
Dear readers tersayang... Jangan lupa sebelum membaca di Like and komentar di babnya. Kalau sudah habis membaca jangan lupa juga buat Vote pakai poin kalian buat dapetin Giveaway dari Vie. Rate bintang lima juga ya.
Terima kasih and Happy Reading. 😘😊
******
Dita memijit tombol speaker di hadapannya, lalu menarik nafas dalam dan berteriak dengan kencang.
"TOLONG....!!!"
Tak lama kemudian tim Engineering pihak rumah sakit datang untuk membuka pintu lift tersebut.
Dita dan Tasya segera di keluarkan dari sana. Keduanya lalu berpelukan sambil menangis.
"Kok, jadi kayak habis nonton drama sih," gumam Pak Herdi.
"Dah... semuanya... Saya seneng deh akhirnya setelah lima tahun sendirian ada juga yang bisa saya ajak curhat tanpa ketakutan," ucap Hantu wanita dalam lift itu.
"Au amat, ogah lagi saya ketemu kamu! makanya lain kali jangan banyak utang kartu kredit, pusing kan cicilannya, huuuu..." Dita mengomeli hantu wanita dalam lift yang tersenyum meringis itu.
Pluk.
Kepala hantu itu terlepas lagi dan jatuh ke lantai. Kini ia sibuk mencari kepalanya yang jatuh.
"Wuaaaaa...!" Tasya menarik tangan Dita menuju kamar Doni dengan cara menaiki tangga darurat.
"Itu Mbak-nya pada kenapa ya?" tanya salah satu pekerja tersebut.
"Mungkin stres gara-gara kekunci dalam lift, jadi rada syok gitu," sahut salah satu temannya.
"Bisa jadi, sih."
Akhirnya Dita dan Tasya sampai di kamar Doni.
"Sya, Ta, coba lihat itu!" tunjuk Pak Herdi pada tubuh Doni yang terbaring dengan menutup selimut di seluruh tubuhnya.
"Gak mungkin, Doni...." Teriak Tasya seraya menghamburkan tubuhnya memeluk Doni.
Dita langsung menangis di bahu Pak Herdi. Ia tak menyangka kalau Mark akan tega menghabisi Doni.
"Kita terlambat, Ta. Doni udah mati huhuhu... Aku mohon Doni, jangan mati." Tasya menangis tersedu-sedu. Air mata yang bercampur dengan cairan dari hidungnya menetes bersamaan di atas selimut yang menutupi wajah Doni.
"Kok, asin ya."
Suara yang dikenal Tasya dan Dita itu keluar begitu saja dari bibir Doni.
Tasya menghentikan tangisannya lalu menoleh ke arah Dita yang sudah menyeka air matanya.
"Apa Doni jadi hantu, Ta?" tanya Tasya.
Selimut yang menutupi wajah Doni lalu tertarik oleh tangan Doni dan pria itu lalu mengubah posisinya menjadi duduk.
"Waaaaaa..." Tasya berteriak menjauh dari Doni dan menghampiri Dita.
"Pada kenapa sih, terus muka aku kok basah sih agak asin-asin nih?" tanya Doni.
Dita dan Tasya saling bertatapan satu sama lain. Pak Herdi lalu menghampiri Doni dan menampar pipinya.
"Aduh! sakit Pak!" teriak Doni mengaduh seraya mengusap pipinya yang terasa panas.
__ADS_1
"Dia belum mati, tuh buktinya sakit," ucap Pak Herdi menunjuk ke arah Doni.
"Iyalah sakit, saya masih hidup kok, emangnya pada nyangkain saya mati, ya?" tanya Doni.
"Beneran kamu masih hidup, Don?" tanya Dita.
"Iya saya masih hidup, pada kenapa sih?"
"Gak ada Mark datang ke sini gitu?" tanya Tasya.
"Enggak tuh, emang dia ke sini, wah ngajak ribut tuh orang, mana orangnya, berani-beraninya ngelawan Doni," sahut Doni.
"Aduh, untunglah... kirain tadi Mark ke sini mau balas dendam sama kamu, kita udah ketakutan aja nih," ucap Dita.
Tasya langsung menghamburkan dirinya memeluk Doni. Wajah Doni langsung sumringah mendapat pelukan dari Tasya. Ia langsung membalas pelukan Tasya seraya tersenyum senang. Doni menunjukkan dua ibu jarinya pada Pak Herdi lalu memeluk Tasya lagi.
Dita menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Doni.
"Eh apa-apaan ini, kok bisa-bisanya mau peluk suami saya?" hardik Mitha yang tiba-tiba datang meneriaki Tasya.
Tasya langsung tersadar dan melepas pelukannya dari Doni. Dia juga menyeka air mata dari pipinya.
