Pocong Tampan

Pocong Tampan
Maya (Part 2)


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


****


Dita menggunting dress Anita "Nih buat apaan?"


"Buat nutup perut Mbak Maya biar ususnya yang ngintip minta ke luar aku tahan."


Anita melilitkan kain dari pakaiannya yang Dita gunting ke perut Maya. "Nanti aku ajarin gimana berubah ke mode cantik yak." ucap Anita.


"Wuih udah belajar banyak nih dari Andri." ucap Dita.


"Iya dong, kemarin mah aku yang jadi murid nya Andri sekarang aku punya murid hahaha." ucap Anita sombong.


"Siapa yang ingin jadi murid mu?" tanya Maya.


"Tuh di baikin di tolong terus ngelunjak ya kaya gitu tuh." tunjuk Doni ke hantu Maya yang sekarang melotot ke arahnya.


"Sa... San...santai mbak." Doni menutup wajahnya dengan rambut Anita.


"Kalau mbak gak mau jadi muridku aku gak akan bantu mbak, nih temen - temen yang lain juga gak akan bantu mbak." ancam Anita.


"Mana ada senior atau guru manggil anak muridnya mbak hahaha." sahut Anan.


"Lah liat dong mukanya aja lebih mbak mbak di banding aku Nan, ya Ta?"


Dita menoleh ke kursi belakang, "Sepintas sih sama nit tuanya hehehe."


"Maksud mu?" Anita menjambak rambut Dita.


"Awww sakit Nit, sadis nih sekarang sama aku." Anan mengusap rambut Dita.


"Nit, sekali lagi nyakitin Dita berurusan sama aku yak." ancam Anan.


"Habisnya Dita malah ngatain aku tua nya sama dengan mbak ini, jelas-jelas mudaan aku lah." sahut Anita merengek.


"Gara-gara kamu tuh aku diomelin sama mereka, pokoknya kalau kamu mau ikut kita, kamu harus nurut sama aku, oke?" Anita menatap tajam hantu Maya yang hanya diam menatap ikatan di perutnya.


****


"Ngapain Ta kayak maling gitu?" tegur Anita.


"Ssssttt biasanya Tante Dewi belum tidur nih." bisik Dita.


"Masa jam satu gini belum tidur?"


"Dia mah biasanya belum tidur Nit."


"Ta, denger sesuatu gak?"


"Kayanya iya Nit, suara apa ya?"


"Kayak suara bebi ngepet Ta, jangan - jangan ada bebi ngepet hiy."


"Ya kali ada kaya gitu berkeliaran di apartemen."


"Ya kali Ta, namanya pesugihan mah dimana aja nyampe."

__ADS_1


"Kok suaranya makin kenceng Nit, coba nyalain lampu."


Klik. Anita menyalakan lampu ruangan tamu Tante Dewi.


"Astagfirullah ini perempuan cantik tidurnya ngorok parah gini mana kakinya ngangkang gitu." pekik Dita.


"Oooh jadi suara yang kita kira bebi ngepet itu suaranya Tante Dewi ngorok ampun dah."


"Ya udah biarin aja, kalau nanti aku bangunin yang ada aku di nyap nyap sama Tante Dewi, udah ya aku mau tidur ngantuk say." Dita merenggangkan tubuhnya.


"Ini si Maya gimana?"


"Urusanmu lah, ajak aja tidur di kamar mandi kan biasanya dirimu tidur di bath tub hehehe."


"Ya kalau sendiri mah enak Ta, masa berdua."


"Suruh di atas kloset hihihi."


"Ide bagus, tapi aku mau ajak dia main dulu ah."


"Terserah kamu, aku mau tidur ya daah." Dita mengendap - endap masuk ke kamar tidurnya perlahan agar Tante Dewi tidak terbangun.


"Ayo Maya ikut aku!" Anita menarik lengan Maya.


"Kita mau kemana?" tanya Maya.


"Udah ikut aja, kita mau main terjun payung hihihihi." ajak Anita.


"Terjun payung ???"


Maya masih menatap Anita dengan penuh heran dan bingung.


***


Pagi itu di ruang perawatan Kevin di rumah sakit keluarga milik Anan dokter Dewi sedang menyuapi pak Kevin.


"Kok kalian tau aku disini?"


"Tadi aku tanya Doni." sahut Dita.


