Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Hantu Pipi


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya... Jangan bosen bacanya ya...


Happy Reading 😊😘


*****


Sekembalinya Om Kevin dari luar kota untuk menangani sengketa lahan kliennya di sana, ia lalu mendapat tawaran untuk mengurusi ijin bangunan yang baru di beli Sahid sebulan lalu. Bangunan tersebut di jadikan sebuah warung makan khas timur tengah.


Hari ini, Sahid mengajak Dita dan semuanya untuk mencicipi menu yang akan di hadirkan di restoran tersebut. Doni menjemput Dita, Anta dan Tasya, sementara Pia memilih untuk tinggal di rumah karena merasa tidak enak badan.


Sesampainya di sebuah bangunan dua lantai yang terletak di antara toko pakaian dan minimarket, ternyata Tante Dewi dan Om Kevin sedang berbincang sambil mengamati gedung tersebut. Beberapa tamu undangan Sahid juga sudah hadir di sana.


"Halo semua...!" sapa Sahid ketika mobil Dita sampai di sana.


"Halo!" ucap Dita sambil menggandeng tangan Anta menghampiri Sahid.


"Yuk pada masuk cobain masakan chef Cahyo, dia jago banget masak masakan timur tengah," ucap Sahid mengajak semuanya masuk ke dalam.


"Rencana buka kapan emang?" tanya Dita.


"Secepatnya mungkin dua minggu lagi nunggu Km Kevin urus semua ijin usahanya." sahut Sahid.


"Aihhh keren banget interior nya, ini semua kamu yang buat ya?" tanya Tasya.


"Aku yang design tapi bukan aku yang kerjain nyuruh orang lain aku gak bisa benerin rumah hahaha," ucap Sahid.


"Wuidih ada shisa segala nih," Doni menghampiri rokok ala negeri timur tengah itu.


"Don, ada Anta nanti ikut-ikutan!" cegah Dita menatap tajam ke arah Doni.


"Oh iya nanti aja deh kapan-kapan kalau udah buka main kesini," ucap Doni.


"Iya bener nanti aku kasih free buat kamu," Sahid merangkul Doni.


Seorang Chef pria dan asisten pria lainnya membawa banyak makanan yang di hidangkan di atas meja saji.


"Nah ini kenalin chef Cahyo, masakannya enak banget, terus ini Pak Eko, tadinya pemilik bangunan di sini terus dia jual ke aku, karena Pak Eko juga butuh pekerjaan jadi aku pekerjaan di sini, sekalian nungguin restoran ini," Sahid menepuk punggung Pak Eko.


"Iya saya makasih banyak nih sama Pak Sahid udah bantu keuangan saya," ucap Pak Eko.


"Ah gak usah makasih pak, Itu bukan apa-apa kok, nah Chef coba jelasin makanan apa aja nih?" pinta Sahid.


"Ini ada Haruf Ouzi, daging kaki domba yang dihidangkan dengan nasi dan dilengkapi dengan kacang mete serta saus dari yogurt, lalu ada hidangan pembukanya ada sambosa (pastry), kebbeh laham (daging kambing dengan rempah), dan juga ada nasi kebuli," ucap Chef Cahyo menjelaskan.


"Ennyyaaak...antaaaapp...!" Anta menunjukkan ibu jari kanannya ke arah chef Cahyo.


"Hahahahhaa..." Tawa semuanya menertawakan Anta.


"Yuk semuanya kita cobain makanan ini semua," ucap Sahid mengajak semuanya untuk mencicipi makanan.


Anta melambaikan tangan ke arah belakang tubuh Sahid, hantu anak perempuan yang waktu itu Anta lihat masih berada di dekatnya, hanya saja kali ini hantu tersebut menatap ke arah Pak Eko.


"Mam yuk," ajak Anta menarik lengan hantu anak perempuan itu.


Doni dan Tasya langsung terkejut dan menghindar bersamaan saat Anta membawa hantu anak kecil itu melewati Doni dan Tasya.


"Anta ngomong apa siapa sih?" tanya Sahid berbisik pada Dita.


"Hmmm mungkin temen khayalan dia aja kan anak kecil biasanya suka gitu," sahut Dita masih enggan menjelaskan sambil menyendok nasi kebuli ke piringnya.


