Pocong Tampan

Pocong Tampan
Di Cafe


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


"Hadeh... rese banget sih, maaf ya mbak, mbak itu maunya ap.... aaaaaaaaa."


teriak Dita saat tiba-tiba kesal malah memandang wajah hantu perempuan itu.


"Kamu yang maju Nit." Dita bersembunyi di belakang Anita.


"Kamu aja yang maju Ta." Anita berbalik badan bersembunyi di belakang Dita.


Adegan berpindah posisi itu berulang terus sampai ke tiga kalinya.


"Mau sampai kapan kita kaya gini?" ucap Dita kesal menghentakkan satu kakinya kelantai.


Dita menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya agar membuat tubuhnya terasa rileks. Lalu Dita memberanikan diri menoleh ke arah hantu itu.


Setengah wajahnya tertutup oleh rambutnya yang dibiarkan tergerai namun setengah wajahnya lagi terlihat pucat dengan bola mata berwarna hitam menyeramkan senyum menyeringai terpampang di bibirnya.


"Mbak kita mau keluar ya, please boleh yak?" ucap Dita berusaha menatap wajah hantu itu.


Hantu itu menyelip kan rambutnya kebelakang telinganya memperlihatkan wajahnya yang sebagian lagi. Terlihat rongga mata tanpa bola mata, lalu dibagian pipinya terdapat sayatan lebar menyeruak, tulang pipi nya terlihat.


Hantu itu memberikan sisir yang dipegangnya ke tangan Dita lalu melangkahkan kaki nya ke depan cermin. Menoleh sebentar pada Dita.


"Mbak nya mau aku sisirin?" tanya Dita penuh ketakutan. Hantu perempuan itu mengangguk.


"Kamu aja Nit, nih kan sebangsamu?"


"Lah kan sisirnya dikasihnya ke kamu."


Dita melangkah pelan-pelan menghampiri hantu itu, mengarahkan tangannya ke rambut hantu itu pelan-pelan menyisir rambut hantu itu.


"Kayaknya matinya kesetrum di salon nih belum sempet catok." ucap Anita.


Dita menoleh pada Anita sambil melotot. "Gantian nih."


Anita menggeleng. "Kamu aja Ta, aku udah pernah nyisir rambut nenek-nenek waktu di mobil taxi online hayo."


Hantu perempuan itu mengisyaratkan dua jari yang bergerak seperti gunting pada cermin dan Dita melihatnya.

__ADS_1


"Hah, minta di potong rambutnya?" tanya Dita dan hantu perempuan itu mengangguk.


"Bener kan mati di salon nih kayanya belom tuntas potong rambut." sahut Anita.


"Cepet sana cari gunting Nit, panggil Anan apa Doni, buruan...!"


"Yakin nih ditinggal sama dia."


"Udah cepet buruan..!!"


"Oke...!" Anita berlari keluar dari toilet mengajak Anan ikut serta sambil membawa gunting yang dia pinjam dari meja kasir.


"Kamu enggak boleh masuk Nan, tunggu disini ya." ucap Anita menahan Anan di pintu depan toilet wanita lalu masuk ke dalam.


"Nih Ta guntingnya." Anita menyerahkan pada Dita.


"Hmmmm lama banget nih, mbaknya wangi banget soalnya nih kayanya sebulan apa setahun gak mandi nih."


Hantu perempuan itu menoleh ke Dita.


"Becanda mbak, biasa dong ngeliatinnya."


"Weits udah akrab nih, gak mau di ajak pulang Ta?"


"Kamu mau nemenin?"


"Enggak enggak enggak becanda hehehee."


"Oke mbak, mau potong model apa?" tanya Dita.


Hantu itu menunjuk lehernya.


"Oh seleher." Dita memulai memotong rambut hantu itu namun rambut hantu itu malah berjatuhan berubah menjadi ular kecil.


"Nit, ini gimana dong... ? takut nih...!"


"Langsung potong sekenanya aja Ta."


"Mbak maaf ya ini potongan model terbaru."


sraaaakk...


Dita memotong asal rambut hantu itu asal lalu segera pergi kabur keluar toilet bersama Anita.


BRUG...!


"Kamu kenapa sih Ta, lari-larian dari toilet?" Anan meringis kesakitan tertabrak Dita.


"Udah buruan yuk, keburu aku di komplain gara-gara salah potong." Dita menarik lengan Anan.

__ADS_1


"Salah potong gimana sih?"


"Dita habis main salon-salon sama hantu di toilet itu nan, makanya tadi aku minta bawain gunting kan"


Anita menyusul langkah Anan dan Dita.


"Lho aku pikir tuh bakal ada adegan menusuk hantu gitu taunya main salon-salonan."


"Ih kamu mah, mana aku tau kalau tuh hantu cuma minta disisir terus potong rambut coba tuh, kan ngeselin mana rambutnya jadi ular kecil hiiiyy."


"Lah ada-ada aja tuh hantu."


"Nan jam berapa nih?"


"Jam sepuluh."


"Ya ampun nanti Tante Dewi marah lho kemaleman."


"Oh iya, ayok deh pulang." ajak Anan lalu pamit pada Shane dan pergi ke parkiran mobilnya.


"Don, elo gak ikut ?"


"Mau kemana pak?"


"Pulang lah, elo mau tinggal dirumah gue kan?"


"Eh iya saya lupa, oke pak. Shane makasih yak, oh iya ini kentang di meja aku bawa pulang yak." ucap Doni pada Shane.


"Lah masih maruk aja lho kaya dulu, bawa sana bawa." sahut Shane tersenyum lalu melambai pada Anan dan Dita.


"Ta, ngumpet Ta, noh mbaknya nyariin kayanya mau komplain deh sama potongan kamu." Anita langsung mengajak Dita masuk ke mobil Anan dan menunduk bersembunyi.


Doni tak sengaja menabrak hantu perempuan tadi. Mati-matian dia berusaha untuk tak melihat dan cuek agar hantu perempuan itu tak mengikutinya. Doni berlari menuju mobil Anan.


"Ja..jjjjaaa... jalan pak." ucap Doni.


"Iya Nan, jalan buruan!" Dita masih menunduk menepuk bahu Anan.


"Oke, oke sabar." Anan langsung melajukan mobilnya menuju apartemen nya.


"Hah selamat, aku gak bisa bayangin kalo tuh cewek ikut kita." ucap Dita lega.


"Tadi itu hantu serem banget yak enggak ada matanya ih..." sahut Doni.


"Kalau temenan sama gue dan Dita siap-siap aja Don ketemu kaya tadi setiap hari."


Doni menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menghela nafas dalam.


***

__ADS_1


To be continued...


Happy Reading 😘😘😘


__ADS_2