"Hai Pak, eh om apa kabar?" sapa Dita pada pak Kevin.


"Hai, kamu siapa yak?"


"Oh iya dia kan kaga inget yak, aku keponakan Tante Dewi."


"Tante Dewi? Tante Dewi yang mana?" tanya Kevin penuh kebingungan.


"Aku Lisa Ta." bisik Tante Dewi.


"Oh iya, maksudnya aku keponakan Tante Lisa om." ucap Dita.


"Memangnya iya kita punya keponakan Yang?" Pak Kevin menoleh pada Tante Dewi.


"Iya punya mas kamu lupa seperti nya."


"Apa iya saya lupa ya? apa karena cuma kamu yang saya pikirkan." pak Kevin menyentuh pipi Tante Dewi yang memerah dan salah tingkah namun mencoba untuk tetap tenang di depan Anan dan Dita.


"Ya ampun aku lemes lihatnya Nan, sayang sayang uh so sweet banget ini adegan." bisik Dita mencubit pinggang Anan dengan gemas.


"Tapi sakit Ta jangan kenceng - kenceng apa nyubit nya." protes Anan.


Tante Dewi menoleh ke Dita dengan sebal.


"Habiskan dulu yuk, setelah itu minum obat ya mas." ucap Tante Dewi ke pak Kevin.

__ADS_1


"Iya sayangku." ucap pak Kevin mesra.


Tante Dewi menyiapkan obat pak Kevin setelah Pak Kevin meminumnya lalu pak Kevin berbaring dan ber istirahat.


"Ayo kita keluar." ajak Tante Dewi.


"Ngapain sih Tante bela - belain sandiwara sama dia?" tanya Anan sedikit kesal.


"Tante cuma bantuin polisi, menurut mereka si Kevin ini harus pulih ingatan nya karena dia tahu siapa yang mencoba membunuhnya saat itu."


"Iya in aja sih Nan siapa tahu berjodoh ya tante, cie sayangku." ucap Dita gemas.


"Ini lagi apaan sih godain Tante aja."


"Aww sakit tau tante..."


Tante Dewi mencubit pipi Dita.


"Kamu enggak apa-apa kan sayang?" Anan mengusap pipi Dita.


"Aku gak pa pa kok sayangku." ucap Dita.


"Inget ya Tante gak ada yang boleh nyakitin Dita!" ucap Anan tegas.


"Hadeh mual Tante mual sumpah."


Tante Dewi meninggalkan Anan dan Dita menuju ruangannya. Dita dan Anan saling pandang dan tertawa setelah berhasil menggoda Tante Dewi.


"Apa yang dibilang Tante kamu itu benar." pak Herdi tiba-tiba muncul dibelakang Dita.


"Idih si tofu basi nongol, kamu yang panggil Ta?"


"Enggak aku gak panggil."


"Kok dia nongol sih?" Anan langsung menghalangi pak Herdi mendekati Dita.


"Aku kan memang menjaga Kevin juga, sedari tadi aku disini." sahut pak Herdi.


"Kok pagi - pagi hantu macam gini nongol sih?" ucap Anan mendorong dada pak Herdi dengan telunjuknya.


"Kamu juga dulu kapanpun nongol Nan, apa bedanya juga sama Anita dan kawan-kawan."


celetuk Dita.


"Tuh dengerin menyan ucapan si cantik ini barusan."


"Eh nama gue Anan ya bukan menyan terus jaga ucapan lho Dita ini calon istri gue yak."


Bug... pak Herdi mengantuk dahi Anan dengan dahi nya sampai jatuh.


"Memang Dita cantik kok, lalu kenapa?" tantang pak Herdi.


"Wah macem-macem nih tofu basi, sini Lo maju lawan gue." Anan menarik ikatan pocong pak Herdi dan memiting kepala pak Herdi.


pak Herdi lalu mencoba mencolok mata Anan dan berhasil membuat Anan melepas nya.


"Kalian bisa gak sih gak usah ribut! kamu kan dulu juga pocong Nan, sesama pocong jangan ribut kek, yang akur gitu." Dita melerai keduanya.


BRUG....


Di hadapan Dita seorang ibu janitor yang bekerja di rumah sakit keluarga Anan tergeletak pingsan mendengar ucapan Dita barusan.


****


To be continued...

__ADS_1


Mampir ya ke novel aku 9 Lives... 😘😘😘


__ADS_2