
Dita berlari mencari Pak Herdi di coffee shop dalam gedung rumah sakit.
"Udah selesai Ta?" tanya Pak Herdi melihat Dita yang nafasnya tersengal-sengal.
"Udah pak, hosh hosh, udah yuk pak pulang."
"Kami duduk dulu gih minum dulu yak aku pesenin."
Dita melirik americano milik Pak Herdi.
"Ini aja pak, aku abisin hehehe."
Setelah menghabiskan setengah cup penuh kopi milik Pak Herdi Dita lalu menarik tangan pak Herdi buru-buru ke mobil Pak Herdi di parkiran.
"Jalan pak udah magrib soalnya."
Dita melihat sekeliling nya takut menyaksikan beberapa sosok hantu rumah sakit yang nantinya berkeliaran mengikutinya.
"Kamu kenapa sih kaya ketakutan gitu?" tanya Pak Herdi sambil fokus menyetir.
"Hehehehe masa sih pak, capek kali pak tadi nganu aku lari lari kirain bapak udah pulang."
"Kamu ada - ada aja Ta, jangan lupa ya besok pagi kita ke Bogor."
"Oke deh pak."
***
"Kak Dita, aku udah daftar program beasiswa ke Singapur, besok ujiannya."
Ucap Jessie saat Dita sedang merenung di teras rumahnya malam itu.
"Kak Dita..? kak?" Jessie menarik kaos yang Dita pakai.
"Eh kenapa Jess?"
"Kakak ngelamun yak? gak dengerin aku sih."
"Ah kakak denger kok, mau ujian kan? semangat yak!!"
"Aku mau belajar sama kakak boleh yak?"
Dita menggerakkan gelang ditangannya tak ada penampakan Anan.
"Kak Dita...!!"
"Eh iya boleh ayo belajar."
"Sama kakak aja Jess." sahut Andri yang tiba-tiba muncul di teras.
"Thanks ya Ta buat hari ini, sekarang aku bantuin kamu, kalo kamu cari Anan tuh lagi ngumpet di balik semak itu." Andri menunjuk semak-semak di depan rumah Dita.
"Masa dia ngumpet sih?"
"Ho'oh... WOI lontong kisut... muncul loh!!"
Anan perlahan muncul dari tempat persembunyiannya.
"Ohhh jadi rupanya kamu disitu, gak mau ketemu aku lagi meski aku panggil?" Ucap Dita sambil bertolak pinggang.
__ADS_1
"Ayo Jess kedalem, takut perang dunia ke tiga kan serem." Andri menarik Jessi ke dalam.
"Hai sini kamu..!"
Dita menunjuk Anan menjentikkan jarinya ke arahnya.
"Kamu marah?" tanya Dita .
"Kenapa harus marah, aku kan bukan siapa - siapa kamu."
"Kamu kan penjaga aku, Anan tampan Anan ganteng."
"Cuma penjaga kamu kan? gak lebih."
"Maksudnya apa sih? kamu suka sama aku? cieeee jatuh cinta ya sama aku uhuy."
Dita menggoda Anan dengan ucapannya sambil mengibaskan rambutnya di depan Anan.
Anan menghampiri Dita lalu...
Cup...
Sebuah kecupan mendarat di bibir Dita membuat tubuh Dita membeku dan seolah waktu terhenti malam itu.
"Mana perang nya kak, malah romantis gitu hihihi." Bisik Jessie mengintip dari balik jendela bersama Andri.
"Anak kecil harusnya gak usah liat yang kaya gini." Andri menutupi wajah Jessie dengan jemarinya namun ditepis oleh Jessie.
***
Alarm ponsel Dita berdering tanda ia harus melaksanakan solat subuh nya. Selepas subuh Dita tertidur kembali sampai ponselnya berdering tertulis sambungan telepon dari Pak Herdi.
"Oh iya pak saya lupa bentar ya pak, aku baru bangun soalnya hehehe." ucap Dita.
"Oke buruan yak."
Akhirnya pak Herdi dan Dita sampai di sebuah desa di Bogor. Kebetulan para korban kecelakaan kerja di wahana kolam renang milik Pak Herdi itu adalah saudara sepupu yang jarak rumahnya tak jauh satu sama lain.
