
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak ... apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget yak... thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
"Yak dan....mmmmuuuahh." Anita dengan gemas menyimak adegan romantis Anan dan Dita.
Tring.... pintu lift terbuka .
"Heh...! Kalian berdua...!! pada ngapain di situ?" ucap dokter Dewi.
Dita buru-buru mendorong tubuh Anan menjauh.
"Yah gagal deh aku liat adegan romantis nya." sahut Anita kecewa.
"Dicariin dari tadi taunya kelayapan, terus pada ngapain mojok disini?" tanya dokter Dewi.
"Emmm anu tadi Dita bawa Anan ngeliat James hehehe." sahut Dita.
"Semuanya ikut Tante !" perintah dokter Dewi.
Anan dan Dita mengikuti Tante Dewi menuju ruangannya.
"Eh semua yak, berarti aku ikut ya Ta?"
Dita menoleh pada Anita, tanpa perlu dijawab juga Anita sudah mengekor pada Dita.
Diruangan dokter Dewi Andri sedang terbaring di sofa menyilang kan kakinya. Anan yang pura-pura tidak melihat sengaja duduk di tubuh Andri.
"Nih mentang-mentang punya tubuh manusia ngelunjak sama gue, aarrghhh."
Duuugg...! Anan terjatuh ke lantai akibat didorong Andri. Anan balik kembali ke sofa menindih tubuh Andri dan melakukan hal yang sama.
"Nih kenapa sih dari tadi malah main perosotan di sofa gitu?" ucap dokter Dewi.
"Hehehe ni Tante gemes banget aku sama ni tempe angus ngapain coba dia tiduran disini." Anan memiting kepala Andri namun Tante Dewi hanya melihat Anan memeluk udara sementara Dita tertawa cekikikan bersama Anita.
"Tempe angus?"
"Hahahaha itu si Andri Tante, kan aslinya ada angus - angusnya gitu makanya si Anan kasih panggilan sayang tempe angus." sahut Dita .
"Idih najiiisss panggilan sayang." ucap Anan yang sekarang posisinya tercekik oleh lengan Andri.
"Ampun gak elo Tong.." ucap Andri menahan leher Anan dengan lengan atasnya.
"Berati Andri gosong dong Ta?" dokter Dewi mundur dari sofa agak takut membayangkan tubuh gosong Andri.
"Eh bilangin dia Ta, aku masih ganteng kok kaya Amir Khan aktor India favorit dia dulu."
__ADS_1
ucap Andri melepas lengannya lalu mendorong Anan.
Dita menahan Anan kali ini agar tak membalas Andri. "Cukup...!" ucap Dita.
Dokter Dewi sudah duduk di kursi kerjanya mengangkat gagang telpon dan menyambungkan dengan seseorang di sana.
"Nan, nih papi kamu mau ngomong." dokter Dewi memberikan gagang telpon itu ke Anan.
Dita dan dokter Dewi menyimak pembicaraan Anan dan papinya. Andri memainkan ujung rambut dokter Dewi membelainya dan memainkannya lagi membuat bulu tengkuk dokter Dewi meremang.
"Perasaan kok merinding sih Ta." ucapnya.
Sebelum Dita bersuara Andri sudah menaruh telunjuknya di bibirnya tanda Dita jangan berkata apapun.
"Dih dasar Playboy cap tikus nyingnying." sahut Anita merebahkan tubuhnya di samping Dita.
"Gimana Nan, apa kata papi mu?" tanya dokter y penasaran.
"Aku di suruh ke Jepang , soalnya mami masih terapi disana." jawab Anan.
"Terus kapan kamu ke Jepang?" tanya dokter Dewi lagi.
"Enggak ah aku disini aja, aku bilang aja aku juga masih terapi di sini."
"Kamu kan gak terapi Nan, cuma pinjem badannya Manan kenapa harus boong."
Bbbuuuaaahh... tenggakan air yang barusan Dita minum tersembur ke wajah Anita disampingnya.
"Ih Dita aku di sembur.." Anita mengusap wajahnya.
"Sorry Nit, Kok jadi alasannya aku?" tanya Dita.
"Iyalah nanti kamu siapa yang jagain, belum lagi kalau kamu ke goda sama cowok lain." gerutu Anan.
"Hahaha jadi.... kalian itu emm..." dokter Dewi mengetuk-ngetukan kedua telunjuknya sambil menggoda Anan dan Dita.
Anan mengangguk pasti menghampiri Dita duduk disamping Dita menggeser paksa Anita lalu merangkul Dita.
"Cocok kan Tante?" tanya Anan.
Dokter Dewi hanya tersenyum lalu meraih kunci mobilnya.
"Enggak cocok tuh katanya, lepas ah malu." Dita menepis rangkulan Anan.
"Mau kemana Tante?" tanya Dita.
"Pulangin Anan ke rumahnya, yuk ikut."
"Aku pulang??"
__ADS_1
"Iya lah emang kamu mau pake baju rumah sakit terus? lagian mana mungkin kamu tinggal sama Tante jelas-jelas nanti bisa berduaan sama Dita, mengkhawatirkan."
"Lah biasanya juga Anan dirumah Tante kok sama Dita, ya Ta?" Anan merangkul Dita.
"Eh enggak, enggak berduaan Tante ada Anita ada Andri juga ada si Jen, ada Bani sama Adel." Dita menepis rangkulan Anan kembali.
"APA...?! banyak banget sih penghuni lain di rumah Tante, terus pada tidur dimana itu?"
"Mereka mampir doang kok cuma Anita yang tidur sama aku." sahut Dita.
"Pokoknya gak bisa Anan gak boleh tinggal sama Tante, kalo mampir boleh tapi jangan berduaan titik...!" perintah Tante.
"Yesss, emang enak udah keliatan jadi manusia, gue dong masih bisa mondar mandir ke dalam apartemen tanpa terlihat ." Andri menggoda Anan yang makin memasang wajah cemberut nya.
"Gue bakal pesen penangkal arwah supaya gak pada bisa masuk ke rumah tante." ucap Anan kesal.
Anita menepuk bahu Anan,
"Sembarangan terus aku gimana hayo..?"
Anan meringis mengusap bahunya. "Hehehe iya maaf lupa Nit."
Dita dan Dokter Dewi sudah melangkah keluar menuju parkiran, Anan berlari kecil mengikuti keduanya.
"Tunggu Tante, aku beli ayam goreng dulu." ucap Dita
"Buat apa Tante gak laper kok, emang kamu laper?"
"Bukan, aku udah janji sama om item."
"Ah om item, siapa lagi itu?" dokter Dewi menepuk jidatnya lalu masuk kedalam mobilnya memperhatikan Dita.
Dita menaruh dua potong ayam goreng di sudut bawah pohon nangka besar rumah om item. "Besok aku masakin opor ayam lagi, hari ini ayam goreng dulu yak om." ucap Dita.
"Kamu ih pesugihan yak, taro makanan di bawah pohon sekalian aja sama sajennya Ta."
"Ide bagus Tante , biar om item gak gangguin Tante hiiy.." goda Dita yang masuk ke dalam mobil.
"Tante gak suka ya becandanya." dokter Dewi menatap Dita kesal.
"Hehehehe iya becanda Tante."
Anan mengusap kepala Dita dengan lembut dari kursi belakang. Dokter Dewi menoleh membuat Anan melepas sentuhannya. Di samping Anan sudah duduk Andri dan Anita sedari tadi mengikuti mereka pulang menuju rumah Anan.
***
To be continued....
Happy Reading...😘😘
__ADS_1