Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Punggung Anan


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...


Happy Reading...


******


Ponsel Dita berbunyi saat ia memasuki mobilnya menuju jalan pulang.


"Ya tante, ada apa?" tanya Dita pada Tante Dewi yang menghubunginya.


"Kamu mampir ke toko roti ya, beli kue sama puding gitu di sana," pinta Tante Dewi dari seberang sana.


"Memangnya ada apa sih Tante, mau ada acara gitu ya pakai pesen kue sama puding segala?" tanya Dita penasaran.


"Rumah kamu itu ada yang sewa, tante mau ajak mereka makan malam," jawabnya.


"Hah, cepet banget ada yang sewa."


"Iya dong, udah gitu kamu pasti bakal kaget kalau tau siapa yang sewa," ucap Tante Dewi membuat rasa penasaran Dita memuncak.


"Hmmm berarti aku kenal dong sama orang yang sewa rumahnya, ya?"


"Betul sekali, udah buruan laksanakan perintah tante," Tante Dewi memutuskan hubungan ponselnya.


"Hmmm bikin penasaran aja nih!" gumam Dita seraya menaruh ponselnya ke dalam tas.


"Kenapa bunda?" tanya Anan.


"Mampir ke toko roti dulu ya, kata tante mau buat penyambutan tetangga baru kita, yang sewa rumah kita itu," sahut Dita.


"Oh cepet banget udah ada yang sewa aja."


"Udah gitu, kata tante kita kenal sama yang sewa lho."


"Bikin penasaran aja sih!" ucap Anan.


"Asek ke toko roti yang ada gantungan kaki itu ya bunda?" Anta bertepuk tangan kegirangan.


"Ih si Anta mah, itu hantu tau, hantu gantung diri," sahut Tasya mencubit pipi Anta pelan.


"Ih tapi lucu tante," balas Anta mencubit pipi Tasya kali ini dengan kencang.


Anan melajukan kendaraannya menuju toko roti yang di maksud.


***


Sesampainya di rumah, Dita sempat melirik ke arah rumah di seberangnya tersebut.


"Kira-kira mereka bisa gak ya rawat kebun mawar nyonya Kate?" gumam Dita bertanya pada diri sendiri lalu masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Tante Dewi sudah sibuk memasak di dapur bersama Jerry. Jerry akhirnya mau menjadi asisten rumah tangga di rumah tersebut. Rasanya tak ingin ia berpisah dengan keluarga Dita yang menyenangkan tersebut. Terlebih di dalam hatinya ia sangat ingin berdekatan dengan Mark, oleh karena itu ia langsung menerima tawaran tante Dewi untuk menjadi asisten rumah tangga di rumah tersebut.


"Masak apa tante?" tanya Dita.


"Soto ayam sama kentang balado," jawab tante Dewi.


"Lho emang mereka doyan sama makanan negara kita?" tanya Dita.


"Iyalah doyan kan satu negara sama kita," ucap Tante Dewi sambil melirik ke arah Dita membuatnya makin penasaran.


"Udah uangan mandi dulu, terus bantuin tante masak sini!" pinta Tante Dewi.


"Lah ini gak lihat apa, kalau aku udah sibuk bantu iris bawang, pasti mau buat bawang goreng kan?"


"Hehehe pinter emang nih keponakan Tante satu ini," puji tante Dewi.


"Mbak Dita aku boleh tanya gak?" bisik Jerry mendekat ke arah Dita.


"Tanya apa Ry?"


"Perasaan aku ya, boneka barbie Anta ada hantunya deh, masa semalam itu boneka ada di kamarku, dia ngeliatin aku gitu," ucap Jerry.


"Maksud kamu boneka Lily?"


"Terserah lah namanya siapa yang jelas dia sering banget ada di dekat aku dan ngeliatin aku, ih merinding aku nih jadinya ngomongin dia," ucap Jerry memeluk dirinya sendiri.


"Maksud kamu tuh boneka ngeliatin kaya gitu?" Dita menunjuk boneka Lily dengan pisau di tangannya. Boneka yang berdiri di sisi dinding dapur itu sedang melihat ke arahnya dan Jerry.


"Awwww... tuh kan Udah ada di situ aja, aku takut dia bisa jalan lho kak, gara-gara ada penunggunya. Apa jangan-jangan ada hantu nenek Rose di dalamnya?" tanya Jerry tak mau melihat ke arah boneka tersebut.


"Bukan? berarti memang ada penunggunya dong itu boneka hiyyyyy..." Jerry makin takut menutup wajahnya dengan jarinya. Namun, ia terlupa tangannya ikut membantu menghaluskan sambal dengan cobek kesayangan milik tante Dewi yang selalu ada di dapurnya di manapun.


