Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Belum Ketahuan


__ADS_3

Hayo sebelum pada baca tolong ya tombol Likenya di pencet dulu, jangan lupa rate bintang lima. Lalu, kirimkan poin kamu untuk Vote, kirim koin juga boleh banget lho...


Happy Reading... 🥰😊


******


Dita langsung ikut masuk dan berbicara dengan Samanta perihal ia membawa Logan. Hantu Samanta langsung memandangi Logan dengan seksama.


"Sepertinya aku mengenal dia," ucap Hantu Samanta lirih saat melihat wajah Logan.


"Nah kan, dia kenal," ucap Tasya.


"Kalian pada ngomong sama siapa, sih?" Logan melihat ke arah Tasya dan Dita secara bergantian.


"Pinjem tangan kamu," ucap Dita ke arah Logan.


"Bunda, emang harus ya pegang tangan Logan, gak bisa lewat Tasya gitu atau lewat aku?" Anan mulai memunculkan sifat posesif yang berlebihan pada Dita.


"Gak bisa Yanda, kan cuma aku media pemersatu para hantu dan manusia," sahut Dita.


"Kayak slogan apa gitu ya, media pemersatu hihihi," gumam Tasya menutup mulutnya.


Tiba-tiba Pak Herdi muncul di sampingnya sambil tersenyum dan mengibaskan tangannya.


"Hai...!"


"Tau ah, masih marah," ucap Tasya melirik tajam pada Pak Herdi.


"Ya udah saya diem aja deh, nyimak. Nyimak kamu eeeaaaa..." celetuk Pak Herdi yang langsung membuat Anan dan Dita tertawa.


"Kayaknya ada yang sifatnya agak-agak lebay deh," celetuk Dita.


"Tau nih, garing banget dia sekarang," sahut Tasya.


"Jadi...?" Logan buka suara menghentikan obrolan Dita dan Tasya pada sosok Pak Herdi itu.


"Oke, yuk sini tangan kamu," pinta Dita.


"Duh, Bunda... Gak rela nih tangan kamu dipegang dia," rengek Anan.


"Yanda..." Dita balas merengek.


"Yanda... Anta mau pup nih, sakit perut," ucap Anta menarik ujung kaus Anan.


"Nah, kebetulan banget, tuh temenin Anta ke kamar mandi," pinta Dita seraya memamerkan senyuman termanisnya pada Anan.


"Tapi, Bunda..."


"Cuma sentuh dikit doang biar terkoneksi, bisa lihat Samanta, sebentar aja kok, tuh sana temenin Anta ke kamar mandi dulu ya, please...."


Anan langsung menghampiri Dita dan berbisik di telinganya.


"Setelah ini, aku akan menghukummu lebih lama," bisik Anan lalu memberi kecupan di telinga kiri Dita setelah berbisik.


Dita memandang Anan yang menatapnya nakal.


"Hmmm..."


Anan lalu menggendong Anta menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


"Oke, kita lanjut," Dita meraih tangan Logan.


"Samanta pegang bahu aku," pinta Dita.


Samanta lalu menghampiri Dita dan menaruh telapak tangan kirinya di bahu Dita.


"Ka-kamu..."


Bruk!


Logan jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri.


"Yah... begitu doang pingsan, belum tanya-tanya lebih lanjut," gumam Tasya.


"Kamu gak ingat apa, Samanta?" tanya Dita.


"Entahlah, aku bingung, aku bingung!" pekik Samanta lalu menghilang di kamar Nenek Rose masuk ke bawah ranjang Nenek Rose.


"Yah, terus si Logan mau diapain ini?" tanya Dita.


"Di pindahin lah, awas aku mau bopong dia taruh di atas ranjang Nenek Rose," ucap Tasya lalu mengangkat tubuh Logan.


"Wow, keren juga si Tasya kuat angkat Logan," puji Pak Herdi.


"Perempuan kalau lagi marah, tiba-tiba tenaganya tambah berlipat ganda, hihihi..." celetuk Dita.


Tasya selesai membaringkan tubuh Logan di atas kasur dengan sprei warna merah itu.


"Hah, serius kamu, Ta?" tanya Pak Herdi.


"Iya, serius. Coba gih rayu Tasya biar adem hatinya," ucap Dita memberi saran.


***


Pekerja tersebut hampir saja jatuh mengenai Mitha yang datang bersama Doni dari arah parkiran di depan gedung mereka bekerja. Akan tetapi, bayangan hitam mendorong tubuh Mitha dan melindunginya agar tidak tertimpa tubuh pekerja tersebut.


Cairan darah segar keluar dari kepala pekerja yang hancur itu. Helm pekerja tersebut menggelinding ke arah kaki Doni beriringan dengan bola mata kanan yang terlepas dari rongga matanya.


