Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Om Kevin Sadar


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...


Happy Reading 😊😊😊


******


Dita mendatangi Dewa di rumah sakit untuk melihat keadaannya. Sesampainya Dita di koridor ruang kamar perawatan Dewa, Dita melihat dua orang laki-laki di depan kamar Dewa.


"Hai, maaf kalian siapanya Dewa ya?" tanya Dita menyapa keduanya.


"Kita temen band nya Dewa, ini Ego dan gue Joy, elo siapa ya?" tanya pria berambut panjang itu.


"Aku Dita, yang bantu Dewa pas kecelakaan," sahut Dita.


"Udah berapa lama dia di sini?" tanya kawan Dewa yang bernama Ego.


"Tiga hari, kalian tau dari mana kalau Sadewa ada di rumah sakit?" tanya Dita.


"Ummm gue datang ke apartemennya tapi gak ada, terus ada tetangganya yang bilang Dewa kecelakaan dan di rawat di sini," ucap Ego kawan Sadewa yang berambut pirang itu menjawab.


Perasaan waktu Dewa kecelakaan cuma ada aku sama Anan deh, kok mereka bisa tau ya.


"Eh udah pada ke dalam belum liat Dewa, yuk?"


"Nanti deh kita balik lagi, gue tinggalin nomor telepon ya nanti kalau Dewa sadar elo hubungi gue," ucap Joy menyerahkan kartu nama pada Dita.


"Iya nanti aku hubungi," jawab Dita.


Kedua teman Sadewa pamit pergi dari rumah sakit. Dita masuk ke dalam kamar perawatan Sadewa. Laki-laki itu masih terbaring lemah dan belum sadar.


Ponsel Dita berdering dan ternyata Tante Dewi yang menghubunginya.


"Kamu dimana Ta?" tanya Tante Dewi dari seberang sana.


"Di rumah sakit lagi nengokin Dewa," jawab Dita.


"Kebetulan kamu ke ruangan Doni ya," pinta Tante Dewi.


"Okay..."


Sambungan telepon Dita dan Tante Dewi terputus. Dita bergegas menuju ruangan Doni dan hanya melihat Doni yang masih tergeletak dengan bantuan alat-alat pernafasan dan jantung di ruang ICU.


Dita menghubungi tante Dewi kembali.


"Tante dimana sih, katanya aku di suruh ke ruangan Doni?" tanya Dita dengan nada kesal.


"Ya ampun, Doni kan lagi sama tante, oh iya tante lupa mereka ketuker, kamu ke ruangan mas kevin sini Ta," ucapnya memerintahkan Dita.


"Hadeh... oke deh aku kesana," ucap Dita bergegas menuju ruangan perawatan Om kevin.


"Kenapa Tante?" tanya Dita saat sampai di sana.


"Doni udah boleh pulang nih," ucap Tante Dewi.


"Ya udah tinggal pulang aja susah bener pakai nelpon aku," sahut Dita.


"Kamu liat dong bentuknya kan dia ada dalam tubuh mas Kevin masa mau aku bawa pulang," ucap Tante Dewi mulai kesal.


"Trus aku gimana nih kak aku kan gak paham ada di kota ini?" ucap Doni yang berada dalam tubuh Om Kevin.


"Aku tahu dimana dia bisa tinggal," ucap Dita lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang keluar dari kamar perawatan.


Lima menit kemudian, Dita kembali ke dalam dan memberitahukan rencananya.


"Kabar gembira dan pastinya buat aku seneng juga, Doni bisa tinggal sama Anan, dan ternyata Anan udah pindah rumah di seberang ruko aku yeeeaaayy," ucap Dita berjingkrak-jingkrak sambil memeluk Tante Dewi.


"Terus tante gimana? masa tinggal sendirian terus?" tanya Tante Dewi melepas pelukan Dita.


"Tante tinggal sama aku aja, nanti beli kasur sofa portable buat tidur, gimana?" tanya Dita.


"Maaf Bu Dewi, pasien koma yang di lantai atas barusan sadar katanya," seorang suster masuk ke dalam ruangan mencari Tante Dewi.


"Om Kevin tante... ayo kita samperin," ucap Dita.


"Tunggu Ta, iya kalau mas Kevin kalau bukan dia yang masuk ke tubuh Doni gimana?" tanyanya.


"Positif thinking aja yuk," ajak Dita.


"Aku ikut..." sahut Doni.


"Bawa semua barang itu Don!" tante Dewi memerintahkan.


"Iya siap bu bos," sahut Doni.

__ADS_1


***


Tubuh Doni sudah di pindahkan ke ruang perawatan, meski masih lemah, namun ia sudah sadarkan diri.


