
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍
****
"Hai semua... Susi hadir nih, gue habis keliling rumah sakit nih seru juga banyak setannya hehehe eh yang itu siapa tuh di pojokan?" tanya hantu Susi saat melihat hantu Jojo di sudut sana.
Dita memandang Tasya dan Doni secara bergantian dan mengerti maksud tujuan dari tatapan mereka.
"Ngerti kan maksudnya?" tanya Dita
"Kamu yang ngomong gih Sya." Doni menepuk bahu Tasya pelan.
"Oke lah." sahut Tasya.
"Ini pada kenapa sih ngeliatin Susi sampai terpesona gitu, aku cantik ya, aku keren kan?" ucap Susi dengan percaya dirinya.
"Cantik, cantik banget malah nah saking cantiknya coba tuh cowok di pojokan noh ajak ngobrol kali aja mau ngomong sama kamu sakit terpesonanya dia sama kamu sus." ucap Tasya menunjuk ke arah Jojo.
"Aaaaaaa gue gak mau gak mau, dia serem gitu ih, dia kan hantu." pekik Susi.
"Terus kamu sendiri apa coba dih sendirinya juga hantu sih takut hantu." Tasya menjambak rambut Susi yang terlepas seketika.
"Idih kulit kepalanya ngikut Sya." pekik Doni dengan raut wajah ketakutan bercampur jijik menunjuk kepala Susi.
"Aku pergi ah ke ruangan kerja Anan ya mau rebahan kalau disini lama-lama aku jijik entar baby aku sawan lagi hiyy, tolong bilangin Anan ya aku disana." ucap Dita menuju ruangan Tante Dewi yang juga ruang kerja Anan sekarang.
"Oke bos." sahut Tasya.
"Lagian Sya kamu pake jambak rambut Susi tuh geli kan kita lihatnya."
"Aku botak ya duh gimana nih." Susi mencoba merapikan rambutnya kembali namun sudah terlanjur terlepas dan mengelupas.
"Ih ribet sini saya tempelin lagi, pake lem yang gel aja Don, coba kemarikan lemnya." pinta Tasya meraih lem yang diberikan oleh Doni.
"Tuh udah nempel, besok-besok Tasya beliin wig deh biar makin cantik dah sana deketin tuh Jojo tanyain kenapa disana?" perintah Tasya pada Susi.
Hantu Susi pun menghampiri Jojo sesuai perintah Tasya. Susi menyapa Jojo dan mengajaknya untuk berbicara namun Jojo juga tak mau berbicara.
"Emang dulu Jojo pendiam ya?" tanya Tasya pada Doni.
__ADS_1
"Gak kok dia lumayan cerewet dan sering traktir aku makan selama kerja disini." sahut Doni.
"Terus kenapa dia diem aja, emang kenapa dia bisa meninggal?" tanya Tasya penuh ingin tau.
"Yang aku denger dia kecelakaan motor gak pakai helm jadi pas jatuh kepalanya kebentur batu besar yang ada di taman kompleks rumahnya makanya berdarah gitu kan terus langsung tewas di tempat." ucap Doni menjelaskan.
"Ih serem tuh ya Don pentingnya pakai helm buat keselamatan, seandainya aja dia pakai helm paling enggak dia gak meninggal gitu." sahut Tasya.
"Yah namanya takdir Sya, kalau Allah udah mau kita mati lagi tidur aja kita juga bisa mati." sahut Doni.
"Tapi pakai helm saat naik motor juga penting kan Don." ucap Tasya dengan tegas.
"Bener Sya, nanti kalau Doni punya motor aku beli helm dua yang pasangan bisa buat aku satu kamu satu ya hehehe." ucap Doni menggoda Tasya.
Susi berlari ke arah Tasya dan Doni.
"Gak ngerti lagi kurang cakep apa coba Susi yang udah kece badai kayak gini, masa gue dicuekin aja sama dia, jangan-jangan dia gagu lagi ih sebel banget." pekik Susi menggerutu dengan kesalnya.
"Susi mau cari gebetan yang cakep aja di sekitaran sini ah, kalau gak dapet Susi balik lagi sama Doni ya." Susi mengedipkan satu matanya ke arah Doni.
"Idih ogah husss sana pergi aja sana!" Doni mengusir Susi pergi dengan tertawa cekikikan menghilang di ujung koridor.
***
Dita merebahkan dirinya di sofa ruangan tersebut hanya sekedar untuk menghilangkan penatnya sampai ia terlelap.
