
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍
****
Anan mendekap Dita dalam pelukannya erat saat beristirahat di kamarnya. Jam digital berbentuk persegi panjang di meja samping kasur Dita berbunyi tepat pukul tiga pagi.
"Ini kok alarmnya bunyi ya? oh iya ini pasti lupa matiin gara-gara waktu itu mau mantau rumah kakek Harja." gumam Dita.
Dita memanggil pak Herdi seperti biasa untuk menemaninya menemui potem dan memantau keadaan di rumah seberang sana.
"Kamu pakai sweater atau selimut ini dong biar gak kedinginan." Pak Herdi menarik bed cover yang menyelimuti Anan membuat Anan terjatuh dari kasur namun karena bantalnya ikut terjatuh jadi Anan tak merasa sakit karena kepalanya mendarat di atas bantal.
"Dih kebo banget ini bocah, ***** banget lagi udah jatuh gedebug gitu masih pules aja ckckck." ucap pak Herdi.
"Kasian pak nanti Anan kedinginan." ucap Dita.
"Disini masih lebih hangat dibanding di luar sana nanti kamu kedinginan, nah kalau kamu mau saya bantu kamu harus nurut smaa perintah saya." ancam pak Herdi yang hanya ingin menjaga Dita agar tidak sakit.
"Iya iya nih aku pakai, dah buruan sana pantau, aku standby hape nih jadi kalau ada yang mencurigakan aku tinggal telpon kapten Jihan." ucap Dita membuka pintu jendela kamarnya dan berdiri di beranda.
Ternyata pocong berwajah hitam itu sudah berdiri di beranda itu.
"Nah tuh udah ada potem, dah sana jalankan misi kalian dengan baik." ucap Dita.
"Siap tuan putri." pak Herdi menghilang menuju rumah di seberang.
"Kamu ngapain masih disini? udah sana susul pak Herdi." ucap Dita
"Tolong buka ikatan saya." sahut si potem.
"Astagfirullah, iya iya nanti di buka dah sana jalankan misi mu." Dita mendorong pelan hantu pocong itu namun saat dia ingin melompat pergi kain bawahnya tak sengaja terinjak Dita. Pocong berwajah hitam itu bernasib sama seperti Pak Herdi tempo hari. Dia terjatuh terjerembab ke bawah dengan wajah membentur tanah terlebih dahulu.
"Duh maaf cong, Dita gak sengaja." Dita menggigit jarinya lumayan takut karena mendapat tatapan tajam dari si pocong di bawah itu yang sudah memandangi dita.
__ADS_1
"Maaf gak sengaja hehe, sering banget ya aku buat nyusruk para pocong hehehe." gumam Dita
Tak lama kemudian pak Herdi sudah datang ke hadapan Dita dengan tergesa-gesa tak bisa mengerem lompatannya sampai menabrak pagar beranda dan jatuh terjerembab ke lantai bawah.
"Buaaahhha dari tadi kenapa para pocong nyusruk semua sih." Dita tertawa terbahak - bahak saking lucunya sampai membuat perutnya sakit.
"Dita..." Anan memanggil Dita dari dalam.
"Eh Anan Yandaku sayangku cintaku kasihku, udah bangun." Dita menoleh pada Anan.
"Kamu ngapain jam segini di luar sana?" tanya Anan.
"Aku tuh masih kepo sama rumahnya kakek Harja kan kalau jam segini suka ada transaksi ilegal." sahut Dita.
Pak Herdi datang dengan kain kafan yang kotor akibat terjatuh ke tanah yang masih becek karena turun hujan di tengah malam tadi.
"Wah hahahaha habis mandi lumpur Lo tofu basi." ejek Anan sambil menertawakan pak Herdi dengan sangat puas.
"Ah terserah kamu lah saya ada berita penting buat Dita, hubungi kapten Jihan sekarang keburu mereka pergi bawa barang bukti, cepetan Ta." ucap pak Herdi mengguncang kedua bahu Dita.
"Hah yang bener? oke oke aku akan menghubungi kapten Jihan." ucap Dita lalu mencari ponselnya dan segera menghubungi kapten Jihan untuk datang ke lokasi.
"Kapten aku boleh minta tolong lagi gak?" tanya Dita.
"Ada apalagi Ta, apa ada kejahatan lainnya?" tanya kapten Jihan.
"Tolong bongkar pohon itu kapten, saya curiga ada jasad yang di pendam disana dan dikuburkan dengan tidak layak." ucap Dita membuat kapten Jihan menoleh pada pohon yang ditunjuk Dita dengan seksama.
"Karena saya kenal dan percaya sama kamu, baiklah saya turuti apa mau kamu." ucap kapten Jihan.
Kapten Jihan menuruti apa yang diperintahkan Dita. Kapten Jihan memerintahkan beberapa anak buahnya untuk membongkar pohon yang ditunjuk Dita.
Dita memerhatikan dengan seksama dalam dekapan Anan yang memeluknya dari belakang. Banyak warga juga berdatangan karena penasaran dengan kejadian di rumah kakek Harja.
"Ta, benar sesuai dugaan mu, ada jasad pria disana, sepertinya keturunan warga asing bukan asli sini." ucap kapten Jihan memberi tahu.
"Kapten tolong buka ikatan pocongnya." pinta Dita.
"Baiklah, lagipula jasad itu akan di kebumikan kembali dengan layak, sekali lagi terima kasih ya Ta atas informasi dan kerjasamanya." ucap kapten Jihan berterima kasih pada Dita.
"Sama-sama kapten." sahut Dita.
__ADS_1
"Nanti kalau ada kasus yang tidak bisa diselesaikan dengan akal sehat dan pakai logika, saya boleh ya minta bantuan kamu ya?" pinta kapten Jihan.
"No...No...No... gak bisa kapten, tolong jangan bawa-bawa istri saya dalam hal seperti itu, asal tau aja ya kapten, Dita sedang mengandung anak saya." ucap Anan.
"Wah selamat ya Anan dan Dita, saya turut bahagia dengernya, oke kalau begitu saya kembali bekerja ya, silahkan kembali kerumah untuk beristirahat kembali." kapten Jihan menjabat tangan Dita dan Anan bergantian.
Dita melihat sosok potem yang tersenyum padanya lalu pamit menghilang.
"Yuk balik bunda sayang." ajak Anan membawa Dita masuk ke dalam rumah besarnya.
***
Setelah gempar kejadian dini hari mengenai rumah kakek Harja dan pekerjaan ilegal yang terjadi disana, para pelayan masih sibuk membicarakan hal yang terjadi disana.
"Kok saya gak dibangunin sih Ta kan saya jadi ketinggalan berita tentang rumah besar itu." ucap Tasya.
"Rame kok banyak suara mobil polisi juga, berati kamu tuh yang teramat pules." sahut Dita.
"Hehehe iya kali ya, oh iya saya mau tanya nih tapi jangan marah ya Ta?"
"Mau tanya apa?" Dita menoleh pada Tasya.
"Waktu di pulau xx pas saya di culik Jeff kok saya lihat pak bos Anan berubah jadi pocong ya?"
Pertanyaan Tasya membuat Dita menoleh padanya.
****
To be continued...
mohon maaf kalau ada typo.
Jangan lupa main juga ke cerita ku lainnya :
- Kakakku Cinta Pertamaku (End)
- 9 Lives (Ramaikan disana)
- Gue Bukan Player (Ramaikan juga disana)
Makasih ya Vie Love you all readers 😘❤️
__ADS_1