Pocong Tampan

Pocong Tampan
Pindah


__ADS_3

"Dita, itu bukannya Tante Fani tetangga elo yak?" ucap Anita melihat pemberitaan mengenai penemuan jasad om Beno di tv news.


"Iyak, ah syukurlah apalagi yang udah bunuh suami Tante Fani juga ketangkep semuanya plus penemuan narkoba itu." sahut Dita.


"Gak sia-sia yak berarti elo jauh-jauh kesana."


Dita mengangguk sembari menyuapi mulutnya dengan semangkuk bubur ayam sarapannya.


"Terus gimana kabarnya Tante Fani sekarang?


tanya Anita.


"Tante Fani sama anaknya Mar pindah ke kampungnya Tante Fani mau tinggal sama ibunya dia, denger-denger sih sakit."


drit drit ... ponsel Dita berbunyi dan diangkatnya ponsel itu.


Anita melihat raut wajah murung dari ponsel Dita pun bertanya.


"Kenapa kamu Ta?"


"Emmmm yang punya kontrakan nyuruh aku pindah dia mau pake rumah yang aku tempatin sama rumah Tante Fani mau di renov buat anaknya."


"Terus dirimu tinggal dimana?"


"Belum tau, mana tabungan ku tiris lagi." sahut Dita berita tersebut membuatnya jadi tak nafsu makan dan hanya mengaduk-aduk buburnya.


"Mess belakang." Anita memberi ide gila pada Dita namun tak salahnya di coba.


"Emmm aku harus ijin dulu ya sama pak Herdi."


"Iya, nanti aku bantuin bebenah terus aku bisa punya alasan tinggal sama dirimu ke ayahku nanti, kan jadi lebih deket ke tempat kerja." Anita tersenyum-senyum memberikan ide.


"Alaaah bilang aja alesan mau pedekate sama Doni, iya kan?" Dita menggoda Anita yang makin tersenyum senang di buatnya.


"Pak Herdi tuh dateng sana gih bilang sama dia." Anita menunjuk arah parkir.


"Dih ntar kalo ada Bu Devi gimana?" Tanya Dita ragu.


"Heh kemaren Bu Devi ribut sama pak Herdi, nanti deh aku ceritain, trus kata Bu Devi, besok saya ijin yak mau shopping ke singapur, tumben banget kan biasanya kaya jailangkung dia dateng tak diundang pulang gak ada yang nganterin, eh sengaja banget ngomong ke singapur nya di gede gedein suaranya."


Anita mencontohkan gaya Bu Devi berjalan membuat Dita tertawa dibuatnya.


Pak Herdi datang melihat tingkah laku Anita.


"Eh bapak, pagi pak." Anita tertunduk malu lalu duduk di kursi kerjanya.


"Pagi... kok gak dilanjutin Nit?" Goda Pak Herdi.


"Enggak ah malu pak hehehe." jawab Anita tersipu.


"Pagi pak, pak ada yang mau saya bicarain, boleh?" ucap Dita akhirnya.


"Boleh, ayo ikut saya keruangan."


"Sekarang??"

__ADS_1


"Iya sekarang." Pak Herdi berjalan ke ruangannya.


"Hei sana ke ruangannya." Anita menyadarkan Dita yang terheran dengan perintah pak Herdi.


"Biasanya aku nunggu istirahat loh Nit buat ngomong, lah ini sekarang." sahut Dita.


"Yaudah sana buruan mumpung orangnya yang nyuruh."


Dita ragu untuk melangkah ke ruangan pak Herdi meninggalkan Anita di kursi tiket sendiri namun Anita meyakinkan nya untuk maju melangkah ke ruangan pak Herdi.


***


Tok tok..


"Masuk Ta."


"Makasih pak, boleh duduk pak?"


"Silahkan, kenapa Ta mau ngomong apa?"


"Emmm saya.... saya boleh gak pak numpang tinggal di mess belakang sana?"


Pak Herdi kaget dengan ucapan Dita.


"Kamu yakin? gak takut gitu?"


"Ya takut sih, tapi kata bapak kan gak ada apa - apa."


"Iya sih saya juga gak percaya sama hantu, tapi kamu gak takut tinggal di deket Doni sama pak Ujang hehhehe?"


"Ta, kok kamu bengong?"


Pak Herdi sudah berdiri dihadapan Dita mengibaskan tangannya membuyarkan lamunannya.


"Eh iya kok saya bengong hehehe." ucap Dita tersipu.


"Kamu mau pindah kapan?"


"Besok sepertinya pak."


"Mau saya bantu pindahan gak?"


"Gak usah pak, barang-barang saya sedikit kok, bisa pake taxi online."


"Nah dari pada taxi online kan mending saya aja gratis bisa bantu kamu pindahan."


Duh Pak Herdi bikin hati saya cenat cenut aja nih.


"Gimana? oke yak besok saya bantu kamu pindahan."


Dita akhirnya mengangguk.


"Makasih ya pak."


Pak Herdi kembali ke kursinya begitu juga Dita yang kembali meja tiketnya.

__ADS_1


"Gimana?" tanya Anita kepo.


"Beres besok aku pindah."


"Neng, barusan Pak Herdi telpon saya, neng serius mau nempatin mes belakang itu?"


Tanya Kang Ujang menghampiri Dita.


"Iya Kang, memangnya kenapa? tenang aja Kang besok saya aja yang benahin." jawab Dita.


"Ya gak papa sih non tapi Akang jadi khawatir."


"Tenang aja pak Dita mah udah kebal sendirian." sahut Anita.


***


Ke esokan harinya Dita sudah pamit dengan si empunya rumah, Anita membantunya untuk berkemas.


"Hah serius ini mata ku." Anita mengucek matanya tak percaya.


"Kenapa sih Nit?"


"Itu mobil Pak Herdi kan?"


Mobil pak Herdi sudah terparkir di depan gerbang halaman kontrakan Dita.


"Hai semua, maaf Ta saya telat yak, kamu udah rapih aja." ucap Pak Herdi keluar dari mobilnya.


Mereka pun melaju ke arah wahana kolam renang punya Pak Herdi.


***


"Gimana jang, udah kamu bersihin?" tanya Pak Herdi pada Kang Ujang.


"Sudah bos."


"Ayo Ta, Don bantuin bawa barang-barang Dita ."


Doni yang sedang bertatap dengan Anita jadi kaget dengan perintah Pak Herdi.


"Aku temenin kamu Ta nanti malem, bagus juga messnya, serem dari mana sih." Anita berkeliling menelusuri dalam rumah itu.


"Kamu nginep sini?" tanya Doni pada Anita.


Kang Ujang melirik Doni memberi tatapan tajam menghentikan imajinasi liar Doni nanti malam mengganggu Anita.


"Makasih ya semuanya udah nolongin Dita." ucap Dita.


"Neng sajen depan kamar mandi yang dibawah wastafel jangan di pindah yak." bisik Kang Ujang.


Dita mengangguk, dilihatnya hantu perempuan Tania sedang berdiri memandangi nya dari depan kamar mandi sana. Kali ini Tania tak bertampang seseram kemarin, sepertinya dia siap menyambut Dita.


***


To be continued

__ADS_1


Happy Reading... 🤗🤗


__ADS_2