Pocong Tampan

Pocong Tampan
Mar Berbicara


__ADS_3

Sosok pocong berwajah merah itu sudah berdiri tegap di belakang Dita yang masih merinding tak bisa menggerakkan kakinya.


"Nan... gimana ini nan..." Dita mencoba meminta tolong pada Anan.


Anan memegang kedua bahu Dita dan membalikan badannya Dita sekarang menghadap om pocong merah.


"Aa aa hai.. om..." Sapa Dita terbata-bata."


Sosok pocong itu hanya menatap Dita tercium bau anyir darah dengan kain kafan yang lusuh dari tubuh di hadapan Dita itu.


"Om namanya Be Be Be Beno bukan om." Dita makin terbata-bata ketakutan mencoba untuk tenang namun sulit.


Waktu berhadapan dengan pocong Anan berbeda dengan pocong yang sekarang. Anan bersih mulus berwajah tampan lah pocong yang sekarang wajah nya merah seram mata melotot bahkan hampir copot, kainnya lusuh bau anyir darah masih tercium dari sosok itu.


"Nan... ini gimana?" Dita masih berhadapan dengan om pocong merah yang masih menatapnya.


"Coba kamu deketin dia biar dia bisa bisikin kamu." Anan coba memberi saran.


"Hah..!! Gilak apa masa aku deketin dia sih. bau banget ini gak tahan"


batin Dita yang disambut tawa cekikikan Anan yang sedang duduk sekarang di terasnya.


"Nanti juga biasa, aku aja pernah ketemu yang lebih serem dari ini." Ucap Anan dengan santainya.


"Aduh gimana ini ya? om mau bilang apa sih sama aku." Dita mencoba berbicara dengan wajah tertunduk takut menatap wajah om pocong itu.


"Sidik." ucap om pocong itu akhirnya.


"Apaan om maaf kurang jelas, duh maaf nih ya om sebelumnya." Dita mencoba mendekati sosok itu dengan menutup hidungnya menahan bau anyir dari tubuh pocong itu.


"Sidik... Sidik Purnomo." ucap sosok itu.


"Sidik Purnomo? dia kenapa om si sidik?"


"Neng Dita ngapain jam segini di luar rumah sendirian?" Pak RT yang sedang ber siskamling ria mengangetkan Dita dengan suara beratnya.


Dita menoleh kearah om pocong merah itu namun sudah menghilang.


"Eng enggak pak, Dita lagi menghirup udara pagi." ucap Dita bingung mau mencari alasan apa.


"Masih gelap neng, entar di temenin setan loh." Pak RT menggoda Dita mencoba menakutinya lalu pamit pergi.


"Iya pak gak jadi deh olahraganya masih gelap ternyata, makasih ya pak." Dita melambai pada pak RT yang menjauh pergi.


"Jiah pak RT dia gak tau aja dari tadi aku udah di temenin setan." Dita mencari sosok Anan lalu menariknya masuk ke dalam rumah Tante Fani.


Mar terbangun sedang memandangi Dita.

__ADS_1


Lalu Mar menoleh memandangi ke arah jendela, dilihatnya di balik tirai jendela sosok om pocong merah tadi sedang berdiri tegak disana.


"Aaaaaaaaa."


Mar berteriak untuk pertama kalinya selama setahun ini ia mengeluarkan suara meski hanya teriakan. Tante Fani langsung terbangun dan memeluk Mar yang jatuh pingsan.


***


Ke esokan harinya Mar jatuh sakit badannya demam dan menggigil. Tante Fani sudah membawanya ke klinik namun Mar masih demam.


"Kakak Dita mah." ucap Mar.


"Kenapa Mar?" tanya Tante Fani pada putrinya itu.


"Kakak Dita."


"Iya Mar, kakak disini." Dita menghampiri Mar di kasurnya.


Mar tersenyum ke arah Dita.


"Kakak semalam Mar mimpiin papa."


Bibir mungilnya kini bersuara dan membuat Tante Fani takjub setelah sekian lama tak mendengar suara putri nya itu.


"Iya mimpi nya gimana sayang?" tanya Dita.


"Maksudnya gimana Mar, mama gak ngerti."


Tante Fani berusaha mencari jawaban dari Mar namun lama kelamaan dia mengantuk dan tertidur.


Dita membelai-belai rambut Mar sampai dia pulas.


"Tante gak ngerti deh Ta, kenapa Mar bisa begini?"


"Tante mohon maaf sebelumnya tapi Dita mau berangkat kerja dulu. Nanti pulang kerja Dita jelasin semuanya ya tante."


"Oke deh Tante libur kerja dulu hari ini, kamu kerja gih makasih sebelumnya yak."


"Dita yang makasih Tante boleh nginep disini, pamit ya Tante, Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


***


"Kunci rumahku mana Nit?"


"Sorry kebawa di tasku hehehe." Anita menyerahkan kunci dengan gantungan miniatur menara Eiffel ke tangan Dita.

__ADS_1


"Terus kamu tidur dimana?" tanya Anita.


"Dirumah Tante Fani sebelah rumah ku." jawab Dita.


"Oh kirain diluar gitu deket pot bunga."


"Awww." Dita menjambak rambut Anita meluapkan kekesalannya.


Jam istirahat kerja Dita akhirnya tiba.


"Sebagai permohonan maaf aku beliin bakmie yang di ujung jalan sana yak." Anita tersenyum manis pada Dita.


"Cakep...!! gih buru laper nih." sahut Dita.


Anita mengambil kunci lalu pergi mengendarai sepeda motor baru nya saat itu.


"Ah ke mess belakang ah."


Dita melangkah kan kakinya ke mess belakang mencari keberadaan hantu perempuan yang waktu itu.


Bau kemenyan menusuk hidung Dita pastinya pak Ujang yang sudah menaruh sesajen agar arwah perempuan itu tenang.


"Kau mencariku." sosok hantu perempuan itu sudah berada di depan Dita dengan kaki penuh darah yang mengucur dari luka di perutnya yang terbuka. Wajahnya hancur penuh luka dan darah serta biji mata kanan yang hampir copot itu sudah berada di depan Dita.


"Astagfirullahaladzim... waktu itu kan kamu cantik, tolong lah jangan tunjukin seremnya kamu."


pinta Dita memohon sambil menutup matanya.


"Ini kan aku apa adanya."


"Tania sudahlah perlihatkan wajah cantikmu."


Dita masih memohon merapatkan kedua telapak tangannya didepan wajah nya masih menutup mata tak mau melihat kengerian itu.


"Bagaimana kau tau namaku?" tanya hantu perempuan itu.


"Pergi...! jangan ganggu neng Dita!"


Pak Ujang tiba-tiba hadir membuat hantu perempuan itu menghilang dari hadapan Dita.


***


To be continued...


Happy Reading...


jangan lupa like and votenya yak..😘😘

__ADS_1


__ADS_2