
Jangan lupa Vote nya sebelum membaca...
Makasih ya...
***
Dita tiba dirumah sakit keluarga Prayoga, ya rumah sakit tempat dulu Dita pernah mencari jasad Dimas dan bertemu dengan Andri.
"Ini kan rumah sakit tempat kamu kerja Ndri?"
Bisik Dita ke Andri saat perawat membawanya ke ruangan perawatan dengan kursi roda.
"Iya, duh jadi kangen aku kerja lagi sama mayat-mayat lah sekarang aku udah jadi mayat."
Anan menepuk bahu Andri menyuruhnya bergeser dari Dita.
Dita mendapat perawatan berupa jahitan di perutnya untungnya luka nya tidak terlalu dalam. Dita memandang langit-langit kamarnya.
"Kira-kira apa yang terjadi dengan Pak Herdi yak?" gumamnya.
"Dipenjara lah." celetuk Anan.
"Hukum mati apa seumur hidup ya Nan?"
tanya Andri.
"Hukum mati kali yak."
"Kasian dong kan bukan dia pelaku sebenarnya." sahut Dita.
"Polisi mana mau terima alasan non logis kaya gitu, aduh kepala aku sakit banget ini ya dadaku juga nyut-nyutan." Anan meremas dada kirinya.
"Yee ada pocong sakit yak? coba minum obat sana, eh emang ada ya obat buat setan, harusnya kan kita gak ngerasain sakit Nan." Andri menyentuh dada Anan lalu mundur beberapa langkah.
"Kenapa elo?" tanya Anan.
"Dada elo itu kenapa ?" Andri menunjuk dada Anan.
"Kenapa sih Ndri, kok aku kepo." Dita memaksa tubuhnya untuk duduk meski nyeri di perut nya masih terasa.
"Dah kamu tiduran aja." Anan membaringkan posisi Dita kembali untuk tidur.
"Tapi aku penasaran." rengek Dita.
"Di dada Anan tuh Ta ada sayatan gitu, liat deh."
Andri menarik kafan Anan menunjukkan bagian dadanya yang terdapat luka sayat.
"Kok aku baru tau yak." Dita mengintip sekilas.
"Udah jangan lama-lama ngintipnya nanti makin kebawah lagi." sahut Anan.
"Idih... pede... kocak... udah ah aku mau tidur dulu, obatnya bikin ngantuk yak hooaaammm..."
__ADS_1
Dita sudah terlelap nyenyak di pembaringannya.
"Cepet banget nih cewe tidur nya." ucap Andri lalu Anan menariknya ke sudut ruangan.
"Elo sama gue jagain Dita dari sini aja." sahut Anan sambil memperhatikan wajah Dita yang terlelap.
"Dasar bucin, ngeliat Dita tidur aja udah senyum-senyum gitu dih.."
Anan langsung menoyor kepala Andri.
***
Keesokan harinya kapten Jihan datang menemui Dita di kamar perawatannya.
"Selamat pagi, bagaimana kabar anda hari ini nona?"
"Pagi... Alhamdulillah baik kapten cantik."
"Baiklah saya langsung saja memberitahukan temuan kami kemarin, jasad teman-teman anda sudah kami temukan."
"Anita dan Tania ya Kapt?" Air mata Dita tak dapat ditahan lagi kesedihan teramat sangat menghinggapinya.
"Tapi bagaimana anda tahu ada mayat di dasar kolam? mayat itu sudah lama terkubur disana sudah lebih dari setahun lamanya sedangkan menurut keterangan Pak Ujang anda baru enam bulan bekerja disitu."
"Apa Kang Ujang baik-baik saja?"
Kapten Jihan mengangguk.
"Syukurlah, anggap saja saya mendapat bisikan tentang hal itu, apa kapten percaya jika saya bilang bertemu hantu Tania?"
"Saat di persidangan nanti, kau pasti di tertawakan hakim dan semua orang yang ada di persidangan." Senyum tipis tersungging dari bibir Kapten Jihan.
"Tapi Kapten percaya tidak?"
"Dengan hantu? Hmmm anak saya sering bercerita melihat hantu, tapi saya rasa itu hanya halusinasi nya saja."
"Siapa tau benar Kapten, apalagi anak kecil."
"Di persidangan nanti hanya hal logis lah yang akan dianggap nona."
"Padahal bukan Pak Herdi pelakunya." gumam Dita.
"Apa?? apa maksud anda ada pelaku lain?"
"Kapten kan tidak percaya kalau aku bilang, Pak Herdi kerasukan iblis dan membunuh semua korban itu, oiya soal Tania dia dibunuh oleh orangtua Pak Herdi dan iblis itu."
"Hmmmm... sulit sekali saya mencerna nya. Baiklah mungkin anda masih butuh istirahat nona, nanti saya kembali lagi menanyakan keterangannya."
"Tapi memang seperti itu yang terjadi, keterangan macam apa yang anda ingin dengar?"
Dita menepuk bantal diatas lututnya itu dengan kesal.
"Saya pamit dulu ya, nanti saya kembali lagi, kita bicarakan lagi."
__ADS_1
Kapten Jihan membelai kepala Dita pelan lalu pamit keluar ruangan.
"Huh... bagaimana caranya ya aku membebaskan Pak Herdi." gumam Dita berusaha untuk berdiri menuju jendela kamarnya.
"Pagi nona, Anandita Mikhaela kan? minum obat dulu yak jangan lupa sarapannya dimakan dulu." ucap suster yang baru sampai di kamar Dita.
"Makasih Suster, aku boleh main ke taman itu gak?"
"Boleh, tapi maaf saya tak bisa menemanimu dengan kursi roda kesana."
"Tak perlu kursi roda Sust, aku bisa jalan sendiri kesana."
"Sebaiknya nanti saja jika infusnya sudah dilepas."
"Kenapa gak sekarang aja sus, bete nih."
"Sebentar ya tunggu dokter visit dulu, ni obatnya yak sudah saya siapkan nanti diminum setelah sarapan."
"Baik suster."
Suster itu pun berlalu meninggalkan ruangan kamar Dita.
***
Baru sesuap Dita memasukkan buburnya Andri sudah datang mengagetkan.
Buuaahhhhhhh... tersemburlah bubur itu ke wajah Andri.
"Ampun deh Ta gue udah disembur aja kaya gini."
"Maaf deh, lagian ngagetin."
"Eh iya kamu pasti gak bakal percaya dengan apa yang aku liat."
"Liat apa?"
"Nanti deh kalo kamu udah lepas infus kita jalan-jalan aku mau bikin kamu surprise..."
"Hmmmm gak seru ah, ceritain aja sih."
Andri menggeleng dengan senyum smirk di wajahnya.
"Anan mana?"
"Nah itu dia yang mau aku kasih tau. Anan juga syok banget tadi terkejut terheran-heran hehehe..."
"Apaan sih Ndri bikin kepo neh..."
"Surprise..."
Andri meledek Dita dengan rasa penasaran yang makin memuncak.
***
__ADS_1
To be continued...
Happy Reading...