
Please Vote sebelum membaca... Terima Kasih....
****
Bu Devi menggorok Lehernya sendiri dihadapan Dita.
Dita menangis sejadi-jadinya tak kuat rasanya melihat adegan menyeramkan itu dihadapannya. Darah segar mengalir dari gorokan di leher Bu Devi dengan tubuhnya yang kejang-kejang karena tak mampu bernafas lalu akhirnya lemah terkulai dan tak bernyawa meninggalkan luka menganga di leher Bu Devi.
Seketika sebuah bayangan hitam keluar dari raga Bu Devi membentuk sosok perempuan yang Dita kenal dan pahami, sosok si nyonya besar penunggu rumah yang sempat menolongnya tadi membuka ikatan.
"Ka kamu... kenapa Tania kenapa harus kamu??"
Dita terperanjat tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Tania hanya menatap polos ke arah Dita menghampiri Pak Herdi layaknya hewan peliharaan mengharap belaian sang majikannya.
"Anak pintar... kemari lah sayangku." Pak Herdi membelai kepala Tania dan mencium nya.
"Kulihat kau mulai membangkang yak saat bersama dia, tapi kini kau buktikan padaku kesetianmu padaku." Pak Herdi melirik Dita.
"Dia hanya akan tunduk padaku, lihat tangan ku ini!"
Pak Herdi menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari tengah tangan kirinya.
Dita selalu mengira cincin berukir kalajengking dan ular kobra itu adalah cincin unik yang biasa dipakai oleh seorang pria dengan batu permata berwarna merah menghias di atasnya.
"Oh iya bukan hanya Tania, siapa penjagamu si pocong itu dan kawannya mungkin juga bisa tunduk mendengar perintah ku."
"Jangan coba-coba kau berani menyentuh mereka." ancam Dita berusaha merusak ikatan dengan melompat-lompat dari kursi nya itu.
"Hahahhaa Herdi saja tak bisa mengalahkanku menguasainya apalagi menguasai teman-teman cecungukmu itu, hmmmm apa aku harus menguasai mu juga ya?"
"Jangan pernah mimpi, aku tak akan semudah itu kau kuasai...!!! pekik Dita
Tring tring tring...
Ponsel Pak Herdi berdering,
"Tahan dulu energi mu itu manis, aku akan segera kembali."
ucap Pak Herdi lalu dia mengangkat telponnya di luar ruangan dan mengunci ruangan itu kembali sepertinya rekan bisnisnya yang menghubungi nya sehingga ia terburu-buru meninggalkan ruangan.
"Tania, kenapa kau melakukannya?" tanya Dita menatap Tania dengan takut.
"Aku tak tahu aku tak tahu, dia itu iblis dia iblis!!!"
Tania berjongkok dan menundukkan kepalanya ketakutan sambil menangis.
"Tania, tolong buka ikatan ku, ku mohon..."
__ADS_1
"Dia akan kembali dia akan kembali." ucap Tania makin ketakutan.
"Tania lihat aku, apa kau lihat Anan atau Andri?"
Tania menunjuk sebuah kotak yang terletak di atas meja kerja Pak Herdi di ruangan itu.
"Apa Anan ada disitu?"
Tania mengangguk.
"Tania ku mohon lepas kan aku, aku janji kita akan menangkapnya dan memenjarakannya. Aku akan membuatmu pergi dengan tenang." Dita masih mencoba memohon pada Tania.
Tania menghampiri Dita mencoba membuka ikatannya perlahan namun kembali ragu.
Cekrek...
Pak Herdi datang lagi membuka ruangan itu membawa sekotak nasi Padang ditangannya dan langsung berlutut menghampiri Dita.
"Dita apa dia menyakitimu? maaf kan aku Dita maafkan aku."
Pak Herdi menyentuh wajah Dita, memeluknya dan membuka ikatan ditangannya.
"Apa kau terluka Ta?"
Dita diam saja dan masih bingung menanggapi sikap Pak Herdi yang berubah drastis. Kini dihadapannya adalah sosok Pak Herdi yang hangat seperti biasanya.
"Bagaimana dia semudah itu melepaskanmu?" Tania berucap seraya mengamati Pak Herdi.
"Ta Ta Tania...? Bagaimana kau mengenalnya ?" Tanya Pak Herdi
"Dia ada di belakangmu Pak."
Pak Herdi menoleh kebelakang namun tak bisa melihat sosok Tania saat itu.
Sungguh Aneh bagaimana bisa ini terjadi, apa saat dia menjadi Pak Herdi dia kembali seperti manusia normal biasanya? lalu bagaimana jika sosok Jordi itu datang kembali.
Dita masih mengamati sosok Pak Herdi yang telah kembali seperti semula itu.
"Dimana Tania Ta, dimana? Tania sayangku apa kau disitu?"
Tania menghampiri Pak Herdi dan menyentuh wajahnya dengan lembut dan hati-hati.
"Apa dia suamiku sesungguhnya?" ucap Tania.
Pak Herdi lalu perlahan dapat melihat Tania.
"Ta Tania... kau kah itu sayangku?"
Pak Herdi memeluk Tania dengan erat.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang maafkan aku, aku tak bisa mencegah mereka membunuhmu."
"Siapa yang membunuh Tania pak?" tanya Dita perlahan.
"Orang tua ku."
"HAH...??? Bagaimana bisa orang tua anda membunuh Tania?"
"Mereka bersekutu dengan jin jahat yang sekarang menguasai ragaku, dulu Jordi hanya meminta tumbal demi memajukan perusahaan yang orang tua ku jalani, sampai akhirnya Jordi memilih Tania untuk menjadi tumbalnya."
"Tapi aku tak ingat apapun." ucap Tania bingung karena ia tak ingat kejadian saat ia mati.
"Apa karena pukulan di kepala mu membuatmu lupa." Pak Herdi menyentuh kepala Tania memiringkan ke kanan melihat bekas luka dibelakang tempurung kepala Tania.
"Lalu dimana jasad Tania sekarang Pak?"
"Ada di dasar kolam, orang tua ku menumbalkan nya dan menguburnya disana lalu membangun wahana kolam renang ini untuk usaha ku."
"Jadi aku ada disana." ucap Tania lirih.
"Bagaimana anda bisa diam saja menyembunyikannya Pak?"
"Setiap aku berusaha mengungkap kebenaran namun tak pernah berhasil bahkan aku harus kehilangan kedua orang tua ku juga dan jin ini memilih pindah menguasai ku."
Pak Herdi menarik-narik rambutnya kesal.
Dita melihat pergerakan pada tangan Kang Ujang dan menghampirinya.
"Kang Ujang, Kang..."
Dita menyentuh bagian depan hidung Kang Ujang masih ada hembusan nafas disana.
"Saya mohon pak pinjam ponsel bapak hubungi polisi segera, saya rasa Doni dan Kang Ujang masih hidup."
Dita berusaha membopong badan Kang Ujang namun tak kuat, lalu Dita mendengar Kang Ujang mencoba berbisik.
Bug....
Pak Herdi menendang Kang Ujang dan menarik lengan Dita dengan kasar.
"Sialan Kau Herdi kalau tau begini tak akan kubiarkan kau coba-coba keluar lagi." ucap Pak Herdi yang kini dikuasai Jordi kembali.
"Aaaaarrghhh lepas kan...!!"
Dita menatap Tania memohon pertolongan darinya.
***
To be continued
__ADS_1
Happy Reading...