
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Happy Reading 😊😊😊
******
Sesampainya Dita di rumah sakit, ia segera menemui Anan di kamar perawatan Dewa.
"Gimana Nan keadaan Dewa?" tanya Dita sesampainya di hadapan Anan menjinjing jaket abu-abu yang dia pakai tadi saat menggunakan ojek online.
Anan memperhatikan Dita dari ujung kepala sampai ujung kaki. Malam itu dress hitam tanpa lengan selutut membalut tubuh Dita dengan cantik. Rambut hitam sepunggung Dita, di kuncir sedikit di bagian tengahnya dengan jepit rambut mutiara berbentuk kupu-kupu.
Cantik banget ini cewek
Batin Anan dalam hatinya berdecak kagum memandangi Dita.
"Anan, hoi Anan...!" Dita menjentikan jarinya di hadapan wajah Anan membuatnya tersentak dan sadar kembali .
"Ngomong apa Ta barusan?" tanya Anan dengan kikuk.
"Gimana kondisi Dewa?" Dita bertanya kembali.
"Oh... udah stabil tadi juga gue udah lapor polisi, sayangnya Andri gak kena tadi nangkap pelaku," jawab Anan.
"Cowok apa cewek pelakunya?" tanya Dita.
"Cowok tadi yang di kejar Andri tapi gak kena," sahut Anan.
"Hmmm aku jadi curiga sama temen band nya si Dewa," ucap Dita menepuk dagunya berulang-ulang dengan telunjuknya.
"Maksud elo?" tanya Anan.
"Waktu kemaren aku ketemu dua orang temen Dewa ke sini, tapi aku curiga soalnya mereka tuh aneh gerak geriknya, bisa aja kan mereka yang mau nyelakain Dewa, ya kan?"
"Kita gak bisa nuduh gitu aja sih tanpa bukti, biar polisi yang menangani kasus ini, pihak rumah sakit sih janji bakal jagain lebih baik," ucap Anan.
"Ummm aku punya ide, kita pindah rumah sakit aja gimana?" Dita memberi ide.
"Boleh juga tuh, apa kita urus aja pemindahannya sekarang, biar besok kalau pelaku tadi balik udah gak bakal ketemu si Dewa, gimana?" tanya Anan.
"Boleh tuh, aku bilang suster dulu ya sama pihak rumah sakit," ucap Dita yang di jawab anggukan oleh Anan.
Akhirnya pemindahan Dewa di lakukan juga malam itu.
"Gue heran kenapa sih elo mau repot-repot bantuin dia, kenal juga baru kan?" tanya Anan saat berada di ambulance yang membawa Dewa menemani Dita yang duduk di sampingnya.
"Kamu sendiri kenapa nyelamatin nyawa Dewa?" tanya Dita.
"Demi kemanusiaan lah, masa gue tega ada orang mau di bunuh gue biarin aja," sahut Anan.
__ADS_1
"Nah jawaban yang sama dengan pertanyaan kamu tadi," ucap Dita.
"Tapi uang elu ke buang banyak Ta," Anan menatap Dita.
"Gak lah nanti aku suru Dewa kerja sama aku tanpa gaji, itung-itung ganti uang aku hehehe," ucap Dita.
"Hmmm sama aja itu mah kirain tanpa pamrih."
"Ya gak gitu juga sih, udah lah yang penting Dewa sehat dulu, kamu udah menghubungi polisi kan kalau kita mindahin Dewa?" tanya Dita.
"Udah tenang aja, nanti sesampainya di rumah sakit yang di belakang gedung sekolah matahari, nanti ada polisi yang nunggu kedatangan kita," ucap Anan.
***
Sesampainya di rumah sakit matahari, Dewa di pindahkan ke ruang perawatan. Dua orang polisi sudah menunggu kedatangan Anan dan Dita.
"Selamat malam saya Erik petugas yang di tugaskan untuk mengawasi pasien Sadewa oleh kapten saya, dan ini rekan saya Jhony," ucap Erik mengulurkan tangan kanannya yang berbalas jabat dari Anan dan Dita secara bergantian.
Begitu pula dengan rekannya Jhony yang menjabat tangan Dita dan Anan secara bergantian.
"Apa kalian teman dari pasien?" tanya Erik.
