Pocong Tampan

Pocong Tampan
Perawatan Cyin


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


"Hari ini aku gak mau ketemu kamu ya." ucap Dita saat sarapan bersama Anan.


"Lah ini ketemu gimana sih?"


"Aku mau nyalon sama Tante Dewi, kata dia gitu, dari ujung kepala sampai ujung kaki." ucap Dita.


"Betul itu." Tante Dewi langsung duduk di kursi makan samping Dita.


"Kamu kalau mau perawatan juga pergi sama Doni." Tante Dewi melahap roti sandwich nya.


"Bagaimana dengan ku?" tanya Kevin yang duduk di samping Anan.


"Kamu bukannya mau kerja ketemu klien via online? udah anteng aja dirumah sampai ada kabar baik dari kapten Jihan, gak mau kan tiba-tiba kamu kecelakaan lagi?"


Tante Dewi menuangkan susu vanila di gelas kevin. Dita dan Anan saling melirik dan menahan tawa karena perbuatan romantis Tante Dewi yang tanpa sadar itu.


"Iya aku tahu, kamu gak mau kan kehilangan aku?" ucap Kevin membuat Tante Dewi tersedak tiba - tiba. Dita menepuk pelan punggung Tante Dewi.


"Kok Tante deg deg an sih kayaknya, kedengeran lho dari sini detak jantungnya." Dita melirik nakal pada Tante Dewi.


"Terus Ta, terus... belum pernah kan gaun pernikahan besok aku koyak - koyak?" ancam Tante Dewi.


"Jangan dong gitu aja sewot ih cantik banget deh Tante, ya om Kevin?" Dita menoleh pada Kevin.


"Bener banget Ta, dia memang selalu cantik." puji Kevin memandangi wajah Tante Dewi.


"Udah kenyang aku, ayo Ta kita berangkat." Tante Dewi menarik tangan Dita.


"Tapi aku belum kenyang Tante." sahut Dita mencoba bertahan di meja makan.


"Nanti Tante traktir."


"Nah gitu dong, ok deh, tunggu minum susu dulu yak."


"Buruan."


"Iya... dah Anan dah om Kevin." Dita mengikuti Tante Dewi.


"Nah ini Doni baru bangun yak?" tanya Dita.


"Enggak kok, habis mandi bertapa di kamar mandi eh ketiduran saking nyamannya tuh kamar mandi hehehe." Doni menggaruk-garuk an kepalanya.

__ADS_1


"Dasar dih, tidur sama Anita ya?"


"Enggak kok, dia ada di kasur tuh."


"Ini pada ngomongin apa sih?" Tante Dewi menyela pembicaraan Dita dan Doni.


"Don kamu temenin Anan perawatan yak, dan jangan ajak si Kevin." Tante Dewi memberi perintah.


"Oke siap Bu bos." Doni memberi hormat pada Tante Dewi.


"Dah Doni." Dita melambaikan jari jemarinya pada Doni dan berlalu pergi.


****


Tante Dewi memesankan sepaket perawatan pengantin untuk Dita di salon ternama di kota itu. "Ini kan mahal Tante." bisik Dita.


"Tenang aja sih, aku yang bayar, pokoknya besok kamu harus totalitas." ucap Tante Dewi.


"Ya elah cuma ke kantor KUA aja sih totalitas Tante, Anan mah suka kok sama aku yang apa adanya."


"Eh kata siapa cuma ke KUA terus udah gitu gak level lah liat aja besok, aku punya kejutan buat kamu." Tante Dewi mengedipkan satu matanya ke Dita.


"Mari silahkan masuk dan berganti pakaian para ladies." sapa salah satu terapis spa di salon itu.


Tante Dewi dan Dita mengikutinya. Mereka mendapat pijatan dengan lulur pengantin di sekujur tubuhnya. Setelahnya di lanjutkan dengan mandi susu di sebuah bath tub yang penuh dengan mahkota bunga mawar merah di atasnya.


"Wangi banget sih berendam disini Tante." ucap Dita


"Kalau berendam di bak kaya gini ia baru pertama kali tapi kalau berendam di bak kamar mandi sering waktu dulu Tante terus aku kasih susu kental manis ke bak berasa mandi susu gitu."