"Anak aku bukan cuma punya temen khayalan lho Ta, tapi juga katanya bisa lihat hantu, jangan-jangan Anta bisa lihat hantu," ucap Sahid menerka.


"Iya emang," sahut Dita tanpa sadar.


"Maksud kamu Ta, si Anta bisa lihat hantu?" tanya Sahid menegaskan jawaban Dita.


"Eh maksudnya ya iya emang, mungkin aja kali gitu Anta bisa lihat hantu hehehe," ucap Dita mencoba mencari alasan agar Sahid tak menanyakan hal tersebut lagi.


"Coba ya aku tanya Anta," ucap Sahid lalu menghampiri Anta tanpa bisa di cegah oleh Dita.


"Hai Anta," ucap Sahid sambil duduk di kursi di hadapan Anta.


"Ih om Sahid jahat masa temen Anta di dudukin," ucap Anta dengan bibir maju ke depan seperti mulut bebek.


"Eh maaf om gak sengaja," ucap Sahid lalu berpindah tempat duduk di samping Anta.


"Anta lagi ngomong sama siapa sih?" tanya Sahid.


"Sama Pipi," ucap Anta dengan polosnya.


"Pipi siapa?" tanya Sahid makin penasaran.


"Emmm kan tadi udah aku bilang teman khayalannya Anta, ya sayang ya?" Dita meremas bahu Anta pelan agar Anta mengerti kodenya, sayangnya Anta tidak paham.


"Butan unda, Itu pipi yang temalen itutin om Sahid," ucap Anta dengan polosnya.


"Ikutin aku, maksudnya gimana sih? bener kan kalau Anta bisa lihat hantu, ya kan Ta?" tanya Sahid tak mau mendengar alasan apapun lagi dari Dita.


"Emmm gimana ya, sepertinya iya hehehe," ucap Dita pelan.

__ADS_1


"Tuh kan bener," Sahid menjentikkan jarinya di hadapan Dita.


"Om boleh tanya lagi? kenapa itu hantu ikutin om?" tanya Sahid pada Anta.


"Coba unda yang tanya," sahut Anta menunjuk Dita.


"Maksudnya gimana sih?" tanya Sahid.


"Unda kan juga bisa liat pipi," Anta menunjuk Dita lagi.


aduh punya anak lemes banget mulutnya, keseringan main sama Tasya ini kayaknya.


Gumam Dita sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan menunduk.


"Hah, maksudnya Anta, kamu juga bisa liat hantu juga ya?" pekik Sahid membuat semuanya menoleh.


"Ngomongnya pelan aja biasa aja," bisik Dita.


"Ante Taca cama om Oni juga bisa," ucap Anta.


"Mereka juga bisa lihat hantu? ampun deh kalian ini keturunan apa sih, pada bisa lihat hantu semua," Sahid menepuk jidatnya.


"Heh ini bibir nurunin siapa sih, ember banget..." Dita mencubit bibir Anta dengan gemas.


"Unda tangannya bau mbek," Anta menggerutu.


"Haduh kalian ini lucu banget sih, terus lanjutin cerita yang tadi, kenapa itu hantu ikutin om?" tanya Sahid.


Dita duduk di hadapan Anta.


"Ta awas itu ada... eh iya kamu juga tau ya," ucap Sahid.


"Iya geser ya Pipi," ucap Dita.


"Kamu tahu gak, pantes aja ya saya tuh kayak ada yang nemenin kalau lagi nyetir, kalau di rumah juga gitu suka ada yang lewat sekelebat, kira-kira kenapa ya dia ngikutin aku?" tanya Sahid.


"Ummm kenapa ya, dia belum bilang sih," jawab Dita.


Tak berapa lama Pipi berdiri dan pergi ke arah belakang dekat kamar Pak Eko.


"Unda kok pipi jalan kesana," Anta menunjuk pipi yang berjalan ke arah belakang dekat kamar Pak Eko.


"Itu belakang sana, ruangan apa?" tanya Dita ke Sahid.


"Itu kamar Pak Eko," jawab Sahid. "Emang kenapa sih?" tanya Sahid.


"Itu si hantu kecil jalan ke sana terus menghilang," jawab Dita.


Dita dan Anta mengikuti Sahid sambil mengendap-endap sembunyi dari para tamu menuju kamar Pak Eko.


