
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Tante Dewi menelpon polisi tiba-tiba agar datang ke restoran pasta tempat dia berada.
Tante Dewi sempat melabrak Paul dan menginginkan penjelasan dari Paul. Betapa terkejutnya Paul saat ia mengingat kembali kejadian waktu menabrak seorang anak kecil tempo itu. Paul menangis meminta maaf pada Tante Dewi ia tak membantah sama sekali tuduhan tersebut.
Beberapa saat kemudian polisi datang dan mendapat laporan dari perbuatan Paul terhadap Citra. Paul di amankan polisi tersebut dan akan disidangkan di kota tempat ia melakukan tabrak lari dan menghilangkan nyawa Citra. Tante Dewi mengikuti dua orang polisi tersebut ke kantor polisi untuk dimintai keterangan terkait laporan nya.
Citra memeluk Dita, Anan dan Anita sebelum pergi. Citra juga memeluk Doni yang gemetar sampai mengompol di celana.
"Jorok banget sih Don, sumpah gak lucu banget sampai ngompol gitu." Anita menepuk bahu Doni dengan kesal.
"Refleks, maafin aku kak." ucap Doni masih gemetar.
Citra tertawa melihat kelakuan Doni lalu pamit pergi ke alamnya sambil melambaikan tangannya tertawa. Anan membalas lambaian tangan Citra, Anan merangkul bahu Dita yang melambaikan tangan juga. Seketika Citra menghilang selamanya.
"Kalau suatu saat aku kaya gitu gimana Ta?" tanya Anita.
"Jangan buat aku sedih deh Nit." Dita memeluk Anita. Anan ikut memeluk mereka dari belakang tubuh Dita.
"Apa elo mau ikut peluk?" tanya Anan ke Doni.
"Emang boleh pak?" tanya Doni polos.
"Enggak...!"
sahut Dita, Anita dan Anan bersamaan.
"Kirain boleh." Doni kecewa.
"Bau pesing Don." sahut Anan.
"Ayok pulang udah sore." ajak Dita melepas pelukannya.
"Aku pulang kemana kak?" tanya Doni.
"Emang belum dapet kos?" tanya Anan.
"Belum pak."
"Ya udah ikut gue aja, tinggal sama gue ."
"Beneran pak?"
Anan mengangguk dan Doni langsung memeluk Anan. "Makasih Pak."
"Bau Doni....!" pekik Anan.
"Ih jijik ompolnya nempel Nan hiyyy..." ejek Dita sambil tertawa bareng Anita.
***
Jam dinding di rumah Anan menunjukkan pukul delapan malam. "Lapar gak Don?" tanya Anan pada Doni.
"Ya laper sih pak."
"Cari makan yuk, bentar gue ajak Dita dulu."
Mendapat panggilan telepon dari Anan dengan dalih ajakan makan tentu saja tak akan pernah Dita tolak.
"Tante, aku ijin ya mau makan sama Anan dan Doni." ucap Dita.
"Makan kemana?"
"Gak tau juga sih terserah Anan mau makan apa, aku mah apa aja masuk ke perut asal makanan matang."
"Ya udah sana, tante mau tidur capek seharian ditanyain sama polisi."
__ADS_1
"Tante sedih gak?"
"Sedih kenapa Ta?"
"Soal penangkapan Paul."
"Sedih sih, tapi biasa aja, tenang tante mah gampang move on kok."
Dita memeluk tante tersayangnya itu.
"Ini kenapa peluk-peluk sih?"
"Pengen peluk aja Tante, sarangheo."
"Apa Ta, sarangmeong?"
"Ih Tante mah I love you maksudnya. Aku jalan yak."
"Oh... ya udah hati-hati ya." ucap Tante Dewi lalu kembali ke atas ranjangnya untuk beristirahat.
Ponsel Dita berbunyi dilihatnya pesan WhatsApp dari nomor tak dikenalnya.
👨 : Ini Herdi Ta, kamu dimana?"
"Hah? Pak Herdi dapat nomor aku dari siapa ya?" gumam Dita.
"Ya elah dikit lagi mau ketemu Anan aja pake wa." sahut Anita.
"Bukan Nit, ini pak Herdi."
"Haduh, ngapain dia Ta?"
"Lupa aku mau ngunjungi dia tadi, aku telpon dia dulu ya, kamu gimana caranya kek jangan sampai Anan kesini dulu."
"Mau selingkuh ya?" goda Anita.
"Enggak Nit, tapi kamu kan tau sendiri gimana posesif nya Anan."
"Oke deh demi kamu nih." Anita berlalu menghalangi Anan.
Dita membuka pintu tangga darurat dan menelepon Pak Herdi.
"Bapak tau dari mana nomor telpon aku?"
"Dari Cindi Ta, maaf ya belum ijin kamu, pantes aja nomor lama kamu enggak aktif, kamu lagi dimana Ta?"
"Di rumah Tante Dewi Pak, mau tidur."
"Wah saya ganggu kamu yak?"
