Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Pengorbanan Ratu Sanca


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up. Vie mohon dong, mohon banget, jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh.


Mampir ya ke Novel terbaru aku yang uwwu


"Diculik Cinta" yang siap mengocok perut kalian.


Happy Reading...


******


Ratu Sanca turun ke bawah menghampiri Anan.


"Bisakah kau mengikutiku," pinta Ratu Sanca.


"Memangnya ada apa, Tu?" tanya Anan.


"Dita mengalami sesuatu, dia bilang penyakit itu seperti yang menimpamu," ucap sang Ratu.


"APA?!" pekik Anan seraya menggebrak meja dapur dan membuat para tamu menoleh ke arah dapur.


Anan langsung menaiki anak tangga setengah berlari menemui Dita.


Tasya dan Jerry langsung berusaha menenangkan para tamu dan beranjak melangkah ke dapur.


"Bunda, kamu kenapa?" tanya Anan dengan paniknya.


Dita langsung menyembunyikan tangannya di belakang tubuhnya. Ia tak ingin menunjukkannya pada Anan saat itu.


"Sini, sini aku lihat!" seru Anan meminta tangan Dita untuk ditunjukkan.


"Aku gak mau, kamu gak usah lihat," ucap Dita menahan tangis.


"Sini, aku lihat." Anan langsung menarik tangan Dita dan melihat lukanya.


"Bunda..., kenapa kamu sembunyikan itu dariku?" ucap Anan dengan raut wajah sedih.


"Aku, aku tak mau kamu khawatirkan ini dariku, " jawab Dita.


"Tapi, bunda... kamu harusnya mengerti tak ada yang boleh disembunyikan dari kita."


Anan langsung memeluk Dita dengan erat. Isak tangis terdengar dari wanita itu.


Ratu Sanca mengamati keduanya dari sudut ruangan.


***


Tasya menjemput Anta di sekolah, karena Anan memutuskan untuk membawa Dita menemui dokter Jhonson yang menyembuhkan lukanya kemarin.


"Hai, Logan!" Tasya menyapa pria yang sedang mengganti selebaran dalam majalah dinding sekolah.


"Whoaaa... Keren ada kemping ke Gunung Hijau," ucap Tasya.


"Iya, kau mau ikut?" tanya Logan.


"Lho apakah boleh?" tanya Tasya.


"Tentu saja boleh, kan kau harus mendampingi Anta pergi ke sini," ucap Logan.

__ADS_1


"Oh, iya juga ya, Dita kan lagi hamil, pasti aku yang dampingi Anta pergi kemping, siap kalau begitu, aku pasti ikut," ucap Tasya.


"Tuh, Anta sudah keluar kelas," Logan menunjuk ke arah Anta yang melambaikan tangannya padanya.


"Bunda mana?" tanya Anta.


"Belum pulang dari dokter," sahut Tasya.


"Lho memangnya, Dita sakit apa?" tanya Logan.


"Dita sedang hamil, sebentar lagi Anta punya adik," ucap Tasya.


"Hah, adik? Adik itu apa sih?" tanya Anta.


Logan menjelaskan pada Anta dengan penuh kesabaran di hadapan Tasya.


Duh, kenapa ini cowok jadi ganteng banget ya akhir-akhir ini, haduh Tasya, jangan mulai deh.


"Tante, tante... yee di panggil dari tadi bukannya nyautin," ucap Anta dengan raut wajah kesal.


"Eh kenapa, Nta?" tanya Tasya salah tingkah di pandang oleh Logan dan Anta bersamaan.


"Tadi si Anta masih bersikeras menjelaskan mengenai teman hantunya, kurasa daya imajinasi dia besar juga ya," ucap Logan.


"Hehehe... Iya, sepertinya iya." sahut Tasya.


"Ih Tante, kok ngomongnya gitu, kan Tante juga bisa lihat Rian, terus di rumah ada kak Samanta, ada PAK Herdi juga, iya kan?" ucap Anta.


"Maksudnya siapa, Sya?" tanya Logan.


"Ummm kurang tau ya, mungkin tetangga hehehe, kalau begitu saya duluan ya sama Anta, mobil taxinya udah nungguin dari tadi, dah Pak Logan..." ucap Tasya bergegas menarik paksa tangan Anta dengan gemas, Tasya tak mau jika Anta akan lebih jauh lagi membeberkan kemampuan mereka tentang hantu.