Saat Tante Dewi tiba bersama Dita, kedua tangan Doni sudah di rentangkan menyambut pelukan dari Tante Dewi.


"Dewi..." ucapnya.


"Alhamdulillah ternyata Om Kevin juga, kirain mah orang lain lagi yang masuk kesana," ucap Dita.


"Maksudnya Ta? kok kamu gak mau peluk aku Dew?" tanya Om Kevin yang berada dalam tubuh Doni.


"Mau sih mas, tapi kok aku risih ya, gak biasa kalau meluk kamu kayak gitu," sahut Tante Dewi.


"Maksudnya gimana sih, kok aku gak paham?" tanya Om Kevin.


"Ibu bos, ini banyak banget sih barang bawaannya berat tau bu..." Doni yang ada di tubuh Om Kevin masuk ke dalam ruangan.


Doni dan Om Kevin saling bertatapan dan...


"Aaaaaaaaaaaaaaaaa..."


Keduanya berteriak bersamaan.


Dita dan Tante Dewi terkejut dan saling berpelukan, apalagi Dita menahan tawanya sedari tadi namun tak tahan juga untuk tertawa sampai jatuh kemas terduduk melihat pertukaran tubuh Om Kevin dan Doni.


"Pak bos balikin badan Doni sekarang..." Rengek Doni menghampiri Om Kevin sambil mengguncang bahu tubuhnya.


"Kamu dong yang harusnya balikin, ngapain coba kamu masuk badan saya, jelas-jelas badan saya lebih bagus dari kamu," ucap Om Kevin dengan nada mulai marah.


"Harusnya pak Bos ngaca dong, mukanya saya tuh lebih imut lebih muda dari pak bos tuh liat baik-baik aku bawa kaca nih kesini," ucap Doni lalu mengambil bingkai cermin di kamar mandi ruangan perawatan itu dan menunjukkannya ke hadapan om Kevin.


"Heh, biarpun saya lebih dewasa tapi badan saya lebih sehat, lebih bagus dari kamu tau, buktinya saya udah nikah udah laku kamu belum," ucap Om Kevin mulai sewot.


"Iya ya, Tasya aja masih belum nerima aku jadi pacarnya," gumam Doni.


Dita makin tertawa melihat pertengkaran keduanya, dirinya kini sudah berpindah duduk di sofa sambil memegang perutnya yang sakit karena tertawa.


"Dita ih bukannya kasih solusi malah ngetawain gitu?" Tante Dewi menjambak rambut Dita.


"Awww sakit tante, habis itu lucu banget sih, aku aja masih bingung kenapa bisa tukeran badan gitu hahahaha," sahut Dita.


"Terus ini gimana Dew, gak bisa apa di operasi buat tukeran lagi, kali aja pas di belek di sayat bagian badan ke perut gini terus dalamnya ditukar biar bisa pindah lagi?" ucap Om Kevin dengan wajah polos main asal ucap saja.


"Tuh kan ketawa kan...? lucu banget kan liatnya ya kan?" Dita menusuk bahu Tante Dewi dengan telunjuknya.


"Habisnya baru ini denger ide macam gitu, minta di belek buat tuker badan dan roh hahahaha," ucap Tante Dewi.


"Kok kalian malah pada ketawa sih?" tanya Om Kevin.


"Lagian pak Bos juga minta di belek, aku sih ogah nanti ada bekasnya kayak mayat yang lagi di autopsi ada bekas jahitan dari dada ke perut hiiiyyy, pak bos aja situ yang di belek, aku ogah!" sahut Doni.


"Yah terus cara tukerannya gimana ini?" Om Kevin menumpuk Doni dengan bantal di belakang tubuhnya.


"Aduh... mana aku tau pak Bos, iya nih kak Dita gimana ini?" tanya Doni yang sekarang merengek depan Dita.


"Serius aku juga gak tau, masalahnya kalian ketuker gitu kan juga karena keajaiban, nah tinggal tunggu deh keajaiban juga buat kalian ketuker lagi," sahut Dita lebih tenang sekarang menghentikan tawanya.


"Kira-kira sampai kapan kita kayak gini Ta?" tanya Om Kevin.


"Dita juga gak tau om," sahut Dita.


"Terus itu Doni mau pulang gantiin saya gitu ke rumah sama kamu?" tanya Om Kevin


"Eh sembarangan aja mas, ya gak gitu lah, aku juga gak mau, nanti Doni tinggal sama Anan, aku sementara tinggal sama Dita, nanti kalau kamu udah boleh pulang tapi masih berbentuk gitu ya kita tinggal rame-rame aja hehe," sahut Tante Dewi.


"Terus program punya anak kita gimana kan kita harus buat dua hari sekali?" tanya Om Kevin cemas.


