Pocong Tampan

Pocong Tampan
Kebenaran Tentang Mami


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍


****


"Jauh disana... hmmm aku tak bisa masuk lebih dalam lagi, sebaiknya lepaskan kalung ini dan simpan di kotak yang ku berikan padamu, sebentar ya ku ambilkan." ucap sang Ratu Kencana Ungu lalu pergi mengambil sesuatu ke dalam telaganya.


"Ini masukkan kalung mu ke kotak ini, dan simpanlah baik-baik." ratu memberikan kotak kayu berukiran permata kepada Dita.


"Kenapa kau membantu lagi bukankah menginginkan nyawaku?" tanya Dita.


"Entahlah mungkin aku menyukai keberadaan mu, dari awal aku bertemu aura spesial mu itu menarik ku untuk mendekat." sahut sang ratu.


"Lalu jika kalung ini ku simpan apa aku akan baik-baik saja?" tanya Dita.


"Tidak juga sih, si pemberi kalung itu pasti akan mencari mu dan membawamu karena dia menginginkan mu dari awal." ucap Ratu Kencana Ungu sambil bermain air di tepi telaga miliknya.


"Si pemberi kalung? jadi maksud perkataan ratu ibu mertuaku tidak sebaik yang ku duga?" tanya Dita yang makin ingin tahu lebih dalam mengenai penjelasan sang ratu tersebut.


"Mungkin saja, bisa jadi, kadang yang kau kira baik ternyata jahat, dan yang kau kira jahat ternyata baik, bisa jadi kan?" sahutnya.


"Iya seperti dirimu yang terlihat baik tapi menginginkan nyawaku." sahut Dita dengan raut wajah mulai sebal memandang ratu.


"Tak... aku tak jadi menginginkan nyawamu, aku malah ingin menggunakan mu sebagai media untukku." sahut sang ratu memandangi Dita.


"Media untukmu? cih aku tak akan mengabdi pada bangsa seperti mu!" ucap Dita mulai kesal.


"Hahaha siapa yang suruh kau mengabdi, sudah banyak yang mengabdi padaku kok, tubuhmu itu terlalu sempurna untuk ku jadikan abdi." ucap nya sambil tertawa


"Lalu apa yang kau inginkan dari ku?" tanya Dita.


"Anak perempuan mu." ratu menunjuk pada perut dita.


"Anak perempuan ku, tidak akan tidak akan aku serahkan." ucap Dita memegangi perutnya.

__ADS_1


"Kau itu akan melahirkan anak kembar, satu laki-laki dan satunya perempuan, aku hanya meminta yang perempuan untuk menemani ku disini, menjaga wilayah ini." ucap nya.


"Tidak akan, tidak akan pernah, aku akan mempertahankan kedua anakku ini." ucap Dita dengan tegas.


"Jika aku memberi pilihan bisa membuat suamimu mendapatkan tubuhnya kembali bagaimana? aku akan menghidupkan suami mu kembali sebagai imbalannya, bagaimana?" Ratu mencoba memberi tawaran pada Dita.


Hening seketika raut wajah Dita berubah bimbang, ada kebahagiaan tersendiri jika Anan kembali menjadi manusia seutuhnya dengan tubuhnya sendiri, namun ada kesedihan juga jika ia harus merelakan satu anaknya untuk sang ratu. Dita berpikir keras bahkan sampai ingin menangis.


"Aku tak akan meminta jawaban itu sekarang, jadi ku beri kau waktu untuk berpikir, aku tahu kau akan kembali pulang pergi dari tempat ini, tapi ketahuilah dimanapun kau berada nantinya aku akan tetap menemukanmu." ucap sang ratu lalu mengembalikan Dita ke suasana kamar hotelnya.


Dita memandangi Anan dengan seksama. Kurang dari satu bulan Anan akan kembali ke wujud aslinya dan bahkan pergi meninggalkan Dita sebelum melihat anaknya lahir.


"Apa aku harus menerima tawaran dari ratu ya?" gumam Dita.


