
"Pagi semua.." Sapa Pak Herdi yang datang memakai kaus dan celana jeans.
"Gila cakep banget ini bosku." gumam Anita.
"Ya Nit kenapa?"
"Pagi pak pagi.. hehehe tumben pak kirain gak dateng lagi?" tanya Anita.
"Oh Dateng lah, kemaren saya gak enak badan, Dita mana?"
"Lagi dibelakang Pak, bersih-bersih kita dari kemaren dari pada gak ngapa-ngapain."
"Bagus makasih banyak yak, saya keruangan dulu." Pak Herdi berlaku masuk keruangannya.
"Nah ini dia orangnya." ucap Anita ketika melihat Dita datang dengan kemoceng ditangannya.
"Kenapa Nit, ada yang salah sama aku?" Dita risih juga dipandangi Anita dari atas ke bawah.
"Hmmm barusan Pak Herdi dateng pake kaos sama jeans lah ini dirimu cuma pake celana pendek sama kaos, kita kerja apa lagi kemping yak?"
"Oh cakep ya aku udah kaya pembantu jaman now terus nikah sama majikannya kaya di novel apa FTV hehehhee.. lagian kan cuma bersih-bersih menyesuaikan lah, eh apa katamu barusan ada Pak Herdi?"
"Iya tuh di ruangannya katanya gak enak badan."
"Masa sih, coba aku lihat sekalian bersihin ruangannya mumpung ada orangnya, ikut yuk?" ajak Dita.
"Enggak ah kamu aja sana aku mau ke halaman depan bersihin sarang laba-laba sama Doni."
"Emmmm bilang aja mau pacaran."
Anita mengedipkan satu matanya lalu pergi ke halaman.
Tok Tok
"Masuk..."
"Pagi Pak, Dita boleh bersihin ruangan kantor bapak gak?" Dita masuk perlahan ke dalam kantor pak Herdi.
"Boleh Ta, lagian kalian bukannya pada libur aja malah pada masuk bersih-bersih." Pak Herdi sudah duduk di sofa kerjanya.
"Kata Kang Ujang Bu Devi nyuruh masuk aja daripada potong gaji gara-gara absen."
Pak Herdi tertawa mendengarkan Dita.
"Dih bapak kenapa ketawa?"
"Enggak, kalian itu emang karyawan jempolan."
"Ini dokumen saya tumpuk semua ya pak."
"Iya, haarrrgghhh saya rebahan dulu ya Ta, lemes banget kayanya badan saya."
Pak Herdi meregangkan tubuhnya di atas sofa.
Bagus banget pemandangannya dari sini ckkckc
Dita mengamati pak Herdi yang terbaring di sofa.
__ADS_1
"Ko aku penasaran ya cari foto istrinya gak ada, apa di laci yak, coba ah di liat."
Dita membuka laci meja pak Herdi yang satu penuh tumpukan kertas-kertas, laci yang satu terkunci.
"Ta lacinya gakusa di beresin saya belum bebenahin dokumen disana." ucap Pak Herdi sepertinya tahu Dita mencoba membuka laci satunya.
"Eh iya pak, yang di meja udah rapih sih aku elap kaca lemari sama meja aja yak."
Dita beralih dari lemari kabinet lalu ke meja di pandangnya Pak Herdi yang terbaring menutup matanya dengan satu lengannya yang lumayan berotot.
"Ta..."
"Astaga... bapak ngagetin aja."
Pak Herdi sudah duduk dengan tegak padahal barusan Dita masih melihatnya terbaring.
"Duduk sini Ta." Pak Herdi menepuk sofa disebelahnya perintah agar Dita duduk disampingnya.
"Saya disitu...?" Dita menunjuk arah sofa samping pak Herdi.
"Iya sini."
Tepukan kali ini sudah disambut dengan bokong Dita yang mendarat di sofa.
"Pinjem paha kamu boleh gak?" tanya Pak Herdi.
"Buat apa pak?" Dita menutupi pahanya dengan lap yang tadi disampirkan di bahunya.
"Gak usah takut, saya cuma pinjem buat rebahan." Pak Herdi mengambil lap di atas paha Dita menaruhnya di meja dan meletakkan kepalanya di pangkuan Dita.
Dita melirik ke wajah pak Herdi yang matanya terpejam.
"Pak pak..." Dita menyentuh pipi pak Herdi perlahan dengan telunjuknya.
"Sebentar aja Ta, saya pengen dimanja kaya gini." Pak Herdi menarik tangan Dita membawanya ke atas dadanya dan menggenggamnya.
Deg Deg ...
makin halu aja ini aku kalo di giniin kan baper jadinya duh...
"Kok tangan bapak anget yak. Ni kepalanya juga, bapak masih sakit yak?" Dita meraba kening pak Herdi.
"Hmmmm.."
"Pak udah sarapan trus minum obat belum?"
"Hmmmm.."
"Yeee si bapak hem Hem doang jawabnya dari tadi."
Hening di ruangan itu seketika, Dita mencoba mengalihkan perhatiannya dengan melihat sekeliling. Entah mimpi apa dia semalam, sekarang Pak Herdi sudah tertidur dipangkuannya.
Tok tok tok...
Akang Ujang mengetuk ruangan kerja Pak Herdi.
"Aduh gimana ini, kang Ujang di depan lagi." gumam Dita.
__ADS_1
"Saya masuk ya pak." ucap Kang Ujang membuka pintu perlahan.
Dilihatnya Pak Herdi yang terbaring di sofa dan Dita yang sedang membersihkan kolong meja dan merapikan tumpukan koran disana.
"Neng si bos tidur?" tanya Kang Ujang berbisik.
"Iya."
"Kamu ada yang cari di depan."
"Siapa kang?"
***
"Nah ini dia orangnya sini ikut kita." Robi menarik tangan Dita menuju Sandi menjauh dari Anita dan Kang Ujang.
"Pada kenapa sih, lepasin ah sakit tau tarikan kamu." Dita melepas paksa pegangan Robi di lengannya.
"Siapa nama elo?" tanya Sandi.
"Namaku Dita, kenapa emangnya?"
"Gimana caranya kita bisa bantu Aldo?" tanya Sandi lagi.
"Hah serius?? semalem aja aku di cuekin. sama kalian." ucap Dita heran.
"Gue semaleman di hantuin sama Aldo, dan gue percaya sama elo sekarang makanya kita kesini." ucap Robi memandang sekeliling sambil memeluk dirinya sendiri takut.
"Emmmm gimana yak..?"
"Lah kan elo yang nyuruh kita bantuin Aldo masa gak tau caranya gimana?" gerutu Sandi.
"Ya kan aku belum tanya jelasnya sama Aldo. Nanti malem aku ke asrama kalian lagi sama Aldo, sekarang aku kerja dulu yak, gimana?"
ucap Dita.
"Oke kita tunggu ntar malem elo di asrama, mana nomer telpon elo nih masukin nomernya." Sandi mengulurkan ponselnya pada Dita.
"Buat apaan?"
"Udah dih bawel tinggal masukin nomer Aja, kali aja ntar malem elo gak dateng gue gak bisa hubungin elo lagi."
"Pasti dateng kok."
"Udah ketik aja sih susah bener."
Dita menginput nomer ponselnya di hape Sandi.
"Gue tunggu elo ntar malem."
***
To be continued...
Happy Reading...
Vote nya ya please... 😊😍
__ADS_1