"Ih ya beda Ta, masa susu kaya gitu buat berendam."


"Ya kan gak tau, terus ibu aku ngomel deh kata dia susu buat Ali aku abisin mana badan aku lengket semua."


"Ya iyalah Ta lengket, hadeh." Tante Dewi menepuk dahinya.


Tiba - tiba Dita menuju ke samping Tante Dewi lalu berbalik badan.


"Kenapa Ta? perasaan Tante gak enak nih kalau kamu gitu."


"Hehehe ada yang ngeliatin kita Tante." bisik Dita.


"Jangan mulai deh, pasti hantu kan?"


"Iya kayaknya hantu soalnya tuh perempuan matanya yang kiri gak ada, terus wajahnya sobek gitu tulang pipi nya kelihatan, belatungnya dadah - dadah Tante."


"Stop Ta, jangan diterusin." Tante Dewi meremas tangan Dita ketakutan.


"Mau kenalan gak Tante?"


"Ogah...! awas ya kalau kenalan nanti dia ikut pulang lagi."


Dita menoleh ke belakang tempat hantu itu duduk tadi namun hantu itu sudah menghilang. "Udah gak ada Tante." ucap Dita.

__ADS_1


"Ah syukurlah." Tante Dewi merasa lega mendengarnya.


pluk pluk...


"Apaan nih?" Dita meraih sesuatu yang jatuh ke permukaan air tempat ia berendam.


"Apaan Ta?" tanya Tante Dewi.


"Belatung Tante." Dita menoleh ke atas tepat di langit-langit, hantu perempuan itu sudah menempel di langit-langit tersenyum menyeringai ke arah Dita dan Tante Dewi yang tiba - tiba bisa melihatnya.


"Aaaaaaaaaaaaaa....!!!" keduanya kompak berteriak.


"Kenapa cyin kok pada teriak?" mbak terapis tadi langsung masuk menghampiri. Dita dan Tante Dewi yang sudah melompat keluar dari bath tub menunjuk langit - langit tadi.


"Oh si putri rupanya, eh kamu jangan godain tamu saya, sana pergi, nanti tidak akan saya kasih sajen lho malam ini." ucap mbak terapis itu dengan santainya tanpa takut lalu hantu itu menghilang.


"Kalian bisa melihatnya ya? biasanya mah dia cuma iseng doang gak jahat." ucap mbak terapis ke Dita.


"Yang biasa lihat tuh dia mbak, tapi kok saya barusan lihat yak, duh parno banget nih." ucap Tante Dewi masih ketakutan.


"Memangnya siapa dia mbak?" tanya Dita.


"Penunggu disini, jadi di tiap ruangan ada penghuninya, maklum lahan bekas kuburan, jadi katanya makamnya cuma dibongkar terus tulang belulangnya di tumpuk jadi satu di suatu tempat sama pengembangnya, jahat yak."


"Lah terus mbak kenapa mau sewa tempat disini?" tanya Dita


"Soalnya laku cyin, yuk dilanjut."


"Mbak gak takut gitu?" tanya Tante Dewi.


"Saya mah biasa dari kecil liat kaya gitu, karyawan disini juga rata-rata saya buka mata batinnya biar pada lihat, kalau gak kuat ya gak jadi karyawan sini cyin."


"Beuh horor juga yak." Tante Dewi bergidik ngeri.


"Gak apa-apa cyin tenang aja selama sajennya gak lupa mereka gak akan ganggu, yuk calon nganten nya di ratus." ucap mbak terapis.


"Apaan tuh?" tanya Dita


"Udah ikut aja biar masnya nanti cium - cium wangi gitu cyin."


Dita masih tak mengerti dengan ucapan mbak terapis barusan namun dia tetap mengikutinya.


"Aku ikut deh." sahut Tante Dewi karena takut sendirian.


"Kamu mau ratus juga?" tanya mbak terapisnya.


"Terserah mau diapain aja asal aku ikut." sahut Tante Dewi.


****


To be continued...


Happy Reading guys... jangan lupa votenya mampir ke 9 lives ya 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2