
"Aku ijin balik cepet yak ada perlu ke rumah sakit, tadi aku udah bilang sama Pak Herdi." Dita bersiap-siap merapikan ponsel dan dompet kedalam tas mungil pemberian Andri.
"Emmm enak bener dah jadi gebetan pak Bos, ijin sesukanya gaji tetep gak dipotong." sungut Anita melirik jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore.
"Heh apa kamu bilang sini aku gigit nih."
Dita meraih tengkuk Anita menjahilinya dengan pura-pura sedang ingin menggigitnya bak vampir.
"Dita ayo saya anter seka...lian. HAH kalian ngapain...?!"
Pak Herdi terkejut melihat Dita dan Anita yang seolah-olah sedang ingin bercumbu.
"Eh maaf pak, please jangan salah paham aku cuma bercanda kok pak." ucap Dita membela diri.
"Iya Pak nih si Dita jahil banget mau ngisengin aku." Anita ikut membela diri.
"Oh... kirain beneran hehehe, ayo Ta saya anter."
"Udah iyain hemat ongkos." bisik Anita
"Ojek yang udah aku pesen gimana?"
"Cancel lah Ta, udah sana."
Dita menurut mengikuti pak Herdi ke arah parkiran.
"Pak sebentar ya, kasian kang ojek nya tuh udah dateng."
"Terus kamu mau naik ojek?"
"Gak pak, saya mau kasih uang ongkosnya."
Dita menghampiri sang driver ojek online pesanannya.
"Bang, gak jadi yah, tapi accept aja, nih ongkosnya dua puluh ribu kan?" tanya Dita ke driver .
"Gak papa neng kalo cancel, gak usah kasih ongkos."
"Enggak lah pak, itu udah hak bapak kan saya yang salah, makasih ya pak udah dateng."
"Saya neng yang makasih."
Dita melambai pada driver itu masuk ke mobil Pak Herdi.
"Baik banget sih kamu Ta jadi makin suka saya sama kamu." ucap Pak Herdi
"Jiaaahhh bapak bisa aja, tapi pak berhubung bapak nawarin anter saya terus saya cancel tuh abang, duit nya ganti ya pak, hehehe."
"Lah... bisa gitu." Pak Herdi tertawa melihat tingkah Dita.
"Kita mau kerumah sakit tempat kami waktu itu dirawat kan? emang kamu mau check up udah lama banget lho masa check up hehehe." ucap Pak Herdi sambil mengemudikan mobil sedan silvernya itu.
"Ada perlu pak, nanti kapan-kapan aku jelasin." jawab Dita memandangi kendaraan-kendaraan di sampingnya.
"Ta, belum bisa jawab nih?"
__ADS_1
"Jawab apa pak? perasaan saya lagi gak pegang soal ujian deh."
"Kamu mah gitu." Pak Herdi membelai kepala Dita.
BUG...!!
Anan menendang belakang kursi mobil yang Dita duduki dengan kesal.
"Suara apa tuh yak?" gumam Pak Herdi sambil sesekali menoleh kebelakang.
Dita melihat Anan dan Andri sudah duduk di kursi belakang dalam mobil Pak Herdi.
"Tenang bro, biasa aja kali panas amat roman nya." celetuk Andri menertawakan Anan.
"Suara tikus kali pak, guedeee banget tikusnya." ucap Dita menoleh kebelakang menatap Anan.
"Ah masa sih baru kemarin di steam masa ada tikusnya." sahut pak Herdi.
"Ya kali pak, tikusnya bandel."
"Coba deh nanti saya cari lagi, oh iya gimana Ta, kamu terima gak pinangan saya, apa perlu saya beli cincin nih buat yakinin kamu buat ngiket kamu sementara sebelum kamu saya lamar?"
"WHAT... parah parah gila bos kamu Ta, ternyata yak emang aura mu toh bukan cuma bikin aku klepek-klepek tapi bos kamu juga klepek-klepek Ta."
sahut Andri sambil menepuk-nepuk bahu Anan yang terlihat makin kesal.
"Oh... gitu... jawab Ta... jawab... jangan bikin bos kamu penasaran tuh." Anan memandang Dita kesal.
"Husssh diem pada.." ucap Dita kesal.
"Enggak kok Pak, bapak gak salah tapi aku mohon jangan bahas sekarang ya pak."
Pak Herdi mengangguk dan tersenyum melajukan mobilnya.
"Kenapa gak dijawab Ta?" tanya Anan.
Dita berpura-pura merentangkan tubuhnya merentangkan tangannya keatas kursinya sambil mengacungkan jari tengah tangan kanannya pada Anan.
Andri tertawa puas saking gemasnya sambil memukul bahu Anan.
"Eh lontong kisut coba elo pikir, si bosnya Dita ini perfect udah cakep, tajir, baik hati, ramah tamah dan tidak sombong kan, cocok banget tuh buat Dita, yang lebih penting lagi dia tuh manusia gak kaya kita setan..!!"
"Berisik elo tempe angus, jodoh tuh udah diatur sama yang diatas."
"Terus elo mau Dita berjodoh sama elo, gak kasian elo sama Dita ? mikir bro mikir...!"
Anan menghilang dari samping Andri.
"Yah dia ngambek Ta, pergi gitu aja tuh."
Dita menatap spion, benar ucapan Andri, tak ada Anan lagi disitu rupanya.
***
"Hai suster Irma..." Dita memeluk sosok suster yang dikenalnya itu.
__ADS_1
"Eh Anandita ya? duh makin cantik aja sih."
"Suster juga makin bohay aja." goda Dita
"Itu bukannya bos kamu yak?" suster Irma melirik lelaki dibelakang Dita.
"Suster inget aja, iya itu dia yang anterin aku kesini."
"Emmm kayanya pacar nih."
"Bukan sus beneran deh bukan, yuk ah aku mau tanya sesuatu sama suster."
"Pak Herdi tunggu disini ya, atau ngopi ngopi cantik di kafe ono noh."
"Oke deh, nanti hubungi saya ya, kalo udah kelar."
Dita menggandeng tangan suster Irma menuju sudut koridor.
"Suster kenal yang namanya suster Sandra gak, Sandra Rahayu?" Tanya Dita.
"Oh Sandra, yang lagi hamil itu?"
"Iya setau aku sih dia lagi hamil."
"Emangnya kamu kenal?"
"Aku dapet amanat nih dari ayah si bayi."
"Gimana bisa Ta, pacarnya yang mau nikahin dia itu kan udah meninggal seminggu lalu."
Dita menunduk sedih.
"Kebeneran tuh Sandra dateng, Sandra sini deh."
Suster Irma memanggil Sandra ke arah Dita.
"Kenalin ini Dita ."
"Hai kak Sandra aku temennya Andri."
Dita mengulurkan tangannya.
"Hai aku Sandra aku pacar nya Andri."
"Bisa kita bicara sebentar kak kalo aku gak ganggu."
Sandra menoleh ke arah suster Irma lalu suster Irma mempersilahkan keduanya untuk berbicara empat mata di ruangan laktasi.
***
To be continued...
Happy Reading... 😘😘😘
Makasih udah suka ceritanya kalau masih banyak salah dengan ejaan dan tata bahasanya aku mohon maaf yak.
__ADS_1
Ditunggu Vote, Like dan komen sarannya...