"Sebenarnya sih kita baru aja kenal dia pak, jadi bukan di bilang temen deket kali ya cuma kenal aja," ucap Anan.
"Hmmm jadi kalian juga kurang begitu tau ya soal pasien, siapa keluarga, teman dan musuhnya tentunya," Erik mencubit dagunya sendiri dengan kedua jarinya.
"Dia punya keluarga yaitu neneknya tapi udah meninggal, lalu saya pernah bertemu dengan dua orang pria yang mengaku kawannya," sahut Dita.
"Ummm kayaknya masih inget, mereka temen main band bareng kok, band apa deh Nan? bulldog ya kalau gak salah?" tanya Dita menepuk bahu Anan.
"Lupa gue, kayaknya sih iya band bulldog apa doggy band gitu hahaha..."
"Anan..."
"Eh maaf ya maaf..." Anan menunduk malu setelah tertawanya di lihat sinis oleh Erik dan Jhony.
"Baiklah kalau begitu kami akan berpatroli di sini, silahkan kalian pulang, nanti akan saya hubungi lagi di nomor tadi jika saya butuh bantuan keterangan," ucap Erik.
"Nona mau di antar pulang naik mobil saya?" tanya Jhony yang dari tadi memandangi Dita tanpa henti.
"Gak usah pak, saya yang anter dia kok," sahut Anan lalu menarik tangan Dita dan pamit pada dua orang petugas polisi tersebut.
"Pelan-pelan Anan, jangan buru-buru aku kan pakai sepatu heels," pinta Dita.
Makanya lain kali jangan pake sepatu hak tinggi apalagi baju pendek kayak gitu," Anan menggerutu sambil melirik Dita.
"Dih ini kan selutut, enggak kependekan," sahut Dita.
"Tetep aja, kaki elo yang di bawah lutut kelihatan, untung aja elo pakai jaket coba kalau enggak pakai jaket ketek elo kelihatan tuh," Anan bersungut-sungut.
__ADS_1
"Kok jadi bahas ketek sih," gumam Dita.
"Kok Anta gak di ajak, kita kan mau makan malam," ucap Anan sesampainya di halaman rumah sakit Matahari.
"Anta tidur aku gak tega mau banguninnya, kalau gak jadi ngajak makan malam juga gak apa-apa nanti aja pas bareng Anta," ucap Dita mengeluarkan ponselnya bersiap memesan ojek online.
"Eh mau ngapain?"
"Mau pulang, pesen ojek, kenapa?"
"Jangan lah udah terlanjur dandan cantik kayak gitu, masa gak jadi makan malamnya," sahut Anan dengan suara di pelankan saat mengatakan cantik.
"Kenapa? tadi kamu bilang aku cantik?"
"Yeee ke pedean, udah ah mau makan apa nih keburu malam?" tanya Anan.
"Soto ayam apa lele enggak ada ya di sini?"
"Makanan apaan tuh Ta?" tanya Anan tak mengerti.
"Makanan orang lah, itu loh kuah kaldu ayam gitu ada soun, suiran daging ayam sama ikan lele goreng dengan sambal ummm enak tuh," ucap Dita.
"Kalau lele gue gak tau, adanya sushi kalau makan ikan, kalau mirip sup ayam gue tahu tempatnya tapi naik busway ya, gue udah jual motor gue kan pas pindah kemarin," ucap Anan.
"Iya gak apa, naik apa aja juga asal berdua kamu mah aku bahagia," ucap Dita lirih.
"Kamu ngomong apa barusan?"
"Enggak kok, yuk jalan, keburu malam kan katanya," ucap Dita tersenyum memandang Anan.
Keduanya menyusuri tepi jalan trotoar menuju halte busway. Tangan kiri Anan dan tangan kanan Dita beradu berulang-ulang saat menyusuri jalan.
"Kelamaan mikir..." gumam Dita langsung menangkap tangan kiri Anan dan menggenggamnya.
Anan tersentak dengan tindakan Dita dan menoleh ke arah tangan kirinya yang sudah tergenggam, namun akhirnya ia biarkan sambil menahan senyum tak mau menoleh pada Dita.
*******
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â 9 Lives (END)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Gue Bukan Player
__ADS_1
Vie Love You All 😘😘😘