
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Hari mulai malam terdengar sayup-sayup azan dari kejauhan Dita dan Tante Dewi beserta lainnya menunaikan ibadah magribnya.
"Pemilik vila ini siapa Tante namanya tadi?" tanya Dita.
"Oh.. Pak Untung, kenapa memangnya?"
"Dia udah pulang?"
"Kayanya masih ada deh kenapa kamu mau kenalan."
"Idih ogah sama tua bangka macam gitu genit banget tadi aja nafsu banget ngeliatin Tante."
"Hahaha kamu bisa aja sih Ta, keluar yuk!" ajak Tante Dewi ke luar dari dalam villa.
"Ada apa nih rame-rame ngumpul disini?" tanya Tante Dewi pada para karyawannya.
"Ini Bu si Joni ngintipin bos vila tadi lagi ena-ena sama sekertaris nya itu." sahut Johan.
"Ah elo juga ikutan sih." Joni menepuk punggung Johan.
"Kan elo yang ngasih tau ya gue penasaran lah." sahut Johan.
"Maksudnya apa sih? begituan gitu sama sekretarisnya?" tanya Dita penasaran.
"Begituan apaan sih Ta?" tanya Anan polos.
BRUG... Anan jatuh tersungkur ke lantai karena dorongan Andri.
"Koplak nih bocah polos apa **** ya hahaha." ucap Andri menertawakan Anan.
"Lah si Pak bos ngapa nyusruk begono Jon?" Johan memandang aneh pada Anan yang jatuh sendiri karena tak bisa melihat andri begitu pula yang lainnya.
"Udah biasa dia mah kaya gitu jatoh sendiri cuekin aja." sahut Dita.
Shinta segera menghampiri Anan dan menolongnya untuk berdiri.
"Emmm modus kesempatan bikin panas Dita aja." ucap Anita melirik Dita yang masang raut wajah kesal.
"Main dimana Jon?" tanya Tante Dewi penasaran juga.
__ADS_1
"Main apa Bu?"
"Ihhh... itu tadi pak Untung sama sekertaris nya?"
"Oh tadinya pangku-pangkuan di vila Bu yang diujung sana terus baju perempuan nya dibuka di pegang-pegang terus di gendong masuk ke dalam terus ya aaahhhh." Joni menjelaskan sambil mendesah.
"Semprul ...!! kenapa gue yang elo remes-remes Jon?" Johan menoyor kepala Joni memandangnya jijik.
"Kan reka ulang, masa Shinta yang mau gue remes." sahut Joni.
"***** banget elo Jon..!" sahut Shinta masih berada di samping Anan, sedangkan Anan bergeser perlahan mendekati Dita dan Shinta ikut bergeser pula mengikuti Anan.
"Padahal Pak Untung udah punya dua istri lho, ckckckck gede juga nafsu tuh tua bangka." ucap Tante Dewi.
"Makin tua makin jadi gitu Bu maklum kami kaum pria suka khilaf liat cewe montok." sahut Johan.
"Emang nih semua cowok kayak gitu ." Dita melirik Anan dan Andri dengan tatapan tajamnya.
"Hmmmm mulai lagi kumat cemburunya." sahut Andri.
"Hoaaaammm aku ngantuk nih masuk dulu yak." Tante Dewi lalu masuk kedalam villanya.
"Gue juga ah capek apa lagi liat adegan tadi makin capek gue liatnya padahal si tua itu yang main wkwkwkwk." Johan menarik Joni masuk ke dalam villa sebelah.
"Terus elo ngapain narik gue?" tanya Joni.
"Takut lah gue didalem sendirian hehehe."
"Ah ... dasar Asu...!!"
"Enggak, aku mau nemenin bapak di luar hehehe."
"Shinta kalo ada dua orang yang lagi berduaan kaya aku sama Dita nanti ketiga nya itu ... "
"Setan maksudnya? Dita aja lah pak yang jadi setannya." sahut Shinta segera.
"Yeeee aku udah kenyang liat setan, kamu mau aku ceritain emangnya?" sahut Dita.
"Maksudnya?" tanya Shinta menoleh ke dita.
"Maksudnya itu..." Suara Dita tertahan karena bunyi sesuatu.
Srak Srak... Shinta menoleh ke arah sapu ijuk yang bergerak sendiri di teras villa itu.
"Itu kok sapunya..." Tunjuk Shinta agak takut.
"Nah kan aku bilang apa, itu hantu nenek sapu, tau gak lidahnya sampai kebawah tanah terus bagian dadanya sampai ke lutut, rambutnya panjang sekaki tapi kepalanya botak banyak belatung terus..."
"Stop stop aku mau masuk aja." Shinta tak tahan dengan penjelasan Dita dan memilih masuk kedalam Villa menemaninya dokter Dewi yang sudah terlelap.
"Hahahaha bagus kan akting aku Ta nakutin dia pake sapu." sahut Anita .
__ADS_1
"Wkwkwkwkw kocak banget sampe ketakutan dia." sahut Anan.
"Parah ih Dita mana penggambaran nya cocok banget lagi sama si Anita." sahut Andri.
"Iya ya Ndri, eh apa kata kamu barusan?" Anita mengejar Andri dengan sapu lidi ditangannya.
"So... "Anan menggenggam tangan Dita kali ini.
"So apa?" tanya Dita.
"Kita kan sekarang berduaan nih, So..."
Anan mendekatkan wajahnya pada wajah Dita.
Wajah Dita sudah merona dan menutup mata tak kuat juga dia melihat ketampanan Anan yang makin hari membuatnya klepek-klepek.
Dita yakin Anan akan berusaha menciumnya dan ...
Tuing.... Sapu lidi yang dipegang Anita terbang mendarat diantara Anan dan Dita.
"Hahahaha mau ngapain hayo ...??" goda Andri yang melempar sapu itu tadi.
"Ah Andri mah ganggu aja nih kan dikit lagi tuh mereka kiss kiss muah." Anita mencubit lengan Andri kesal.
"Ah drop langsung momen romantis gue di lempar sapu gara-gara elo tempe angus."
Anan mengejar Andri membuat Dita dan Anita tertawa terbahak-bahak.
Sampai akhirnya Dita melihat sesuatu.
"Nit itu apa?" Dita menyentuh lengan Anita.
"Itu... itu yang tadi aku liat di sungai."
"Ikutin yuk!" Dita menarik lengan Anita mengendap-ngendap mengikuti makhluk kecil itu.
"Ada banyak Nit, satu dua tiga empat lima hah ada lima makhluk."
Dita menghitung penampakan di hadapannya sambil bersembunyi di balik dedaunan.
"Mereka makan apa Ta?" tanya Anita.
"Hussstt jangan berisik." bisik Andri yang datang dibelakang Anita dan Dita begitu juga dengan Anan yang ikut bersembunyi...
"Itu yang tadi mau gue ceritain." ucap Andri
"Gak mungkin, astagfirullahaladzim gak mungkin, aku salah liat kan?" Dita bergidik ngeri melihat lima makhluk yang seukuran anak usia 3 tahun itu sedang mengerumuni sesuatu yang terlihat seperti ...
"Ta, itu bayi kan..?"
***
__ADS_1
To be continued...
Happy Reading...😘😘😘