Pocong Tampan

Pocong Tampan
Papanya Mar


__ADS_3

"Saya anter kamu sampe sini ya Ta."


Ucap Pak Herdi menurunkan Dita di gerbang rumah kontrakan nya.


"Iya pak, saya makasih banyak lho pak banyak banget belanjaan saya jadinya."


"Sama-sama." Pak Herdi tersenyum masih berada di tempat kemudinya.


"Ta, kamu gak mau cium tangan saya?" Pak Herdi mengulurkan tangannya pada Dita.


"Ah maksudnya pak?"


"Becanda saya Ta, hahahhaa kamu panik gitu mukanya."


"Ih si bapak mah kan saya jadi malu."


"Bye Dita..."


"Ati ati ya pak." Dita melambaikan tangannya tersenyum.


"Udah gak usah diliatin lagi udah gak keliatan juga orangnya." sahut Anan di belakang Dita.


"Yeee apaan sih, abisnya gemes Nan cakep juga ya Pak Herdi lama-lama eh iya menurut kamu dia.."


"Stop!! aku gak mau bahas !"


Anan melompat - lompat ke arah kontrakan Dita dan Dita meledek Anan dengan ikut melompat -lompat juga.


"Aduh dikunci."


Dita berusaha mencari kunci di sekitar halaman rumahnya mungkin saja Anita menyembunyikannya di tempat biasa bawah keset salam pot atas pintu atau dimana pun yang Dita tau.


"Anan minggir dong kain kamu nih ribet banget nutupin aku, awas yak aku tarik nih aku pelorotin."


Dita berjongkok mencari di bawah kursi depan halamannya.


"Aku disini kok." Anan berdiri di depan pintu rumah Dita.


Terus kain yang lagi aku pegang ini punya siapa dong,


batin Dita seraya menghentikan aktivitas nya dari menarik-narik kafan karena dia pikir itu Anan.


Perlahan Dita mengangkat kepalanya mencoba mencari tau sosok siapa yang duduk dihadapannya dan ternyata.


"Astagfirullahaladzim... maafin Dita om merah, nih Dita benerin, jangan melotot gitu om udah serem tambah serem."

__ADS_1


Dita berpindah tempat dengan berjongkok menjauhi sosok om pocong yang semalam dia lihat, sekarang sudah duduk dihadapannya.


kaki Dita sulit di tumpu untuk berdiri.


Anan tertawa melihat kelakuan Dita sampai terpingkal-pingkal ia dibuat tertawa melihat tingkah Dita.


Dita mencoba menoleh kebelakang lagi.


"Yah dia masih disitu... duh om jangan melotot napa." Dita menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Dita mencari ponselnya mencoba menghubungi Anita namun ternyata ponsel Anita tak dapat di hubungi.


"Anan kamu ngapain jongkok disitu?" suara Tante Fani mengagetkan Dita sampai melempar ponselnya karena terkejut.


"Lagi nelpon Tante hehhehe."


"Terus kok gak masuk rumah?"


Tanya Tante Fani lagi.


"Eng anu Tante anu kayaknya kunci rumahku dibawa temenku deh."


"Coba Tante tanya Mar ya." Tante Fani mengarah ke dalam rumahnya mencari Mar putrinya.


"Katanya Mar enggak dititipin tuh, yaudah yuk masuk rumah Tante aja."


Tante Fani mempersilahkan Dita masuk tanpa hitungan detik Dita langsung masuk ke dalam rumah Tante Fani di susul Anan.


Dita melongok ke belakang ternyata aman si pocong berwajah merah tadi tak mengikutinya.


"Abis belanja ya?" tanya Tante Fani melihat ke dua paperbag di tangan Dita.


"Ini titipan temen Tante." Dita mencoba berbohong karena pakaian itu milik Anan.


"Udah makan belum?"


Dita mengangguk.


"Mau ganti baju Tante gak?"


"Gak usah Tante pake baju ini aja, tidur di sini aja juga udah alhamdulillah." ucap Dita menepuk-nepuk sofa milik Tante Fani.


Dita tertarik dengan bantal foto yang dibawa Mar dan mencoba bertanya.


"Hai Mar, ante boleh liat gak?"

__ADS_1


Gadis berusia tujuh tahun itu menggeleng lalu ia berbisik ke telinga mamanya.


"Kata Mar jangan sentuh pemberian papanya. maaf ya Nan." ucap Tante Fani.


Dita memakluminya memang Mar itu susah sekali untuk bersuara dia hanya mau berbisik dengan mamanya padahal kata mamanya waktu Mar balita itu pintar sekali mengoceh semenjak ayahnya menghilang Mar jadi berubah pendiam.


"Oke deh ante gak akan pegang semua barang kamu disini, maafin ya Mar."


Mar berpaling masuk ke ruangan dalam namun bantal foto itu terjatuh. Foto tiga oarang yang tersenyum bahagia, ada Tante Fani, Mar waktu seumuran 3 tahun dan seorang pria yang sepertinya wajahnya tak asing buat Dita.


Mar mengambil bantalnya lagi dan membawanya untuk dijadikan alas tidur kepalanya di pembaringannya.


"Itu foto siapa Tante?" tanya Dita penasaran.


"Foto keluarga kita say, aku Mar dan Papa nya.


"Kayak pernah lihat ya ante, tapi dimana ya?"


"Kamu pernah lihat? setau Tante, papanya Mar jarang dirumah pulang aja tiga bulan sekali kan kerjanya di kapal."


"Ada foto jelasnya gak Tante?"


Tante Fani mencoba mencari sesuatu di lacinya dan di dapati foto album pernikahan dia dulu.


"Aku liat ya Tante." Dita mengamati album foto di tangannya.


Dimana ya aku pernah liat ini foto, hhmmm dimana ya.


Dita menepuk nepukkan telunjuknya di dagunya sambil mengamati foto-foto di album itu.


"Tuh di depan orangnya." ucap Anan membuyarkan Dita.


"Maksudnya ...?" Dita penasaran dengan perkataan Anan kali ini


"Iya orang yang di foto itu kan? tuh duduk depan rumah kamu." ucap Anan.


"Aaaaa maksud kamu??" Dita menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya tak menyangka.


Sedangkan Anan mengangguk meng iyakan apa yang ada di pikiran Dita saat itu...


***


To be continued...


Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2