"Eh ini namanya gak sopan tau masa kita mau masuk ke kamar Pak Eko," bisik Dita.


"Udah terlanjur, tuh gak di kunci, ada kan di dalam si Pipi?" tanya Sahid.


"Ada tuh...!" Anta menunjuk pipi dengan bersuara lantang.


"Sstt jangan kenceng-kenceng Anta, jangan berisik!" Dita menempelkan telunjuknya di depan bibirnya.


Anta langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.


Sahid masuk ke dalam kamar Pak Eko di ikuti Dita dan Anta. Hantu Pipi berdiri di depan rak buku Pak Eko yang terdapat fotonya.


"Itu foto pipi tuh, iya bener itu fotonya," Dita menunjuk foto di rak buku Pak Eko.


"Ini yang namanya pipi, eh dia foto sama Pak Eko sama perempuan juga, jangan-jangan mereka keluarga?" gumam Sahid.


"Nah bisa jadi," sahut Dita.


"Kata pipi iya," sahut Anta yang melihat Pipi mengangguk.


Pipi menunjuk laci buku Pak Eko lalu pergi ke arah laci buku tersebut dan menghilang di sana.


"Unda kok pipi masuk situ sih?" tanya Anta menarik ujung pakaian yang Dita kenakan.


"Ada yang aneh nih?" gumam Dita.


"Maksud kamu Ta?" tanya Sahid.


"Yang udah-udah ya, yang aku takutkan juga nih, jangan-jangan ada jasad dia di sana, jadi dia tuh menghantui dan ngikutin kamu karena dia butuh pertolongan tapi kamu gak peka, dan akhirnya yang peka Anta," ucap Dita menjelaskan.


"Ada apa perlu apa ya, kok pada di kamar saya?" ucap Pak Eko saat memergoki ketiganya berada di kamarnya.


"Enggak, enggak kok pak, tadi si Anta nyasar masuk kesini, pegang-pegang rak buku," ucap Dita langsung membekap mulut Anta agar tidak bicara yang sejujurnya.


"Baiklah silahkan keluar dari kamar saya!" ucap Pak Eko.


"Ayo Anta kita keluar," ajak Dita.


"Tapi unda pipi di situ..."

__ADS_1


"Maaf, dia bilang apa barusan?" tanya Pak Eko menunjuk Anta.


"Bukan apa-apa pak namanya juga anak kecil," sahut Dita.


"Udah deh aku gak suka basa basi Ta, ummm bapak kenal anak ini?" Sahid menunjuk foto Pipi yang telah di kembalikan ke rak buku tadi.


"Memangnya kenapa ya pak?" tanya Pak Eko.


"Anak ini namanya Pipi kan?" tanya Sahid.


Ada raut wajah terkejut terpampang di muka Pak Eko, seolah-olah dia menyembunyikan sesuatu namun tak bisa lagi menyembunyikan hal tersebut.


"Bagaimana anda tau namanya Pipi?" tanya Pak Eko.


"Sudah pak, tolong jelaskan saja apa yang terjadi sama Pipi, karena dia terus menghantui saya," ucap Sahid dengan nada tegas.


"Pipi menghantui bapak?"


Sahid mengangguk mengiyakan.


"Dia... dia... anak saya pak," ucap Pak Eko lalu terduduk lemas dan menangis seketika.


***


Dua tahun yang lalu di gedung yang sama, sebelum di miliki oleh Sahid.


Pak Eko sebelumnya bekerja sebagai kepala kurir, sementara istrinya berjualan bahan-bahan untuk membuat kue dan barang pecah belah lainnya di lantai bawah.


Malam itu terjadi pertengkaran hebat antara Pak Eko dan istrinya. Sang istri menuduh suaminya memiliki wanita idaman lain yaitu mantan suaminya sewaktu pak Eko masih SMA.


Menurut Pak Eko, istrinya itu salah paham. Dia sangat mencintai istrinya dari apapun. Namun, karena terlanjur emosi dan dibutakan oleh api cemburu keesokan harinya istri Pak Eko bertindak sangat biadab. Saat Pak Eko pergi untuk bekerja, Pipi merengek minta di buatkan nasi goreng. Tapi karena terbujuk bisikan setan, istri Pak Eko menghajar kepala Pipi dengan ulekan cobek di tangannya.


