Pocong Tampan

Pocong Tampan
Menuju Pernikahan


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


"Ta enggak ada yang ikut kan?" Tante Dewi melingkarkan tangannya di lengan Dita.


"Gak ada tenang aja, makan yuk Tante laper nih." rengek Dita.


"Yee ini calon nganten makan terus pikirannya bukannya diet, tuh perut kamu udah buncit."


Dita melirik ke perutnya yang semakin buncit tak rata lagi. "Gak apa-apa Tante, Anan kan cinta sama aku apa adanya." ucap Dita bangga.


"Hmmm speechless dah ah." Tante Dewi mengikuti tarikan tangan Dita menuju sebuah warung bakso di seberang salon.


"Gak jadi Tante cari tempat lain." bisik Dita.


"Kenapa sih Ta?"


"Tuh ada mesin penjilat tak tampak di pojokan." tunjuk Dita.


"Maksudnya?"


"Yuk cari tempat lain, mesinnya ngeliatin." Dita buru-buru menarik Tante Dewi.


Tante Dewi dan Dita memutuskan memesan siomay pada tukang siomay di gerobak yang melintas. Mereka duduk di dalam mobil sambil mengunyah siomay dan meminum sebotol air mineral yang berada di dalam mobil.


"Emang kenapa sih Ta tadi di tempat baksonya?" tanya Tante Dewi masih penasaran.


"Oh tadi, itu lho ada mesin penjilat, maksudnya makhluk pesugihan yang jilatin mangkoknya sebelum di pakai mungkin biar tambah enak kali."


"Ih yang ada mah tambah eneg kali."


"Ya yang lihat tambah eneg yang enggak lihat kan tambah enak, makanya tempat yang kaya gitu biasanya enaknya makan disitu, kalau dibawa pulang rasanya beda deh."


"Hmmm aneh-aneh aja ya cara orang cari duit sekarang."


"Ya gitu deh Tante, kalau gak kuat iman ya pesugihan yang penting mah cepet kaya."


"Siomay ini gimana Ta?" tanya Tante Dewi sambil menoleh ke gerobak Abang siomay yang masih laris manis melayani pembeli di hadapan mobil Tante Dewi yang terparkir di pinggir jalan komplek perumahan.

__ADS_1


"Ummm kayaknya sih abangnya gak bawa siapa - siapa sih, gak ada yang aneh, paling banter nih ikannya pakai ikan sapu-sapu yang ambilnya dari kali terus kalinya yang ada ****** nya." ucap Dita lalu tertawa terbahak-bahak.


"Dita...! rese nih orang lagi makan juga." pekik Tante Dewi.


"Hehehe becanda Tante, aman ini mah emang enak kok siomaynya." ucap Dita lalu memesan satu porsi siomay lagi.


****


Di rumah besar Anan.


"Gimana Don bisa Lo hubungi si Shane?" tanya Anan sambil duduk di tepi kolam renang rumah besar nya itu.


"Udah bos, kata dia besok malam dia bisa main tapi lokasinya dimana bos?" tanya Doni masih asik berenang.


"Gue pesen kamar deh di hotel xx, terus elo cari obat yang bisa bikin mereka nge fly terus gak bisa bohong." Anan menyeruput jus jeruknya.


"Besok malam bos? emang bos gak mau malam pertama apa sama kak Dita?"


"Gue kan nikah jam sepuluh pulangnya langsung lah sama Dita gak usah nunggu malam pertama gue mau siang pertama aja sama Dita hahaha." sahut Anan tertawa dengan senangnya.


Iya in aja lah, yang penting bos ku seneng.


batin Doni menatap Anan aneh karena begitu senangnya Anan tertawa sendiri.


"Saya boleh gabung?" tanya Kevin yang datang dari dalam rumah.


"Oh boleh om silahkan." sahut Anan.


"Apa Lo tofu basi mau ikut berenang juga? gak ada gedebong pisang macam Lo ngambang di air." ledek Anan.


"Kamu ngomong sama siapa Nan?" tanya pak Kevin.