"Kamu siapa, melarang saya peluk istri saya sendiri?" Doni gantian menghardik Mitha.
"Saya ini istri kamu, Don. Bukan dia!" teriak Mitha.
Dita menutup wajah seraya menggeleng setwlah melihat adegan drama di hadapannya ini.
"Duduk sini, Ta. Kamu kan lagi hamil nanti capek lagi," Pak Herdi mempersilahkan Dita untuk duduk.
"Makasih, Pak."
"Kamu itu suami aku, dan aku itu istri kamu," ucap Mitha bersikeras.
"Gak mau, aku gak tau ya siapa kamu, yang jelas dia istri aku," sahut Doni menunjuk ke arah Tasya.
"Haduh, si Doni mah cari perkara aja," gumam Tasya dengan suara pelan.
"Tapi, Don... aku sedang hamil dan mengandung anak kamu," ucap Mitha.
"Hah? gimana bisa, kamu kan bukan istri aku," ucap Doni masih bersikeras.
Tiba-tiba perut Mitha terasa sakit, tendangan yang kuat terasa kencang dari dalam perutnya dan membuatnya kesakitan.
"Aaawww! sakit...!" pekik Mitha lalu ia menjerit kesakitan.
Dita segera menolong Mitha dan membawanya untuk duduk di sofa.
Betapa terkejutnya Dita saat melihat perut Mitha yang seolah-olah muncul kaki kecil di permukaan kulit perutnya sedang menendang perut Mitha dari dalam.
"Astagfirullahaladzim... apa itu bayi kamu?" tanya Dita.
"Sakit, aduh sakit...!"
Doni langsung turun dari ranjang dan ikut mengamati perut Mitha.
Kaki bayi muncul lagi di permukaan kulit Mitha terlihat seperti hendak keluar dari perut Mitha. Sontak saja membuat Doni dan Tasya mundur karena terkejut.
"Apa itu?" tanya Doni.
__ADS_1
"Ini anak kamu, dia marah sama kamu aarrgghh!" teriak Mitha kesakitan.
"Ini gak mungkin, Mitha. Usia kandungan kamu tuh sama seperti aku, sekitar dua bulan atau tiga bulan, tapi kaki bayi kamu terlihat besar," ucap Dita mencoba menyentuh perut Mitha yang pergerakan bayinya sangat terasa.
"Aargghh sakit...! tau apa kamu soal perkembangan bayi di dalam perut aku," sahut Mitha dengan nada kesal pada Dita.
"Kita periksa ke dokter kandungan supaya lebih jelasnya," ajak Dita.
"Gak usah, gak perlu! Awwww...!" teriak Mitha.
"Ih ngeselin ya lama-lama, mau saya jambak gak rambut perempuan ini, Ta?" Pak Herdi menimpali dengan nada kesal.
Dita memberi kode jangan dengan gelengan kepalanya.
"Tasya panggil suster, kita bawa Mitha ke ruang gawat darurat," perintah Dita.
"Gak perlu, aku cuma perlu suami aku, Doni tolongin aku, mungkin bayi ini minta kamu elus-elus," pinta Mitha.
"Enggak, enggak, aku enggak mau," ucap Doni ketakutan melihat perut Mitha yang bergerak-gerak.
"Tasya, cepat panggil suster!" Dita mengejutkan Tasya yang juga ketakutan melihat perut Mitha yang mulai membesar perlahan.
"Iya, iya, aku cari suster." Tasya segera bergegas mencari pertolongan.
Teriakan demi teriakan dan erangan demi erangan muncul dari Mitha. Wanita itu merasa sangat kesakitan.
Tak lama kemudian muncul satu orang suster yang kemudian meraih kursi roda untuk membawa Mitha menuju ruang gawat darurat.
Dita, Tasya dan Doni mengikutinya.
"Eh tunggu, nyangkut nih selang infusnya," ucap Doni.
Pak Herdi segera membantu Doni memegangi alat infus dan melompat di belakang Doni.
"Lho, itu kok selangnya melayang," ucap salah satu pengunjung pasien yang melintas dengan wajah ketakutan.
"Oh iya lupa, nih Don pegang sendiri." Pak Herdi langsung memberikan infus tersebut pada Doni.
"Salah lihat, Bu. Nih buktinya infusnya ada di tangan saya," ucap Doni.
Pengunjung wanita itu langsung mengucek kedua matanya berkali-kali lalu bergumam, "Saya salah lihat kali, ya."
Doni segera mempercepat langkahnya menyusul Dita dan Tasya.
******
Bersambung...
Mampir juga ke :
- 9 Lives
- Diculik Cinta
- With Ghost
- Forced To Love
- Kakakku Cinta Pertamaku
__ADS_1
Vie Love You All... 😘😘