?" Doni menutup wajahnya sembunyi di balik tubuh Dita.
"Nah itu yang mau aku kasih tau." ucap Dita.
"Tenang Don ada Anita harusnya kamu sembunyi dibalik aku." sahut Anita percaya diri.
"Tumben biasanya ketakutan aja kalau liat setan." Dita mengejek Anita.
"Beuh demi Doni, aku gak boleh takut ya Ta."
"Bagus deh, gini nih aku mau kamu tarik anak itu lepas dari gendongannya pas Paul pamit pergi, nah kamu bawa deh anak itu kesini kita interogasi, gimana? Dita memberi ide pada Anita.
"Hmmm oke."
***
To be continued...
😘😘😘
__ADS_1