
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up. Vie mohon dong, mohon banget, jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh.
Mampir ya ke Novel terbaru aku yang uwwu
"Diculik Cinta" yang siap mengocok perut kalian.
Happy Reading...
******
"Oke, aku akan mencari tubuh lain, tapi tetap juga aku berharap Anan pergi dari Dita," ucap Mark.
"Kau benar-benar menyukai wanita itu, ya?"
Mark mengangguk, lalu ia pergi dari hadapan Tuan Worm hendak mencari keberadaan Dita dan tau kondisi terkininya.
Tuan Worm tersenyum kecut saat Mark pergi.
"Ketika kau sudah jatuh cinta dan bertekuk lutut di hadapan perempuan itu, yang ku takutkan adalah kau akan melupakan misimu, sebaiknya aku yang urus pencarian tubuh untukku bertahan dengan mengorbankannya," lirih dia berucap pada dirinya sendiri lalu pergi menggunakan mobil vw-nya.
***
Terjadi kerusuhan di ruang pemeriksaan spesialis ginekolog Dokter Nicky. Dita sampai dibuat pusing oleh ulah Anan yang selalu saja melarang ada sentuhan dari Dokter Nicky ke tubuh istrinya. Bahkan dokter pun tak boleh melihat ke arah perut Dita.
"Lalu, bagaimana saya bisa memeriksa istri anda?" tanya Dokter Nicky yang kedua matanya sudah di tutup oleh kedua tangan Anan dari belakang.
"Suster aja yang pegang, nah dokter, mukanya lihat ke layar monitor ini aja!" sahut Anan memberi perintah.
Suster di ruangan itu menahan tawanya seraya menatap ke arah Dita yang menggeleng-gelengkan kepalanya sedari tadi. Sesekali Dita menepuk dahinya karena malu.
"Duh..., tau gitu tadi mah Tante Dewi aja yang periksa aku, biar dia ikut masuk ke dalam seni," gumam Dita.
"Gak apa nyonya, saya juga pernah menemukan suami yang lebih parah posesifnya dari ini," ucap Dokter Nicky seraya mengamati layar monitor.
"Apa anda sudah telat haid?" tanyanya.
"Sepertinya ia, oh iya udah dua minggu saya belum datang bulan," ucap Dita mulai dengan raut wajah berbinar-binar bahagia.
"Hmmm iya benar ini janin anda, di monitor ini usianya sih baru 5 minggu, tapi sepertinya janinnya lebih besar dari usia janin 5 minggu pada umumnya," ucap Dokter Nicky seraya mengernyitkan dahinya dan sesekali membetulkan posisi kaca matanya.
"Selamat anda akan mempunyai anak," ucap Dokter Nicky seraya menjabat tangan Anan yang tak bisa berkata apa-apa. Matanya terbelalak dan mulut yang menganga terperangah seakan tak percaya dengan yang ia dengar.
"Wah, dokter gak bohong kan?" tanya Anan meyakinkan dirinya sekali lagi.
"Anda lihat sendiri kan di layar monitor? itu bakal jadi bayi anda nanti," tunjuk Dokter Nicky seraya menunjuk ke arah layar monitor.
"Yang kayak kecebong ini bakalan jadi ganteng kayak saya?" Anan ikut-ikutan menunjuk ke arah layar.
Suster dan Dokter Nicky berusaha menahan tawanya melihat kelakuan Anan.
"Heh! sembarangan kecebong!" Dita menepuk bahu Anan dengan kesal.
"Habisnya kecil gini, bunda."
"Itu nanti bakalan jadi bayi," sahut Dita.
"Yah, lama lagi dong nunggu 8 bulan baru lahir, duh gak sabar nih, bunda...."
Anan langsung memeluk Dita.
"Makasih ya, sudah menjadi ibu dari anak-anakku," lirihnya.
"Aaahh..., manis banget sih," ucap suster itu seraya memeluk dirinya sendiri dengan gemas.
Anan dan Dita lalu pamit dari hadapan Dokter Nicky.
Mereka langsung menemui Tante Dewi dan memberitahukan mengenai kabar kehamilan Dita.