"Tapi tega sekali seorang ibu yang memberikan anaknya pada makhluk gaib hanya untuk ke egoisannya, tapi apakah aku egois jika ingin mengembalikan Anan ke wujud manusia agar kami bisa bersama?" Dita sudah merebahkan dirinya di atas ranjang dan memandangi Anan dengan seksama.


"Kenapa takdir cinta kita seperti ini sih Yanda...?" gumam Dita lalu tanpa sadar matanya sudah terpejam karena lelah dan kemudian ia tertidur pulas di samping Anan.


***


Siang itu Dita dan rombongan berangkat menuju bandara untuk kembali pulang.


"Non Tasya, tunggu..." ternyata suara mas Iwan menghampiri Tasya di bandara.


"Lewat saya aja kalau mau ngomong sama Tasya." ucap Doni.


"Gak bisa dong, saya maunya ngobrol sama Tasya sebelum dia pergi." sahut Iwan mencoba menghampiri Tasya.


"Udah deh Don, biarin aja sabar dulu." Dita menahan Doni.


"Oh iya saya juga bawa sesuatu buat non Dita." sahut Iwan.


"Nah kalau hubungannya sama Dita, yang kaya gini harus lewat aku nih." sahut Anan merangkul bahu Dita dan mencium rambut di kepala Dita.


"Ini kenang-kenangan dari Bapak dan Arya." Iwan menyerahkan paperbag berisi selimut bayi dari bahan rajutan.


"Ini manis banget lho aku jadi terharu." ucap Dita.


"Bapak sama Arya buat itu pas Nia lagi hamil karena belum sempat di berikan pada bayi kami jadi bapak masih simpan, dan bapak bilang ini buat bayi neng Dita aja sama tuan Anan." ucap mas Iwan.


"Makasih banyak ya, nanti saya kirim barang-barang dari kota buat Arya dan bapak." sahut Dita.

__ADS_1


"Gak usah repot-repot non, berkat non Arya sudah lebih berani sekarang, gak ketakutan berlebihan kaya waktu itu." ucap Iwan.


"Alhamdulillah... nanti tetep kontak sama saya ya, berikan nomor telepon saya pada Arya." ucap Dita.


"Baik non, nah saya juga punya sesuatu buat neng Tasya." Iwan menoleh pada Tasya dan memberikan sebuah kotak untuk Tasya.


"Apa ini mas?" tanya Tasya.


"Itu kalung dari saya buat neng, sebagai tanda cinta dari saya, kalau neng setuju sebulan lagi saya akan susul neng ke kota buat ngelamar neng, bagaimana neng Tasya mau gak terima cinta saya?"


ucap mas Iwan dengan penuh percaya diri.


Tante Dewi menahan tawanya bersembunyi di balik tubuh om Kevin kala melihat Doni makin uring-uringan saking kesalnya.


"Cie Tasya..." Dita menggoda Tasya habis-habisan malah makin membuat Doni makin kesal.


Doni berdiri di belakang Iwan dan memberi isyarat pada Tasya agar menolak permintaan Iwan. "Jangan mau Sya." bisik Doni.


Tasya tersenyum melihat Doni dan menahan tawanya.


"Maaf mas saya belum bisa jawab beri saya waktu ya." pinta Tasya.


"Ya udah kalung nya simpan aja nanti kalau udah yakin mau jawab iya baru dipakai ya." pinta mas Iwan.


Rombongan Dita akhirnya pamit dan masuk ke dalam pengecekan penumpang pesawat.


"Perasaan gak enak nih, merinding gimana gitu ya." ucap Tasya mencolek Dita.


"Hmmmm ya jelas aja merinding, tuh lihat aja samping kamu." ucap Dita.


"Halo ..." wajah pucat pasi dengan senyum menyeringai dan menyeramkan itu hadir di samping Tasya.


****


To be continued...


alias bersambung ya...


mohon maaf kalau ada typo


Selamat berpuasa buat yang menjalankan puasanya yak semoga selalu diberi kemudahan dan kelancaran aamiin.

__ADS_1


Jangan lupa main ke 9 lives ya ramaikan disana.


Vie Love you


__ADS_2