"Astagfirullah...!" pekik Doni saat melihat bola mata tersebut.


Tulang leher, tangan dan kaki pekerja itu patah dan nyawanya tak bisa di selamatkan lagi karena ia langsung tewas seketika.


Banyak orang yang langsung berkerumun melihat pekerja yang tewas itu. Mitha langsung menghampiri Doni dan memeluknya. Ketakutan setengah mati melandanya. Darah pekerja itu mengalir ke arah kaki Mitha. Namun, bukannya merasa jijik Mitha malah menyentuh darah tersebut lalu menjilatnya diam-diam.


"Kenapa rasanya terasa enak ya, ini manis sekali," gumam Mitha dengan suara pelan.


"Kamu ngapain, Mit?" tanya Doni yang melihat tangan Mitha terdapat bercak darah.


"Eng-enggak, enggak kenapa-kenapa kok," sahut Mitha dengan nada gugup.


"Ayo kita bersihkan tangan kamu," ajak Doni.


Tak lama kemudian mobil polisi dan ambulance datang bersamaan setelah dihubungi pihak keamanan gedung tersebut.


Saat berada di kamar mandi pria, setelah Doni membersihkan bagian ujung celana dan sepatu nya yang terkena darah, ia sempat merenung di depan cermin.


"Aku yakin banget tadi lihat Mitha mencicipi darah korban itu, aku gak salah lihat kok, tapi kenapa Mitha ngelakuin itu, ya?" gumamnya bicara pada diri sendiri.


Tiba-tiba bulu kuduk Doni terasa meremang. Hawa merinding terasa di tengkuk leher belakangnya.

__ADS_1


"Duh... perasaaan gak enak, nih. Dulu sih kalau lihat yang aneh-aneh gini biasanya bareng-bareng sama Tasya sama Dita, masa ini aku harus lihat sendirian sih..."


Doni melirik ke arah bawah. Di belakang kakinya ia melihat pakaian seragam yang persis seperti pekerja tadi. Namun, kaki pekerja tersebut melayang dan meneteskan darah di lantai yang Doni pijak.


"Hmmm... bener kan, mau ngapain coba dia nyamperin aku?" gumam Doni.


Doni menutup wajahnya dengan Kedua telapak tangannya ke arah hantu tersebut lalu berkata, "Kamu mau apa? jangan ganggu saya!"


Sebuah tangan menyentuh bahu Doni yang masih ketakutan.


"Jangan ganggu saya, saya mohon..." ucap Doni yang tak sengaja membasahi celananya dengan air seni yang tiba-tiba saja keluar tak bisa ia kendalikan.


"Lho, Bapak kenapa kok pipis sembarangan gitu, sih? Bapak punya diabetes ya jangan-jangan gak bisa mengendalikan pipisnya?"


Tegur seorang karyawan pembersih kamar mandi pria itu.


Doni membuka kedua telapak tangannya perlahan memperlihatkan wajahnya yang pucat pasi.


"Astaga, Pak Roy, aku pikir kamu itu hantu," ucap Doni.


"Saya? hantu? hahahaha... jadi Pak Doni mengompol karena ketakutan dan menyangka saya hantu? hahahaha..."


"Udah deh, awas ya kalau kamu sampai ngomong ke siapapun, nanti aku usulkan ke Mitha buat pecat kamu," ancam Doni.


"Jangan gitu dong pak, iya deh saya gak akan buka mulut," sahut Roy.


"Kamu bawa seragam lain gak, atau baju ganti? aku pinjem dong," pinta Doni.


"Kalau masalah baju ganti sih ada, tapi uang sewanya boleh lah Pak, buat makan siang," ucap Roy.


"Ah, Kamu mah bener-bener gak ikhlas nolongnya,


nih yang sewanya, sana cepet ambil!"


Doni memberikan beberapa lembaran uang pada Roy.


"Nah gini dong, Pak. Tunggu sini bentar ya, saya akan ambil di loker saya," ucap Roy lalu pergi ke luar kamar mandi.


Saat Doni bersembunyi di belakang pintu agar tak terlihat oleh pengunjung lain yang nantinya masuk, tiba-tiba seseorang mengulurkan tangannya.


"Mana sini Roy, baju sera...gam...nya, Huaaaaaaaaa!"


Doni langsung jatuh tak sadarkan diri saat diberi bola mata hantu pekerja tadi ke tangannya.


******


Bersambung...


Mampir juga ke :


- 9 Lives (Jilid II - On Going)


- Diculik Cinta (On Going)


- With Ghost (END)


- Gue Bukan Player (END)


- Kakakku Cinta Pertamaku (END - Musim Kedua hiatus 😁)

__ADS_1


Vie Love You All... 😘😘😘


__ADS_2