
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Dita membawa Cindi ke klinik terdekat bersama Anan. Cindi masih tak sadarkan diri dari toilet mall tadi. Anita masih bergidik ngeri dengan penampakan hantu perempuan menyeramkan di toilet mall yang menjilati pembalut milik cindi lebih menakutkan lagi hantu itu mengikuti cindi sampai ke klinik.
"Haduh... pait pait pait mbak Kunti mau ngapain sih ikut sampai sini hush sana pulang!" Anita mendorong hantu itu sampai terjatuh ke lantai.
"Aduh maaf mbak gak sengaja."
Hantu itu menyeringai lalu tertawa melengking membuat Anita menutup telinganya. Dita dan Anan juga ikutan menutup telinganya padahal seorang dokter sedang memberi penjelasan pada mereka.
"Maaf apa penjelasan saya menggangu anda semua?" tanya dokter itu.
"Bukan dok, ini anu eng kuping aku pengen." Dita menepuk-nepuk daun telinganya.
"Aku juga dok, gatel banget ini." Anan pura-pura mengorek telinganya dengan jari kelingking lalu menoleh ke Anita yang sedang tercekik oleh hantu perempuan itu.
"Ta, aku nolongin Anita dulu ya." bisik Anan membuat Dita khawatir menoleh ke arah jendela.
"Jadi, pasien mengalami anemia karena tekanan darahnya yang rendah."
"Terus gimana dok mau dirawat gak?"
tanya Dita masih menatap ke arah luar jendela.
"Karena disini tidak ada fasilitas rawat inap pasien diperbolehkan pulang, jika keadaannya tidak membaik saya merujuk ke rumah sakit ya."
"Iya dok makasih banyak."
"Apa ada yang mengganggu anda?"
"Dok saya mau ke toilet sebentar yak."
Dita langsung keluar dari ruang perawatan Cindi meninggalkannya dengan dokter laki-laki paruh baya itu.
"Lepasin ayo lepasin gak!" Anan berusaha menarik tangan hantu itu dari leher Anita.
__ADS_1
Dita langsung menjambak rambut hantu perempuan itu namun terlepas begitu saja meninggalkan kepala botak yang berongga penuh dengan belatung yang menggeliat.
"Ih jorok banget ih bukannya kutu malah belatung yang ada di kulit kepala mana rontok banget pasti gak pernah keramas ya mbak." Dita mengibaskan rambut Kunti itu dari tangannya.
"Ta, tolong leher ku sa sakit." ucap Anita lirih.
Dita menarik pinggang hantu itu sementara Anan masih berusaha melepaskan tangan hantu itu dari leher Anita. Tiba-tiba hantu itu mencium sesuatu aroma yang menyedapkan baginya, dari mulutnya menetes air liur berwarna hijau sambil menjulurkan lidahnya ke suatu tempat. Hantu itu melepas cengkeramannya dari leher Anita membuat Dita dan Anan terjatuh ke rumput samping klinik. Hantu itu melangkah menuju kamar perawatan Cindi di klinik itu.
"Ya ampun Cindi aku tinggal." ucap Dita bergegas berdiri namu terpeleset dan terjatuh lagi di atas tubuh Anan.
"Ampun deh Dita berat banget." ucap Anan.
"Oh gitu? jadi aku berat?"
"Eng maksudnya berat banget badan aku sampai gak bisa diri hehehe."
"Alah bilang aja ngatain aku gendut ya kan?"
"Bukan maksud ku gitu Ta."
"Udah udah udah jangan pada ribut hayo tolong cindi tuh." Anita melerai Anan dan Dita.
"Oh iya bener ayo buruan...!"
Cindi sudah tersadar dan menutup tubuhnya dengan selimut badannya gemetar ketakutan.
"Lepas, lepaskan aku, pergi pergi kamu !" pekik Cindi menendang Dita.
"Awww, cindi ini aku Dita."
"Pergi... pergi...!"
"Cin ini aku." Ucap Anan lalu Cindi mencoba menurunkan selimut dari wajahnya dan begitu dia melihat sosok Anan cindi langsung memeluk Anan sambil menangis.
"Hmmmm giliran cowok cakep aja langsung peluk, yang sabar ya Ta." sahut Anita menepuk bahu Dita.
"Tadi ada hantu Pak, aku takut." ucap Cindi sambil terisak.
"Iya iya aku tahu." sahut Anan mencoba melepas pelukan Cindi karena melihat tatapan tajam Dita menghujam hatinya.
"Hah? jadi bapak percaya hantu?" tanya Cindi.
"Dia kagak tau kalau lagi ngomong sama hantu tuh Ta." bisik Anita.
"Eh Dita dari tadi di situ?" cindi menoleh pada Dita masih merangkul pinggang Anan.
__ADS_1
"Iya Cin, dari tadi."
"Itu pak, itu hantunya masih ikutin aku terus." ucap Cindi dengan gaya manja nya membenamkan wajahnya pada perut Anan.
Sosok hantu perempuan seram itu memang sedang mengamati Cindi dari luar jendela bukan di hadapan Cindi.
"Mana hantunya Cin, duh maaf tolong lepasin kaus saya." Anan mencoba melepas tangan Cindi dari kausnya.
"Itu pak lagi ngeliatin aku tuh." tunjuk Cindi asal.
"Hmmm modus ini namanya, jadi gemes pengen godain nih." Anita menghampiri Cindi menarik rambut Cindi dari belakang.
"Awwww... tuh kan pak hantunya tarik rambut aku, aku takut pak, aku takut pulang."
Dita memberi aba-aba pada Anita agar tak mengulanginya lagi. "Aku anter pulang yak?" Dita menawari Cindi.
"Sama pak Manan aja Ta."
"Aku bareng sama Dita kok pulangnya."
"Yu udah kalah gitu aku mau dianterin pulang kamu Ta, naik mobil kan?" tanya Cindi.
"Enggak kok, aku sama Manan naik busway sama MRT tadi."
Anan mengangguk.
"Duh, naik taxi aja ya aku lemes nih." pinta Cindi manja.
Anan menoleh pada Dita.
"Ya udah deh kita pesen taxi aja Nan."
"Gak papa nih Ta?" tanya Anan.
"Gak apa-apa." Dita mengambil ponsel Anan memesan taxi online dari aplikasi di ponsel Anan.
"Hmmm ini namanya udah di tolong ngelunjak Ta." sahut Anita gemas menjambak Cindi kembali.
"Awww ... tuh kan pak aku digangguin lagi." ucap Cindi.
"Hadeeehhh...." Dita menghela nafas panjang dan dalam.
***
To be continued
__ADS_1
Happy Reading 😘😘