Darah mengucur deras dari kepalanya menutupi wajahnya saat Pipi tak sadarkan diri. Bukannya sadar dan menolong Pipi, istri Pak Eko berkali-kali menghantam ulekan cobek tersebut ke kepala dan wajah Pipi sampai ia tewas seketika. Istri Pak Eko duduk di sudut ruangan sambil bersenandung memandangi Pipi yang baru saja tewas di tangannya.


Sepulangnya pak Eko ke rumah dia tampak heran karena istrinya tak membuka toko hari itu. Dia lalu masuk ke dalam rumahnya dan mendapati Pipi sudah tak bernyawa penuh darah di lantai. Di sudut ruangan dekat sofa, istrinya masih duduk dan bersenandung sambil memegangi ulekan yang tadi ia gunakan untuk membunuh Pipi.


Bukannya melapor polisi tapi Pak Eko yang panik malah menyembunyikan anaknya di balik dinding baru yang ia buat. Dirinya terlalu panik dan tak ingin istrinya berada dalam penjara. Pak Eko selalu menyembunyikan istrinya di lantai dua. Dan tak pernah membiarkan istrinya untuk keluar rumah karena kondisinya yang terus menerus depresi seperti orang yang kehilangan jiwa sehatnya.


Pak Eko memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Setiap ada yang menanyakan istri dan anaknya, Pak Eko hanya bilang kalau istrinya sedang sakit dan anaknya yang berusia lima tahun itu membantu merawat ibunya. Sampai akhirnya istri Pak Eko itu meninggal karena terlalu depresi.


***


Sekarang di hadapan Sahid, Dita dan Anta, Pak Eko menangis sejadi-jadinya.


"Maafkan saya pak, maafkan saya," ucap Pak Eko.


"Saya gak nyangka pak, mungkin ini maksud Pipi menghantui saya, bahwa ia ingin di kuburan kan dengan layak dan ingin bapak mengakui kesalahan ayahnya karena telah menyembunyikan jasadnya, sekarang coba bapak jawab dengan jujur apa dia ada di sini, di kubur di area kamar bapak ini?" tanya Sahid.


"Iya pak di belakang rak buku itu," sahut Pak Eko.


"Walaupun bukan bapak yang bunuh Pipi, tapi bapak tetap salah karena menyembunyikan mayat Pipi, Kalau gitu aku telpon kapten Jihan dulu ya," ucap Dita.


"Iya Ta, aku juga mau bubarin tamu yang lain agar tak melihat kejadian ini," ucap Sahid.


Dita menarik lengan Anta dan menceritakan kejadian yang menimpa Pipi kepada Tante Dewi, Om Kevin, Doni dan Tasya. Mereka sangat miris dan sedih mendengarnya.


Anta memeluk Pipi yang pamit karena kini dia sudah tenang setelah tulang belulangnya di kuburkan dengan layak nantinya.


Setelah Kapten Jihan datang, proses evakuasi pun di lakukan dan jasad pipi akan dikuburkan dengan layak karena kondisinya yang tinggal tulang belakang, jadi tidak di lakukan autopsi. Pak Eko pun di amankan oleh Kapten Jihan dan mempertanggung jawabkan perbuatannya karena telah menyembunyikan mayat Pipi, anaknya sendiri.


Saat berada di luar gedung milik Sahid, Dita memandangi sosok hitam yang tiba-tiba muncul di seberang sana. Dia lalu memanggil Pak Herdi untuk datang dan menyelidiki sosok tersebut.


"Siapa ya pak, itu hantu apa manusia ya?" tanya Dita ke Pak Herdi.


"Coba saya mendekat kesana ya," sahut Pak Herdi.


Tiba-tiba dari arah kanan Dita, muncul sebuah truk yang terlihat oleng dan akan menabrak Anta yang terlepas dari genggaman tangan Tante Dewi.


"ANTAAAAAAAAA....!!!"


Teriak Dita dengan sekuat tenaganya.


*****


Bersambung...


To be continued...


Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku


“WITH GHOST”


ramaikan disana.


Baca juga :


-          Kakakku Cinta Pertamaku


-          9 Lives

__ADS_1


-          Gue Bukan Player


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2