Pocong Tampan

Pocong Tampan
Percobaan Merasuki (Part 2)


__ADS_3

Jangan lupa sebelum membaca klik like and vote yak... Demi kelanjutan cerita Anan dan Dita 😁


Lebih bahagia lagi kalau aku dapet koin dari kalian ahaaayyy... love you all happy reading...


😘😊


***


"Ih si tempe angus... sialan banget, mau elo apain raga adek gue woy..!!" Anan menghampiri tubuh Manan lalu mengguncang tubuh Manan.


"Anan hati-hati nanti Manan kenapa kenapa!" Dita bergegas mengenakan pakaian masuk keruang ICU.


"Uhuk uhuk... sesek banget gue didalem." sahut Andri yang keluar dari tubuh Manan.


Anan langsung meninju Andri sampai jatuh ke lantai.


"Udah ah stop dari tadi ribut gak kelar-kelar." Dita membetulkan posisi bantal Manan yang miring.


"Ganteng ya Ta, cakepan ini sama Anan." sahut Anita.


"Ah nyari ribut ih Anita mah tuh liat Anan lagi panas sama Andri pake bilang cakepan ini."


bisik Dita sambil melotot ke arah Anita.


"Tapi iya kan cakepan ini hehehe." bisik Anita.


"Iya emang cakep ini hihihi." sahut Dita.


"Oh jadi gitu?? suara hati kamu aja aku denger apalagi bisikan kamu."


Anan sudah bertolak pinggang dihadapan Dita.


"Eh si ganteng ... duh Anan cakep banget ya Nit?" Dita menginjak kaki Anita.


"I iya ganteng parah... pocong paling tampan yang pernah aku temuin." Anita membantu Dita merayu Anan.


"Emang kamu pernah ketemu pocong lain Nit?" tanya Andri yang sudah berdiri merapikan dan membersihkan pakaiannya.


"Enggak sih baru dia doang pocong yang aku lihat hehehe." ucap Anita.


"Tuh kaan... paham kan Nan maksud gue?" Andri menggoda Anan yang makin kesal.


"Udah ah udah please kasian nih Manan jadi keganggu."


"Awas elo coba - coba lagi masuk ke raga adek gue." ancam Anan ke Andri.


"Coba Nan kamu yang masuk aku penasaran." ucap Anita.


Anan memandang kearah Dita dan mengiyakan apa yang Anita barusan ucap.


Anan memandangi Manan sejenak, mengitari ranjangnya dan meyakinkan dirinya untuk merasuki Manan.


"Aku pinjem tubuh kamu ya Nan." bisiknya.


Dita mundur beberapa langkah melihat Anan sudah berbaring di atas tubuh Manan.


Ceklek.... pintu ruangan ICU itu terbuka.


"Dita...!! apa-apaan kamu ada disini ?"


Dokter Dewi sudah masuk keruangan ICU Manan membuat Dita terkejut menoleh.


"Tante kau tau aku disini?"


"Satpam yang bilang liat kamu di cctv masuk kesini." sahut dokter Dewi dengan nada agak tinggi.


"Maaf Tante, Dita cuma penasaran mau itu." Dita menunjuk tubuh Manan yang berbaring.


"Apa yang kamu mau lakuin ke Manan?" dokter Dewi menghampiri Dita lalu mengguncang bahu Dita.


"Dita cuma mau... emmm... itu, Tante ... itu... em... anu.."

__ADS_1


"Kenapa Ta, jelasin sama aku..!"


"Tante liat tuh tangannya gerak !" Dita menunjuk reaksi tubuh Manan yang bergerak.


"Manan... kamu kamu sadar Nak." dokter Dewi melepas cengkeramannya dari pundak Dita.


Tubuh Manan lalu membuka mata perlahan dan menoleh ke arah Dita mengulurkan tangannya. "Dita..." ucapnya lirih.


Dokter Dewi melepas masker bantuan nafas di wajah Manan.


"Alhamdulillah Anan akhirnya kamu sadar juga." dokter Dewi memeluk tubuh Manan.


"Ini aku Tante, Anan." ucapnya lirih.


"HAH.... Kamu... Anan...?"


Anan mengangguk mencoba untuk duduk di ranjangnya.


BRUK....!!!


Dokter Dewi tak sadarkan diri jatuh ke lantai.


***


Tim medis melepaskan semua alat yang menempel di tubuh Manan pagi itu. Akhirnya percobaan Dita berhasil membuat Anan masuk ke tubuh Manan. Anan dipindahkan ke ruang perawatan dengan infus masih menempel di tubuhnya karena tubuhnya masih terasa lemas.


Dita sedang mengipasi dokter Dewi yang sedari tadi belum sadar.


"Ta... aku dimana?" ucap lirih dokter Dewi yang akhirnya sadar dari pingsannya.


"Tante.. jangan nakutin aku dong." Dita memeluk tubuh dokter Dewi.


"Aku masih dirumah sakit ya?"