***


Tangan Dita untuk sementara ini dibalut dengan perban setelah diberikan obat dari dokter dan serbuk campuran mutiara hitam milik Ratu Sanca. Menurut dokter kondisi Dita yang sedang hamil muda mengharuskannya tidak boleh mengalami tindakan operasi seperti Anan.


Anta masuk ke dalam kamar Dita bersama Tasya. Ia menyerahkan formulir sekolah yang mengharuskannya mengikuti program pengenalan alam pegunungan ke Gunung Hijau.


"Boleh ya bunda, kan nanti perginya sama Tante Tasya," pinta Anta merengek pada Dita yang sedang berbaring.


"Iya boleh, tapi inget kalau ketemu hantu depan anak-anak yang lain, kamu pura-pura gak lihat, jangan diajak ngobrol, ya," pinta Dita.


"Lah kalau hantunya ngajak ngobrol, gimana?" tanya Anta masih bersikukuh.


"Anta... kan bunda bilang jangan diajak ngobrol, kamu harus cuek sama para hantu di sana. Kamu juga, Sya."


"Kenapa denganku?" tanya Tasya.


"Ya, jagain Anta yang bener ajarin cuek kalau ketemu hantu," ucap Dita.


"Tapi aku kan, suka takut Ta kalau ketemu hantu," ucap Tasya.


"Hadeh... Kamu panggil Pak Herdi dong, buat jagain dia, oke?"


"Oke..." sahut Dita dan Anta bersamaan.


***


Keesokan harinya Tasya dan Jerry langsung berteriak-teriak menemukan mayat sang Ratu Sanca tergeletak di lantai dua. Mereka bergegas menghubungi Dita dan Anan yang sedang mengantar Anta.

__ADS_1


Mendengar kematian Ratu Sanca yang mendadak, Anan langsung melajukan mobilnya menuju ke restoran. Dita terpaksa menghubungi sekolah untuk meminta ijin karena Anta tak jadi sekolah dan mengikuti mereka.


Sesampainya di restoran, betapa terkejutnya mereka menemukan Ratu Sanca tergeletak dengan tubuh di bagian bawah lehernya sobek. Ratu Sanca akhirnya nekat mengeluarkan jantungnya sendiri demi kesembuhan Dita dan Anan melawan sihir hitam.


Dita langsung berteriak dan menangisi kepergian sang Ratu. Jantung Ratu Sanca lalu hancur menjadi butiran kristal berwarna merah. Butiran tersebut di baluri ke tubuh Dita dan Anan.


"Mungkin, memang keinginan Ratu Sanca untuk mengorbankan nyawanya demi kita, bunda." Anan berusaha menenangkan Dita.


"Tapi, yanda... hiks hiks..."


"Bunda, lihat deh Anta nemu telur warna hijau." Anta menyerahkan sebutir telur warna hijau berukuran besar ke tangan Dita.


"Ini pasti telur dinosaurus," ucap Anta mencoba menerka sesuai keinginannya.


"Ini telur apa ya?" gumam Anan sembari mengamati telur itu dengan seksama.


"Simpan dulu aja, kita kubur Ratu Sanca dulu."


Dita meraih kain syal di lehernya untuk dijadikan alas bagi telur tersebut.


Tiba-tiba telur itu pecah, lalu jasad Ratu Sanca berubah menjadi debu berwarna hijau yang masuk ke dalam telur itu.


Perlahan demi perlahan cangkang telur itu terlepas dan muncul bayi ular yang keluar dari sana.


"Jangan-jangan itu anak Ratu Sanca, yanda." Dita langsung tersenyum sumringah.


"Bisa jadi reinkarnasi Ratu Sanca," sahut Anan.


"Ini memang aku," suara Ratu Sanca terdengar dari bayi ular itu.


"Lho, kok bisa?" tanya Dita dan Anan bersamaan.


"Aku lupa hehehe, aku masih punya satu nyawa lagi untuk melakukan reinkarnasi."


"Astaga, Ratu... Kalau tau kamu masih bisa hidup lagi, tau gitu aku tebas saja lehernya, dari kemarin." Anan melirik Ratu Sanca dengan kesal.


"Jadi sekarang bagaimana?" Tanya Dita.


"Buatkan aku rumah kayu yang hangat ya, aku akan mengulang siklus kehidupanku dari ular kecil sampai besar seperti kemarin," ucapnya.


"Yeayy... Anta punya mainan baru asik...!" ucap Anta penuh semangat dan kegirangan.


*******


Bersambung ya...


Mampir juga ke :


- Diculik Cinta


- With Ghost


- 9 Lives


- Gue Bukan Player


- Kakakku Cinta Pertamaku


Vie Love You All... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2