Anan dan sang Tante itu langsung berpegangan tangan dan berjingkrak-jingkrak dengan senangnya di hadapan Dita. Mark yang hendak melintas menahan langkahnya dan bersembunyi untuk mendengarkan apa yang terjadi pada Dita.
"Oh... rupanya Dita sedang hamil anak Anan, hmmm aku harus segera mengatasinya. Jika Dita punya anak lagi dari Anan, maka makin sulit peluangku untuk mendapatkannya." gumam Mark.
__ADS_1
***
Sementara itu di sekolah Anta.
Logan sedang makan bersama dengan Anta di kantin.
"Kenapa kamu gak mau main sama yang lain?" tanya Logan.
"Mereka yang gak mau main sama Anta," sahut Anta seraya mengunyah roti panggang buatan Tasya.
"Kok, gitu sih?"
"Emang mereka yang gak mau main sama Anta, mungkin mereka takut sama Anta, katanya Anta serem," jawabnya.
"Hah, Anta serem? serem kenapa memangnya?" tanya Logan lalu menyeruput secangkir kopi hitamnya yang bersanding dengan roti croisant.
"Iya katanya mereka Anta ngomong sendiri terus jadi Anta dibilang serem. Padahal kan Anta gak ngomong sendiri," ucap Anta lagi.
"Emang Anta ngomong sama siapa kalau gak ngomong sendirian?" tanya Logan lagi.
"Anta itu ngomong sama temen Anta lah, tapi cuma Anta yang bisa lihat."
"Maksudnya hantu?" tanya Logan.
"Iya, tapi bukan cuma Anta yang bisa lihat, Yanda, bunda, tante Tasya, dan tante Yerry juga bisa lihat," ucap Anta dengan polosnya tanpa sadar ia keceplosan memberi tahun tentang indera keenam yang dimiliki oleh beberapa orang terdekatnya.
Logan sempat terkejut tapi masih berusaha mencerna dengan akal pikiran logisnya. Mungkin saja para keluarganya sengaja bilang mereka bisa melihat sesuatu yang dilihat Anta untuk menyenangkan hati gadis kecil ini.
"Oh, gitu. Jadi mereka semua bisa lihat hantu?" tanya Logan.
"Iya, bisa. Bapak gak percaya ya?" tanya Anta.
"Bapak percaya kok, udah yuk lanjut lagi makannya."
"Hmmm bapak gak percaya sama Anta, tunggu bentar. Rian sini deh, coba kamu geser roti Anta ke arah kamu," ucap Anta pada hantu Rian yang duduk di sampingnya.
Roti panggang dalam kotak Anta lalu bergeser ke arah Rian.
"Uhuk... uhuk..." Logan langsung tersedak saking terkejutnya melihat pergerakan benda itu barusan. Ia mencoba mencari sesuatu seperti benang halus. Mungkin saja kan, Anta sedang mengerjainya dengan jahil kali ini.
"Ummm... kok bisa bergerak ya, bisa bergeser?" gumamnya.
"Tuh, kan. Gak percaya deh pasti sama Anta, kan Anta udah bilang kalau Anta punya temen hantu," Anta tetap saja bersikeras meyakinkan Logan.
Bel tanda waktu istirahat telah usai. Logan segera memerintahkan Anta untuk segera kembali ke kelas.
"Dah, Pak Logan...." ucap Anta seraya melambaikan tangannya.
"Daya imajinasi anak ini memang besar kali ya, apa tadi barusan aku ikut berhalusinasi karena ucapan Anta barusan," gumam Logan.
Tiba-tiba cangkir kopinya bergeser menjauh.
"Apa, itu? kenapa bisa pindah ya?" tanya Logan pada diri sendiri.
Rian berusaha jahil padanya sambil tertawa, kemudian pergi menuju kelas meninggalkan Logan yang masih terperanjat mulai ketakutan.
***
Dita dan Anan memutuskan untuk datang ke restoran sementara Tante Dewi memilih pergi ke pusat perbelanjaan menghilangkan penatnya.