"Iya, Tante tuh pingsan dari semalem, gak ngerti deh pingsan apa terlanjur tidur, yang pasti nih liat mata aku kaya panda ngejagain Tante semaleman."


Dita kesal menunjukkan mata panda nya ke dokter Dewi.


"Hehehe aku terlanjur tidur kali yak. Lagian kamu juga salah kan kenapa enggak ngomong sebelumnya kalo Anan mau masuk ke tubuh Manan?"


"HAH...?? ANDRI...?? mau ngapain dia masuk ke tubuh Manan?"


"Tau kangen kali sama Tante." sahut Dita cuek.


"Maksud kamu?"


"Enggak Tante maaf gak ada maksud."


Duh keceplosan deh jadi takut diusir aku nih.


"Aku gak suka yak kamu bahas Andri di depan aku, terus Anan sekarang mana?"


"Di ruang perawatan di koridor sebrang ruangan ini." jawab Dita.


"Ayo antar aku ke sana!" dokter Dewi sudah langsung turun dari ranjangnya menuju ruang perawatan Anan.


Sesampainya diruangan Anan dokter Dewi menghampiri nya dan...


Plak...!!


Dokter Dewi menampar pipi kiri Anan.


"Kamu mau ngapain masuk ke tubuh Manan?"


"Aduh sakit Tante, maafin aku, aku cuma disuruh Dita."


Anan menunjuk Dita melimpahkan kesalahan padanya.


"Dih kok aku?" tunjuk Dita pada diri sendiri.


"Ya kan ini ide kamu." balas Anan.

__ADS_1


"Udah setop berantemnya. Jadi ini maksudnya apa?"


"Aku cuma mau coba tante, ternyata tubuh Anan cocok sama Manan."


"Ya iyalah mereka kembar ya cocok, Jantung Anan aja cocok ada di tubuh Manan, terus sekarang mau apa?"


"Menyelidiki kematian aku Tante." jawab Anan.


"Terus kalo kamu mati lagi gimana?"


"Ya jangan sampe Tante, doain aja yang baik-baik." sahut Dita.


"Sampai kapan nih kaya gini?"


"Sekuatnya tubuh Manan di rasukin Anan Tante." Dita masih menunduk mengucapkannya.


"Duh gimana ini yak nanti..." dokter Dewi mondar - mandir di hadapan Anan dan Dita.


"Gimana apanya Tante?" tanya Dita yang mencegat dokter Dewi agar berhenti mondar-mandir.


"Berita ini pasti sampai ke orang tua Anan, terus Tante harus bilang apa kalau mereka sampai pulang kesini buat liat si Anan?"


"Ya bilang aja Manan udah sadar."


jawab Anan.


"Mami kamu pasti ngenalin tingkah laku kalian, itu yang Tante khawatirkan."


"Kalau gitu Tante ajarin aku yak, aku akan belajar tingkah laku nya Manan." Anan menggenggam tangan Tantenya itu.


Dokter Dewi menatap Anan dengan lekat menyentuh pipinya lalu memeluk Anan, air matanya tak dapat terbendung lagi kali ini.


"Aku ikut peluk boleh gak?" pinta dita


"Sini kamu...!" Dokter Dewi meraih Dita kedalam pelukannya bersama Anan.


Pelukan kali ini terasa hangat menyenangkan tak seperti semalam yang terasa sesak bahkan agak panas menurut hati dokter Dewi.


***


Infus Anan sudah bisa di lepas namun hari itu dia tak boleh pulang jadi Dita mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah Adelia.


"Banyak banget makannya sumpah, nanti gendut lho Nan." ucap Dita yang melihat Anan sedang makan piring ketiga nasi goreng rumah sakit.


"Enak Ta soalnya, cobain deh."


"Ada ya pasien nambah porsi makanannya, ckckkckc untung situ anak yang punya rumah sakit."


"Tapi emang ini enak."


"Ya tapi gak banyak gitu juga kali nanti kalo roti sobek aku ilang gimana." Dita melirik perut Anan.


"Roti sobek ? mana ada roti sih disini." sahut Anan.


"Ada tuh." tunjuk Dita ke perut Anan namun Anan masih tak mengerti dengan ucapan Dita.


"Dih... polos banget sih nih cowok, lebih polos dari aku ternyata."


Dita menghampiri Anan lalu mengangkat kaus Anan menunjuk kan perut kotak-kotak yang Manan punya.


"Eh apa apaan nih main buka aja, mesum juga nih si Dita." sahut Anan namun tetap membiarkan Dita menarik kausnya.


"Ini waktu hidupnya si Manan rajin nge gym kali yak ckckkckc sempurna banget nih perut."


"Perut aku juga kaya gini kok aslinya kamu aja gak pernah liat." Anan menyahut kesal.


"Ckckkckc masih pagi woy udah buka-bukaan aja."


Andri datang tiba-tiba masuk keruangan perawatan Anan membuat Dita terkejut dan melepas kaus Anan yang dia tarik tadi.


***

__ADS_1


To be continued...


Happy Reading... 😘😘😘


__ADS_2