Tak lama kemudian Dita terbangun di sebuah taman yang penuh dengan pohon sakura berikut telaga yang terdapat air mancur yang berwarna-warni terletak di tengahnya.
Seorang wanita Jepang dari kaum bangsawan menggunakan baju berlapis dengan gaya busana indah yang disebut kimono junihitoe, kimono tersebut memiliki paduan warna dari dua belas lapis pakaian yg di padukan jadi satu. Sosok wanita tersebut menghampiri Dita dengan tersenyum manis.
Wanita tersebut menyapa Dita dengan bahasa Jepang yang anehnya Dita mengerti.
"Halo cantik, aku sudah lama menunggu mu disini." ucapnya.
"Siapa kamu? rasanya aku tak pernah bertemu denganmu?" tanya Dita.
"Kau memang tak pernah bertemu denganku, namun aku mengamati mu." wanita Jepang itu mendekati Dita mengamati Dita dengan seksama sambil berputar mengelilingi Dita.
"Ada yang aneh dengan saya Bu?" tanya Dita makin tak mengerti.
"Bu? hahahaha panggil aku Ratu Masako." ujarnya.
Dita menahan tawanya agar tak meledak karena nama ratu tersebut terdengar lucu seperti merk bumbu masakan.
"Ratu Masako?" tanya Dita.
"Iya betul." ucap sang ratu sambil mengibaskan kipas yang dibawanya ke arah Dita.
__ADS_1
"Ratu Masako siapanya royco ya? sepupu apa gimana gitu hehehe." sahut Dita dengan nasa santai dan bercanda.
Sang ratu menatapnya dengan tatapan tajam ke arah Dita. Riasan wajah sang ratu yang terlihat tebal kemerah-merahan menambah seram tatapannya barusan.
"Maaf Bu ratu biasa aja kali lihatnya, itu yang ngerias ratu sendiri ya? cakep tau dandanannya." puji Dita namun tak digubris oleh sang ratu.
Ratu Masako menyentuh perut Dita. Dita mencoba mundur beberapa langkah tapi tak bisa ia lakukan. Dita hanya terdiam dan mematung.
"Apa yang kau lakukan kenapa aku tak bisa menggerakkan tubuhku?" tanya Dita dengan sekuat tenaga mencoba untuk bergerak namun sia-sia belaka.
"Makin kau coba bergerak makin kuat tenaga mu terkuras habis." ucap sang ratu.
"Oh iya kau juga akan membuat ku menekan tubuhmu, dan itu akan membahayakan kondisi ke dua janin mu meski aku membutuhkannya untuk menjadi mediaku." sang ratu makin tersenyum, senyum yang makin menyeramkan untuk Dita lihat.
Dita berusaha mengguncang gelang yang di tangannya berharap mendapat pertolongan dari pak Herdi namun tak jua bisa ia gerakkan gelang tersebut.
Kini Dita hanya bisa berdoa pada Tuhan agar terselamatkan dari sang ratu saat itu juga.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Dita akhirnya pasrah tak mau mencoba bergerak lagi. Dita membuat tubuhnya sekarang lebih rileks agar tak merasa makin tertekan seperti perkataan sang ratu.
"Aku inginkan putri mu sebagai media ku lahir ke dunia ini."
Ucapan sang ratu makin membuatnya terbelalak dan terkejut bagaimana bisa keinginan yang sama dengan keinginan Ratu Kencana Ungu terucap dari ratu Masako tersebut.
****
To be continued...
mohon maaf kalau ada typo ya
Jangan lupa main juga ke cerita ku lainnya dong please, baca ya novel karyaku lainnya :
- Kakakku Cinta Pertamaku (End)
- 9 Lives (Ramaikan disana)
- Gue Bukan Player (Ramaikan juga disana)
Mohon maaf dikarenakan kesibukan saat hari raya Vie cuma bisa up satu ya mohon di maklum adanya.
Makasih ya atas pengertiannya Vie Love you all readers 😘😘😘
Happy Ied Mubarak... Semoga bagi yang menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadhan mendapatkan kemenangan dan rezeki yang berlimpah dari Allah SWT.
Semoga kita semua selalu di berikan kesehatan dan dijauhkan dari virus Covid19.
Jaga kesehatan dan tetap dirumah ya para pembaca tersayang ku.
__ADS_1
Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon maaf lahir batin jika masih ada yang kurang berkenan dari cerita yang Vie suguhkan karena sesungguhnya Vie juga masih belajar menjadi author.
Vie love you all 😘😘😘