Anan langsung tidak memperbolehkan Dita untuk memasak.
"Cukup arahkan aku saja, biar aku sama juru masak baru ini yang eksekusi makanannya," ucap Anan.
"Nama saya Laura, Pak," sahut Laura memperkenalkan dirinya pada Anan.
"Oh iya Laura, halo apa kabar, silahkan anda bekerja lagi ya, terima kasih." Anan menjabat singkat tangan Laura dengan tatapan datar mempersilahkan Laura bekerja kembali ke tempatnya.
Dita duduk manis di sisi dapur memperhatikan Anan yang kembali sibuk bekerja. Laura mengambil alih makanan sementara Anan mengambil alih minuman dan hidangan pencuci mulut.
Suara pergerakan ular besar menuruni tangga terdengar ke telinga Dita.
"Eh Ratu, tumben turun," ucap Dita.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi suamimu?" tanya Ratu Sanca.
"Ia sudah lebih baik, oh iya tadi aku ke rumah sakit, Ratu tau , gak?" tanya Dita.
"Enggak."
"Oh iya ya, kan aku belum kasih tau hehehe, aku tuh lagi hamil, hehehe."
Dita mengusap perutnya memutar seraya tersenyum.
"Ah... kamu hamil, Ta? Huaaaaaa selamat ya...."
Tasya yang tak sengaja mendengar langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat. Dari kejauhan Jerry juga menghentikan mencatat menu yang di pesan pengunjung.
"Sebentar ya, kak. Nanti saya balik lagi," ucap Jerry lalu berlari kecil menghampiri Dita untuk ikut memeluknya. Namun, langkahnya terhenti tak jadi memeluknya karena melihat sosok Ratu Sanca si ular besar sudah berada di samping Dita dan Tasya.
"Huuaaa... ada dia lagi, gak jadi deh nanti aja ya, Mbak Dita, aku peluk kamu nanti."
Jerry kembali lagi ke meja tamu tadi untuk mencatatkan menu pesanan.
"Udah balik lagi kerja, aku gak boleh bantu apa- apa dulu nih sama Anan," keluh Dita.
"Aku juga, aku gak mau kamu kerja apa-apa dulu, jaga janin kamu baik-baik, jangan capek-capek, awas lho!"
Tasya memberi peringatan pada Dita.
"Oke...."
Tasya kembali membantu Jerry menghidangkan makanan ke tamu masing-masing.
Tiba-tiba tangan Dita terasa gatal. Muncul kemerahan di punggung tangan sebelah kirinya. Semakin digaruk semakin mudah terluka dan mengelupas seperti borok. Kemudian, belatung kecil yang halus berjatuhan dari punggung tangan yang ia garuk.
"Astagfirullah, ini kan...."
Dita langsung menutupinya dari Anan dan bergegas menaiki tangga.
"Kamu mau ke mana, bunda?" tanya Anan dengan suara lantang.
"Aku mau tiduran bentar, ya," sahut Dita dari anak tangga.
"Oke," ucap Anan lalu kembali ke dapur.
Ratu Sanca mengikuti Dita menuju lantai dua.
"Apa yang terjadi?" tanya Ratu Sanca.
"Ini luka yang sama yang diderita Anan, dan sekarang ada padaku," ucap Dita.
"Kali ini terimalah jantungku!" pinta Ratu Sanca.
Dita hanya terdiam menatapnya penuh haru.
"Aku tak bisa, Ratu."
"Pikirkan lagi janinmu, apa kau mau parasit itu menggerogoti bayimu nanti di dalam kandungan?" tanya sang Ratu dengan suara meninggi.
Dita meletakkan tangannya di perutnya. Dipikirkan lagi ucapan Ratu Sanca yang ada benarnya. Tapi, ia juga tak tega jika harus membuat Ratu Sanca mati.
Dita menatap Ratu Sanca dengan lekat lalu memeluknya.
*******
Bersambung ya...
Mampir juga ke :
- Diculik Cinta
- With Ghost
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
__ADS_1
- Kakakku Cinta Pertamaku
Vie Love You All... 😘😘😘