"Aduh... pedes... lupa deh aku..." Jerry mengibas kedua matanya .


"Hahahha lagian kamu ih ada-ada aja, cuci muka sana!" ucap Dita.


"Sore sayang aku pulang telat," ucap Om Kevin yang langsung mencium pipi tante Dewi sepulang ia kerja.


"Duh mesranya langsung cup cup manja.." Dita menggoda pasangan suami istri di hadapannya itu.


"Hmmm kayak gak kalah mesra aja kamu sama Anan," balas om Kevin.


"Bunda... tolongin aku dong!" Anan memanggil Dita dari anak tangga seraya menggaruk punggungnya yang terasa perih dan gatal.


"Tuh panjang umur kan, pasti nyariin kangen tuh mau di cium minta di tolongin mandiin tuh pakai lidah," Om Kevin gantian menggoda Dita. Tante Dewi mencubit pinggang suaminya itu sambil tertawa kecil.


"Hahaha bisa aja si om, nih tante suruh Jerry goreng bawangnya nanti ya," ucap Dita lalu menghampiri Anan.


Keduanya bergandengan mesra menuju kamarnya menaiki tangga. Sementara Mark hanya bisa iri melihat wanita yang ia sukai itu bermesraan dengan suaminya, di hadapannya.


"Kira-kira siapa ya yanda, yang menyewa rumah seberang?" tanya Dita saat berada di kamarnya memandangi jendela rumah seberang. Jendela saat tempo itu dia melihat wajah Leona di sana.

__ADS_1


"Aku juga gak tau, gak ada bayangan, tolongin bunda punggung aku kok perih ya," ucap Anan seraya membuka kaus yang ia pakai.


Punggung putih mulus milik Anan memperlihatkan kemerahan dengan luka seperti habis tersayat.


"Astagfirullah punggung kamu kenapa yanda?" tanya Dita lalu mengambil kotak p3k di kamarnya mencari alkohol untuk membersihkan luka Anan.


"Emang kenapa bunda sama punggung aku?" tanya Anan.


"Itu punggung kamu luka kaya kena pisau tau, emang tadi kamu gak ngerasa ke gores apa gitu?" Dita balik bertanya sambil mengoles alkohol tujuh puluh persen yang dia bubuhkan pada kapas lalu ia bersihkan luka di punggung Anan.


"Ah masa sih, perasaan gak kena apa-apa deh, udah gitu gatel lagi," ucap Anan seraya mencoba menggaruk punggungnya.


"Ih jangan di garuk yanda, tunggu dulu ini apa nih?" Dita mencoba memperhatikan luka di punggung Anan dengan seksama.


"Ada apa bunda?" tanya Anan penasaran dan masih mencoba menggaruk punggungnya.


"Astaga... kok bisa kayak gini sih... idih tuh kan bener ih luka kamu yanda ini lho ada..."


"Ada apanya?" Anan memotong ucapan Dita dengan sangat penasarannya.


"Luka kamu keluar belatung yanda," ucap Dita seraya menunjukkan belatung yang berhasil menempel di kapas yang ada di tangannya kepada Anan.


"HAH...?! serius ini belatung dari punggungku?" pekik Anan dengan mata terbelalak lalu ia berdiri dan berusaha melihat punggungnya di cermin.


Dita mengambil video luka di punggung Anan lalu menunjukkannya pada Anan agar tak penasaran seperti apa lukanya itu.


"Kok bisa ya bunda ada belatung di punggung aku, berasa kayak mayat hidup aja aku di belatungin gini," gumam Anan.


"Ada yang gak beres nih sama kamu yanda," Dita mengetuk dagunya dengan telunjuknya. Namun, ia terlupa sedang memegang kapas yang ada belatungnya sehingga binatang kecil itu menggeliat sampai ke wajahnya.


"Fuah...Fuah... bisa-bisanya sampe mulut."


Dita menggerutu sambil membersihkan wajahnya. Lalu ia membersihkan kembali luka di punggung Anan untuk menghilangkan belatung yang ada di sana.


"Besok kita ke dokter deh, kalau medis tak bisa menjelaskan, berati ada hal yang non logis yang menganggu kamu yanda," ucap Dita.


"Ya bunda," sahut Anan.


*****


Masih bersambung ya guys...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST (UP)


- Kakakku Cinta Pertamaku


season 1 END


- 9 Lives (END)

__ADS_1


- Gue Bukan Player (END)


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2