"Ehmmm enggak kok pak enggak apa-apa."
"Kamu besok kesini ya, saya kangen sama masakan kamu."
"Aku usahain ya pak, mau di masakin apa emangnya pak?"
"Opor ayam kamu kan enak tuh."
"Oke besok aku bawain opor ayam."
"Bener ya Ta, awas kalau kamu enggak kesini nanti saya laporin polisi lho." ucap pak Herdi sambil tersenyum senang sendiri.
"Kok lapor polisi sih pak?"
"Iya saya mau laporin karena kamu itu pencuri."
"Maksudnya pak?"
"Kamu itu pencuri, pencuri hati aku, makanya aku kangen banget sama kamu."
Hadeh bisa aja ini mantan bos ku, meleleh dah aku.
Lutut Dita terasa lemas membuatnya terduduk karena terbuai dengan gombalan Pak Herdi.
"Ta, Ta, Halo..?"
"Eh iya pak."
__ADS_1
"Oke deh kamu istirahat sana ya, mimpi indah Dita."
"Iya pak makasih, bapak juga istirahat ya pak."
Sambungan telepon mereka pun terhenti, masih dengan senyum tersungging di wajah Dita ia membuka pintu darurat itu.
"Kamu ngapain disitu?" tanya Anan mengejutkan Dita sampai ponselnya terpental ke wajah Doni.
"Aduh... ka Dita sakit tau."
"Maaf, maaf Don kaget akunya." Dita segera mengambil ponsel nya agar tak keduluan Anan.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku, ngapain kamu disitu?" tanya Anan lagi.
"Aku, eng aku tadi denger suara gitu tapi taunya gak ada apa-apa, Nan." Dita berusaha berbohong.
"Suara hantu maksudnya?"
"Ya enggak tau juga sih, udah deh lupain yuk katanya mau cari makan, aku udah ijin sama Tante Dewi tadi." Dita melingkarkan tangannya di lengan Anan membawanya pergi menuju warung makan yang Anan mau.
***
Anan memutuskan memilih rumah makan ala masakan daerah Padang yang masih buka karena tertera buka dua puluh empat jam pada banner depan rumah makannya.
"Selamat datang, untuk berapa orang pak?" tanya seorang perempuan pelayan di rumah makan itu.
"Empat mbak." sahut Anan
Satu, dua, tiga, oh mungkin temennya belum datang kali yak.
batin si pelayan.
"Kursi untuk empat orang ya pak? silahkan lewat sini ikuti saya." ucap pelayan itu menunjukkan meja nomor lima untuk Anan dan rombongannya.
"Aku mau, nasi sama rendang pakai perkedel sama telor dadar, kerupuk udang."
"Ta, serius mau makan semua? nanti tambah gendut lho?" Anan memotong ucapan Dita.
"Oh jadi aku gendut gitu? oke gak usah makan."
"Tuh kan gak lucu deh ngambek gitu, terserah deh mau makan apa, semua makanan yang ada di etalase itu kalau perlu aku borong buat kamu."
"Eh beneran nih, oke mbak semua makanannya taro atas meja ini." perintah Dita.
"Baik mba segera di siapkan." pelayan itu terkejut namun mengiyakan perintah Dita.
"Serius Ta mau dihabisin semua?" tanya Anita.
"Kan ada kalian, kalau gak abis tinggal bungkus kita bagi-bagi sama pengamen atau tunawisma yang kita temui nanti gimana Pak Bos?"
Dita memandang Anan dengan senyum mautnya yang membuat Anan tak dapat menolaknya.
"Terserah kamu, asal kamu bahagia aku juga bahagia." Anan menggenggam kedua tangan Dita.
"Ah... baper akut aku Don." Anita menggenggam tangan Doni yang tiba-tiba terkejut bercampur takut dengan sentuhan Anita.
***
Selesai makan, dan akhirnya niat Dita membagikan makanan tersampaikan lalu mereka memutuskan kembali kerumah.
"Aku mau beli yoghurt dulu ya masih buka tuh, sekalian buat Tante Dewi." ucap Dita yang kembali tak bisa di tolak oleh Anan.
"Itu kan Shane." ucap Doni membuat Anan, Dita dan Anita menoleh pada seseorang yang ditunjuk Doni.
"Nan itu bukannya Shane temennya James?" ucap Dita.
"Iya itu Shane. Kamu kenal Don sama dia?" tanya Anan.
"Dia mah temen kecil saya, dulu sering di katain bule dongo sama temen-temen di rumahku."
"Cewek dibelakang cowok itu kaya pernah liat ya Ta, itu hantu kan?" tanya Anita
"APA? dia hantu? jadi ada hantu ngikutin Shane?" Doni merinding dan berusaha sembunyi si belakang tubuh Anita.
Jen menyadari keberadaan Dita dan Anan langsung menghampiri mereka dan memeluk Anan di depan Dita.
"Masih inget aja nih bucin, hadeh...." sahut Dita jengkel.
__ADS_1
***
To be continued...😘😊