"Bapak siapa?" tanya seorang ibu yang sedang menyapu di teras rumahnya itu.
"Permisi Bu, ini rumah Asep sama Pian?" tanya Pak Herdi.
"Iya ini rumah Pian kalo Asep dua rumah dari sini, ada perlu apa ya?"
"Saya pemilik wahana tempat mereka bekerja Bu."
"Oh bapak teh bosnya yak? atu masuk apa mari."
Dita dan Pak Herdi mengikuti arahan ibu tadi dan duduk di teras.
"Bu maaf, saya boleh pinjem kamar mandinya?" tanya Dita.
"Silahkan neng lurus aja terus ke kiri."
"Makasih ya Bu, pak aku pipis dulu yak."
Pak Herdi mengangguk lalu mengeluarkan amplop yang dan kertas - kertas dari dalam map-nya.
"Astagfirullahaladzim... kamu Pian yak? aduh yang tenang ya please ke alam kamu tuh uang buat keluarga kamu udah dianterin sama Pak Bos."
__ADS_1
ucap Dita yang terkejut melihat sosok Pian yang berdiri di sudut dapur dengan perut robek dan usus terburai itu sedang menatap tajam ke arah Dita.
Dita buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.
Saat Dita keluar kamar mandi sosok Pian itu masih ada disana.
"Kamu gak minta tolong kan sama aku?"
Sosok hantu Pian menggeleng.
"Oke kalo gitu selamat jalan yak."
"Berhati-hatilah, jaga diri mu baik-baik." ucap sosok hantu Pian sambil tersenyum lalu menghilang.
"I i iya makasih kang." ucap Dita lirih.
Pak Herdi sudah menyelesaikan semua berkas dan menyerahkan amplop uang pada ibunya Pian lalu bergegas pindah ke rumah Asep untuk memberikan hal serupa Ama seperti Pian.
Pak Herdi dan Dita disambut seorang laki-laki tua dan seorang perempuan yang ternyata Ibu dan kakek si Asep.
Mereka mempersilahkan Dita dan Pak Herdi untuk duduk di ruang tamu mereka namun di samping Dita muncul sosok hantu tanpa kepala yang pastinya milik Asep.
Itu kepalanya kenapa di taro di meja kaya celengan tanah liat aja mana ngeliatin aku lagi matanya duh.
"Ta tolong ambilin kertas yang dimap itu."
Dita tak merespon arahan Pak Herdi sampai pak Herdi menepuk paha Dita.
"Itu kepalanya pegang aja bang." Dita keceplosan terkejut dengan tepukan dari Pak Herdi.
"Kepala apa Ta?" tanya Pak Herdi heran.
"Enggak pak, maaf lagi gak konsen, kenapa pak?"
"Map saya deh semua tolong kesiniin."
Dita menyerahkan map yang ada dipangkuan nya sambil melirik ke arah kepala Asep yang di atas meja itu sedang tersenyum padanya.
"Pak Dita ijin keluar ya agak gerah maaf." bisik Dita mencari alasan karena tak tahan dengan bau anyir dari leher Asep yang terpenggal.
"Ahhhh akhirnya bisa nafas juga." ucap Dita menghirup udara segar di beranda rumah Asep.
Dita menoleh ke arah bangku depan teras rumah Asep yang ternyata sudah diduduki Asep dengan memangku potongan kepalanya kali ini.
"Kamu udah tenang kan? gak bakal gangguin aku nih?"
Asep tersenyum lalu mengucapkan terima kasih dan berpesan yang sama seperti pesan yang Pian ucapkan tadi lalu menghilang.
"Ahhhh akhirnya pada ilang juga kirain bakal ngikutin aku kerumah duh gak kebayang bakal sempit tuh rumah, apalagi Tania makin keki aja kalo nambah hantu baru keliaran dirumah ckckkckcc nasib punya temen manusia cuma Anita doang sisanya hantu sabarin Dita yaa Allah."
Dita menepuk - nepuk dadanya sambil menghirup udara dalam-dalam.
****
To be continued...
Happy Reading...
Makasih yang udah like dan kasih Vote...
__ADS_1
Mohon dukungannya selalu... 😍😍😘😘