"Buat apaan sih dua hari sekali, kalau saya bisa bantu ya saya bantu deh pak Bos apa buat bertiga gitu tinggal siapin adonan yang pas ?" tanya Doni.


"Eh koplak emangnya kamu pikir buat kue pakai adonan?" Dita memukul belakang kepala Doni.


"Dita itu tubuh aku jangan sampe luka nanti," sahut Om Kevin.


"Habisnya gemes banget sih," sahut Dita.


"Kita tunda dulu mas, aku juga gak mau kalau buatnya sama Doni hiiyy," ucap Tante Dewi memandang Doni dengan tatapan aneh. Sementara Doni masih tak mengerti dengan pembicaraan ini.


"Berati buat nya sama Om Kevin yang itu dong?" tunjuk Dita.


"Eh biarpun itu Om Kevin tapi tubuhnya Doni, nanti anak tante mirip Doni."


"Anan ada di tubuh Manan juga waktu kita nikah tapi anak aku si Anta mirip Anan," sahut Dita.

__ADS_1


"Ta, Anan sama Manan kan kembar identik makanya mirip hadeh..." Tante Dewi menepuk dahinya sendiri.


"Oh Doni ngerti pembicaraan tadi, jadi kalau Bu bos sama pak bos mau program hamil jadi aku harus gantiin... idih ogah ah, saya kan masih ting ting," sahut Doni.


"Siapa juga yang mau sama kamu hu..." Tante Dewi menoyor kepala Doni.


"Hehehe ya maaf bu bos..."


"Jadi pulang gak nih?" tanya Dita.


"Gak jadi lah, tante mau jagain Om Kevin." sahut Tante Dewi.


"Ya udah aku pulang sama Kak Dita, habisnya aku kangen sama Tasya," ucap Doni.


"Eh aku lupa aku punya proyek besar ini sama klien, duh udah berapa lama ya saya pingsan, coba laptop sama ponsel saya mana Dew?" pinta Om Kevin.


"Ada di ruang kerja aku mas tapi kalau kamu mau video call masa mukanya Doni mana mereka percaya nanti," ucap Tante Dewi.


"Ya udah pakai muka Doni aja terus di arahin sesuai kerjanya, udah ya aku mau pulang nih, soalnya Anta minta daftar sekolah, dah semua," Dita langsung bergegas pergi.


"Kak Dita tapi saya..." ucapan Doni terhenti saat dua orang itu menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.


"Iya Doni ngerti, sekarang aku harus ngapain nih?" tanya Doni menghampiri Tante Dewi dan Om Kevin.


Harapannya bertemu Tasya dan memeluknya musnah sudah saat itu juga.


***


Sesampainya Dita di depan tokonya, ia melihat Anan yang baru saja menyelesaikan pindahan rumahnya. Anan memberikan sejumlah uang pada sang supir mobil box pengantar barang pindahan.


"Hai, udah rapih taruh barang-barang?" sapa Dita menghampiri Anan..


"Udah, kan barang-barang gue juga gak banyak," sahut Anan.


"Kenapa kamu pindah sih?" tanya Dita.


"Menghindari Hyena hahahaha... lagian biar deket juga sama elo," sahut Anan tanpa sadar.


"Apa...? barusan bilang apa?"


Kayaknya Anan bilang biar deket sama aku deh, gak salah denger kan ini...?


"Eh apa ya, maksudnya itu biar deket sama tempat kerja, eh itu nanti depan situ kan ada kedai gue ya terus di taruh banner gitu ya sebelah kirinya, gimana?" tanya Anan langsung mengalihkan pembicaraan.


"Oh... bagus sih terserah kamu aja," jawab Dita.


"Mana temen kamu yang namanya Doni tadi?"


"Oh masih ada di rumah sakit nanti deh aku ceritain biar gak bingung hehehe, astaga aku lupa mau antar Anta daftar sekolah," ucap Dita.


"Gue anter mau gak?" tanya Anan.


Aduh gak salah denger nih...


"Ayo gue anter, boleh kan? habisnya gemes banget sama Anta, kangen sama dia," ucap Anan lalu melangkah menuju rumah toko milik Dita.


"Oh... kangen sama Anta nih, kalau sama bunda nya kangen gak?" Tanya Dita menggoda Anan yang berjalan mengikuti langkah Anan di belakangnya.


"Kangen lah..." sahut Anan tanpa menoleh ke arah Dita.


Gak salah denger kan ini, duh mau garuk-garuk nih aspal pakai kuku rasanya.


Dita berjingkrak-jingkrak sambil tersenyum kegirangan di belakang Anan.


******


Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...


To be continued...


Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku


“WITH GHOST”


ramaikan disana.


Baca juga :


-          Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)


-          9 Lives (END)


-          Gue Bukan Player

__ADS_1


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2