"Itu si Herdi di belakang om."


Pak Kevin menoleh ke belakang bulu di tengkuknya meremang seketika.


"Cuekin aja pak, dulu juga saya takut sekarang mah udah biasa." sahut Doni yang mengerti karena melihat oak Kevin ketakutan.


"Tapi kalo sering gini saya bisa stres juga nih takutnya hehehe."


"Tuh dia stres gara-gara Lo." ucap Anan ke pak Herdi.


"Saya stres lihat kamu ngomong sendiri malah Nan." sahut pak Kevin. Pak Herdi langsung tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Dia aja tau siapa yang stres hahaha." pak Herdi meledek Anan.


Anan langsung menarik ikatan pocong pak Herdi membawa tubuh pak Herdi jatuh ke lantai. Mereka saling memiting dan menindih satu sama lain, lalu bergulingan ria sampai masuk ke dalam kolam renang.


Byur... wajah pak Kevin terkena cipratan air kolam nya.

__ADS_1


"Cuekin aja pak, udah biasa pak bos ber smackdown gitu sama pak Herdi."


ucap Doni yang menepi, tangannya di cengkeram pak Kevin tiba-tiba karena dia ketakutan melihat Anan yang bergerak sendiri tak jelas.


****


Di kamar tamu, kamar tempat sosok nyai berada.


"Rupanya kamu masih disitu ya?" ucap Aiko memandang lukisan nyai di kamar itu.


"Aku tahu kau bisa keluar dari situ, kenapa kau harus bersembunyi dari ku sih? huh seandainya kau tahu apa yang terjadi pada Arjuna, sayangnya kau tak bisa lagi menyentuhnya." ucap Aiko lalu pergi dari ruangan itu. Lukisan nyai mengeluarkan air mata yang menetes.


****


Sore itu kapten Jihan mengunjungi Pak Kevin dia membawa kabar kemajuan tentang kasus kematian pak Herdi. Orang yang membawa makanan untuk para napi waktu itu telah di temukan identitasnya, namun tersangka keburu menghilang dan sekarang sedang dalam pencarian polisi.


"Jadi jika dia tertangkap dan mengaku siapa yang menyuruhnya maka akan ada tersangka baru dalam kasus pembunuhan ini." ucap kapten Jihan.


"Bagaimana dengan Anwar om nya pak Herdi kapten?" tanya Dita.


"Belum ada bukti yang mengarah kepadanya namun saya sudah memerintahkan anak buah saya untuk mengawasi gerak-gerik nya Ta, eh sepertinya Tante kamu makin akrab sama pak Kevin?"


Kapten Jihan dan Dita melirik Tante Dewi yang berusaha menghindari rangkulan Kevin namun tak bisa.


"Ia kep, siapa tau jodoh hihihi." bisik Dita.


"Oh iya kapten, terserah sih mau percaya apa enggak, kapten kan udah tau ya aku bisa lihat yang gak keliatan, ummm ada yang aneh sama rumah besar di sebrang situ." ucap Dita.


"Maksudnya Ta?" tanya kapten Jihan.


"Ada pocong yang selalu datang kesini bahkan ibu Mey juga lihat, nah dia selalu minta dibukain ikatan pocongnya, terus ternyata dia berasal dari rumah besar itu."


"Kenapa gak buka aja Ta iketannya mungkin dia gerah hehehe."


"Ih becandaan kapten garing, itu ikatan gak bisa ku buka, sepertinya harus di buka langsung di kuburannya." ucap Dita.


"Lah saya gimana mau cari kuburannya di rumah itu, atas dasar apa coba saya kesana?" tanya Kapten Jihan.


"Iya ya, hmmm." Dita menoleh pada pak Herdi dan Anita.


"Tenang Ta, nanti aku sama pak bos bakal kesana." sahut Anita.


"Nanti aku kabarin kapten deh tentang rumah itu." ucap Dita ke kapten Jihan.


****


To be continued...

__ADS_1


Happy Reading...


Jangan lupa mampir ke 9 lives ya 😘😘😘


__ADS_2